Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 17


__ADS_3

Kania terkejut saat kakinya dipegangi seseorang dan ternyata orang itu adalah Bastian. Pria tampan itu tertidur sambil memegangi kakinya. Ia mengingat ingat kembali apa yang terjadi. Ternyata ia mimpi buruk semalam, ia juga baru sadar jika akhirnya ia menerima Bastian sebagai kekasihnya. Kania duduk pelan pelan, kakinya masih nyeri. Dan tubuhnya sangat basah seperti mandi. Kania tak bisa bergerak dalam posisi seperti itu.


"Tian, bangunlah ini sudah pagi." bisik Kania pelan pelan.


Bastian tidak bergeming. Kania terus memandangi wajah tampan itu yang tertidur pulas.


"Apa semalam aku merepotkanmu sampai kau tertidur seperti itu?" gumam Kania.


Kania mengelus kepala Bastian. Ia masih tak percaya bisa bersama atasannya sebagai sepasang kekasih. Bastian mencintainya begitupun dirinya. Entah sejak kapan mereka memiliki perasaan yang sama.


Kania ingin turun dari ranjangnya, ia memaksakan dirinya, rasa nyeri kakinya menjalar, ia mengernyit kesakitan. Gerakan itu membangunkan Bastian.


"Ya Tuhan, kau keras kepala. Apa yang kau lakukan Kania. Kau mau kemana?" bentak Bastian.


"Maaf aku membangunkanmu, aku ingin turun sudah pagi Tian." jawab Kania.


Bastian memeriksa keningnya dan melihat kakinya. "Syukurlah kau sudah tidak demam, apa kakimu masih sakit?" tanya Bastian dengan lembut.


Kania mengangguk. "Masih sangat nyeri." jawabnya.


"Lalu kau mau turun kemana jika masih sakit?" tanya Bastian lagi.


"Kamar mandi Tian, aku mau mandi." jawab Kania. "Tubuhku basah dan lengket, aku mengotori tempat tidurmu." sambungnya.


"Omong kosong, aku tak perduli dengan ranjangnya. Aku bisa mengganti seprainya. Kau menakutiku semalam, kau mengigau dan panas tinggi. Aku memanggil dokter keluargaku, dan menyuntikkan obat padamu. Aku hampir gila dibuat olehmu. Kau benar benar membuatku khawatir Kania." ujar Bastian.


"Maafkan aku Tian, aku sangat merepotkan. Semalam aku mimpi buruk. Semua orang memakiku karena berpacaran denganmu. Mereka benar aku memang tidak pantas." ujar Kania.


Bastian terkekeh. "Itu cuma mimpi sayang, kau sangat berlebihan memikirkan hubungan kita. Kau tidak boleh mandi, tapi kau boleh mengelap tubuhmu. Jika kau tidak bisa aku bisa membantumu." goda Bastian.


Kania membelalakkan matanya. "Itu hanya dalam mimpimu saja Tian." jawabnya.


Bastian terkekeh dan menggendong Kania. Kania terkesiap namun tak dihiraukan Bastian.


"Jangan meronta nanti kita jatuh. Kau tidak boleh berjalan sampai kaki mu sembuh, jadi selama itu aku yang akan menjadi kaki mu." ujar Bastian.


"Apa aku sedang melihat sisimu yang lain?" tanya Kania.


"Apa maksudmu?" tanya Bastian dan menurunkan Kania di kamar mandi pelan pelan.

__ADS_1


"Aku biasa menghadapi bos arogan yang kejam, sekarang aku melihat bos yang romantis dan lembut." jawab Kania.


"Karyawan dan pacar itu berbeda, kau di kantor karyawanku. Di luar tentu saja pacarku. Jadi aku akan menunjukkan sisi yang berbeda." ujar Bastian. "Jangan mandi, cuci muka dan tangan saja. Aku akan mencari pakaian mami di kamarnya. Sudah lama mami meninggalkan pakaiannya disini saat tinggal dulu. Mungkin cukup denganmu." sambungnya.


"Tian, terima kasih." kata Kania.


Bastian tersenyum dan mengangguk. Ia keluar meninggalkan Kania di kamar mandi.


 *****


Bastian menemukan pakaian Delia, ukurannya benar benar pas buat Kania. Pakaian di lemarinya memang pakaian Delia saat Bastian dan Cristina masih berumur 5 dan 3 tahun. Iya mengambil beberapa pakaian yang cocok buat Kania. Lalu menghubungi ibunya.


