Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 34


__ADS_3

Bastian ingin membeli sarapan karena hari sudah pagi, ia melihat adiknya masih tertidur di ruang perawatan Kania. Semalam Emili pulang ke apartemennya, jadi Cristina yang menemani Bastian. Cristina juga meminta neneknya menyampaikan permintaan maafnya, jika pagi ini ia tak bisa menemani kakeknya sarapan karena ingin bersama kakaknya.


Bastian meninggalkan Cristina dan Kania untuk mencari sarapan. Beberapa menit kemudian Cristina terbangun, ia mencari Bastian di ruangan namun tak ada.


"Hem...kakak pasti membeli sarapan." gumam Cristina, lalu ia segera masuk kamar mandi.


Cristina keluar dari kamar mandi dan terkejut saat melihat Kania membuka matanya. Ia segera menghampiri Kania.


"Selamat pagi kak Kania." ujar Cristina sambil tersenyum.


Kania menunjuk Cristina, ia bertanya siapa dalam hatinya. Tapi Cristina sangat memahami apa yang Kania ingin katakan.


"Aku Cristina, bisa panggil aku Cristin saja. Aku adik kak Tian." kata Cristina.


Kania mengerang, tangannya meraih alat bantu pernafasannya untuk dilepas.


"Jangan dulu kak, aku panggil dokter ya." ujar Cristina seraya keluar memanggil dokter.


Beberapa menit kemudian, dokter dan suster masuk dan memeriksa keadaan Kania.


"Puji Tuhan, keadaan pasien semakin membaik." ujar dokter.


"Syukurlah, terima kasih Tuhan." jawab Cristina. "Dok, tadi kak Kania berusaha membuka alat bantu pernafasannya, sepertinya ia ingin berbicara." sambungnya.


Dokter mengangguk dan mulai melepaskan alat oksigennya. Saat bersamaan suara langkah kaki berlari masuk ke ruangan. Dengan nafas yang memburu Bastian bertanya. "Ada apa dengan Kania." teriaknya.


"Ya Tuhan kak Tian, kau mengagetkan kami. Kak Kania tidak apa apa, dokter sedang memeriksa dan melepas alat bantu pernafasannya karena ia semakin membaik." jawab Cristina.


Bastian menghela nafasnya, ia lega mendengar penjelasan Cristina. "Aku pikir ia kenapa kenapa, menakutkan saja." ujar Bastian.


Semuanya hanya tersenyum melihat kekhawatiran Bastian. Cristina menyuruh kakaknya duduk di sofa dan mengambil makanan yang ada ditangannya. Bastian menolak untuk duduk, ia mendekati Kania.


"Baiklah kami tinggal dulu, jika kondisi nyonya semakin membaik, maka kita bisa menyerahkannya ke dokter George untuk melakukan terapi awal." ujar dokter.


"Terima kasih dokter." jawab Bastian.


Bastian lebih mendekati Kania lagi, lalu memegang tangannya. "Apa kabar sayang?" tanya Bastian. "Kita berada di rumah sakit Amerika." sambungnya.


Kania terkejut, ia tersenyum lalu mengangguk. Namun air mata Bastian tiba tiba mengalir. Ia sangat bahagia melihat kondisi Kania yang semakin membaik. Ia juga bersyukur Kania masih mengenalinya. Kania mengangkat tangannya dan menghapus airmata Bastian, ia menggeleng untuk menyuruh Bastian berhenti menangis. Bastian mengangguk dan tersenyum.


"Aku tak akan menangis lagi sayang, asal kau janji tidak akan menghukumku seperti ini lagi, aku menyayangimu dan sangat merindukanmu Kania. Aku hampir mati rasanya saat tahu kau kecelakaan." ujar Bastian.

__ADS_1


Kania mengangguk dan mulai membuka mulutnya namun ia masih tidak bisa mengeluarkan suaranya.


"Tidak apa apa sayang, pelan pelan saja. Jangan memaksakan dirimu." kata Bastian.


Cristina yang melihat dan mendengar adegan itu seraya ikut menangis. Ia tak menyangka kakaknya yang sangat keras itu bisa luluh hanya pada seorang wanita seperti ini. Cristina merasakan kasih sayang yang sangat tulus pada kakaknya buat Kania.


"Kalian melupakan aku." ujar Cristina setelah ia menghapus airmatanya.


"Kemarilah sayang." pinta Bastian.


Cristina menghampiri kakaknya dan Kania.


