
Kania sampai di rumah atasannya. Rumah bak istana terlihat di depan mata Kania. Bagaimana Bastian bisa tinggal sendiri di rumah besar seperti itu. Kania masih bingung memikirkannya. Untunglah pagar rumahnya tidak terkunci. Kania masuk dan mengetuk pintu berkali kali.
"Pak Tian, ini aku Kania." ujar Kania. "Bapak baik baik saja kan?" suara Kania lebih kencang. "Pak Tian, buka pintu pak." Kania terus berteriak.
Setelah hampir setengah jam pintu akhirnya terbuka. "Kau datang, aku kira kau tak akan menemukanku. Masuklah." ujar Bastian. Kania ingin melewati Bastian, tapi tiba tiba Bastian pingsan dipelukan Kania.
"Pak...Ya Tuhan badannya panas sekali." gumam Kania. Ia susah payah membawa Bastian ke kamar, hampir seperti menyeret tubuh raksasa. Karena tubuh Bastian memang sangat tinggi dan besar. Akhirnya Kania berhasil menidurkannya di ranjang.
Kania membuka lemari Bastian dan mencari handuk kecil untuk mengelap keringat dan mengompres atasannya. Ia mengambil tempat air hangat dan mulai membersihkan wajah Bastian. Kania keluar lagi dan mencari kotak obat. Akhirnya ia menemukan obat penurun panas. Ia membangunkan Bastian dan berusaha memasukkan obat kedalam mulutnya. Untunglah atasannya bisa menelan obatnya. Lalu Kania keluar lagi dan mencari beras untuk memasak bubur.
Sejam kemudian Kania masuk lagi ke kamar Bastian dan memeriksa suhu tubuh atasannya. Panasnya sudah turun, pria itu sudah tidak demam lagi. Kania menelan ludahnya saat membuka kancing kemeja Bastian. Tubuh pria yang berotot dipenuhi keringat. Ia terpaksa mengganti baju Bastian dengan susah payah.
Hari semakin sore, Bastian belum juga bangun dari tidurnya. Kania memanaskan buburnya dan membawanya ke kamar.
"Pak...sudah waktunya makan." kata Kania sambil membangunkan Bastian.
Bastian mengerjapkan matanya dan membukanya pelan pelan. "Kau masih disini, maaf aku merepotkanmu." ujar Bastian.
Kania menggeleng. "Tidak apa apa, lebih baik bapak isi perut dulu." Kania mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapi Bastian pelan pelan. Bastian kali ini sangat penurut.
"Aku sudah mengatakan padamu panggil aku Tian jika sedang tidak bekerja." kata Bastian.
Kania mengangguk dan terus menyuapi buburnya.
"Ini masakanmu?" tanya Bastian.
Kania mengangguk lagi. "Tentu saja, apa tidak enak?" tanya Kania.
"Ini bubur kedua yang sangat enak setelah masakan mami ku." jawab Bastian.
"Terima kasih. Kenapa kau tak memanggil dokter jika merasa tidak sehat?" tanya Kania.
"Ini rahasia, tapi aku takut dengan jarum suntik." jawab Bastian.
Kania terkekeh geli. "Benarkah seorang sepertimu takut jarum suntik, ya Tuhan ini menggelikan." jawabnya.
__ADS_1
"Tertawa saja terus dan aku akan menciummu lagi." ancam Bastian.
Seketika wajah Kania memerah dan langsung menutup mulutnya. "Ini obatmu, 2 jam lagi kau harus meminumnya." Kania mengalihkan pembicaraannya.
Bastian menggenggam tangan Kania. "Bisakah kau disini malam ini?" tanya Bastian.
"Aku tak bisa, ini rumah pria yang masih lajang." jawab Kania.
"Aku tak akan melakukan hal apapun padamu Kania, aku hanya butuh teman malam ini." Bastian memelas.
Kania tidak tega melihat Bastian seperti ini, apalagi ia tinggal sendiri. "Apa kau tak ingin menghubungi orang tuamu?" tanya Kania.
Bastian menggeleng. "Kalau sampai mereka tahu, aku akan dirawat di rumah sakit, dan jarum itu akan melesak di tanganku. Membayangkannya saja aku sangat merinding." jawab Bastian.
Kania mengangguk. "Baiklah, aku akan menemanimu Tian." ujar Kania.
