
Kania tak bisa menahan rasa kantuknya setelah minum obat. Ia terus saja menguap di depan Bastian. Bastian terus memperhatikan Kania yang menguap.
"Apa obatnya membuatmu kantuk?" tanya Bastian.
Kania mengangguk. "Aku tak bisa menahan mataku." jawabnya.
"Mengapa kau diam saja, katakanlah daritadi padaku Kania." ujar Bastian kesal.
"Ini masih jam kerja pak CEO." jawab Kania.
"Kau mengejekku sayang, itulah mengapa aku bawa pekerjaan ini ke rumah. Karena aku tahu kau butuh istirahat." Bastian mendekati Kania dan ingin menggendongnya lagi.
Kania cepat cepat menggeleng. "Biarkan aku tidur di sofa sebentar. Jika ke kamar aku takut terlalu lelap, bisa bisa sampai malam." ujar Kania.
"Baiklah, kau tidurlah biar aku yang meneruskan ini." jawab Bastian.
Kania mulai merebahkan dirinya di sofa. Bastian mengangkat kaki Kania pelan pelan ke atas sofa. Ia membiarkan Kania terlelap di sofa. Sudah hampir 2 jam, Kania tertidur sangat lelap. Bastian memandangi wajah cantiknya sambil tersenyum. Ia masih tak menyangka bisa mencintai wanita sederhana ini.
Bastian menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Kania. Lalu mengecup pipinya. "Aku sangat mencintaimu Kania. Tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali Tuhan." bisik Bastian.
Bastian melanjutkan pekerjaannya. Pintu rumah terbuka, hanya keluarganya yang bisa membuka kata sandi rumah itu. Benar saja kedua orang tuanya bersama Mila dan Mili datang, tapi wajah gembira Bastian berubah saat Sahara ada bersama mereka.
"Ya Tuhan putraku, sudah berapa lama kau tak pulang ke rumah." ujar Delia sambil memeluk Bastian.
"Ada apa kalian datang beramai ramai, aku sedang bekerja." jawab Bastian kesal.
Mereka menyipitkan matanya. "Kau membawa pekerjaanmu di rumah?" tanya Rafael.
Bastian mengangguk. "Banyak pekerjaan pi, Tian tak bisa meninggalkan Kania jadi terpaksa membawanya ke rumah. Dan ssstttt...." ujar Bastian sambil mengangkat jarinya ke mulut. "Kania tertidur setelah minum obat, biarkan ia beristirahat sebentar. Bagaimana Sahara bisa bersama kalian?" tanya Bastian seraya membiarkan mereka masuk menuju ruang tamu.
"Sahara berkunjung ke rumah, karena mami mu sangat ingin bertemu denganmu dan Kania, jadi kami membawanya juga kemari." jawab Rafael.
"Maaf sayang, jika kami mengganggu." ujar Delia.
Bastian menggeleng. "Tidak mi, kalian tidak menganggu. Tian sangat senang kalian datang. Lalu Mila Mili apa mereka tidak sekolah?" tanya Bastian.
"Kami sekolah, tapi pulang lebih awal karena tidak ada kegiatan tambahan." jawab Mila. "Kami ingin ke taman." sambung Mili.
"Jangan berisik saat melewati ruang santai." perintah Bastian.
"Oke bos." jawab keduanya bersamaan.
"Dimana Kania, mami ingin melihat keadaannya." tanya Delia.
__ADS_1
"Di ruang santai mi, ia tertidur saat bekerja." jawab Bastian.
"Kau memang kejam Tian, kau membiarkan wanita sakit bekerja." ujar Delia kesal.
"Yang sakit kakinya mi, bukan otaknya, pekerjaan hari ini sangat banyak. Kami tak ingin menganggur seharian." jawab Bastian sambil terkekeh.
"Dasar keras kepala, kau yang tak membiarkan Kania beristirahat Tian." kata Delia.
"Putra kita keras kepala persis sepertimu sayang." goda Rafael.
Delia hanya mendelik pada Rafael lalu ia mengajak Sahara ikut dengannya.
"Jadi Kania atau Sahara calon menantu Widjaja?" tanya Rafael pada Bastian setelah Delia dan Sahara pergi ke ruang santai.
"Papi apa sih, tentu saja Kania. Tian hanya menyukai Kania saja. Sahara manja dan suka merendahkan orang lain." jawab Bastian.
"Tapi Sahara juga cantik dan papi sangat mengenal keluarganya." jawab Rafael.
