
"Papi tidur di sofa saja, kau tidurlah di kamar sayang." ujar Rafael.
Cristina menggeleng. "Cristin akan ke rumah sakit sekarang pi, biar nenek pulang menemani kakek. Cristin yang akan bersama kak Tian." jawab Cristina.
"Tapi sayang, kau baru saja sampai." kata Rafael.
"Oh ayolah pi, Cristin sangat merindukan kakak." jawab Cristina lagi.
Rafael menyerah. Ia tahu, putrinya sangat dekat dengan Bastian. "Papi antar."
Cristina menggeleng lagi. "No, i can take a taxi. Papi stay in here, because grandfather needs you."
"Okey, my princess...take a care..." jawab Rafael sambil mencium kening Cristina.
Cristina memesan taksi dan segera menuju rumah sakit yang tak jauh dari apartemen kakek neneknya. Sesampainya di rumah sakit, ia menanyakan keberadaan pasien Kania. Dan ditunjukkan di ruang VVIP lantai 11. Cristina menuju kesana. Ia akan membuat terkejut nenek dan kakaknya.
*****
Tok...Tok...Tok...
Cristina mengetuk pintu pasien. "Siapa?" suara Bastian terdengar. Cristina tersenyum mendengar suara kakak yang ia rindukan.
"I'm a nurse Mr. Bastian... Can i come in." jawab Cristina.
"Sejak kapan suster minta izin buat masuk nek." ujar Bastian pada Emili.
Cristina terkikik mendengar pertanyaan Bastian.
"Biar nenek menemuinya, siapa tahu ia bukan suster biasa." jawab Emili. Emili menghampiri pintu dan terkesiap saat melihat cucunya sedang berdiri didepannya.
"Nenek..." bisik Cristina sambil memeluk Emili. "Oh tidak nenek, jangan menangis. Cristin sangat merindukanmu." sambungnya saat tahu neneknya menangis.
"Gadis nakal, datang mengejutkan kami." ujar Emili sambil terisak.
"Sssttt...jangan keras keras. Aku ingin memberi kejutan pada kakak." ujar Cristina.
Emili mengangguk dan membiarkan Cristina masuk kedalam.
"Siapa yang datang nek?" tanya Bastian tanpa menoleh. Ia sedang berdiri di samping pasien.
Cristina memeluk Bastian dari belakang. "Apa kau kenal pelukan ini?"
__ADS_1
Bastian terkejut saat mendengar suara Cristina, ia segera berbalik dan langsung memeluk Cristina. "Ya Tuhan, gadis bodoh. Kapan kau sampai kesini." ujarnya pelan karena ingat ada Kania.
"Apa kakak merindukanku?" tanya Cristina.
Bastian menarik hidungnya dan mencium keningnya. "Sangat sayang, sudah setahun kita tak bertemu." ujar Bastian. "Kau tumbuh semakin cantik sayang." sambungnya.
"Kakak juga semakin tampan, jadi ini wanita kesayangan kakak setelah aku?" tanya Cristina sambil mengintip lewat bahu Bastian.
Bastian menggeleng. "Tidak ada kesayangan kakak setelah dirimu Cristin. Ia dan kau itu berbeda." jawab Bastian.
"Aku kira, kakak lebih sayang padanya." ejek Cristina.
"Omong kosong, sayangku padamu dan padanya itu berbeda. Jawab pertanyaanku tadi, kau sampai sini kapan?" tanya Bastian lagi.
"Sekitar sejam yang lalu, aku ke apartemen nenek menemui papi dan kakek lalu langsung kemari." jawab Cristina.
Bastian membelalakkan matanya. Lalu menarik Cristina ke sofa. "Kau gila, baru sampai langsung kemari." ujar Bastian kesal.
"Aku sangat merindukanmu, aku tak ingin sampai menunggu besok." jawab Cristina.
Emili menyiapkan makanan dan minum untuk Cristina, untung saja Bastian membeli makanan lebih tadi. "Ini makanlah, nenek tahu kau belum makan."
