Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 45 (TAMAT)


__ADS_3

Pertemuan Kania dengan keluarganya sangat berpengaruh pada mental Kania. Selama sebulan penuh perkembangan Kania mengalami kemajuan. Selama sebulan juga ibu maupun kedua adiknya selalu membantunya belajar berjalan. Sampai pada akhirnya mereka harus berpisah kembali.


Sebulan tersisa Kania terus berusaha agar bisa berjalan, ia ingin sekali berlari memeluk Bastian di bandara saat kekasihnya menjemputnya. Namun apalah daya, Tuhan masih mencoba kesabarannya.


Emili adalah sosok nenek idaman, diumurnya yang sudah tak lagi muda tapi semangat dan sikapnya selama merawat Kania sekaligus merawat suaminya sangatlah hebat. Kania bersyukur bisa mengenal keluarga Widjaja yang tak membedakan harkat, martabat seseorang.


Seminggu lagi ia akan dijemput oleh Bastian. Ia akan kembali ke Indonesia apapun yang terjadi. Kania selama sebulan terakhir memang selalu berusaha dengan penuh semangat.


"Kania, bagaimana hari ini nak?" tanya Emili saat Kania kembali dari terapinya.


"Semakin lebih baik nek. Sebentar lagi kita pulang. Bagaimana dengan kakek?" tanya Kania.


"Kakek sangat senang karena akan kembali ke negaranya. Kesehatan kakek juga semakin membaik." jawab Emili.


"Syukurlah..." jawab Kania. "Nek, kemarilah...ada yang ingin Kania katakan." ujarnya.


Emili menghampirinya. Kania membisikkan sesuatu yang membuat Emili terkejut. "Benarkah?" ujar Emili.


Kania mengangguk. "Jadi tolong jaga rahasia ini ya nek." pinta Kania.


"Tentu saja sayang." Emili menciumi wajah Kania, rasa syukurnya tak henti henti diucapkan Emili saat mengetahui kabar yang diucapkan Kania.


"Tian titip salam, sebelum Kania terapi ia menghubungi Kania. Dan bisnisnya di Inggris berjalan dengan lancar walaupun sebelumnya ia mendapatkan beberapa masalah." ujar Kania.


"Syukurlah, dari kecil memang nenek sudah yakin kalau cucu laki laki nenek akan berhasil seperti ayahnya. Bahkan sekarang melampaui Rafael Widjaja." jawab Emili.


"Saat Tian menjemput kita, maka ia tak perlu kemari nek. Kita bertemu saja di bandara. Karena Kania tak ingin menunggu lebih lama untuk kembali ke Indonesia." pinta Kania.


"Apapun itu sayang, kalau begitu nanti jika nenek pulang ke apartemen, nenek akan langsung mengemas barang barang nenek dan kakek. Lalu mengemas barang barangmu juga." ujar Emili.


"Barang barang Kania sudah Kania kemas nek, jangan khawatir. Nenek hanya perlu mengemas barang barang nenek dan kakek saja." kata Kania.


Airmata Emili tiba tiba keluar dengan sendirinya, Hampir 3 tahun ia berada di Amerika. Sudah banyak sekali suka duka yang dialaminya di negara orang ini. Bahkan ia harus menemani Kania berjuang melawan kecacatannya.


Kania memeluk Emili. "Maafkan Kania, telah merepotkan nenek selama satu tahun ini. Kania tidak akan pernah lupa akan apa yang nenek lakukan buat Kania, padahal Kania belum menjadi cucu nenek yang sebenarnya." ujar Kania sambil terisak.


"Siapa bilang kau bukan cucu nenek, setahun sudah cukup buat nenek dekat denganmu sayang, apapun itu kau tetap cucu nenek." jawab Emili.


Kania menghapus airmata Emili. "Jangan menangis lagi nek, kita akan kembali dan berkumpul bersama lagi di negara yang kita cintai."


