
Dua hari kemudian, saatnya Rafael, Bastian dan Cristina kembali ke Indonesia. Bastian memeluk Kania dengan erat. Isak tangis terdengar dalam ruangan. Kania sangat enggan berpisah dengan kekasihnya. Namun ia tak mungkin mencegah Bastian untuk kembali dan mengurus perusahaannya. Bastian juga tak kuasa menahan tangisnya.
"Aku akan sangat merindukanmu sayang. Nenek tolong jaga calon istriku." ujarnya membuat semua terkejut.
Cristina memeluk Kania. "Aku akan menjaga kak Tian agar tidak berselingkuh dari kakak." bisiknya, membuat Kania terkekeh disela tangisnya.
"Apa yang kau katakan?" tanya Bastian.
"Rahasia kami." jawab Cristina sambil menjulurkan lidahnya mengejek.
"Gadis nakal, aku akan memukul bokongmu." ancam Bastian.
"Papi..." ujar Cristina manja.
"Sudah jangan bercanda lagi. Kania kami pulang ya, kau harus bersemangat untuk sembuh." ujar Rafael.
"Terima kasih om." jawab Kania.
"Ibu kami pamit, salam buat ayah dan jaga selalu kesehatan kalian. Kami titip Kania." ujar Rafael pada Emili.
"Nenek...Tian pulang...jaga kesehatan kalian." ujar Bastian berpamitan, begitupun dengan Cristina.
Saat semuanya mulai meninggalkan ruangan, Bastian berbalik dan memeluk Kania kembali. Ia melepas tangisnya. "Aku harus bagaimana sayang? Aku tak ingin berpisah darimu."
Kania memeluknya dan ikut terisak. "Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk bisa sembuh, aku juga tak ingin berpisah denganmu terlalu lama."
Bastian menciumi wajah Kania, lalu meninggalkannya tanpa menengok kebelakang lagi.
*****
"Kak makanlah." ujar Cristina saat berada dalam pesawat.
Bastian lebih murung, ia hanya memandangi udara lewat jendela pesawat. "Nanti saja sayang, kakak belum lapar."
"Tapi..." ujar Cristina namun mendapat gelengan dari Rafael.
Cristina menghela nafasnya dan duduk kembali. Mereka sudah 10 jam berada di udara namun Bastian sama sekali belum memakan apapun. Akhirnya mereka memejamkan matanya karena lelah.
Setelah 7 jam kemudian, pramugari pribadi Rafael memberitahukan bahwa pesawat akan landing di bandar Soekarno Hatta. Mereka semua bersiap siap untuk turun dari pesawat. Cristina merindukan negaranya yang ia tinggalkan terus menerus.
"Putriku..." teriak Delia, ternyata Delia menunggu mereka di bandara.
"Mami..." teriak Cristina lalu menghambur ke pelukan Delia.
__ADS_1
Delia menangis saat mendekap Cristina. "Ya Tuhan, mami sangat merindukanmu sayang." ujarnya.
Tak lama wartawan melihat keluarga Widjaja dan mulai menyerbu menghampiri mereka.
"Keadaannya mulai tidak baik, segera masuk ke mobil." perintah Rafael.
Tapi mereka terlambat, wartawan sudah mendekati mereka dengan seribu pertanyaan tentang Kania, bahkan Cristina tak luput dari pertanyaan tentang kesuksesannya.
"Bisakah kalian memberi kami jalan, kami sangat lelah." ujar Rafael.
Beberapa penjagaan mulai diperketat saat mereka menuju mobil.
"Kalian berdua sangat menarik perhatian." kata Rafael saat mereka sudah aman didalam mobil.
"Apa salahku merindukan putri kita." jawab Delia.
"Kau tidak salah sayang, tapi kau kan tahu tadi sangat berbahaya, kalau sampai kau terjatuh dan dipermalukan mereka bagaimana?" tanya Rafael.
"Sudahlah kalian jangan berdebat lagi, aku sangat lelah." ujar Bastian menengahi.
Delia cemberut, suaminya menyalahkannya atas kejadian tadi, padahal ia sangat merindukan ketiganya. Menyadari akan kesalahan Rafael memarahi istrinya. Ia mulai menarik pundak Delia.
"Aku merindukanmu. Bisakah kita mampir ke hotel. Di rumah sangat ramai." bisik Rafael.
"Kau jangan egois sayang, aku sudah membawa Cristin pulang." ujarnya dengan suara keras.
Bastian dan Cristina termasuk supir tertawa terbahak bahak. Mereka tahu apa yang terjadi pada Rafael.
"Ada yang akan tidur di sofa malam ini kak." goda Cristina.
"Dan kali ini aku akan mengabadikannya dengan ponselku." goda Bastian sambil terkekeh.
"Diam kalian, ini semua gara gara kalian." ujar Rafael kesal.
Delia terkekeh. "Kau berani marah denganku. Jadi kau harus terima hukumanmu."
"Ya Tuhan, aku hanya mengkhawatirkanmu sayang, mengertilah." ujar Rafael memohon.
"Sofa itu sudah aku bersihkan tadi pagi. Dan seharusnya bisa jadi tempat yang nyaman buatmu." jawab Delia sambil menahan tawanya.
Tawa mereka meledak kembali.
*****
__ADS_1
"Kak Cristin..." teriak Mila dan Mili saat mereka sampai.
Cristina memeluk adik kembarnya. "Kalian semakin besar." ujar Cristina.
"Kalian melupakan abang." ujar Bastian.
"Bang Tian..." Mila dan Mili langsung memeluk kakaknya.
"Apa kalian juga tak merindukan papi." ujar Rafael.
Keduanya menggeleng untuk mengejeknya.
"Mami marah, kalian juga tak merindukan papi. Kalau begitu papi tinggal saja dengan nenek dan kakek." goda Rafael.
"No...Stay in here." ujar mereka lalu memeluk Rafael. Rafael hanya terkekeh melihat prilaku gadis kembarnya.
Sedangkan keluarga Kania sejak tadi memperhatikan kebahagian mereka. Menyadari akan hal itu, Delia berdeham minta perhatian. "Cristin sayang, mereka keluarga Kania."
Cristina mencium punggung tangan Rosa. Lalu ia memperhatikan adik adik Kania. "Siapa si tampan dan si cantik ini?" tanya Cristina.
Keduanya menyebutkan nama mereka.
"Apa kalian tak merindukan kak Tian?" tanya Bastian pada Tobi dan Geisha.
Keduanya mengangguk malu malu. Bastian merentangkan tangannya, lalu keduanya menghambur ke pelukan Bastian. Bastian mencium kepala mereka bergantian. Lalu Bastian menunduk di depan mereka.
"Kak Tian janji akan membawa kembali kak Kania secepatnya, kalian harus bersabar. Kakak kalian sudah semakin sehat disana." ujar Bastian. Keduanya mengangguk.
Lalu Bastian menghampiri Rosa dan mencium punggung tangannya. "Ibu sehat kan? Kania hanya ingin ibu terus sehat."
Rosa terisak. "Ibu sangat sehat nak, terima kasih telah menjaga Kania selama disana."
"Kania sudah lebih baik. Jika nanti Tian ada waktu dan akan mengunjunginya, kalian boleh ikut." janji Bastian.
Rosa dan kedua anaknya tersenyum cerah. Mereka berharap Bastian bisa membawa mereka menemui Kania lagi.
Mereka semua masuk kedalam rumah, setelah mereka beristirahat sebentar. Delia memerintahkan semuanya untuk berkumpul di meja makan untuk makan siang bersama sama.
*****
Have Fun Guys...😘😘😘
See You Next Time...
__ADS_1