
Kania menceritakan semuanya pada ibunya. "Jadi kita tak memiliki saudara lagi disini?" tanya Kania saat ibunya terbangun.
Sarah menggeleng. "Ayahmu hanya anak semata wayang dan ibu tak tahu silsilah keluarganya. Sedangkan ibu hanya memiliki seorang bibi yang tinggal di Kalimantan bersama keluarganya. Ia tak memiliki suami lagi. Jadi tak mungkin ada pria paruh baya saudara kita." jawab Sarah.
"Ya Tuhan, siapa pria itu bu. Kania tidak ingin memiliki hutang, setelah ayah meninggal biaya buat hidup saja sangat sulit. Kania tidak ingin terlibat dengan seorang rentenir atau lintah darat semacamnya." jawab Kania.
Sarah menatap Kania dengan sedih. "Maafkan ibu nak, ibu membuat hidupmu susah." ujarnya.
"Apa apaan bu, Kania anak kandung ibu. Uang satu gunung pun belum bisa membalas jasa ibu. Jangan terlalu berpikir, selama ada ibu, Tobi dan Geisha. Kania akan menjadi wanita yang kuat. Ibu harus tetap sehat." kata Kania.
Sarah mengangguk. "Ibu sangat bangga padamu, jadi seperti apa pekerjaanmu?" tanya Sarah.
"Menghadapi atasan yang arogan dan kejam sangat melelahkan, tapi atasan Kania mempunyai sisi baik. Ia sangat perduli pada karyawan yang sakit." jawab Kania. "Kania juga gajinya sangat tinggi, itu bisa membiayai pengobatan ibu, membiayai sekolah Tobi dan Geisha sampai kuliah." sambungnya.
"Jangan terus memikirkan kami sayang, kau juga harus memikirkan dirimu. Berbelanjalah dan mempercantik dirimu seperti gadis gadis seumuranmu." ujar Sarah.
Kania hanya mengangguk. "Ibu yakin tak apa apa sendirian, Kania akan datang saat ibu keluar dari sini. Semoga saja Kania tidak lembur." ujarnya.
"Jangan terlalu dipaksa sayang, rumah kita sangat dekat dari rumah sakit, pekerjaanmu sangat penting. Jika kau dipecat, nanti kau menyesal karena keluar dari perusahaan besar itu." ujar Sarah.
Kania mengangguk lagi. "Kania akan usahakan bisa kesini. Kania berangkat dulu ya bu." ujar Kania sambil mencium pipi ibunya.
"Hati hati nak." jawab Sarah.
****
Kania menunggu bus, ia berangkat lebih awal agar mendapatkannya. Tapi sebuah mobil ranger rover hitam berhenti di depannya.
"Masuklah." ujar Bastian. Ternyata atasannya yang membawa mobil yang berbeda hari ini.
"Saya naik bus saja pak. Terima kasih." jawab Kania.
"Kita satu kantor Kania, cepat naik." perintah Bastian lagi.
__ADS_1
Kania mengikuti perintah Bastian. Ia masuk kedalam mobilnya. "Bagaimana bapak bisa lewat sini?" tanya Kania.
"Oh...aku dari tempat temanku." jawab Bastian berbohong. "Kau dari rumah sakit?" tanya Bastian.
Kania mengangguk. "Bagaimana bapak bisa tahu?" tanya Kania.
"Kau bau obat Kania, makanya aku langsung tahu kau darimana." jawab Bastian.
Kania mengendus endus tubuhnya. Ia mencari bau obat pada tubuhnya. Tak ada bau obat sama sekali. pikir Kania.
Bastian terkekeh. "Kau sangat serius Kania, aku hanya bercanda. Aku tahu pasti kau menemui ibumu. Itu hanya tebakanku saja." ujar Bastian.
Kania cemberut, bisa bisanya pria ini tertawa dan mengejeknya.
"Kau semakin cantik saat marah." ujar Bastian.
"Terima kasih pak, tapi aku tak suka rayuan gombal." jawab Kania. Ia menyadari kesalahannya dan langsung menutup mulutnya dengan tangan. "Maaf pak." sambungnya.
