Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 42


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Bastian menemani Kania terapi. Dokter George justru menyuruhnya untuk mambantu Kania berdiri dan berjalan. Kania tersenyum, ia sangat bahagia bisa ditemani kekasihnya. Setelah selesai Kania dibawa suster ke ruangannya. Sedangkan Bastian diajak bicara oleh dokter George.


"Perkembangannya sangat baik tuan, apalagi saat tadi anda temani. Sepertinya andalah obat utamanya." ujar dokter George.


"Tapi sayang sekali, hari ini aku harus kembali ke Indonesia, banyak sekali pekerjaan yang tertunda setelah kepergianku dok. Jadi aku percayakan Kania pada anda." jawab Bastian.


"Anda jangan khawatir, kami akan melakukan yang terbaik hingga 6 bulan kedepan. Jika hal terburuk terjadi, apakah kalian tak ingin melanjutkannya?" tanya dokter George.


Bastian menggeleng. "Ini janjiku padanya dok, aku akan membawanya pulang setelah 6 bulan apapun resikonya. Kania sudah tak tahan berada di rumah sakit. Aku tak ingin membuat mentalnya semakin lemah." jawab Bastian.


Dokter George menepuk pundaknya. "Kau sama persis seperti ayahmu, jika sudah mencintai satu wanita akan terus dipertahankannya sampai akhir. Aku bangga pada keluarga Widjaja."


"Terima kasih dok." ujar Bastian. Ia meninggalkan dokter George untuk menemui Kania.


*****


"Bagaimana perasaanmu sayang." tanya Bastian.


"Semakin lebih baik. Terima kasih kau menyemangatiku hari ini." jawab Kania.


Bastian mengangguk lalu menggenggam tangan Kania. "Aku akan kembali hari ini, apa kau akan marah?" tanyanya.


Kania menggeleng. "Aku akan menunggumu kembali Tian." jawab Kania.


Bastian memeluk Kania. "Aku akan merindukanmu sayang. Tapi ada kabar baik untukmu." ujar Bastian.


"Apa itu?" tanya Kania.


"3 bulan lagi, adik adikmu liburan sekolah, aku akan mengirim mereka dan ibumu kemari. Tapi kabar buruknya aku harus ke Inggris, jadi aku tak bisa kemari. Aku akan menjemputmu setelah 6 bulan. Apa kau keberatan?" tanya Bastian.


Kania tersenyum bahagia. "Aku sangat merindukan mereka. Aku tidak keberatan sayang, kau fokuslah bekerja. Dan terima kasih kau selalu melakukan hal yang membuatku senang." jawab Kania.


"Ya Tuhan, jangan pernah memberikan senyuman ini pada orang lain Kania. Senyummu hanya milikku. Dan hanya aku yang boleh melihatnya." ujar Bastian.


Kania terkekeh. "Dasar pria aneh, kapan kau mau terbang ke Indonesia?" tanyanya.


Bastian melihat jam tangannya. "30 menit lagi. Aku harus berangkat sekarang menuju bandara." jawab Bastian.


Kania memeluknya kembali. "Jangan mencium wanita lain lagi, aku mohon. Bibirmu hanya untukku saja Tian." ujar Kania.


Bastian membelalakkan matanya, ia ingat kesalahannya lagi. Bastian memperhatikan wajah Kania. Lalu ia mencium bibirnya dengan lembut sampai mereka saling menautkan lidah mereka. Mereka menghentikan ciuman itu saat keduanya hampir kehabisan nafas. "Aku janji tidak akan ada 2 kali untuk melakukan kesalahan lagi. Kau percaya padaku kan?"


Kania mengangguk. "Kabari aku setelah sampai ke Indonesia."


"Tentu sayang, aku akan selalu mengabarimu. Sebentar lagi nenek datang, kalau nenek sudah sampai. Aku berangkat. Sekarang makan siang terlebih dahulu." perintah Bastian. Ia mengambil nampan makanan lalu mulai menyuapi Kania.


*****

__ADS_1


15 menit kemudian, Emili sampai. Bastian memeluk neneknya. "Jaga Kania buatku nek, maaf Tian merepotkan nenek kembali."


"Tentu sayang, jangan khawatir. Kania adalah cucu nenek sekarang. Nenek akan menunggumu menjemput kami." ujar Emili.


Bastian mengangguk lalu ia memeluk Kania lagi. "Ingat makanlah teratur, aku akan membiarkanmu disini lebih lama jika sampai aku mendengar kau tak mau makan dari nenek." ujar Bastian lalu ia mendekat ke telinga Kania. "Dan aku akan menghukummu seperti yang aku lakukan semalam."