Bastian sangat senang sekali, ia tak melepaskan genggaman tangannya sama sekali. Mata mereka saling memandang. Tangan Bastian tanpa sadar mengelus pipi Kania. Entah mengapa Kania justru terpana dengan ketampanan atasannya. Ia tak bisa menolak sentuhan pria itu.
"Apa yang aku lakukan semalam bukan kesalahan Kania, tapi aku menginginkannya. Aku sangat ingin menciummu selama setahun terakhir ini. Dan sekarang pun aku sangat menginginkannya." ujar Bastian dan menarik wajah Kania lagi lalu menciumnya.
Kania sangat terkejut namun menyerah dengan sentuhan Bastian, ia membiarkan Bastian menciumnya dengan lembut. Kania memejamkan matanya. Ia juga sangat ingin sentuhan ini. Lalu Kania tersadar dan menarik diri.
*****
Jantung Kania berdebar sangat keras, sampai sampai ia bisa mendengarnya sendiri. Ciuman tadi sangat membuatnya gila. Kania berusaha mengendalikan hatinya. Tak mungkin atasannya menyukainya. Mereka bagaikan langit dan bumi. Kania mencuci mangkuk bekas bubur tadi, ia terus melamun. Tapi tiba tiba tubuh kokoh memeluknya dari belakang. Ternyata Bastian turun dari ranjangnya untuk mengejar Kania.
"Mengapa kau menghindariku?" tanya Bastian di belakang telinganya.
"Ti...Tian...apa yang kau lakukan?" tanya Kania terbata bata.
"Aku sedang memeluk wanita cantik." jawab Bastian datar.
"Tian...lepaskan..." ujar Kania.
Bastian membalikkan tubuh Kania dan menatap wajahnya. "Kau lihat mataku." perintah Bastian saat Kania berusaha berpaling dari wajah tampan itu.
__ADS_1
Kania kembali memberanikan diri menatap Bastian.
"Apa kau tak menginginkan ciumanku?" tanya Bastian lagi.
Kania berusaha mengendalikan jantung dan hatinya yang semakin berdetak detak.
Bastian kembali mendekatkan wajahnya pada Kania. Tapi kali ini Kania menghindar.
"Baiklah, aku tahu jawabannya sekarang. Kau tak menginginkanku. Kau boleh pulang Kania." ujar Bastian dingin.
Kania membelalakkan matanya. Ia tak mengerti maksud dari Bastian. Bastian memunggunginya, pria itu terlihat sangat kesal. "Tian bukan itu maksudku." ujar Kania.
"Kau boleh pulang Kania, aku sangat berterima kasih karena kau merawatku. Maaf jika aku merepotkanmu." ujar Bastian lalu meninggalkan Kania.
Kania menghela nafasnya. "Ada apa dengan pria ini? mengapa ia sangat marah?" tanya Kania pada diri sendiri.
Kania mengambil tasnya dan segera keluar dari rumah Bastian.
*****
Bastian memperhatikan Kania dari lantai atas. Wanita itu benar benar meninggalkannya. Bastian mengenggam pagar balkon sangat erat. Sangat sulit baginya mengungkapkan perasaannya. Tapi wanita itu benar benar tidak menginginkannya.
Kania seringkali menarik diri dan lari dari Bastian. Seperti apa tipe pria kesukaannya. Bastian menggertakkan giginya. Ingin sekali ia menarik Kania lagi. Bukan hanya menciumnya tapi membuatnya tidur bersama Bastian, agar wanita itu tidak lagi lari darinya.
Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Kania, kau sekarang lari. Tapi nanti kau yang akan datang padaku. Memohon agar aku mencintaimu. gumamnya pada diri sendiri.
Bastian merasakan hawa dingin menjalar kembali pada tubuhnya, sebelum ia ambruk kembali, ia masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya lagi. Bastian menatap langit langit kamarnya. Pikirannya masih saja pada wanita itu.
Aku memang bodoh, wanita itu datang jauh jauh kemari. Aku malah mengusirnya, dan sekarang aku merasa ada yang hilang disini. Ujarnya sambil meremas letak hatinya.
Bastian menarik selimutnya dan berusaha memejamkan matanya kembali.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1
Maaf atas keterlambatan up...
Dukung, like n komen...