
Bastian terus mengutuk dirinya selama perjalanan. Ia tak bisa berpikir dengan jernih atas pengkhianatannya beberapa jam yang lalu. Ia sangat merindukan Kania, sampai sampai ia melampiaskannya pada wanita lain. Ia merasa menjadi pria yang sangat brengsek.
Perjalanan cukup panjang bagi Bastian, ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya saat berada didalam pesawat. Berkali kali pramugari menyuruhnya beristirahat. Tapi ia sama sekali tak bisa. Ia masih merasa bersalah atas apa yang ia lakukan di belakang Kania.
Tepat pukul 1 siang, Bastian sampai di rumah sakit. Ia langsung menuju kamar Kania. Ia menunggu didalam, ia tahu Kania sedang melakukan terapinya. Bastian mondar mandir dengan resah menunggu kekasih yang ia rindukan. Suara pintu ruangan terbuka. Bastian melihat Kania didorong masuk oleh suster menggunakan kursi roda. Artinya Emili belum ke rumah sakit.
Kania belum melihatnya, karena wanita itu sedang menunduk sedih. Mungkin karena terapinya yang belum berhasil. Bastian menyuruh suster diam dengan jarinya di bibir dan menyuruh suster pergi. Suster hanya mengangguk.
"Apa ada sesuatu di bawah sana?" tanya Bastian.
Kania terkejut dan mendongak. Ia memperhatikan sosok pria yang dirindukannya ada di depannya. "Sadarlah Kania, itu hanya khayalanmu saja." gumamnya. Bastian mendengarnya saat Kania mengatakan itu.
"Apa pria tampan di depanmu ini hanya bayangan?" tanya Bastian lagi.
Kania membelalakkan matanya. "Tian...kau benar benar Tian." ujarnya.
Bastian menghampirinya lalu menunduk dan memeluk Kania. Tangisnya pun pecah, sangat menyayat hati. Bastian menghapus airmatanya lalu mulai menciumi wajah Kania.
"Aku sangat merindukanmu sayang." ujar Bastian dan akhirnya ikut menangis. "Maaf, maaf, maafkan aku." ujarnya.
Isakan Kania semakin keras lalu memeluknya dengan erat. "Aku juga sangat merindukanmu. Aku pikir ini hanya mimpi. Ya Tuhan, aku benar benar merindukanmu." ujarnya sambil menangis.
Bastian mengangkat pipinya lalu menciumnya lagi, ia melepaskan kerinduannya sampai keduanya hampir kehabisan nafas. Bastian menempelkan dahinya pada dahi Kania. Keduanya sama sama mengatur nafas mereka. Bastian mengecup mata Kania yang mulai terlihat sembab. Lalu ia membopong Kania untuk menaruhnya di atas ranjangnya.
Kania menatap Bastian dengan seksama. "Aku masih cacat, aku belum berhasil..."
"Ssssstttt..." ujar Bastian menggeleng. "Kau pasti akan sembuh. Percayalah pada dirimu sendiri sayang." sambungnya. Bastian kembali memeluk Kania. "Ya Tuhan, aku tak sanggup berpisah darimu."
"Bawa aku pulang, aku sudah bosan di rumah sakit Tian, aku menghabiskan banyak biaya. Tapi hasilnya..."
Bastian membungkam bibir Kania dengan menciumnya agar diam. "Jangan pikirkan apapun sayang, hanya satu yang harus kau lakukan "Sembuh". Hanya itu yang aku inginkan, tunggu sampai 6 bulan kedepan. Jika memang tak ada hasil juga, aku janji akan membawamu pulang apapun hasil akhirnya. Aku akan menerimamu seandainya kau tak pernah bisa berjalan lagi." ujar Bastian.
Kania kembali menangis. Ia sangat beruntung bisa mendapatkan pria seperti Bastian Widjaja. "Kau janji kan 6 bulan lagi." ujar Kania.
Bastian kembali mengangguk meyakinkan Kania. "Aku janji." jawabnya. "Kau belum makan siang kan? Kenapa kau semakin kurus?"
Kania menggeleng. "Aku belum makan, aku kurus karena aku tak ingin makan setiap kali selesai terapi. Kau istirahatlah Tian, kau baru sampai kan." ujar Kania.
"Aku akan istirahat setelah kau makan." Bastian mengambil nampan makanan yang sudah disediakan.
Kania menggeleng. "Kau harus makan Kania. Jika tidak aku akan kembali ke Indonesia sekarang juga." ancam Bastian.
__ADS_1
Kania cemberut dan mulai membuka mulutnya saat Bastian menyuapinya.
*****
Janeta mencari Bastian di hotel dan terkejut saat bertemu Rafael dan Delia. Mereka mengatakan, Bastian berangkat ke Amerika kemarin malam. Janeta sudah melihat kekasih Bastian. Wanita itu hanya sekertaris dan memang cantik. Kasus kecelakaannya pun ada di berita utama. Janeta selama ini tak menyukai berita berita. Jadi ia baru tahu saat penasaran kemarin malam.
