Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 14


__ADS_3

Keesokan harinya, Bastian kembali bekerja. Sejak Kania merawatnya ia jadi lebih baik. Namun tiba tiba Bastian kembali emosi saat Kania tidak mengingatkan pertemuannya dengan klien dari Malaysia.


"Kau sangat bodoh, apa yang sedang kau pikirkan. Mengapa kau baru mengingatkannya sekarang?" bentak Bastian.


"Maaf pak, tapi aku sudah mengingatkannya sejam yang lalu." jawab Kania.


"Seharunya kau ingatkan aku lagi setelah satu jam, jika aku belum keluar dari ruanganku." teriak Bastian. "Ini sangat terlambat, klien akan marah karena menungguku." bentaknya lagi.


Kania hanya menunduk. Pria ini sangat kejam, ia yang lupa mengapa melampiaskannya padaku. gumam Kania dihatinya.


"Keluarlah...Hubungi klien itu agar mengundur pertemuan sejam kedepan karena aku terjerat macet." bentak Bastian.


Kania keluar dari ruangannya. Dasar pria arogan. ujar Kania kesal.


Kania menghubungi pak Kimoto dan syukurlah pria itu mau menunggu dan mengerti akan hal itu, tak lama Bastian keluar. "Apa katanya?" tanya Bastian.


"Klien mengerti dan mau menunggu pak." jawab Kania.


Bastian meninggalkan Kania begitu saja dengan wajah dingin. Kali ini pria itu tak mengajaknya keluar, Kania bingung harus mengikutinya atau tidak. Tapi Bastian berteriak di dalam lift.


"Kau sedang menunggu apa hah? Haruskah aku mengatakan berulang ulang padamu, jika kau harus selalu mengikutiku meeting." teriaknya.


Kania terkejut dan segera mengejar Bastian hingga kakinya terkilir. Ia mengernyit namun tetap menahan rasa sakitnya dan terus mengikuti Bastian. Kakinya semakin berdenyut saat mereka sudah sampai di restoran tempat pak Kimoto menunggu.


Kania menahan sakitnya dan berusaha berjalan seperti biasa walaupun keringatnya mulai keluar karena menahan rasa sakit itu. Pertemuan begitu lama hingga 2 jam, dan syukurlah mencapai kesepakatan. Pak Kimoto tidak bisa berlama lama, ia meninggalkan Bastian dan Kania.


Kania membereskan dokumen di meja, tangannya berkeringat dan bergetar. Kakinya benar benar sakit.


"Kita makan dulu." ujar Bastian.


Kania mengangguk. "Aku izin ke toilet dulu pak." jawab Kania.


Bastian mengangguk. Bastian ingin memesan makanan tapi ia memperhatikan Kania saat menuju toilet, wanita itu sedikit menyeret kakinya. Bastian mengurungkan pesanan, ia membereskan dokumen dan tas kerjanya. Bastian menunggu Kania di depan toilet, tak lama wanita itu keluar, wajahnya memucat dan berkeringat.

__ADS_1


Bastian melihat kakinya. Dan melihat pergelangan kaki kanannya yang membiru dan bengkak. "Dasar wanita bodoh." bentak Bastian lalu membopong Kania, melewati tamu tamu restoran.


Kania sudah tak sanggup meronta lagi. Ia ingin pingsan rasanya. Tubuhnya sangat lemas. Bastian segera membawanya ke rumah sakit.


"Sejak kapan kakimu seperti itu?" tanya Bastian kesal.


"Sejak aku mengejar bapak masuk lift." jawab Kania.


"Kau sangat bodoh, seharusnya kau mengatakannya. Kita bisa ke rumah sakit lebih awal." bentak Bastian.


"Itu akan membuat pak Kimoto menunggu lagi, tidak mungkin pak." jawab Kania lagi.


"Aku ingin sekali mencekik lehermu Kania." ujar Bastian, ia mempercepat mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya disana, Bastian kembali menggendong Kania.


"Aku bisa jalan sendiri pak." ujar Kania.


"Diamlah atau aku pukul pantatmu." ancam Bastian.


"Ini akan lama pak, karena anda terlambat membawanya kemari." ujar dokter. "Jangan dibawa berjalan selama 2 minggu kedepan. Jika melakukannya maka akan semakin lama untuk sembuh." sambungnya.


