Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 21


__ADS_3

Kania cemberut pada Bastian.


"Kali ini ada apa lagi sayang?" tanya Bastian.


"Kau membuatku malu di depan orangtuamu Tian. Kau lupa aku bawahan mu, tapi kau malah menunduk di kakiku dan mengompresnya. Dan ada satu hal lagi, Sahara sangat dekat dengan keluargamu. Aku tak mungkin bisa masuk dalam keluargamu yang terhormat. Aku tak pantas buatmu Tian." ujar Kania sedih.


Bastian membanting handuk kompresnya. "Lagi lagi kau membahas pantas dan tidak pantas. Aku memilihmu, harusnya kau percaya diri Kania." bentak Bastian. "Aku akan ke taman. Jika kau merasa tak pantas, maka aku akan bersama Sahara." ujar Bastian kesal dan meninggalkan Kania.


Kania membelalakkan matanya. Bastian semarah itu padanya, tapi dipikirkan seperti apapun ia memang tak pantas buat Bastian. Kania memperhatikan keluarga itu di taman. Bastian benar benar sedang bersama Sahara, keduanya terlihat sangat akrab dan tertawa dengan riang. Kania merasakan kecemburuan luar biasa di hatinya. Ia akhirnya mengambil laptop dan menyibukkan diri dengan pekerjaan.


 *****


Bastian sengaja mendekati Sahara untuk membuat Kania cemburu, Bastian sama sekali tak memperhatikan apa yang diucapkan Sahara, ia hanya ikut tertawa saat Sahara tertawa. Sekali sekali ia melirik Kania, wanita itu sedang memperhatikannya. Tapi setelah itu Kania malah sibuk dengan pekerjaannya. Bastian sangat kesal dibuat wanita itu.


"Tian, kau dengar tidak sih." ujar Sahara kesal.


"Hah kenapa?" tanya Bastian.


"Ck... Kau ini menjengkelkan, aku sudah mengulang berkali kali tetap saja kau tak mendengarkanku." kata Sahara.


"Sahara bisakah kau berhenti menggangguku? Aku memiliki kekasih sekarang." ujar Bastian.


"Kau hanya bersandiwara untuk menghindariku kan? Wanita jelek itu hanya sekertarismu, tak mungkin ia kekasihmu." ujar Sahara keras kepala.


"Itulah kenyataannya Sahara, aku mencintai sekertarisku. Dan Kania tidak jelek, ia cantik luar dan dalam tanpa polesan tebal." jawab Bastian kesal.


"Apa maksudmu? Kau seorang CEO dan orang kaya di Indonesia. Mana mungkin menyukai hanya seorang sekertaris Tian. Kau tak usah bodoh, nama baikmu akan tercoreng." bentak Sahara.


"Kau banyak bicara Sahara, kami menghargai dan menghormatimu karena kau putri dari sahabat papiku. Aku hanya bisa menganggapmu teman saja." ujar Bastian.


"Tidak ada jalinan pertemanan antara pria dan wanita Tian, aku tidak mau." jawab Sahara keras.


"Aku tak meminta pendapat padamu, kau keluarlah dari rumahku." usir Bastian.


"Om tante, Tian lagi lagi mengusirku." ujar Sahara manja pada orangtua Bastian.


"Ada apa lagi Tian?" tanya Rafael.


"Papi, aku benar benar terganggu..." tapi ia menghentikan ucapannya saat Delia menggeleng.


"Hari sudah semakin sore lebih baik kita pulang." ujar Delia.


"Mami benar, kita mengganggu Tian bekerja. Kasihan sekertarisnya menunggu." sambung Rafael.


"Mila Mili, sudah waktunya pulang sayang." panggil Delia pada putri kembarnya.


Mila Mili pamit pada Bastian, begitu juga Rafael dan Delia. Sahara masih tidak bergeming.

__ADS_1


"Sahara, Tian mesti bekerja." ujar Rafael.


"Ia akan bekerja berdua saja dengan wanita jelek itu kan?" tanya Sahara.


Tapi Delia menarik lengan Sahara dengan lembut. "Ayo..." ajaknya. "Tian kami pulang ya sayang." ujar Delia.


"Baiklah kalian hati hati." ujar Bastian merasa lega mereka membawa Sahara pergi.


Kania menunduk saat keluarga Bastian berpamitan pulang.


"Kania cepat sembuh ya sayang, tante ingin mengenalmu lebih dalam." ujar Delia sebelum pergi.


"Terima kasih tante, hati hati dijalan." jawab Kania ragu.


