
Hari ini adalah hari kepergian Derry dan Emili ke Amerika, dengan berat hati Delia melepas kepergian kedua orangtuanya di bandara. Keduanya naik jet pribadi Rafael dan membawa satu pelayan untuk keduanya disana. Bastian benar benar memastikan kakek neneknya tak kesulitan disana.
"Sering sering hubungi kami bu, Delia tidak ingin kalian menghilang tanpa kabar." ujar Delia sambil memeluk Emili dan Derry.
"Jaga cucu cucu ibu dengan baik. Ibu akan sangat merindukan kalian." jawab Emili.
"Maaf Tian terlambat datang." ujar Bastian ngos ngosan karena berlari.
"Jika kau sibuk mengapa mesti datang sayang." ujar Emili.
Bastian menggeleng. "Setidaknya Tian ada saat kalian pergi." jawabnya.
"Cucu yang baik." ujar Emili sambil memeluknya. Bastian membalas pelukan Emili lalu memeluk Derry.
"Jaga kesehatan ibu juga disana, jangan terlalu lelah." ujar Rafael sambil memeluk Emili juga Derry.
"Sayang sekali Mila dan Mili tidak bisa mengantar kalian." ujar Delia.
"Mereka tak henti hentinya menangis tadi pagi sebelum berangkat sekolah." jawab Emili sambil terkekeh. "Gadis gadis itu sangat menyayangi kami." sambungnya.
"Tentu saja, kami semua sangat menyayangi kakek dan nenek." ujar Bastian.
Sudah waktunya mereka berangkat. Delia terisak saat keduanya masuk ke ruang boarding pass, Rafael terus memeluk istrinya dan menenangkannya. "Mereka akan kembali setelah sehat sayang." ujar Rafael. Delia mengangguk.
"Kalian juga jaga kesehatan. Tian akan sangat sibuk. Untunglah sekertaris Tian tak seburuk sebelumnya." ujar Bastian.
"Mami pikir kau bukan hanya menyukainya sebagai sekertaris." ujar Delia.
"Mami sok tahu, kalian hati hati di jalan. Tian akan kembali ke kantor sekarang." kata Bastian.
"Kau juga hati hati di jalan." ujar Delia dan Rafael.
Keduanya berpisah di bandara menuju tempat masing masing.
*****
"Pak siang ini ada pertemuan klien dari China di restoran xiang tau." ujar Kania.
"Ikutlah denganku." perintah Bastian tanpa mendongak dari dokumennya.
__ADS_1
"Baik pak." jawab Kania.
Bastian mendesah kesal pada dirinya. Jantungnya terus berdegup kencang saat melihat Kania. Ia harus mencari kesalahan Kania. Untuk menutupi perasaannya.
Keduanya berangkat menuju restoran xiang tau. Kania sangat serius menyimak pembicaraan mereka dan mencatatnya. Untunglah ia bisa berbahasa mandarin, jadi mengerti apa yang mereka bicarakan. Setelah selesai mereka berpisah. Bastian mengajak Kania ke restoran lain, karena ia tak menyukai menu makanan disana.
"Mau makan apa?" tanya Bastian pada Kania.
"Terserah pak Bastian saja." jawab Kania.
"Berilah aku solusi Kania, jangan terlalu menurut." ujar Bastian.
"Jika saranku pasti di restoran pinggir jalan pak." jawab Kania lagi.
"Omong kosong, membuatku sakit perut itukah tujuanmu?" ejek Bastian.
"Mana aku berani." ujar Kania.
Bastian mengajaknya ke rumah makan seafood. Kania membelalakkan matanya. Ia alergi seafood.
"Aku sangat menyukai seafood, kau harus mencobanya." kata Bastian. "Tidak ada kata tidak Kania, kau tak merekomendasikan restoran apapun, jadi kau harus mengikuti keinginanku." sambung Bastian sebelum Kania menolak.
"Enak bukan, habiskanlah makananmu. Aku tak ingin membuang buang uangku." perintah Bastian.
Kania hanya mengangguk. Dan terus memakan hidangannya dengan terpaksa. Semoga tubuhku baik baik saja. pikir Kania.
Keduanya menyelesaikan makanannya dan kembali ke kantornya. Kania langsung menuju toilet, berusaha mengeluarkan makanan dalam perutnya, tapi ia tidak bisa. Rasa gatal mulai menjalari tubuhnya. Wajahnya mulai merah. Dan ya Tuhan, bibir dan matanya mulai bengkak. Ia mulai seperti alien sekarang. Ia terus merasakan gatal yang luar biasa. Ia segera kembali ke mejanya dan mencari obat alerginya tapi ternyata obatnya tertinggal di rumah. Dasar bodoh. gumamnya.