*****
"Jadi putriku ke Amerika? jemput aku Raf, aku merindukannya." ujar Delia saat Rafael menghubunginya.
Rafael terkekeh. "Kau kira Amerika dan Indonesia itu dekat sayang, aku mana bisa menjemputmu seenaknya." jawab Rafael.
"Kalau begitu aku akan memesan tiket kesana." ujar Delia lagi.
"Lalu membiarkan Mila dan Mili sendirian, juga keluarga Kania bagaimana?" ujar Rafael.
"Oh ya Tuhan, aku akan menghukum Cristin telah membuatku seperti ini." ujar Delia kesal.
Tawa Rafael meledak. "Kau sangat menggemaskan sayang, aku sudah tak tahan ingin pulang. Dan aku janji akan membawa Cristin pulang sayang."
"Kau janji ya, akan menyeretnya ke Indo." ujar Delia.
"Putri kita bukan domba sayang." jawab Rafael sambil terkekeh.
"Ya sudah kau tidurlah, disana sudah sangat larut kan." perintah Delia.
__ADS_1
"Aku masih merindukanmu sayang." jawab Rafael.
"4 hari lagi kita bertemu sayang, jaga kesehatanmu dan tolong jaga ayah ibu selama kau disana." ujar Delia.
"Siap my queen, aku mencintaimu." ujar Rafael.
"Aku juga selalu mencintaimu sayang." jawab Delia dan mematikan ponselnya.
Delia menghela nafasnya. Hari semakin sore, anak anak belum kembali ke rumahnya. Sedangkan Rosa sibuk terus menerus di dapur. Wanita itu tidak pernah mau duduk diam. Delia sampai bingung melarangnya.
*****
"Kania sudah sadar, apa ia baik baik saja?" tanya Rosa saat Delia memberinya kabar.
Delia mengangguk. "Kania baik baik saja, jika ada kabar lain. Mereka akan menghubungi kita."
"Terima kasih Tuhan, segera kembalikan putriku seperti semula." doa Rosa.
"Amien." jawab Delia. "Besok saya akan ke kantor, ada sekertaris pengganti buat Bastian. Karena pekerjaan kantor sangat sibuk, jadi Bastian butuh sekertaris pengganti Kania, saya harus melatihnya sementara. Titip anak anak ya bu." ujar Delia.
"Itu lebih baik, saya tak ingin nak Bastian kerepotan dengan pekerjaannya nanti karena Kania. Soal anak anak tak perlu khawatir bu, saya akan mengurusnya." jawab Rosa.
"Terima kasih banyak, keberadaan kalian sangat membantu keluarga kami." kata Delia.
Rosa menggeleng. "Justru keberadaan kami sangat mengganggu bu, entah kapan kami bisa membalas semuanya." ujar Rosa.
"Tuhan sedang membalasnya pada saya, keluarga saya sekarang semakin bahagia atas kehadiran kalian." Delia memegang tangan Rosa. "Percayalah, kalian anugerah buat keluarga kami bu."
Rosa kembali meneteskan air matanya. "Setiap hari saya merasa nyaman disini. Bahkan saya percaya bahwa Tuhan menyayangi keluarga saya."
Delia tersenyum. "Saya juga berasal dari keluarga sederhana sampai akhirnya bisa bertemu keluarga Widjaja, walaupun banyak sekali rintangan untuk rumah tangga kami, tapi pada akhirnya kami hidup bahagia. Dan pengalaman hidup saya tak akan saya berikan pada orang lain bu, jadi kalian harus merasakan kebahagiaan dengan penerimaan bukan penolakan." ujar Delia. "Biarlah pengalaman saya adalah contoh hidup buat anak anak agar tidak berlaku sombong karena harta. Ini semua hanya titipan Tuhan buat kita."
"Tuhan benar benar mengirimkan sosok peri seperti anda bu Delia." jawab Rosa.
Delia hanya tersenyum, mereka menunggu anak anak kembali dari sekolah.
*****
Jangan lupa dukung, like n komen terus ya...
Have fun guys...😘😘😘
__ADS_1