
" Hallo, Ra aku minta maaf hiks tapi ini serius, aku gak tau kenapa hiks.. Hikss.. "
" hey tenang dulu ada apa ?." Zahra yang mendengar isak tangis Zeline di sebrang telpon pun ikut panik.
" hiks... Raa kamu harus kesini yaa.."
" Iya iya aku kesana." zahra meraih tas juga kunci mobilnya, ia mengendarainya dengan sedikit terburu buru.
" Ya Allah, Lindungi Zeline."
Di sana ia melihat ada banyak orang berdiri depan restorannya, beberapa darinya memakai pakaian serba hitam dan seragam stafnya.
Zeline, gadis bertubuh rada gempal itu duduk di tangga pintu masuk sambil menunduk dan menangis.
" Assalamualaikum." Zahra datang dengan panik, ia memeluk Zeline yang menangis.
" Kenapa ?." Zeline mendongak terisak hebat dan memeluk erat Zahra " hhuuuaaaa hiks, maaf raa, maaf." Zahra hanya memandang para stafnya meminta kejelasan dengan apa yang terjadi.
tapi mereka hnya menggeleng pelan sambil tertunduk lesu.
Zahra melihat pintu restorannya tersegel dengan dua penjaga berseragam hitam yang berjaga di depannya.
" Zee, ini kenapa ? Mereka siapa ?."
" Raa maaf, tapi aku juga gak tauu hiks." menyerahkan kertas pada zahra berisi pemindahan kepwmilikan dan penutupan tempat usaha.
__ADS_1
" Astagfirullah."
Jadi seperti ini kejadianya, kala itu Zaline dan sumua staf seperti biasa melayani tamu, nenyajikan makanan dan beberpa koki yang memasak.
Tiba tiba segerombolan laki laki besar datang sambil mengacak acak dan mengusir para mengunjung dengan kasar, beberap kursi dan meja me jadi sasaran amukan mereka bahkan ada setidaknya tiga staf laki laki yang ikut terpukul karna berusaha melawan.
braakk..
Brakkk
brakk..
" Pergi kalian semua, tempat ini harus di kosongkan hari ini juga brakk." Ucap salah satu dari mereka sambil menendang meja.
Zeline dan yang lain di paksa keluar dan di seret, mereka yang berusaha berontak tak segan segan kena pukul meskipun ia seorang wanita sekali pun.
pria bertubuh besar dengan perut membuncit dan tato naga di lehernya mendekat, Sambil menyeringai ia memberikan secarik kertas yang ia ambil dari saku dalam jaz hitamnya, menempelkan kertasitu tepatbpada wajah Zeline.
" Boss kami yang meminta agar tempat ini di kosongkan."
" Ta tapii pak..." Ucapnnya terpotong, Zeline tak berani meneruskan kata katanya, ia di tatap begitu mengerikan oleh pria itu.
Alhasil mereka hanya bisa terdiam di depan restoran sambil menunggu Zahra datang.
" Astaghfirullahaladzim." Zahra membaca surat tersebut setelahnya menelpon nomer agen real estate/ agen properti tapi tidak ada jawaban, nomernya tidK tersambung.
__ADS_1
Dia melirik lada tiga laki laki yang menunduk sambil memegangi area yang terkena pukul " zee anter staf laki laki itu ke rumah sakit, biar mereka obati lukanya."
" Tapi, kamu gimna?."
" Bismillah, aku gak papa ko."
" Enggak, aku gak bisa ninggalin kamu di sini, kamu mau apa di sini ?."
" Aku harus ngomong sama mereka."
" Enggak, mereka gila raa, mereka gk akan dengerin kamu."
" Tapi setidaknya aku usaha."
" Tapi raa.."
" Zee, liat mereka (Mengedarkan pandangan pada staf yang menunduk dan berwajah murung) kalau restoran ini di tutup gitu aja, nanti mereka harus kerja di mna."
" Tapii... "
" Udah, sekarang kamu ke rumah sakit bawa staf yang luka." Zeline hanya bisa mengangguk lesu.
" Yang lain, hari ini pulang dulu yaa, dan mohon maaf atas kejadian ini."
" kami gk papa ko mba, harusnya kami yang minta maaf karna gk bisa jaga tempat ini." Salah satu staf angkat bicara.
__ADS_1
" Terimakasih atas perhatiian kalian." Zahra tersenyum tulus.