Wajah Kania bersemu merah. Bastian menggodanya. Ia masih ingat kenikmatan yang kekasihnya berikan semalam. Bastian tersenyum melihat wajah merah Kania, lalu ia mencium pipinya. "Selamat tinggal sayang."


"Hati hati Tian." jawab Kania.


Bastian meninggalkan mereka menuju bandara.


*****


"Besok pagi putramu sampai." ujar Rafael pada Delia.


"Aku akan memberinya pelajaran." jawab Delia.


"Oh ayolah sayang lupakan itu." pinta Rafael.


Delia menggeleng. "Aku akan melupakannya jika Bastian membatalkan kontraknya dengan keluarga Hardoyo."


"Sayang pisahkan masalah pribadimu dengan istrinya. Bisnis adalah bisnis. Keuntungan bekerjasama dengan perusahaan Hardoyo itu besar. Bastian pasti telah memikirkannya." ujar Rafael.


"Ya Tuhan Raf, apa kau pikir harta kita akan dibawa mati. Aku benci kau selalu memikirkan keuntungan. Apa kau lupa cara wanita itu menghina putra kita." tanya Delia.


"Aku menyerah. Terserah apa yang ingin kau lakukan." jawab Rafael. "Sekarang ayo kita temui keluarga Kania. Sudah beberapa minggu kita tak bertemu mereka. Mila Mili juga sangat ingin bermain dengan kedua adik Kania."


Rafael memeluknya dari belakang dan mencium leher belakangnya. "Sayang apa yang kau lakukan?" tanya Delia.


"Aku mencium istriku yang kecantikannya tak pernah pudar." jawab Rafael.


"Kau selalu saja gombal. Sudah sana, bagaimana aku bisa bekerja di dapur." ujar Delia.


Bukannya pergi, Rafael justru mengangkat tubuh Delia ke atas meja dapur. "Sayang, kita sudah tidak muda lagi. Kau jangan begini, bagaimana jika Mila Mili melihatnya?" kata Delia.


"Maka aku akan katakan pada mereka, bahwa papi sangat mencintai mami." jawab Rafael.


"Dan kami tahu itu." ujar Mila Mili bersamaan.


Rafael dan Delia terkejut. Delia segera turun dari meja dapur. Wajahnya memerah karena malu. Mereka ketahuan kedua putri kembarnya.


"Apa kalian ingin bertemu Tobi dan Geisha?" tanya Delia mengalihkan.


"Tentu saja. Kami tiap hari bertemu tapi kami tak bisa main bersama." jawab keduanya.


"Bersiaplah, kita berangkat sekarang." ujar Rafael.

__ADS_1


"Yeee..." keduanya sangat senang, lalu mereka masuk ke kamar mereka.


Delia memukul lengan Rafael. "Apa aku bilang. Kau sembarangan." ujar Delia.


Rafael terkekeh. "Bersiaplah sayang. Nanti kita kemalaman." ujar Rafael.


"Siap my boss." jawab Delia.


Rafael meninggalkan Delia di dapur sambil mencium pipinya.


*****


"Geisha..." teriak Mila Mili saat mereka bertemu di rumah abangnya.


"Mila Mili..." jawab Geisha.


"Ck.ck.ck...kalian tiap hari bertemu tapi seperti bertahun tahun tak bertemu saja." ujar Tobi.


"Kak Tobi sirik saja." jawab Geisha.


"Kita bertemu tapi jarang bermain kak." jawab Mila.


"Ya terserah kalian saja." ujar Tobi.


"Bu Rosa." sapa Delia.


"Apa kabar bu Delia?" tanya Rosa.


"Puji Tuhan, kami baik. Bagaimana dengan ibu?" tanya Delia.


"Aku juga sangat baik." jawab Rosa.


"Syukurlah." ujar Delia.


"Besok pagi Tian akan kembali." ujar Rafael.


"Benarkah. Kalau begitu aku akan menyiapkan seafood untuknya." ujar Rosa.


Delia menggeleng. "Tian akan kerumah terlebih dahulu, biar aku yang menyiapkannya." jawab Delia.


"Baiklah kalau seperti itu." ujar Rosa.


Mereka berbincang bincang sampai anak anak mereka puas bermain. Sekali sekali Kania menceritakan masa lalunya dengan Rafael. Rosa sangat tertarik dan tertawa lepas saat tahu, pernikahan mereka atas ancaman Rafael. Rafael mengakui pernyataan Delia, namun ia memberitahu alasan yang sebenarnya ingin menikahi Delia Laros.


*****


Maaf atas keterlambatan up...

__ADS_1


Akhir pekan Author selalu sibuk...


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2