"Santai saja, kita berada di luar bukan di kantor." jawab Bastian.
"Tapi aku tak perduli." jawab Bastian. Ia tetap menurunkan Kania bersamanya. "Setiap hari juga kita bersama Kania. Jika mereka bergosip, maka aku akan langsung memecat mereka." sambungnya.
Kania hanya bisa menuruti dan mengikuti Bastian kedalam kantornya. Bastian berkali kali mengangguk saat karyawan menyapanya. Tapi Bastian benar, tak ada satupun yang berani bergosip tentangnya. Mungkin Bastian memang terkenal dengan kekejamannya.
"Aku ingin dokumen klien kemarin Kania, selesaikan dengan cepat." perintah Bastian.
"Baik pak." jawab Kania. Ia langsung membuka laptopnya dan mengerjakan perintah Bastian.
*****
Cristina mengadakan acara fashion show di London. Ia menjadi semakin terkenal. Menjadi seorang desainer terkenal memang sudah menjadi cita citanya. Kali ini ia bahkan membuat acara fashion show di sela sela kesibukannya kuliah. Baju rancangan Cristina sangat digemari kaum wanita modern, bahkan artis luar negeri pun sudah banyak yang memakai rancangan busananya.
Ritual sebelum acara adalah menghubungi orangtuanya dan juga kakaknya. Cristina sudah meminta berkat pada orangtuanya. Kali ini Bastian lah tujuan ponselnya.
__ADS_1
"Halo gadis kecilku." ujar Bastian.
"Aku tidak kecil lagi tuan. Hari ini fashion show kelima ku disini. Doakan Cristin bisa menjual banyak busana lagi dan sukses di acara ini ya kak." ujar Cristina.
"Always honey." jawab Bastian. "Aku selalu berdoa untukmu. Kau kesayanganku yang sangat cerdas dan juga mandiri sayang. Kami menantikan kepulanganmu ke Indo." kata Bastian.
"Satu tahun lagi kak, tapi setelah itu Cristin akan menetap di Paris. Impian Cristin adalah menjadi desainer terkenal disana." jawab Cristina.
"Aku sungguh kecewa sayang, kau akan meninggalkan kami di Indo." ujar Bastian.
Cristina terkekeh. "Papi ada jet pribadi, sangat mudah buat kita bertemu. Dan aku ingin kakak sering membawa kakak ipar jalan jalan." ujarnya.
"Kakak ipar, omong kosong. Kau yang akan menikah terlebih dahulu." jawab Bastian.
"Tidak, aku dengar kakak sedang menyukai seseorang. Cristin jadi penasaran sosok wanita yang mampu menaklukan si pria arogan ini." goda Cristina.
"Sialan...siapa yang bergosip? Aku sama sekali tidak menyukainya." ujar Bastian.
Cristina terkekeh. "Menyukainya? Siapa wanita itu kak? Ayolah cerita pada adik kesayanganmu ini." pintanya.
Bastian membelalakkan matanya. Ia tidak sadar jika berkata *n*ya disaat berbicara pada Cristina. "Kakak ada meeting sayang, semoga acaramu sukses ya." ujar Bastian menghindari pembahasan.
"Dasar pria kejam, kau menghindar dari pertanyaanku. Tapi baiklah, acaraku juga sudah mau dimulai. Dah..." jawab Cristina.
"Dah sayang." jawab Bastian sambil mematikan ponselnya.
"Pasti mami yang berkata macam macam pada Cristina. Tian belum memastikan perasaan Tian mi. Tian belum tahu apakah ini benar perasaan cinta atau hanya iba karena keadaan Kania saja." ujarnya didalam hati**.
Cristina dan Delia memang seringkali membicarakan Bastian. Keduanya sering berbagi curahan hati mereka. Jadi tentu saja, jika ada sesuatu yang berbeda pada Bastian, Cristina akan segera tahu.
Bastian bersiap siap untuk menghadiri meetingnya, dengan membawa Kania kesana.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘😘