Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 38


__ADS_3

Sudah 6 bulan berlalu, awalnya keluarga Kania menolak tinggal bersama Bastian, mereka ingin kembali ke rumah mereka. Namun Bastian memohon dan merayu mereka, akhirnya mereka setuju untuk tinggal bersama Bastian. Perubahan sikap Bastian sangat ketara, dulu ia sama sekali tak ingin tinggal dengan keluarganya sendiri atau orang lain. Tapi sejak bertemu keluarga Kania. Bastian justru ingin terus dekat dengan mereka.


Perusahaan berjalan dengan baik. Fera sekertaris pilihan Delia memang mirip dengan Kania, cara kerja wanita itu terbilang hampir sempurna. Kabar baik juga datang dari asistennya Galih yang menikah. Kecemburuan Bastian dulu terhadap kedekatannya dengan Kania, berubah setelah Bastian tahu Galih memiliki seorang kekasih dan akhirnya mereka menikah.


Kabar dari Amerika juga membuat semuanya senang, walaupun Kania belum bisa berjalan, namun perubahannya sangat bagus setelah Rafael dan Bastian menghubungi dokter George. Bastian belum bisa menjenguk Kania karena ia juga harus menyelesaikan proyek proyek perusahaan di China, Malaysia dan Jepang. Ia akan ke Amerika saat kedua adik Kania libur sekolah, jadi mereka bisa menjenguknya bersama sama.


Cristina juga sudah kembali ke Paris setelah satu bulan tinggal di Indonesia. Ia berjanji akan kembali ke Indonesia untuk selamanya setelah membuka cabang Brydal ChrisMore ketiganya di Paris. Ia akan kembali saat kakek, nenek dan Kania juga kembali ke Indonesia. Delia sangat senang saat tahu, nanti mereka akan berkumpul lagi.


*****


"Fera, kau bisa ikut aku ke Manado lusa?" tanya Bastian pada sekertarisnya.


"Baik pak." jawab Fera.


"Lalu bagaimana dengan anakmu?" tanya Bastian lagi.


"Mereka ada orang tua saya pak, dan juga suami." jawab Fera.


"Baiklah, aku membutuhkanmu disana selama 5 hari. Kita akan melakukan peresmian anak cabang PT. Sinar Abadi. Apa kau siap meninggalkan keluargamu selama itu?" tanya Bastian.


"Siap pak, ini sudah pekerjaan saya." jawab Fera.


"Fix...terima kasih Fer." ujar Bastian. Lalu ia meninggalkan kantornya menuju ruangan Galih.


"Apa kau sibuk?" tanya Bastian.


Galih menggeleng. "Tidak pak, saya sudah menyelesaikan tugas saya."


"Kau tahu kan kantor cabang PT. Sinar Abadi akan diresmikan di Manado. Lusa kita berangkat. Aku bukannya mau memisahkan pengantin baru. Tapi aku membutuhkanmu disana selama 5 hari, apa kau siap?" tanya Bastian lagi.


Galih mengangguk. "Tentu saja siap pak. Tapi bolehkan saya mengajak istri saya?" tanya Galih.


Bastian terkekeh. "Baiklah, asal tidak akan mengganggu pekerjanmu." jawab Bastian. Lalu ia meninggalkan ruangan Galih.


*****


Kania berusaha sekuat tenaga untuk melangkahkan kakinya. Emili sering kali menangis mendampinginya. Wanita itu sungguh bersemangat untuk sembuh. Emili dan Kania bahkan semakin dekat. Kania benar benar seperti cucunya sendiri. Wanita itu terkadang mencurahkan isi hatinya, keluh kesahnya. Membuat Emili semakin menyayanginya.


"Nek, mengapa menangis?" tanya Kania.


Emili menggeleng. "Nenek hanya senang melihat kegigihanmu sayang." jawabnya.


"Nenek apa Kania sangat merepotkan?" tanya Kania lagi.


Emili memeluknya. "Siapa bilang. Kau calon cucu menantuku. Nenek senang bisa menemanimu disini." ujar Emili.


"Seharusnya nenek bisa kembali ke Indonesia, gara gara Kania, nenek tak bisa pulang." ujar Kania sedih.


"Ini justru baik untuk kakek Derry. Ia sering sering check up ke rumah sakit. Dan keadaannya sekarang sangat baik. Ia ingin sekali ikut serta saat pernikahan cucunya nanti." ujar Emili.

__ADS_1


"Apa nenek ingin cucu nenek menikahi wanita cacat sepertiku? Aku tak memiliki apapun untuk bisa dibanggakan nek." kata Kania.


Emili menggeleng. "Kau wanita yang baik dan cerdas, Tian sangat beruntung memilikimu sayang. Sudah jangan banyak berpikir. Sekarang istirahatlah, kau pasti lelah setelah melakukan terapi tadi."


"Kapan Kania bisa berjalan lagi nek, Kania merindukan semua keluarga Kania termasuk Tian." ujarnya sedih.


"Segera, kau akan segera pulih. Nenek yakin akan hal itu." jawab Emili.


Kania mengangguk lalu merebahkan dirinya di tempat tidur rumah sakit kembali. Ia pasien terlama sehingga hampir semua suster mengenalinya.