Emili mengangguk, ia juga menghapus airmata Kania. "Kita harus bersyukur pada Tuhan, karena kita dipertemukan dengan cara seperti ini. Nenek sangat menyayangimu Kania."


"Kania juga sangat menyayangi nenek cantik." jawab Kania sambil tersenyum. Emili memang masih sangat cantik di usianya sekarang.


Hari semakin sore. Emili akhirnya kembali ke apartemennya untuk mengemas semua barang barangnya.

__ADS_1


*****


Bastian selalu menghubungi dokter George, ia hanya ingin tahu perkembangan kekasihnya. Karena seminggu lagi ia akan menjemput Kania, nenek dan kakeknya. Tapi jawaban dokter George masih mengecewakan Bastian. Walaupun Kania tak kehilangan kakinya, tapi Kania tetap belum bisa berjalan. Itulah yang dikatakan dokter George hari ini.


Dengan berat hati Bastian harus menerima Kania seperti apapun keadaannya. Ia berjanji pada diri sendiri akan membuat Kania berjalan lagi saat sudah di Indonesia. Ia akan terus membantu Kania belajar berjalan.


Bastian menatap pembangunan apartemen 15 lantai perusahaannya di Inggris. Pembangunannya sudah mencapai 40% selama dua bulan, sungguh profesional para pekerja di Inggris. Mereka cepat namun tetap terjamin keamananannya.


Bastian kembali ke hotelnya, dan mulai mengemas barang barangnya. Seminggu lagi ia akan menjemput kekasihnya.


Kania...apapun yang terjadi, aku tak akan meninggalkanmu. ujarnya dalam hati.


*****


Seminggu kemudian, Bastian sudah bersiap siap akan menjemput Kania. Tujuh setengah jam menuju Amerika. Ia akan terbang jam 3 pagi agar bisa sampai jam 10 an. Karena Kania ingin langsung kembali ke Indonesia, maka mereka akan bertemu di bandara.


Selama seminggu ini, tak ada kabar baik dari Kania. Bastian menguatkan hatinya agar Kania tidak merasa sedih karena perjuangannya selama satu tahun tak membuahkan hasil. Ia menggunakan jet pribadi ayahnya untuk menjemput mereka.


Tepat jam setengah 11 siang, Bastian sampai di Bandara International Rhurgood Marshall. Pesawat pribadi menunggu mereka di landasan karena mereka akan langsung berputar ke Indonesia. Bastian turun dari pesawat, matanya terus mencari keberadaan Kania, Emili dan Derry.


Dan disanalah Bastian menemukan mereka. Kania menggunakan kursi roda sedang menatapnya penuh kesedihan. Rasa sakit tiba tiba menyayat hati Bastian. Selama setahun mereka berpisah, namun hasilnya tetap nihil walaupun kaki Kania tidak di amputasi. Bastian selangkah demi selangkah menghampiri Kania dengan perasaan yang bercampur aduk dengan kerinduannya.


"Tian berhenti." teriak Kania membuat Bastian bingung. "Inilah janjiku." ujarnya berdiri dari kursi rodanya. Kania berlari dan menghampiri Bastian. Wanita itu memeluk Bastian yang masih terpaku. "Aku Kania yang seperti dulu sayang." ucapan itu menyadarkan Bastian.


Kania menggeleng. "Ini nyata sayang, aku bisa berjalan dan berlari seperti dulu." ujarnya.


Bastian memeluk Kania dengan sangat erat lalu mengangkat dan memutar tubuh Kania.


"Kekasihku sudah sembuh." teriaknya membuat semua yang ada di bandara melihat mereka.


Emili dan Derry memperhatikan cucu mereka. Emili tak kuasa menahan tangisnya. Kebahagiaan itu kembali lagi. Mereka semua akan berkumpul, dan Emili berharap tidak ada lagi cobaan dari Tuhan untuk mereka berdua.


Bastian menciumi wajah Kania. "Terima kasih sayang, ini kejutan terbaik buatku."