Bastian mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada dokter. Ia keluar untuk mengurus pembayaran. "Jangan turun." perintah Bastian pada Kania.


Beberapa menit kemudian Bastian membopong Kania lagi untuk mengantarnya pulang. Perlakuan Bastian memang sangat berbeda pada Kania. Kania sangat menyadari itu, sekeras dan sekejam apapun dirinya. Bastian tidak akan lepas tanggungjawab saat ia sakit atau terluka.


Kania memperhatikan jalan, ini bukan arah rumahnya. "Pak kita mau kemana?" tanya Kania.


"Ke rumahku, aku akan memastikan kau berada di tempat tidur selama 2 minggu. Jika ke rumahmu, kau akan melakukan hal bodoh lagi." bentak Bastian.


"Tapi pak, tidak pantas kita tinggal bersama." jawab Kania.


"Persetan dengan kata tidak pantas, aku akan memastikan kau sembuh dan bisa membantuku di kantor lagi. Aku akan meminta izin pada ibumu, agar kau bisa tinggal denganku." ujar Bastian. "Tidak ada kata tapi lagi Kania. Kau ikuti peraturanku atau kau keluar dari perusahaan." ancam Bastian.

__ADS_1


Kania hanya bisa pasrah mengikuti kata Bastian. Ia tak bisa menolak Bastian, ini soal biaya adik adiknya yang semakin memerlukan biaya. Ia masih butuh pekerjaan itu.


Sampailah mereka di rumah besar Bastian. Ia kembali menggendong Kania. Dan meletakkannya di kamar tamu.


"Jika kau berani turun dari ranjang. Aku akan menghukummu Kania." ancam Bastian lagi.


"Lalu apa yang akan aku lakukan disini." tanya Kania.


"Tidak melakukan apapun. Itu perintah." jawab Bastian.


Kania hanya mengangguk pasrah.


Satu jam kemudian Bastian membawa makanan ke kamar Kania. "Makanlah, aku memesannya tadi. Lalu minum obatmu." ujarnya.


"Terima kasih pak." jawab Kania.


"Tian...panggil aku Tian Kania, kau selalu lupa akan hal itu." ujar Bastian.


Kania menghela nafasnya. "Maaf Tian, terima kasih kau sangat baik padaku." jawab Kania.


"Itu tanggung jawabku sebagai atasanmu." kata Bastian dan meninggalkan Kania.


 *****


Bastian duduk di ruang kerjanya di rumah, ia berkali kali membaca dokumen perjanjian bersama klien Jepang tadi, bukan karena tak mengerti tapi karena pikirannya hanya pada Kania. Baru saja ia ingin cuek dan menghindari wanita itu, tapi Tuhan selalu memberikan masalah agar ia selalu dekat dengan Kania.


Itu semua karena kesalahannya sehingga wanita itu terluka. Sangat sulit bagi Bastian mengabaikan keberadaannya. Bagaimana jika ia katakan pada Kania tentang perasaannya dan ditolaknya. Itu sangat memalukan baginya. Tapi setidaknya selama 2 minggu Kania akan tinggal bersamanya. Itu sangat mudah agar bisa membuat wanita itu jatuh cinta padanya.


Bastian kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Tak terasa sudah 2 jam ia berada di ruangan kerja tersebut. Ia keluar dan menghampiri Kania lagi. Wanita itu sangat cantik saat tertidur. Bastian mendekatinya, dan menyelimuti Kania.


"Apa kau tahu Kania, sudah dari awal sejak kau masuk ke perusahaanku. Aku sangat tertarik padamu. Aku membiayai rumah sakit ibumu, aku membayar setengah dari biaya sekolah adik adikmu tanpa kau ketahui. Itu aku lakukan karena aku mencintaimu. Sampai kapan kau akan lari dariku Kania." ujar Bastian pada Kania yang tertidur. "Aku tak mengatakan tentang perasaanku karena aku tahu kau hanya memikirkan keluargamu, dan bodohnya, aku takut ditolak." sambungnya.


Bastian mencium kening Kania dan terus menatap wanita itu. Setelah ia puas, ia mematikan lampu kamar lalu meninggalkannya.

__ADS_1


 *****


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2