Suamiku Perhitungan

Suamiku Perhitungan
Eps 26


__ADS_3

Bi Jina, dan para meid yang menyaksikan secara langsung pertengkaran hebat antar pasutri itu, meski tidak menunjukkan diri secara langsung tapi mereka bisa mengintip sari balik tembok, ruangan bahkan di balik guci besar yang ada.


Saat ini Bi Jina sedang membereskan pakaian juga barang barang penting lainya yang tidak sempat Zahra bawa saat keluar dari rumah ini.


" Sedang apa bi ?." Bi Jina sedikit tersentak, posisinya ia sedang mengelus foto Zahra dalam bingkai.


" Ah tuan, Saya sedang membereskan barang barang nyonya."


" .... " Raut wajah Arkhan yng sudah suram bertambah suram saat mengetahui istrinya memang tidak akan kembali lagi ke rumah ini.


" Mohon maaf tuan, ini permintaan nyonya Zahra."


Arkhan hanya mengangguk lalu berlalu begitu saja menyisakan wanita Medusa macam Dewi yang malah melipat kedua lengannya dan menatap tak suka pada Bi Jina.


" Heh, Bagus deh kalau barang murahan itu musnah dari rumah ini."


Bi Jina hanya mentap Dewi datar, tidak berminat.


" Pakaian macam apa itu, seperti ******* saja." Setelahnya pergi menyusul suaminya.


Bi Jina mengusap dadanya, Ia harus bersabar diri dengan wanita gila itu.


Setelah selesai membereskan barang Zahra, Bi Jina juga dua meid lainya menghadap Arkhan yang sedang bersantai sambil memangku Dewi.


" Permisi tuan."


Arkhan menoleh dan menurunkan Dewi dari pangkuannya.


" Ada apa?."

__ADS_1


" Tuan, mohon maaf bibi undur diri, bibi sudah tidak bisa bekerja di sini." Bi Jina menunduk hormat.


" Tapi kenapa bi ?." Arkhan tidak rela, Bi Jina adalah orang yang cekatan juga penyayang.


" Mohon maaf tuan, tapi putri bibi sudah tidak berada di sini."


Arkhan terdiam memandang heran pada bi Jina.


" Nyonya Zahra ah tidak, Neng Zahra sudah saya anggap putri saya sendiri, sekali lagi saya mohon pamit."


Arkhan hanya bisa terdiam, ya bagaimana pun itu sudah menjadi keputusan Bi Jina.


" Permisi tuan, Assalamualaikum."


" .... "


" Iya tuan, Terimakasih."


Setelah kepergian Bi Jina yang di antr dua meid itu, Dewi mulai melancarkan aksinya


" Tuh lihat kan mas, Bibi itu aja sampe mengundurkan diri, nih yaa aku rasa itu suruhan Zahra deh."


" ...." Arkhan hanya terdiam.


" Mas.."


" .... "


" Mas ?."

__ADS_1


" Hem."


" Ko ngelmun, kenapa ?." Arkhan hanya menggeleng lalu pergi menuju ruang kerjanya.


Daripada memikirkan sesuatu yang tidak ada gunanya, lebih baik berkutat dengan dokumen yang menghasilkan pundi pundi uang, yaa seperti itulah yng ada di otak Arkhan.


Sampai dini haripun Arkhan masih berkutat dengan berkas berkas yang entah kapan akan selesai itu.


Ia merasa haus, Meraba samping meja yang biasa terletak secangkir kopi tapi nihil tidak ada apaun di sana, Arkhan menoleh sambil mengerutkan dahi.


Arkhan berjalan keluar ruang kerja memanggil manggil Zahra " Neng...."


" .... "


" Neng Zahra.." Suaranya mulai kencang.


Di bukanya pintu kamar Zahra dan yaa kosong tidak ada satu barang pun barang Zahra yang tersisa di sana.


Arkhan menghela nafas, yaa dia bru ingat istri penurutnya sudah tidak ada di rumah ini.


Ruang hati Arkhan terdalam merasa kosong, Bagaimana pun dulu, Zahra pilihanya Cintanya, Tapi yaa dia sendiri yang merusak semua pertahanan perempuan setangguh Zahra.


Sepi


Hampa


Entahlah apalagi kata yang bisa menggambarkan ruang hati Arkhan sekarang.


Melihat Dewi, yaa dia hanya tertarik pada tubuhnya, Cinta tidak sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2