
Bastian menaruh berkas di depan Kania yang masih cemberut. Ia sangat kesal melihat wajah kekasihnya seperti itu.
"Ini pekerjaan kita hari ini Kania, jika kau menekuk wajahmu seperti itu bagaimana aku bisa bekerja." ujar Bastian kesal.
Kania tidak bergeming, ia mengambil salah satu berkas dan mulai mengoreksi agar ia bisa merevisi berkasnya. "Dimana laptopnya?" tanya Kania setelah beberapa menit Bastian menunggu.
Bastian bangkit dan mengambil laptopnya di ruang kerja. "Ini laptop yang berbeda, aku lupa meminta pak Jodhi membawa laptopmu." kata Bastian.
Kania mengangguk. Laptop model apapun, Kania bisa memahaminya. Ia sangat cerdas dalam segala hal. Kania mulai mengerjakan berkasnya dan beberapa kali bertanya pada Bastian, Bastian pun menanggapinya dengan serius walau dalam hatinya ingin Kania memaafkan kejadian tadi pagi. Bastian mulai lemah dihadapan Kania sekarang. Wanita itu benar benar dingin. Sepanjang hari hanya pekerjaan yang Kania bicarakan.
Beberapa jam kemudian Kania mampu menyelesaikan beberapa berkas di depannya. Kemampuannya memang tidak bisa diragukan lagi, Bastian sangat senang memiliki wanita ini di hidupnya.
"Sudah waktunya makan siang, aku akan memesan makanan, kau mau makan apa?" tanya Bastian.
"Sayangnya aku tidak lapar." jawab Kania datar.
"Sejak kejadian tadi pagi kau bersikap dingin Kania, aku tak suka sikapmu itu. Kau hanya membicarakan pekerjaan sepanjang hari, apa kau lupa aku juga kekasihmu sekarang." ujar Bastian.
"Aku biasa saja, kau berlebihan. Dan jangan sangkutpautkan pekerjaan dengan masalah pribadi." kata Kania.
Bastian menatapnya. "Kau mulai cemburu kan?" tanya Bastian.
"Omong kosong, aku tak pantas cemburu. Toh aku hanya pacarmu bukan calon istrimu. Wanita itu memang lebih pantas dariku." jawab Kania.
"Sialan, kau masih saja tak mempercayaiku. Aku sama sekali tak ada hubungan apapun dengannya." bentak Bastian.
"Jangan membentakku Tian, ada atau tidak ada hubungan itu bukan urusanku." balas Kania.
"Ya Tuhan, kesabaranku mulai habis." ujar Bastian. Ia mendorong Kania ke sofa dan mulai menciumnya.
Kania mulai memberontak tapi tak bisa menghindari Bastian. Ciuman itu semakin kasar. Kania mendorong dada Bastian.
"Kau menyakitiku." ujarnya sambil menangis.
Bastian memandang bibir Kania yang membengkak akibat gigitannya. "Ya Tuhan... maaf sayang, aku tersulut emosi. Kau bilang buka urusanmu, itu yang membuatku marah. Kau kekasihku, aku mencintaimu. Maka percayalah padaku." ujar Bastian sambil mengelus bibir Kania dan menyeka airmatanya. "Jangan menangis lagi. Maafkan aku. Segala yang berhubungan denganku itu adalah urusanmu juga." sambungnya.
Kania mulai menghentikan tangisnya. Benar kata Bastian ia merasakan cemburu saat Sahara datang, dan ia merasa rendah diri karena ia hanya wanita miskin sedangkan Sahara anak seorang jenderal. Dunia mereka sangat berbeda. Bagaimana ia bisa memenangkan hati keluarga Widjaja. Walaupun Bastian meyakinkan jika keluarganya selalu mendukung keputusannya. Kania terdiam sampai akhirnya Bastian kembali berbicara.
"Kau perlu makan untuk minum obat." ujar Bastian sambil mengelus pipinya.
Kania hanya mengangguk, ia masih tak ingin bicara pada Bastian yang telah menyakitinya.
Bastian mengeluarkan ponselnya lalu memesan makanan. Sejam kemudian makanan datang. "Makanlah, semuanya tidak mengandung seafood." kata Bastian.
__ADS_1
"Kita makan di ruang makan saja, disini banyak berkas." ujar Kania.
Bastian mengangguk lalu menggendong Kania dan membawanya ke meja makan.
"Aku harus belajar berjalan Tian, aku tidak mungkin terus terusan merepotkanmu." kata Kania.
"Jangan bawel, aku akan menjadi kakimu sampai kau sembuh." jawab Bastian tegas.
