
Zeline memandang penuh tanya pada Zahra, Sudah cukup lama mereka berdua tidak saling bertegur sapa, tapi lihat, pagi pagi buta seperti ini Zahra menghubunginya.
Zeline terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak tau harus membawa Zahra kemana tapi sepertinya Zahra butuh sendiri, jadi ia memutuskan membawanya ke rumah Zeline, meski tidak besar tapi cukup nyaman.
Sepanjang perjalanan Zahra hanya diam, tatapanya kosong dengan mata sembabnya.
" Ra, udah sampe." Zahra hanya diam, ia melamun sambil berkaca kaca.
" Ra ..." Zeline merasa sesuatu yang tak enak saat kembali bertemu dengan Zahra.
Puk
Zeline dengan sengaja memukul pelan bahu Zahra, berniat menyadarkannya.
" Aww... Sssttt.." malah ringisan yang ia dengar.
" Eh eh sorry, gue gk tau kalau pundak lu luka." Zeline merasa tak enak, matanya pun penuh kecemasan.
Zahra menoleh lalu tersenyum di balik maskernya, Zeline tau karna matanya sedikit menyipit.
" Gak masalah."
" maaf yaa, ya udah yuk turun." Zahra mengedarkan pandangannya lalu terfokus pada rumah Zeline, Zahra mengangguk.
Sesampainya di ruang tamu, Zeline memberikan segelas teh hangat, yang langsung di minumnya, terlalu kentara bahwa Zahra tidak baik baik saja, Zeline ingin bertanya tingkat keingintahuan sungguh besar saat ini.
" Masyaallah, makasih yaa enak banget teh nya." zahra masih tersenyum.
" cuman teh ra." Zeline memulai percakapan " Hmm, lo apa kabar ?."
" Alhamdulillah baik, kamu ?."
" Baik banget, sampe nambah lemak ni." Zahra terkekeh, Zeline melakukan untuk mencairkan suasana yang canggung.
__ADS_1
" Udah lama ya gak ketemu, padahal gue kangen tau kerja di tempat lo."
" Iya maaf yaa, aku sibuk terus."
" Santai ajaa.." Zeline masih tersenyum, Hening pun terjadi beberapa menit Zeline maupun Zahra tidak ada yang membuka obrolan.
Zahra masih dengan fikiranya yang berantakan, Seketika Zahra mendadak mendung, ia menunduk dengan mata yang berkaca-kaca, Zahra masih berusaha terlihat kuat.
Zeline yang tak bisa lagi membendung rasa kepo nya pun bertanya, dengan hati hati ia cukup sadar diri, posisinya hanya seorang taman.
" lo kenapa ?."
Bukan pertanyaan berat ataupun menyudutkan, tapi setelah pertanyaan biasa itu Zahra menangis, ia sesenggukan sambil memukul-mukul dadanya.
Hiks... Hiks ... Hiks..
" Ssaakiit." Rintinya terdengar sangat pilu.
Zeline tak tau apa yang terjadi tapi mendengar suara parau Zahra, hatinya berdenyut nyeri, ia memeluk Zahra mendekapnya dengan lembut.
Hiks... Hiks .. Hiks ...
" Aaarrrgghhh..." Zahra meraung, ia terlalu sakit untuk di pendam sendiri, Zahra wanita cantik nan anggun itu tak kuasa menahan sakit hatinya, dia menjerit,terisak, menumpahkan seluruh kekesalan juga sakitnya pada bahu Zeline.
" Hiks... Hiks.... Capee, gak kuat hiks..." Mencengkram kuat kemeja yang di pake Zeline.
" Iya keluarin semua ra hiks..hiks.."
Siapapun yang mendengar tangisan Zahra pasti akan ikut merasakan sakitnya.
" Hiks... Aku salah apa ?."
" ... " Zeline diam, membiarkan semuanya.
__ADS_1
" Hatiku sakit hiks ..hiks..."
" ... "
" Aku harus apa ?."
" ... "
" Kenapa ? Kenapa? KENAPA ?." Zahra menjerit dalam tangisnya, rasanya ia sudah sangat putus asa.
" Fisikku sakit hiks... Hatiku hancur hiks.."
" ... " Zeline, wanita itu terus mengelus punggung Zahra
" Aku hiks .. Harus apa ? Harus gimana hikss..."
" ... "
" Saakitt ya Allah SAAKIITTT.. AARRRGGHHHH.."
Setelahnya tubuh Zahra melemah sampai akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Zeline pun panik, sesekali mengusap matanya yang terus berair ia juga berusaha membangunkan Zahra.
" Raa ... Raa bangun raa hiks.."
Dengan susah payah Zeline membawa Zahra ke kamar, ia membaringkan tubuh kurus itu di kasur.
Zeline membuka pashmina juga masker yang Zahra gunakan, Seketika itu pun Zeline terkejut betapa berantakan juga mengerikannya luka yang tertutup rapih itu.
" Hiks ... Raaa Lo kenapa ? Kenapa lo bisa gini ?." Sambil terisak Zeline wanita bertubuh berisi itu pun dengan telaten mengobati Zahra dengan masih terisak seolah ia juga merasakan apa yang Zahra alami.
" Lo cerita sama gue raa, ko kenapa ?." Memandang Zahra sendu.
__ADS_1
" Lo ngomong sama gue, gue pasti bantu raa." Wanita berisi itu terus saja meneteskan air mata.
" Cover lo bagus banget raa, tapi gue gak tau isi lo kayak gimana." Zeline masih saja berbicara pada Zahra yang tak sadarkan diri.