Mereka semua sudah keluar dan kembali meninggalkan Bastian dan Kania berdua.


 *****


Beberapa menit kemudian. Bastian membuka suaranya. "Sampai kapan kau mau mendiamkan aku Kania." tanyanya.


"Aku sedang bekerja pak." jawab Kania.


"Jadi sekarang kita sedang main menjadi bos dan anak buah?" ejek Bastian.


"Ini bukan main main, itulah kenyataan yang sebenarnya. Aku sekertarismu dan kau atasanku." jawab Kania dengan kesal.


Kania tidak terpancing, ia mengambil dokumennya dan mulai sabar mengerjakannya. Justru Bastian yang mulai emosi melihat sikap dingin Kania.


"Ada apa denganmu Kania?" tanya Bastian dengan kesal.


"Apalagi sekarang?" tanya Kania balik.


"Walaupun kau sedang bekerja tapi kau kekasihku sekarang. Kau mengetes kesabaranku." bentak Bastian.


"Kau yang kenapa pak Bastian yang terhormat." jawab Kania dengan penekanan kata terhormat itu. "Kau yang menyuruh aku bekerja sekarang. Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya kesal.


"Persetan dengan pekerjaanmu." Bastian membanting dokumennya dan meninggalkan Kania masuk ke kamarnya.


Kania mengangkat bahunya, ia sama sekali tak perduli pada sikap Bastian. Harusnya pria itu menjelaskan soal keakrabannya tadi dengan Sahara, yang seharusnya kesal justru Kania, karena mereka baru saja jadian.


 *****


Beberapa menit kemudian, Kania mulai haus. Tapi letak minumnya di dapur, ia mencoba berdiri dengan susah payah. Pelan pelan ia berjalan menuju dapur.


"Kau memang keras kepala." ujar Bastian di belakang Kania.


Kania terkejut. "Kau hampir membuatku jantungan." jawab Kania.

__ADS_1


"Mau kemana wanita bodoh?" tanya Bastian kasar.


"Aku tidak bodoh Tian, kau terus terusan mengatakan aku bodoh." ujar Kania kesal.


"Lalu apa yang pantas buatmu. Kau berkali kali menggerakkan kakimu. Walau aku sedang kesal tapi janjiku menjadi kaki mu sampai kau sembuh masih berlaku Kania." ujar Bastian.


"Mengapa kau kesal? Seharusnya aku yang kesal, kekasihku tertawa lepas dengan wanita yang menyukainya." ujar Kania.


"Jadi kau mulai cemburu." goda Bastian.


"Aku akan melakukan hal yang sama dengan pria lain jika kau melakukannya lagi." jawab Kania.


"Jangan coba coba sayang, aku akan mematahkan kaki mereka." ancam Bastian. "Kau mau apa biar aku yang mengambilnya." ujar Bastian.


"Aku mau ke dapur, minum." jawab Kania.


Bastian mengangkat Kania dan mendudukannya di sofa lagi. "Diam disini atau aku akan menciummu sampai kau kehabisan nafas." ancam Bastian.


Kania diam saja. Pria keras ini selalu seenaknya memerintah dan mengancamnya. Bastian kembali membawa minuman dan makanan ringan.


"Ini..." ujar Bastian sambil menyerahkan minumnya.


"Terima kasih." jawab Kania. "Jadi apa penjelasanmu tentang tawa riangmu tadi?" tanya Kania.


Bastian tertawa. "Kau sangat penasaran ya?" tanya Bastian balik.


Kania cemberut, ia menekuk wajahnya.


"Kau sangat cantik jika sedang marah sayang." goda Bastian.


"Tidak lucu." jawab Kania kesal.


Bastian menariknya dan memeluk Kania. "Kau sangat cemburu, aku sama sekali tak memperhatikan Sahara tadi. Aku ikut tertawa saat ia tertawa. Itu aku lakukan agar kau cemburu. Dan ternyata aku berhasil." ujarnya.


"Kau sangat percaya diri." jawab Kania.


Bastian mencium hidungnya. "Tapi aku benar kan?" tanya Bastian.


Akhirnya Kania menyerah dan mengangguk. "Aku sangat kesal saat kau bersamanya." jawabnya.


"Aku tak akan bersamanya. Yang aku butuhkan sekertarisku ini." ujar Bastian.


Kania tersenyum mendengar kata kata Bastian. Mereka kembali menyelesaikan pekerjaannya sebelum makan malam.


 *****


Maafkan Author... Author sakit dan baru bisa up hari ini...

__ADS_1


Jangan bosan dukung, like n komen ya...😘😘😘


__ADS_2