*****


Dua hari kemudian, Bastian beserta orangtuanya juga asisten dan sekertarisnya terbang ke Manado. Mereka akan meresmikan kantor cabang perusahaan. Mereka menggunakan Jet pribadi Rafael.


"Persiapan sudah sampai berapa persen Tian?" tanya Rafael.


"Menurut orang kepercayaan Tian disana sudah 95% pi, 5% nya akan diselesaikan hari ini juga. Karena besok sudah peresmian." jawab Bastian.


"Kau sudah menghubungi Kania?" tanya Delia.


"Aku tak pernah melewati sehari pun mi." jawab Bastian.


Delia terkekeh, sebenarnya pertanyaannya itu tidak perlu. Tentu saja putranya akan terus menghubungi kekasihnya.


"Oh ya Tuhan, aku sangat merindukannya." ujar Bastian sambil menghela nafasnya dengan keras.


"Bersabarlah, kalian pasti akan bertemu lagi. Dan mami percaya Kania akan sembuh seperti sediakala." kata Delia menenangkan.


Orangtuanya terkejut. "Itu pilihan hidupmu sayang, jika kau bersedia lalu kami bisa apa? Benarkan pi?" ujar Delia.


Rafael mengangguk. "Kami serahkan pilihan hidupmu pada dirimu sendiri Tian. Kau putraku satu satunya. Penerus perusahaan PT. Sinar Abadi. Kau sangat pintar mengambil keputusan. Kami tak perlu ikut campur dalam kehidupan asmaramu." ujar Rafael.


Bastian tersenyum lega. Ia sangat beruntung memiliki orangtua seperti Rafael dan Delia. Bastian memeluk Delia dengan manja.


"Ya Tuhan jangan memeluk mami seperti itu." ujar Rafael sambil melepaskan pelukan Bastian. "Mami ini milik papi." canda Rafael.


Bastian terkekeh melihat kecemburuan ayahnya. "Mami pilih Tian apa papi?" tanyanya.


"Tentu saja putra mami." jawab Delia tanpa memperdulikan Rafael yang cemberut.


"Aku kalah lagi, it's okey." jawab Rafael.


Delia menarik Rafael. "Aku memilihmu juga sayang, tanpamu tak akan ada Bastian."


Rafael mencium bibir Delia sekilas.


"Ow...kalian membuatku iri saja." ujar Bastian lalu memalingkan wajahnya.


Kedua orangtuanya memang saling mencintai, terlihat dari umur mereka sekarang, keduanya selalu memamerkan kemesraan. Bastian sangat bangga akan hal itu.

__ADS_1


3 jam setengah kurang lebih perjalanan mereka. Mereka semua turun dari pesawat menuju hotel. Bastian mengizinkan Galih membawa istrinya, sedangkan Fera akhirnya membawa putri kecilnya yang baru berumur 4 tahun.


"Kita beristirahat dulu. Kalian boleh kemana pun, kita akan bertemu besok pagi di perusahaan yang akan diresmikan." ujar Bastian.


Semuanya mengangguk. Rafael dan Delia pun menuju kamar mereka.


*****


Malam itu Bastian kembali menghubungi Kania. "Selamat siang sayang." ujar Bastian.


"Hem...selamat malam waktu Indonesia." jawab Kania. "Bukankah ini sudah sangat larut?" tanya Kania.


"Hm...benar...tapi aku merindukanmu." jawab Bastian.


"Kau sedang apa?" tanya Kania lagi.


"Aku sudah di tempat tidur hotel di Manado, sambil membayangkan wajah cantikmu." jawab Bastian lagi.


"Gombal...apa tak ada wanita yang mendekatimu selama aku tak ada?" ujar Kania.


"Sayangnya sangat banyak, sampai aku bingung memilihnya." goda Bastian.


"Baguslah, jangan menunggu wanita cacat." jawab Kania, suaranya terdengar kesal.


Bastian terkekeh mendengarnya. "Aku bingung memilih karena tak ada yang mirip dengan kekasihku sayang, wanita yang selalu aku rindukan siang dan malam namanya Kania Morris."


"Tapi aku serius, kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku." ujar Kania.


"Berhenti mengatakan itu Kania, aku selalu mengatakannya padamu tak ada wanita lain selain dirimu dihatiku. Aku akan marah jika kau terus seperti ini." ujar Bastian kesal.


"Maafkan aku sayang, aku merasa tak percaya diri." jawab Kania sedih.


"Apapun hasilnya kedepan nanti, aku takkan pernah meninggalkanmu Kania. Kau harus ingat akan hal itu." kata Bastian meyakinkan.


"Terima kasih, kau kekuatanku Tian. Ini sudah sangat larut, kau tidurlah. Besok acara peresmian itu kan?" ujar Kania.


"Aku masih merindukanmu tapi baiklah aku akan istirahat sekarang, aku tak ingin tamu undangan takut melihat lingkaran hitam di mataku." jawab Bastian sambil terkekeh.


Kania ikut terkekeh. "Selamat malam sayang, selamat beristirahat. Bye..." ujar Kania.


"Bye sayang." jawab Bastian seraya mematikan ponselnya. Ia merebahkan diri lalu tertidur dengan lelap.


*****


Happy Reading All...😘😘


Jangan lupa like n komen terus...


Selalu beri dukungan untuk Author...

__ADS_1


Terima kasih...🙏🙏🙏


__ADS_2