"Ayolah pi, Sahara sama sekali tidak masuk hitungan. Tadi pagi ia sudah kemari dan langsung menghina Kania dengan kesombongannya. Bastian semakin tidak suka dengan wanita manja itu." ujar Bastian.
Rafael terkekeh. "Jujur saja Tian, papi menyukai Sahara. Ia sangat cantik dan dari keluarga terhormat." ujar Rafael.
"Kalau begitu papi saja yang menikahinya." jawab Bastian kesal.
Bastian ikut tertawa. "Mami lah yang terbaik pi." kata Bastian. "Jadi jangan memaksa Tian, papi saja tak ingin mencintai orang lain." sambungnya.
Rafael mengangguk dan akhirnya beralih membicarakan perusahaan.
*****
Delia terkejut saat melihat kaki Kania yang bengkak. "Ya Tuhan, kau sangat menderita karena kakimu kan." bisik Delia pelan.
Sahara mendengus kesal, ia sama sekali tak suka melihat wanita miskin itu mendapat perhatian dari Delia.
"Sahara kau akan sering bertemu dengan Kania, karena wanita ini sekertaris Tian." ujar Delia pelan agar Kania tidak terbangun.
Tapi suara Sahara justru sangat keras saat mengetahui siapa Kania. "Jadi wanita ini hanya seorang sekertaris, mengapa bisa tinggal disini." bentak Sahara.
"Sssssttt..." ujar Delia tapi terlambat Kania terkejut dan langsung terbangun dan ia lupa kakinya yang sakit. Kania mengerang saat kakinya terbentur lantai.
"Ya Tuhan, maaf Kania kami membangunkanmu." ujar Delia.
Kania meringis dan menunduk menyapa Delia. "Maafkan aku, aku malah tertidur disini." Kania berubah menjadi pucat saat melihat siapa yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Bastian menghampirinya, ia terkejut saat mendengar Kania mengerang kesakitan tadi. Dan Bastian lebih panik saat melihat wajah Kania yang pucat. Ia segera melihat kaki Kania. "Kau tidak apa apa kan?" tanyanya panik. Kania mengangguk.
"Mi, kenapa kau membangunkan Kania." Bastian kesal.
"Kau gila Tian, sekertarismu tertidur dan kau marah pada ibumu." ujar Sahara.
"Kau diamlah Sahara." bentak Bastian.
"Hei sudahlah jangan ribut lagi, maaf sayang. Mami tidak sengaja membangunkan Kania." ujar Delia.
"Aku tidak apa apa Tian, hanya terkejut dan tak sengaja kakiku membentur lantai. Maafkan aku nyonya Widjaja." jawab Kania.
Delia tersenyum. "Panggil aku tante saja Kania. Kau baik baik saja kan?" tanya Delia.
Kania mengangguk.
"Berani sekali memanggil atasanmu dengan nama." ujar Sahara kesal.
"Kania bukan hanya bawahanku tapi ia juga pacarku. Kau kan sudah tahu itu." bentak Bastian.
Sahara berdecak kesal lalu meninggalkan mereka menuju taman.
*****
"Mami mengapa mengajaknya kemari sih?" tanya Bastian sambil mengompres kaki Kania.
Kania sangat canggung di depan orangtua Bastian. Kania berusaha menarik kakinya agar Bastian berhenti. "Diamlah Kania, kaki mu mulai bengkak lagi. Kau sangat keras membenturkannya di lantai." bentak Bastian.
Rafael dan Delia terkekeh melihat perlakuan Bastian. Putra mereka benar benar menyukai Kania. Baru kali ini seorang Bastian takluk pada wanita.
"Mami tak mengajaknya sayang, ia mendengar kami akan kemari lalu ia meminta ikut. Kau jangan terlalu kejam pada Sahara, ia anak dari sahabat papimu." ujar Delia.
"Aku akan terus kejam, jika ia tak bisa menjaga sikapnya, kesombongan Sahara harus diperbaiki." jawab Bastian datar.
"Sahara itu hanya gadis manja Tian, ia butuh bimbinganmu agar lebih dewasa." ujar Rafael.
"Ya Tuhan, jauhkan Sahara dari hidupku." pinta Bastian tanpa memperdulikan ucapan Rafael.
Rafael dan Delia kembali terkekeh. "Kau memang anak Widjaja." kata Rafael lagi. "Baiklah kami tinggalkan kalian." sambungnya sambil mengajak Delia ke taman.
*****
Ditunggu kelanjutannya...😘😘😘
__ADS_1