Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 11


__ADS_3

Satu tahun lebih telah berlalu, perasaan Bastian semakin lama semakin tumbuh besar. Tapi akhir akhir ini ia justru seringkali memarahi Kania, bukan karena memang Kania banyak kesalahan. Tapi karena Bastian ingin sekali menutupi perasaannya. Ia tak ingin mengatakannya sekarang.


Wanita ini sangat jauh untuk dijangkau. Ia wanita yang hanya memikirkan keluarganya. Tak sama sekali memikirkan dirinya sendiri. Jika Bastian mengungkapkan perasaannya sekarang, maka sudah pasti Kania menolaknya. Dan Bastian sangat benci ditolak.


"Apa ini?" bentak Bastian saat Kania memberikan dokumen. "Apa kau baru anak lulus kemarin hah, kau selalu salah mengerjakan apa yang aku perintahkan." teriak Bastian lagi.


"Maafkan aku pak." jawab Kania. "Aku akan memperbaikinya pak." Kania mengambil dokumen yang berserakan di lantai dan segera keluar dari ruangan atasannya.


Kania menghela nafasnya saat sudah berada di mejanya. Ingin rasanya ia menangis dan keluar dari pekerjaan ini. Tapi ia sangat membutuhkan pekerjaan demi keluarganya. Sudah selama 6 bulan Bastian selalu marah padanya. Akhir akhir ini Kania merasakan keanehan pada atasannya. Dulu Bastian sangat perhatian padanya dan selalu menerima hasil kerjanya. Tapi sekarang Bastian kembali marah dan melemparkan dokumennya. Kania kembali membuka dokumen yang ia kerjakan dan mengulanginya kembali.


Sudah waktunya makan siang tapi ia belum selesai mengerjakannya. Tangannya mulia bergetar, ia tidak ingin atasannya marah lagi. Pintu ruangan terbuka. Kania mendongak dan melihat CEO tampan itu menatapnya. Wajah Kania berubah menjadi pucat. Bastian mendekatinya.


"Kau tahu ini jam berapa?" tanya Bastian pelan.


Kania hanya mengangguk. Bastian menarik tangannya. "Temani aku makan siang." Bastian tak melepaskan tangannya sama sekali sampai kedalam mobil. Semua karyawan menatap perlakuan Bastian pada Kania, tapi Bastian tidak perduli.


Bastian membawanya ke sebuah restoran mahal. "Pak aku bisa makan di tempat lain, aku tidak cocok disini." ujar Kania sebelum turun dari mobil Bastian.


Bastian menatapnya tajam. "Aku yang menentukan kau pantas atau tidak disini. Jangan cerewet, kau tak mungkin membiarkan aku makan di pinggir jalan kan?"


Bastian memegang tangannya lagi dan membawanya masuk kedalam restoran. "Pesanlah makananmu." perintah Bastian.


Kania membelalakkan matanya saat melihat daftar harga di menu. Ia menelan ludahnya. Harga paling murah seratus ribu. Itu pun hanya minuman ringan. Bastian menarik daftar menu dari tangan Kania. "Biar aku saja." Bastian mulai memilih beberapa makanan.


"Makanlah yang banyak, aku tak ingin sekretarisku mati kelaparan." ujar Bastian setelah meja terisi penuh dengan makanan.


Kania mengangguk dan mulai mencicipi makanannya, sangat sulit bagi Kania menelan makanan di depan atasannya. Apalagi setelah tadi Bastian marah padanya. Bastian memang selalu seperti ini, walaupun ia sangat marah pada Kania tapi pria ini selalu mengajaknya makan.


"Gajimu akan aku potong jika kau tak menghabiskan makanan ini Kania." ancam Bastian.


"Tapi pak ini terlalu banyak." jawab Kania.


"Apa aku bisa ditolak?" tanya Bastian.


Kania menggeleng. Ia mencoba makan sebanyak mungkin yang ia bisa. Bastian hanya tersenyum melihatnya. Wanita ini sangat lucu dan penurut. Bastian semakin menginginkannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mereka selesai makan siang. "Maaf pak aku tidak sanggup lagi."


Bastian mengangguk. "Tidak apa, kau cukup banyak memakannya. Itu saja aku sudah senang. Sekarang waktunya kita kembali."


Bastian mengajak Kania kembali ke kantornya. Sebenarnya rasa bersalah ada pada hati Bastian. Ia sering sekali marah dan membentak Kania. Inilah bentuk minta maaf pada Kania. Ia tak ingin wanita yang benar benar ia cintai, akan stress dan sakit karenanya.


Dokumen tadi sebenarnya sudah sangat bagus. Tapi entah kenapa Bastian melakukan ini. Ia sekali sekali menatap Kania yang terdiam disampingnya.