"Kania, kau masih ingat aku pernah bercerita memiliki adik kesayangan dan sangat cantik. Inilah orangnya, Cristina. Adikku datang jauh jauh dari Paris hanya untuk menemuimu." ujar Bastian.


Kania tersenyum mendengar ucapan Bastian. Ia sangat berterima kasih dan berusaha meraih tangan Cristina. Cristina mendekatinya dan menggenggam tangan Kania.


"Aku sangat yakin kak Kania wanita yang sangat baik, aku bisa merasakannya. Jadi aku merestui hubungan kalian." ujar Cristina.


"Siapa yang minta persetujuanmu gadis nakal." ujar Bastian.


Cristina cemberut, namun Bastian langsung memeluk pundak adiknya. "Sudah saatnya sarapan, aku beli ikan salmon kesukaanmu. Aku membelinya dari restoran terkenal dekat rumah sakit. Awas saja kalau sampai tidak habis." ancam Bastian.


Melihat adegan itu membuat Bastian terkekeh, dan Kania juga tak bisa menahan senyumnya. Bastian dan Cristina benar benar sangat dekat. Bastian kembali pada Kania, ia mengambil makanan di meja yang disediakan rumah sakit untuk Kania.


"Hari ini pertama kalinya kau makan, jadi bubur dan susu ini harus habis." ujar Bastian pada Kania. Sebelum Kania menolak ia melanjutkan. "Itu juga jika kau ingin cepat kembali ke Indonesia."


Kania mengangguk dan mulai memakan suapan dari Bastian dengan perlahan.


"Kak, aaaaa..." ujar Cristina, ia iri melihat kakaknya menyuapi Kania.


Bastian terkekeh. "Sini berbaring di tempat tidur jika ingin aku suapi." ejek Bastian.


"Ciiihh...tidak akan." jawab Cristina sambil menjulurkan lidahnya.


Bastian kembali terkekeh dan membuat Kania kembali tersenyum. Bastian kembali menyuapi Kania dengan perlahan sampai makanan itu benar benar habis.


 *****


Beberapa menit kemudian, suara dehaman keras mengagetkan mereka.


"Ehem... Kalian sangat asyik disini tanpa mengajak papi." ujar Rafael.

__ADS_1


"Papi..." teriak Cristina seraya memeluk Rafael.


"Gadis nakal, kau malah betah disini. Seharusnya kembali ke apartemen. Papi, kakek dan nenek masih merindukanmu." kata Rafael kesal.


"Ayolah pi, Cristin baru bangun dan sarapan. Lalu sedang menggoda kakak." jawab Cristina.


"Kau tak pernah berubah, selalu saja mengganggu kakakmu." ujar Rafael.


Cristina hanya terkekeh.


"Papi sudah sarapan?" tanya Bastian.


Rafael mengangguk. "Apa kabar Kania?" tanya Rafael.


Kania mengangguk dan tersenyum. Rafael menyipitkan matanya. "Apa ada masalah dengan suaranya?" tanya Rafael.


Bastian menggeleng. "Tak apa apa pi, akibat koma yang hampir 2 minggu membuat ia harus beradaptasi terlebih dahulu."


Rafael mengangguk, namun Kania membelalakkan matanya. Ia baru tahu jika selama itu ia tertidur.


Bastian menggenggam tangannya. "Kau koma hampir 2 minggu tapi tidak apa apa sayang." ujar Bastian menenangkannya.


"Ini kabar baik buat kita semua, papi ingin memberi kabar pada mami dan keluarga Kania di Indo, tapi disana masih tengah malam. Nanti siang papi akan menghubungi mereka. Dan Cristin papi ingin bicara padamu." ujar Rafael.


"Bicara disini saja." jawab Cristina.


Rafael menggeleng. "Jangan mengganggu Kania, ia baru saja sadar. Lebih baik kau ikut papi ke apartemen kakek dan nenek."


Cristina memajukan mulutnya. Ia tak ingin meninggalkan Bastian.


"Nanti sore kau bisa kemari lagi sayang." ujar Bastian.


"Bolehkah?" tanya Cristina.


Bastian dan Rafael terkekeh. Cristina walaupun mandiri namun gadis itu masih saja sangat polos. Bastian mengangguk membuat Cristina senang. Lalu pergi meninggalkan rumah sakit bersama ayahnya.


 *****


Happy Reading All...😘😘😘


Dukung, Like n Komen terus ya...

__ADS_1


__ADS_2