"Mi, bajumu boleh untuk Kania?" tanya Bastian setelah Delia mengangkat ponselnya.


"Ya Tuhan Tian, mami benar benar terkejut sayang, mami kira terjadi sesuatu pada Kania." jawab Delia.


"Mami sangat khawatir dan menyayanginya." ujar Bastian.


"Anak bodoh, ia akan jadi menantu mami tentu saja mami khawatir dan menyayanginya." jawab Delia. "Berikan padanya pakaian mami yang masih layak." sambungnya.


"Jangan terus terusan bilang ia calon menantu mami, jika Kania tidak mau menikah denganku bagaimana? Kami masih dalam proses saling mengenal. Dan baju mami semuanya layak." jawab Bastian.


Bastian terkekeh. "Mami sangat percaya diri. Tian tak sesempurna seperti yang mami kira. Waktu setahun lebih belum cukup buat Tian meyakinkannya. Bersabarlah mami sayang." ujarnya.


"Kau putra kesayanganku, aku lebih tahu banyak tentangmu. Tak ada yang tak mungkin bagi Bastian Widjaja. Kau lupa mami dan papi hanya mengenal 3 hari." jawab Delia.


Bastian tertawa mengingat cerita masa lalu orang tuanya. "Baiklah ratuku, aku sudahi dulu. Nanti calon menantumu kedinginan di kamar mandi." ujar Bastian.


"Tunggu sayang, Kania sudah baik baik saja kan?" tanya Delia.


"Ia sudah tidak demam, hanya saja kakinya masih belum sembuh, perlu waktu mi." jawab Bastian.


"Baiklah, jaga Kania. Jangan macam macam Tian, mami percaya padamu." nasihat Delia.


"Siap kanjeng ratu, dah." jawab Bastian sambil mematikan ponselnya.


Bastian kembali ke kamarnya.


 *****

__ADS_1


Bastian mengetuk pintu kamar mandi. "Kania kau sudah selesai?" tanya Bastian.


"Iya sudah." jawab Kania.


"Aku masuk ya." ujar Bastian. "Aku bawa baju ganti buatmu." sambungnya.


"Masuklah Tian, aku tidak telanjang kok." jawab Kania.


Bastian masuk. "Padahal aku berharap kau tak memakai baju sehelai pun." ujarnya sambil terkekeh.


"Kau gila. Baju siapa ini?" tanya Kania.


"Baju ibuku. Ada beberapa yang lain juga untukmu. Mami sudah mengizinkannya." jawab Bastian.


Kania membelalakkan matanya. "Maksudmu orangtuamu tahu aku disini?" tanya Kania.


Bastian terkekeh. "Tentu saja, aku tak akan tanpa izin membawa seorang gadis Kania. Mereka tahu dan mengizinkannya. Aku selalu dituntut bertanggungjawab atas ulahku. Dan mereka sangat mempercayaiku." jawab Bastian. "Mereka yakin aku tak akan macam macam padamu yang akan merusak nama baik Widjaja." sambungnya.


"Bertanggungjawab atas apa?" tanya Kania lagi.


Bastian menghela nafasnya. "Tentu saja kakimu Kania, semua itu karena sikapku kemarin sehingga kau terkilir saat mengejarku." jawab Bastian lagi.


"Kau berlebihan Tian, aku hanya terkilir sedikit, itu semua karena kecerobohanku bukan karenamu. Sekarang keluarlah aku mau ganti baju." ujar Kania.


"Kenapa kau pelit sekali, aku hanya ingin mengintip sedikit. Aku juga kan ingin tahu bentuk tubuh kekasihku." goda Bastian dengan jahilnya.


Kania menyemprotkan showernya. "Keluar, atau kau akan aku buat basah." usirnya.


Bastian terkekeh. "Ternyata kau galak kalau masalah harga diri." ujar Bastian. "Sebenarnya aku tak keberatan jika harus basah bersamamu." sambungnya usil.


"Tian... Hentikan... Aku sudah kedinginan." teriak Kania.


"Oke maaf sayang." jawab Bastian lalu ia segera keluar sebelum Kania semakin marah dan memakinya lebih kasar. Bastian menatap Kania kembali lalu menutup pintunya lagi.


 *****


Happy Reading All...😘😘😘


Selamat malam minggu semua... Jika kalian membaca di hari lain selamat beraktifitas.

__ADS_1


Have Fun day...


__ADS_2