Kania kembali memeluk Bastian dengan erat. "Sungguh sangat lama aku menantikan hari ini Tian, maafkan aku telah membuat kau dan keluargamu kesusahan gara gara aku."


Bastian mencium kening dan mata Kania yang masih berlinang airmata. "Ini cobaan yang terbaik dari Tuhan, agar kita bisa lebih sabar dalam menghadapi masalah. Jangan pernah menyesali apa yang terjadi sayang. Tuhan tidak akan mencoba umatnya melebihi kemampuan dari orang tersebut. Keimananlah yang Tuhan sedang coba saat ini. Dan luar biasa hasilnya. Aku bisa menemukan kekasihku kembali." ujar Bastian, ia kembali mengeluarkan air matanya.


Entah mengapa hatinya sangat melankolis saat ini. Air mata yang ia keluarkan tak sebanding dengan kebahagiaannya saat ini. Bastian baru menyadari akan keberadaan kakek dan neneknya. Ia menggenggam tangan Kania menghampiri Emili dan Derry.


"Nenek..." ujar Bastian memeluk neneknya, lalu kakeknya. "Terima kasih kalian telah menjaga Kania buat Tian selama ini."


Emili mengelus kepalanya. "Nenek bahagia dengan keberadaan Kania. Nenek juga bersyukur Kania bisa berjalan dan kita akan pulang dengan membawa kebahagiaan ini."


Bastian menatap Kania. "Jadi sudah berapa lama kau bisa berjalan?" tanya Bastian.

__ADS_1


Kania terkekeh. "Sudah lebih dari 2 minggu. 2 minggu yang lalu, aku sudah mulai bisa berdiri sendiri walaupun masih sering terjatuh. Seminggu kemudian aku mampu melangkahkan kakiku, lalu selanjutnya aku mulai berlari kecil dan sampai saat aku mengejarmu tadi." ujar Kania.


"Jadi dokter George dan nenek?" tanya Bastian penasaran.


"Dokter George tentu saja tahu, tapi aku memintanya merahasiakan semua ini untuk memberimu kejutan. Lalu nenek aku ajak bekerjasama seminggu yang lalu." ujar Kania.


*****


Flash Back On.


"Kania, bagaimana hari ini nak?" tanya Emili saat Kania kembali dari terapinya.


"Semakin lebih baik nek. Sebentar lagi kita pulang. Bagaimana dengan kakek?" tanya Kania.


"Kakek sangat senang karena akan kembali ke negaranya. Kesehatan kakek juga semakin membaik." jawab Emili.


"Syukurlah..." jawab Kania. "Nek, kemarilah...ada yang ingin Kania katakan." ujarnya.


Emili menghampirinya. Kania membisikkan sesuatu yang membuat Emili terkejut. (Kania sudah bisa berjalan bahkan mampu berlari nek, tapi Kania merahasiakannya dari Tian. Kania ingin memberinya kejutan saat ia menjemput kita nanti). "Benarkah?" ujar Emili.


Kania mengangguk. "Jadi tolong jaga rahasia ini ya nek." pinta Kania.


Flash Back Off.


*****


Jadi saat itu Emili diberitahu oleh Kania perihal kesembuhan kakinya, dan mengajak neneknya bekerjasama.


"Kau akan mendapatkan hukuman dariku Kania, kau telah membuatku sedih selama seminggu terakhir." ancam Bastian.


"Nenek..." ujar Kania manja pada Emili.


"Nenek tak ikut ikutan ya, itu urusan kalian berdua." goda Emili. Mereka akhirnya tertawa bersama.


Bastian mengajak mereka boarding pass dan menaiki pesawat. Mereka akan kembali ke Indonesia.


WELCOME TO INDONESIA AGAIN...


*****


Akhirnya Author bisa menyelesaikan novel ini juga.


Tapi kalian jangan khawatir, ada bonus episode tentang berkumpulnya keluarga Widjaja dan Morris. Dan juga tentang pernikahan Bastian dan Kania. Juga saat mereka malam pertama loh...


Stay terus ya...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2