Suamiku Perhitungan

Suamiku Perhitungan
Eps 08


__ADS_3

Subuh pun tiba, Zahra langsung mandi dan menyiapkan sarapan juga pakaian untuk Arkhan kenakalan pergi kantor.


Di atas meja makan sudah tersedia makanan untuk Arkhan sarapan juga sebuah note.


Mas, Maafkan aku bila aku banyak salah,


Sekarang aku pamit, pagi ini aku mau bertemu umi dan abi. Ini sarapannya jangan lupa di makan ya.


Az-Zahra.


Zahra menggunakan taksi online untuk pergi menemui orang tuanya.


Sesampainya di sana, Zahra pun mengetuk pintu kayu rumah itu.


Tok.. tok... tok.


" Assalamualaikum."


" .... "


tok... tok... tok...


" Assalamualaikum, Umi abi ini Zahra."


" Waalaikumsalam Zahra ?."


" Teteh."


Mereka pun berpelukan, Zahra yang memang mudah menangis pun kembali terisak ia mengingat kejadian tadi malam.


hiks.. hiks... hiks...


" Loh kok nangis, Ada apa neng ?."


Zahra melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata yang menetes di pipinya.


" Gak papa kok teh, Umi mana ?."


" Umi di dapur lagi siapin sarapan, kamu kok kesini pagi banget udah sarapan ?."


Zahra menggeleng.


" Ya Allah, Ayo masuk sarapan dulu."


Zahra yang melihat uminya sedang asyik membuat sarapan pun langsung memeluknya dari belakang.


" Assalamualaikum umi."


Umi nya pun sedikit kaget lalu menoleh pada seseorang yang nemeluknya sambil tersenyum.


" Waalaikumsalam neng Zahra." Umi mengecup kening Zahra, Zahra pun mencium punggung tangan umi nya.


" Umi , Abi mana ?."


" Abi masih siap siap di kamar."


" Oh, Umi mau neng bantuin gak ?."


" Gak usah, Sana duduk aja sama teh zizah."


" Ok deh, Umi emang paling baik." Zahra mencium pipi umi nya sekilas lalu pergi ke ruang depan untuk berbincang dengan Zizah juga si mbul.


" Azza sayang." Sedikit berteriak sambil merentangkan tangan agar Azza mau memeluknya.


" Ate." Ucap cadel Azza dan langsung berlari memeluk Zahra.


" Uuh sayangnya ate, Udah gede ya."


Azza hanya tersenyum lalu mencium pipi Zahra.


Kapan ya aku dan mas Arkhan punya anak ? Zahra membatin sendiri mengingat dia belum juga hamil padahal hampir satu tahun Zahra menikah.


" Neng."


" Iya teh ?."


" Kamu ada masalah sama Arkhan ?."


Zahra pun duduk di samping Zizah sambil bersandar di pundak kakaknya.

__ADS_1


" Biasalah teh, namanya rumah tangga pasti ada aja kan masalahnya."


Zizah terseyum sambil mengelus kepala Zahra dengan lembut.


" Neng kuat, teteh percaya sama neng."


" Iya teh makasih."


Umi pun menghampiri Zahra dan Zizah yang sedang mengobrol sambil bermain dengan Azza.


" Azza cucu nenek yang paling cantik, sarapan dulu yuk."


" Iya nek."


" Teteh, neng ayo sarapan."


Mereka pun pergi ke meja makan, di sana Abi sudah menunggu dengan membaca koran."


" Assalamualaikum abi."


" Waalaikumsalam neng Zahra." Zahra mencium punggung tangan Abi.


Mereka pun sarapan dengan sesekali di selingi tawa karena ulah si mbul Azza.


" Umi, Abi berangkat dulu ya."


" Iya abi hati hati ya."


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Abi mempunyai usaha baru setelah memberikan restoran kepada Zahra, Abi membuka coffe shof di sebuah kedai yang ia sewa dan juga sebuh toko buku tepat di samping coffe shof nya berada.


_ _ _ _


Pagi ini Arkhan bangun terlambat, Karena Zahra tidak membangunkannya.


Saat Arkhan turun untuk sarapan ia melihat sebuah not di samping sarapannya.


Arkhan pun merasa sangat bersalah, Karena sikapnya yang terlalu kasar hingga Zahra pergi ke rumah orang tuanya.


Arkhan berencana sepulang dari kantor ia akan membelikan ponsel baru untuk zahra dan juga meminta maaf pada istrinya itu.


Terkadang Arkhan sadar bahwa istrinya terlalu baik dan terlalu penyabar dalam segala hal, Bahkan ia mau melayani nafsunya yang seperti hewan jika sedang di ranjang, tak jarang juga ia tak bisa berjalan karena kesakitan tapi dia hanya menahannya sambil tersenyum ramah.


Sesampainya di kantor, Arkhan di sambut ramah oleh asisten pribadinya Rama juga si sekretaris.


Dewi adalah sekretaris Arkhan di kantor, Dewi selalu berpakaian minim jika di kantor dia tak segan memperlihatkan belahan juga pahanya untuk Arkhan juga Rama.


Arkhan yang sejatinya laki laki normal pasti tergiur mendapatkan tontonan gratis seperti itu, Tapi dia berusaha mati matian menahannya, Dia tidak ingin menghianati pernikahan nya dengan Zahra.


" Sekretaris Dewi."


" Iya pak."


" Apa anda masih ingin bekerja di sini ?."


" I iya tuan." Gugup Dewi dia takut telah melakukan kesalahan yang tidak ia ketahui.


" Perbaiki cara berpakaianmu."


" Maaf tuan." Dewi hanya bisa menunduk.


Sepulang kerja, Arkhan langsung bergegas menuju rumah mertuanya untuk menjemput Zahra.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


" Oh de Arkhan toh, mari masuk."


" Iya umi."


" Bagaimana kabarnya nak ?."


" Saya baik umi, hemm umi maaf Zahra nya mana ya ?."


Sambil menyerahkan bingkisan parsel untuk mertu nya.

__ADS_1


" Tadi siang neng pamit sama umi, mau ke restoran sama zizah."


" Kalau begitu, saya pamit umi, mau ke restoran."


" Oh iya nak, hati hati di jalan."


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


_ _ _ _


Di restoran Zahra sedang disibukan dengan banyaknya pesanan online yang masuk dari aplikasi.


" Fan tunggu sebentar lagi ya, karena pesanannya terlalu banyak jadi butuh waktu lebih."


" Iya gak papa, Aku tunggu kok."


Beberapa saat kemudian, Zahra dan stafnya mengantar pesanan Arfan dengan total yang harus di bayarnya.


" Ini struknya."


" Terimakasih."


" Sama sama." Mereka saling tersenyum.


Arkhan yang baru sampai langsung di suguhkan dengan pemandangan tak mengenakan hati, Arkhan marah dan tak terima melihat Zahra terseyum untuk orang lain.


" Zahra."


Zahra pun menoleh yang sedang membuat buku catatan.


" Mas Arkhan." Zahra menghampiri Arkhan lalu mencium punggung tangannya.


" Siapa laki laki tadi ?."


" Yang mana mas ?."


" yang tadi kau beri senyuman."


Kirana pun terheran sediri atas apa yang suaminya katakan, dia tidak mengerti dan tidak tahu yang mana, mungkin tepatnya tidak menyadari.


" Sudahlah tak perlu di bahas, intinya aku tak mau kau tersenyum pada siapapun kecuali aku."


Zahra hanya tersenyum sambil mengangguk dan memeluk Arkhan.


" Mas, maafkan zahra ya kalau zahra banyak salah, maaf belum bisa jadi istri yang baik untuk mas."


deg


Arkhan berdesir mendengar penuturan polos istrinya,Seharusnya ia yang minta maaf tapi apa ini zahra malah meminta maaf duluan.


Jiwa sombong dan angkuhnya pun kembali, ia kembali enggan meminta maaf pada hal kecil mau pun besar pada siapapun termasuk Zahra istrinya sendiri.


Apa yang ia lakukan, selalu benar dan tepat di dalam dirinya, tanpa perdulii ada hati yang terluka.


" Iya, makanya kamu harus lebih baik lagi."


" Iya mas."


" Ya udah ayo pulang."


" tapi mas, Kan belum waktunya tutup."


" Terus aku harus menunggu restoran ini tutup ?." Angkuh Arkhan, Zahra hanya menggeleng.


" Neng pulang aja, suamimu sudah menjemput."


" Ta ta tapi teh."


" Gak papa nanti teteh yang tutup.


" Terus Azza gimana teh ?."


" Udah tenang aja, kan di sini banyak pelayan neng."


" Makasih, ya udah neng pulang ya teh, Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."

__ADS_1


Arkhan dan Zahra pun pulang, Di jalan mereka tidak mengobrol sama sekali, mereka larut dalam fikran mereka masing masing.


__ADS_2