"Apa aku sangat kejam?" tanya Bastian tiba tiba.


"Tidak pak, itu salah aku yang bekerja kurang baik." jawab Kania.


Sesampainya di depan kantornya. Bastian menyuruh Kania turun sendiri. "Turunlah dan revisi dokumen tadi. Aku masih ada urusan diluar." perintah Bastian.


"Baik pak, terima kasih." Kania turun dan masuk ke kantornya tanpa menengok ke belakang.


Bastian menghela nafasnya. "Sialan...aku sangat ingin menciumnya. Mata Kania terlihat sangat lelah dan hatiku semakin berdebar didekatnya." gumam Bastian.


Bastian menancap gas mobilnya untuk mengunjungi peralihan properti di Bekasi.


 *****


"Kau selalu saja menyalahkan aku Del. Putramu melakukan itu karena ia ingin karyawannya tidak bodoh." jawab Rafael.


"Tapi membentak seorang wanita itu tidak benar, Kania wanita terlama sekarang yang menjadi sekertarisnya. Demi Tuhan, aku berharap wanita itu mampu bertahan selamanya. Dan tadinya aku kira putra kita menyukainya." ujar Delia lagi.


Rafael terkekeh melihat tingkah Delia. "Mengapa kau begitu khawatir sayang?" tanya Rafael.


"Aku sangat khawatir, wanita mana yang mau dengan pria seperti itu?" tanya Delia.


"Kau lupa, putra kita sangat tampan. Wanita manapun akan tertarik padanya." jawab Delia.


"Wanita hanya sekilas melihat penampilannya. Setelah mengenalnya lebih dalam, mereka akan lari terbirit birit." ujar Delia kesal.


Rafael justru tertawa terbahak bahak. "Kau semakin tua semakin bawel sayang." ejeknya.

__ADS_1


Delia hanya cemberut mendengar kata kata Rafael.


"Tapi aku selalu mencintaimu. Kau wanita yang membuatku selalu bergairah diumurku yang tua ini." goda Rafael.


"Pria tua mesum, otakmu tak pernah bersih jika bersamaku." ujar Delia.


Rafael terkekeh lagi dan menarik Delia kepelukannya.


"Kau tahu aku sangat berharap putra kita bisa bersama Kania. Aku sudah beberapa kali bertemu dengan wanita itu. Ia sangat cantik dan menarik, dan aku pikir ia cerdas. Menurut Jodhi, Kania selalu benar mengerjakan pekerjaannya tapi Tian masih saja tidak puas. Sebenarnya apa yang terjadi pada putra kita Raf?" tanya Delia.


"Kau ingin bertaruh denganku?" tanya Rafael.


"Apa maksudmu?" ujar Delia.


"Aku bertaruh putra kita mencintai Kania, tapi cara ia mengendalikan dan menutupi perasaannya seperti itu." jawab Rafael.


"Benarkah? Mengapa kau lebih tahu, padahal aku yang paling dekat dengan Tian." ujar Delia.


"Aku pria sayang, dan aku juga ayahnya. Aku sangat tahu bagaimana sikap putra kita. Ia sangat marah dan selalu membentak Kania. Tapi saat jam makan, ia tak pernah meninggalkan Kania. Ia selalu membawanya ke restoran mahal dan memastikan Kania makan dengan benar." kata Rafael.


"Ya Tuhan, kenapa aku sangat bodoh. Aku melupakan bagian itu Raf." Delia tersenyum. "Apa kau setuju jika Kania menjadi menantu kita?" tanya Delia.


"Wanita manapun yang bisa membahagiakan putra kita, aku akan menyetujuinya." jawab Rafael.


"Kau ayah yang terbaik sayang. Aku merindukan ayah dan ibu. Kita tak tahu jika akhirnya mereka harus tinggal lebih lama di Amerika karena keadaan ayah semakin buruk. Aku berharap mereka akan terus sehat sampai anak anak kita menikah nanti. Dan ya Tuhan, aku merindukan Cristin. Putri kita pulang hanya sebulan, mengapa ia malah tinggal di Paris Raf?" ujar Delia kesal.


Rafael mengeratkan pelukannya pada Delia. "Ayah dan ibu pasti akan kembali ke Indo dalam keadaan sehat sayang, dan untuk putri kita biarkan ia mencari hidupnya sendiri. Ia semakin sukses di Paris. Itulah impiannya sejak remaja dulu. Kita masih bisa bertemu dengannya. Dan kau harus ingat sayang, masih ada putri kembar kita yang membutuhkan perhatian." ujar Rafael.


Delia mengangguk dan mereka bersantai sambil menunggu si kembar pulang sekolah.


 *****


Happy Reading All...😘😘😘


Jangan lupa dukung, like n komen ya...

__ADS_1


__ADS_2