Kania mulai tak bisa bernafas, ia berusaha mengambil gelas minumnya. Dan bunyi dentangan keras saat gelasnya terjatuh ke lantai. Kania berusaha mengambil nafasnya tapi ia masih kesulitan.
*****
Bastian mendengar keributan di meja Kania. Ia berusaha mengabaikan kebodohan gadis itu yang menjatuhkan gelasnya. Ia terus melihat dokumen di depannya. Suara gemerisik di meja sekertarisnya sangat mengganggu Bastian.
Apa sih yang dilakukan wanita itu? gumam Bastian.
Ia menutup dokumennya dan segera keluar melihat Kania. Bastian membelalakkan matanya. Ia tak menemukan Kania di mejanya, tapi semuanya berantakan. Pecahan gelas, genangan air, kertas kertas berantakan.
"Dimana kau Kania, kau pikir ini tempat sampah." bentak Bastian.
__ADS_1
Samar samar Bastian mendengar rintihan Kania di bawah meja. "Kaukah itu Kania?" tanyanya.
Bastian tak mendapat jawaban, tapi ia segera menghampiri meja Kania dan melihat kebawah. Bastian terkesiap saat melihat wanita itu memegangi dadanya. Wajahnya merah dan bengkak. "Ya Tuhan kau kenapa?" tanyanya lagi.
Kania tidak bisa menjawabnya, justru ia pingsan. Bastian segera mengangkat tubuhnya dan membawanya ke mobilnya. Tubuh Kania dipenuhi ruam ruam merah dan keringat. "Sialan, apa kau alergi seafood. Dasar wanita bodoh." bentak Bastian dan segera mengendarai mobilnya ke rumah sakit. Untunglah rumah sakit tak jauh dari kantornya.
Bastian membopong Kania dan segera membawanya ke UGD. Dokter langsung menanganinya dengan memasang alat bantu pernapasan. Dan menyuntikkan beberapa obat alergi padanya.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dan memberitahu keadaan Kania pada Bastian. Benar tebakan Bastian jika Kania alergi seafood, tapi kenapa wanita itu memakannya dalam porsi yang begitu banyak. Dasar wanita bodoh. Ia menghubungi Jodhi dan memberitahu keadaannya. Jodhi diminta menangani pekerjaannya hari ini, ia akan menunggu Kania di rumah sakit.
*****
Sudah jam 5 sore, Kania belum juga sadar. Tapi bengkak bengkaknya sudah mulai menghilang, ruam ruam merah juga sudah sedikit memudar. Bastian terus menunggunya. Ia hanya ingin tahu mengapa ia memaksa memakannya jika alergi. Bukankah ia punya mulut untuk memberitahu Bastian. Bastian sangat mengkhawatirkannya, ia ingin mati rasanya saat melihat wanita itu di bawah mejanya tadi dan sulit bernafas.
Kania membuka matanya, ia terkejut saat Bastian sedang memandangnya dengan tajam. "Akhirnya kau bangun, bisa kau jelaskan semua ini?" tanya Bastian.
Kania hanya diam. Ia sama sekali sulit untuk berdebat.
"Apa kau tidak punya mulut saat aku ajak makan tadi?" bentak Bastian. "Kau bisa mati jika aku tak menemukanmu. Apa kau ingin cepat bebas dari tanggungjawab keluargamu?" teriakan Bastian memekakkan telinga Kania.
"Maaf pak, aku hanya mengikuti perintah pak Bastian. Aku tak bisa menolak. Itu yang bapak katakan padaku kan." jawab Kania.
"Kau gila, apa membahayakan nyawamu termasuk perintahku?" bentak Bastian lagi. "Aku tak menyuruhmu terus diam, jika kau ada pendapat lain. Kau bukan wanita yang bodoh Kania." ujar Bastian. Bastian menghela nafasnya. "Aku tak bisa menghubungi keluargamu, aku tahu ibumu masih di rumah sakit, dan kedua adikmu harus menjaganya. Jagalah kesehatanmu sendiri jika tidak ingin merepotkan orang lain." sambungnya.
"Bagaimana bapak bisa tahu keluargaku?" tanya Kania penasaran.
"Kau pikir perusahaan Widjaja akan merekrut karyawan tanpa melihat latar belakangnya? Kami tidak ingin memasukkan penjahat dalam perusahaan, itulah mengapa aku tahu keluargamu." jawab Rafael, kata katanya tidak sepenuhnya berbohong, walaupun sebenarnya untuk kepentingan pribadinya.
"Istirahatlah sekarang. Kau akan keluar dari rumah sakit nanti malam. Aku akan mengantarmu pulang. Hubungi adikmu, bilang kau lembur agar mereka tak khawatir." ujar Bastian.
"Terima kasih pak." jawab Kania.
Bastian meninggalkan Kania untuk membeli makan malam.
*****
Jangan lupa dukung, like n komen terus ya...
Have fun guys...😘😘😘
__ADS_1