
Bastian membawa Kania ke meja makan untuk sarapan setelah wanita itu menyelesaikan bersih bersihnya di kamar mandi. Wanita itu sangat cantik menggunakan gaun milik ibunya.
"Kenapa? Matamu sedang menilaiku." ujar Kania saat melihat Bastian yang terus menatapnya.
Bastian tersenyum. "Kau lebih cantik di rumah daripada di kantor. Aku menyukai wajah alamimu Kania." jawab Bastian.
"Aku diizinkan tidak bekerja?" tanya Kania.
"Siapa bilang? Aku menyuruh pak Jodhi mengantarkan berkas hari ini. Tentu saja kita akan bekerja di rumah." jawab Bastian.
"Kau juga tidak ke kantor?" tanya Kania terkejut.
"Tentu saja, meninggalkanmu yang keras kepala itu sangat berbahaya. Kau akan berkeliaran menggunakan kaki bengkakmu jika aku meninggalkanmu. Dan itu sangat beresiko. Kau bisa bisa tidak memiliki kaki setelah seminggu. Aku tak ingin membuatmu menjadi cacat." kata Bastian.
"Kau gila menakutiku Tian, aku akan berhati hati dengan kakiku. Kau akan kerepotan jika harus bekerja disini." ujar Kania. "Aku hanya seorang sekertaris biasa, kau sangat berlebihan memperhatikanku." sambungnya.
"Kau sekertaris biasa yang aku cintai Kania. Bisakah kau menjadi penurut. Kau sekarang kekasihku bukan hanya sekedar sekertaris." ujar Bastian.
Kania ingin menjawab tapi bel pintu berbunyi. "Diam di tempat. Aku ingin melihat siapa tamu sepagi ini, jika kau bergerak aku akan menguncimu di kamar." perintah dan ancaman Bastian.
*****
Bastian terkejut saat melihat siapa yang datang sepagi ini. Bagaimana wanita ini tahu tempat tinggalnya. Terakhir mereka bertemu 5 tahun yang lalu. Wanita yang selalu mengejar Bastian sampai ke Harvard. Wanita itu adalah Sahara.
Bastian dengan enggan membuka pintunya.
"Tian..." teriak Sahara sambil memeluk Bastian.
"Hentikan Sahara, bagaimana kau bisa tahu tempat tinggalku?" tanya Bastian.
"Kau lupa ayahku seorang mayor jenderal polisi. Tentu saja sangat mudah menemukan alamat seorang pria kaya se Indonesia." jawab Sahara.
"Untuk apa kau datang sepagi ini Sahara. Bukankah sudah 5 tahun kita tidak bertemu. Apa maumu?" kata Bastian datar.
"Kau tidak berubah tetap galak jika bertemu denganku. Tentu saja aku merindukanmu. Setelah aku menyelesaikan S2 ku. Tujuanku ke Indonesia tentu saja bertemu dengan pria pujaanku." jawab Sahara.
__ADS_1
"Kau yang tidak berubah Sahara. Aku tak menyukaimu, kau terus terusan menggangguku. Aku sudah berapa kali mengatakannya, kita hanya bisa menjadi teman." jawab Bastian.
"Kau sangat kejam, tapi aku tak perduli. Aku tetap menyukaimu." jawab Sahara sambil masuk ke rumah Bastian.
"Tunggu Sahara, kau mau kemana?" tanya Bastian.
"Jam segini tentu saja sarapan." jawab Sahara tanpa malu dan langsung menuju ruang makan.
*****
Sahara terkejut saat melihat seorang wanita disana. "Siapa dia sayang?" tanya Sahara.
"Jangan sembarangan memanggilku sayang Sahara. Kau semakin asal bicara." bentak Bastian.
Kania terkejut saat melihat wanita cantik dan elegan di depannya. Dan wanita itu memanggil Bastian SAYANG...
"Jangan salah paham sayang, ia hanya teman kuliahku saat di Amerika. Namanya Sahara." Bastian menjelaskan pada Kania. "Ini Kania pacarku, dan aku serius menjalin hubungan dengannya. Jadi jangan menggangguku lagi." ujar Bastian pada Sahara.
"Sejak kapan levelmu menjadi rendahan Tian, dan aku calon istrimu. Om dan tante pasti lebih memilihku." ujar Sahara dan langsung duduk di meja makan.
"Kau mengada ada Sahara, sejak kapan aku menjadi calon suamimu." ujar Bastian. "Kau tak tahu malu, berubahlah sedikit." sambungnya.