Kania hanya menghela nafasnya, sangat sulit baginya menolak perkataan Bastian. Ia meringis perih saat makan, bibirnya benar benar terluka.
Bastian memperhatikannya. "Maaf sayang." ujarnya menyesal.
Kania menggeleng. "Tidak apa apa, aku yang memprovokasimu tadi." jawab Kania.
Bastian terus menatap kekasihnya, ia merasa dirinya keterlaluan pada Kania. Mereka menikmati makan siang mereka lalu melanjutkan pekerjaannya.
*****
Sahara tiba di rumah besar Widjaja, setelah pagi ini ia di usir Bastian. Maka satu satunya cara adalah mendekati keluarga Bastian. Sahara sudah mengenali Rafael dan Delia, karena mereka beberapa kali bertemu di Harvard atau saat libur kuliah. Ayahnya sangat dekat dengan Rafael. Tapi ini pertama kalinya Sahara datang ke rumah besar ini.
Sahara menekan bel pintu dan seperti biasa pelayannya yang membuka.
"Bi... Om Rafael dan tante Delia ada?" tanya Sahara.
"Aku Sahara, anak sahabat om Rafael." jawab Sahara.
"Silahkan masuk non, tunggu saja di ruang tamu, biar bibi panggilkan tuan dan nyonya." kata pelayan lagi.
Sahara mengangguk dan menunggu.
*****
Rafael dan Delia terkejut mendengar kata pelayannya. Sudah lebih dari 5 tahun mereka tak bertemu putri dari jenderal itu. Dan sekarang Sahara datang ke rumah mereka.
Rafael dan Delia segera menghampiri Sahara.
"Sahara..." ujar Delia.
Sahara mendongak. "Tante Del, om Rafa..." ujarnya sambil memeluk keduanya.
"Ya Tuhan kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik sayang." kata Delia.
"Terima kasih tante, tante juga tidak berubah tetap cantik seperti dulu." jawab Sahara.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Rafael.
"Sahara baik om, Sahara sangat rindu kalian. Sahara sudah menyelesaikan S2 jadi sekarang Sahara tinggal di Indo lagi. Papi titip salam buat om dan tante." ujar Sahara.
"Papi mu sangat sibuk, sampai sampai tak pernah menemui om lagi. Om hanya melihatnya di televisi." jawab Rafael.
"Dan papi juga sama, hanya melihat om di televisi." jawab Sahara sambil terkekeh.
"Sayang sekali, Tian tak tinggal disini Sahara. Ia tinggal sendiri di rumah lama kami." ujar Delia.
"Sahara tahu tante, tadi sebelum kesini Sahara menemuinya. Tapi seperti biasa anak tante selalu kejam. Sahara diusir keluar karena ada seorang wanita yang tak berkelas disana. Apa wanita itu tinggal bersama Tian?" tanya Sahara.
Rafael dan Delia membelalakkan matanya. Bagaimana Sahara sangat sombong. Ucapannya akan menyakiti Kania. Gadis ini sangat asal bicara.
"Kau tak pernah berubah nak, jika kau terus kasar bagaimana Tian bisa menerimanya." ujar Rafael.
"Maaf om, Sahara hanya sedang kesal. Sahara baru sehari pulang dari Amrik dan sangat merindukan kalian, tapi Sahara malah diusir." Sahara cemberut manja.
Delia terkekeh, ia sangat tahu seperti apa putranya. Apalagi sekarang ada Kania. Bastian memang tak pernah menyukai gadis cantik ini. Sikapnya tak pernah berubah, tetap kekanak kanakan.
"Jangan marah sayang, Tian mungkin hanya terkejut karena kedatanganmu tiba tiba." ujar Delia.
"Tante benar, memang ia sangat terkejut. Tapi Sahara diusir." jawabnya manja.
Kali ini Rafael yang terkekeh. "Biar om nanti yang memberi pelajaran pada Tian." rayu Rafael.
"Benarkah?" akhirnya Sahara tersenyum cerah.
Rafael mengangguk.
"Ini sudah jam makan siang, sebaiknya kau makan disini bersama kami." ujar Delia.
"Jika tidak merepotkan, tentu saja Sahara mau." jawabnya.
Rafael dan Delia mengajak Sahara makan siang bersama.
Setidaknya aku bisa memenangkan hati tante dan om Widjaja, sedikit lagi aku akan mendapatkanmu Tian. pikir Sahara licik.
*****
Selamat berhari libur guys...
Happy Reading All...😘😘😘
__ADS_1