Bastian meninggalkannya begitu saja setelah ciuman panas terjadi kemarin malam. Hampir saja Janeta bisa mendapatkan Bastian. Baiklah kita akan bertemu lagi Bastian...pikir Janeta.
"Apa yang kau lakukan disini Jen?" tanya Hardoyo.
"Papa...aku hanya menanyakan keberadaan Bastian pada om dan tante Widjaja." jawab Janeta.
"Jadi benar jika Bastian itu teman kuliahmu?" tanya Delia.
Janeta mengangguk.
"Sangat kebetulan ya, tapi Tian sebentar lagi akan menikah dengan kekasihnya." tegas Delia. Ia sama sekali tak menyukai Janeta. Wanita itu terlihat liar di mata Delia.
Rafael menggenggam tangan Delia agar tenang.
"Selamat atas kabar baik ini tante, kekasihnya sekertarisnya kan?" tanya Janeta.
"Apa ada masalah dengan seorang sekertaris?" tanya Delia kesal.
Sebelum Delia melontarkan kata kata pedas, Rafael mengalihkan pembicaraan. "Mohon maaf pak Hardoyo, aku dan istriku akan sarapan." ujar Rafael.
"Baik silahkan pak Rafael." jawab Hardoyo.
Rafael menarik tangan istrinya dan meninggalkan mereka.
"Kau keterlaluan ma." ujar Hardoyo. "Apa kau lupa, nyonya Widjaja itu juga bukan dari keluarga berkelas. Kata katamu bisa merusak bisnisku. Aku yakin pak Rafael akan menolak proposal bisnisku." ujarnya marah.
"Maaf pa, aku tadi kesal dengan istri pak Rafael yang menegaskan putranya sudah memiliki calon istri. Memang apa kurangnya putri kita." jawab Talia.
"Putri kita tidak kurang apapun, tapi ia datang terlambat. Karena pria yang ia sukai sudah memiliki calon istri. Ingat ya ma, kalau sampai bisnisku gagal. Aku akan menyalahkanmu." ancam Hardoyo.
Talia menunduk menyesal akan perbuatannya tadi. Ia berharap keluarga Widjaja bisa memaafkannya.
*****
"Cucu nenek." teriak Emili malam itu.
__ADS_1
"Nenek." jawab Bastian sambil memeluk Emili.
"Kapan kau sampai nak?" tanya Emili.
"Tadi siang nek." jawab Bastian.
"Maafkan nenek Kania, kakek hari ini tidak bisa ditinggal, jadi nenek baru sempat datang sekarang. Dan kau datang dari siang tidak menelpon nenek." ujar Emili.
Bastian mencium pipi neneknya. "Tian tak ingin mengganggu nenek, lalu meninggalkan kakek karena ingin cepat cepat bertemu Tian."
"Dasar anak nakal. Baiklah malam ini nenek bisa meninggalkan Kania. Kakekmu mulai rewel seperti bayi." kata Emili kesal.
Bastian terkekeh. "Tapi kakek sehat kan?"
"Tentu saja sehat. Dan ingin cepat cepat kembali ke Indonesia bersama Kania." jawab Emili.
"Kania akan berusaha segera sembuh nek." jawab Kania.
Emili mengangguk dan berpamitan meninggalkan mereka berdua.
"Nenek semakin energik, padahal kakek lemah." ujar Bastian pada Kania saat Emili sudah meninggalkan mereka.
"Nenek sangat sabar menemaniku, aku benar benar merasa tidak enak merepotkannya." jawab Kania.
"Kau selalu saja berkata seperti itu sayang, nenek sangat menyukaimu. Ia seperti sedang dekat dengan cucunya sendiri saat berada didekatmu. Itulah yang selalu ia katakan saat aku telpon." ujar Bastian. Ia mendekati ranjang Kania dan duduk disampingnya. "Ada yang ingin aku katakan sayang, ini pengakuan atas kesalahanku. Aku harap kau mengampuniku." ujar Bastian tiba tiba.
Kania menyipitkan matanya. "Apa yang terjadi? Apa kau berselingkuh?" tanya Kania tepat sasaran.
Deg... Deg... Deg...
Suara jantung Bastian lebih cepat dari sebelumnya. "Kau janji akan memaafkanku kan?" pinta Bastian.
"Katakan dulu apa yang terjadi." jawab Kania.
Bastian menghela nafasnya. "Aku bertemu dengan teman kuliahku di Manado namanya Janeta, aku tak bisa berbohong, wanita itu memang sangat cantik. Sebelum aku datang kemari, malam itu aku menemuinya di kamar hotel." ujar Bastian berhenti.
"Dan...?" tanya Kania.
"Aku jahat padamu Kania, aku minta maaf." Bastian menggenggam tangan Kania. "Aku...Aku...Aku menciumnya dan hampir melakukan kebodohan jika saja wajahmu tak membayangiku." ujar Bastian.
Kania seketika menarik tangannya. Ia tertawa mengejek. "Jadi kau datang kemari bukan karena merindukanku, tapi karena kau melakukan kesalahan dan bodohnya aku, setelah kau mencium wanita lain. Aku mau dicium olehmu. Ya Tuhan, aku memang pantas mendapatkannya." ujar Kania kesal.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘😘😘