"Cukup Sahara. Kau semakin gila. Kau mengganggu sarapan kami. Sekarang pulanglah. Lain kali jangan temuiku lagi." bentak Bastian.
"Kau dari dulu memang kejam itulah mengapa aku semakin menyukaimu. Kau harus sadar wanita itu tak pantas untuk derajatmu Tian. Sangat sangat tidak berkelas." ujar Sahara. "Baiklah hari ini cukup, besok aku akan menemuimu lagi." Sahara mencium pipi Bastian. "See you tomorrow." sambungnya sambil menatap sinis Kania.
Bastian mengikuti Sahara keluar dan mengunci pintunya.
*****
Kania cemberut saat Bastian kembali ke meja makan. "Aku kehilangan selera makan." Kania memaksakan diri berdiri.
"Duduklah Kania, aku akan menjelaskannya. Kau jangan salah paham." pinta Bastian.
"Tidak, wanita cantik itu benar. Aku tak selevel denganmu, aku tidak berkelas Tian. Kau pantas bersamanya." ujar Kania. Ia menyeret kakinya untuk meninggalkan Bastian.
__ADS_1
Bastian membanting sendoknya dengan kasar dan menggendong Kania menuju ruang santai dan mendudukkannya di sofa. "Wanita itu gila Kania, aku sama sekali tak memiliki hubungan apapun dengannya. Ia selalu menggangguku sejak aku kuliah. Ayahnya seorang mayor jenderal polisi, dan sangat berteman baik dengan ayahku. Ayahnya memang menginginkan aku menikahinya. Tapi tidak dengan ayahku. Keluargaku sangat menyayangiku sehingga aku bebas memilih wanita yang aku cintai dan itu dirimu Kania." Bastian menjelaskan.
Kania menunduk dan akhirnya terisak. "Tapi ia benar Tian, kau pria tampan dan sangat kaya. Aku sama sekali tak pantas untukmu. Seharusnya aku memikirkannya sebelum menerimamu. Dan mimpiku semalam itu seperti nyata." ujarnya sedih.
Bastian memeluknya. "Hanya aku yang bisa menentukan siapa yang pantas dan tidak untukku Kania. Ya Tuhan, aku sangat tidak menyukai airmata wanita, terutama airmata dirimu." kata Bastian.
Kania berusaha menenangkan diri, namun hatinya masih sakit atas penghinaan wanita tadi.
Bel pintu kembali berbunyi. "Aku yakin ini pak Jodhi. Jangan menggerakkan kakimu atau aku akan menghukummu Kania." ancam Bastian lagi.
*****
Bastian menghampiri pintu dan membukanya. Mempersilahkan Jodhi masuk ke ruang tamu, ia datang membawa berkas yang Bastian pinta.
"Terima kasih paman Jodhi, sementara aku akan bekerja di rumah. Kania sakit dan butuh perawatanku." ujar Bastian.
Jodhi mengangguk. "Pak Rafael sudah menjelaskannya, tapi nak kau harus mencari penggantiku, seminggu lagi aku akan pensiun. Kau membutuhkan orang kepercayaan untuk hal seperti ini. Kau tak bisa menanganinya sendiri Tian." ujar Jodhi.
Bastian menghela nafasnya, ia ingin menolak tapi ia juga membutuhkannya. "Apa paman punya rekomendasi?" tanya Bastian.
Jodhi mengangguk. "Semoga saja ia mau bekerja untukmu nak, namanya Galih. Ia kelulusan sarjana tapi lebih memilih membuka peternakan ikan lele." jawab Jodhi.
"Apa pria seperti itu mau menjadi bawahanku, biasanya pria mandiri akan lebih suka tetap berusaha sendiri." jawab Bastian.
"Aku baru mendengar ia sedang mencari lowongan pekerjaan Tian. Semoga ia mampu dan mau bekerja denganmu." jawab Jodhi.
"Baiklah tolong latihlah ia kalau ia akhirnya mau bekerja di perusahaan." pinta Bastian.
Jodhi mengangguk. "Baiklah, sekarang sudah saatnya aku kembali ke kantor. Salam buat Kania." ujar Jodhi sambil pamit pergi.
"Sekali lagi terima kasih paman." jawab Bastian.
Bastian menghampiri Kania lagi yang masih menekuk wajahnya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘😘
Kita sambung besok ya, mata Author tak kuat lagi, takut ketikan semakin banyak Typo.