
"Makanlah." perintah Bastian saat kembali ke rumah sakit, ia membelikan bubur buat Kania.
Kania dengan susah payah memasukkan makanan ke mulutnya karena tangan kanannya sedang diinfus. Bastian menghela nafasnya dan mengambil bubur itu dan mulai menyuapi Kania.
"Biar aku saja pak, terima kasih." ujar Kania.
"Jangan keras kepala, kita bisa pulang subuh jika makanmu lama. Aaaa...." jawab Bastian sambil menyuruh Kania buka mulut.
Pria ini walaupun arogan dan kejam, tapi memiliki sisi lembut dihatinya. pikir Kania.
Ia terpaksa membuka mulutnya, dan menikmati suapan dari atasannya. Jantung Kania mulai berdebar dengan keras saat wajah pria itu sangat dekat dengannya. Kania kendalikan hatimu. perintahnya pada diri sendiri. Jantungnya semakin berdebar keras saat mata mereka bertemu.
Keduanya saling berpandangan dan saling menyelidik masing masing. "Apa kau wanita sekuat ini dalam keluargamu?" tanya Bastian memecah keheningan.
Kania mengangguk. "Aku harus menjadi wanita yang kuat buat ibu dan kedua adikku."
"Apa mereka tahu, jika kau anak dan kakak yang luar biasa." tanya Bastian lagi.
Kania hanya terdiam. Bastian membereskan barang barang Kania.
"Kita siap siap pulang, aku sudah mendapat izin dari dokter. Kau harus meminum obat alergimu, dan selalu kau bawa setiap hari, jika tak sengaja memakan seafood. Kau dengar itu?" ujar Bastian.
"Iya pak, terima kasih." jawab Kania.
"Satu hal lagi, panggil aku Tian, jika sedang di luar kantor. Aku merasa sangat tua kau panggil aku bapak." perintah Bastian.
Kania hanya mengangguk. Lagi lagi Bastian mengantarkannya pulang. "Jika kau masih tidak sehat, kau tak perlu bekerja besok."
"Aku sudah baik baik saja pak." jawab Kania.
Bastian menyipitkan matanya. "Aku tadi bilang apa?" tanyanya.
"Baik, maaf Tian." ujar Kania. "Terima kasih sekali lagi." sambungnya sebelum turun dari mobil Bastian.
Bastian mengangguk dan melihatnya menghilang sampai di gang sempit itu.
*****
Bastian merebahkan tubuhnya diranjang kamarnya. Ia benar benar jatuh cinta pada pandangan pertama pada Kania. Jantungnya kembali berdegup kencang saat menyuapinya tadi. Ini cinta pertama bagi Bastian setelah umurnya 24 tahun.
Mengapa aku jatuh cinta pada wanita sederhana itu? Apakah mami dan papi akan setuju jika aku menikahi seorang sekertaris? Mereka menginginkan wanita terbaik dalam hidupku. Apakah Kania bisa menjadi yang terbaik?
__ADS_1
Banyak sekali pertanyaan dalam hati Bastian. Ia sangat sulit tidur, wanita bodoh itu memakan seafood walaupun alergi karena takut padanya. Tak mungkin Kania akan tertarik padanya. Obatnya hanya menghubungi ibunya jika sedang sulit tidur. Ia mengambil ponselnya. Dan menghubungi maminya.
"Anak mami sulit tidur lagi?" tanya Delia.
"Benar, mami tahu segalanya." jawab Bastian.
"Ada masalah kantor? Sekertarismu yang baru apakah buruk?" tanya Delia lagi.
"Namanya Kania mi, tidak...dia sangat cakap. Hanya saja terlalu penurut." jawab Bastian.
"Itu bagus sayang, bukankah kau ingin seperti itu." ujar Delia.
"Bagus apanya, wanita itu hari ini masuk rumah sakit karena alergi seafood. Ia memakannya saat makan siang bersama Tian. Jelas jelas tak bisa memakannya. Dasar wanita bodoh." ujar Bastian kesal.
Delia terkejut. "Kau mengancamnya, bagaimana ia tak memakannya. Pasti itu salahmu kan." jawab Delia.
"Ya Tuhan mami, Tian tak seburuk itu. Ia bisa saja mengatakannya. Mengapa harus memaksa memakannya. Jika ia meregang nyawa bagaimana?" ujar Bastian.
Delia mendengarkan kekhawatiran pada nada bicara putranya. "Apa kau menyukainya?" tanya Delia untuk kedua kalinya.
"Oh ayolah mi, kau terus mengolokku." jawab Bastian.
Delia hanya terkekeh. "Tidurlah putraku sayang, besok kau harus bekerja lagi." ujarnya.
"Good night too my darling." jawab Delia.
Benar saja Bastian bisa langsung terlelap jika sudah menelpon ibunya.
*****
"Putra kesayanganmu lagi?" tanya Rafael.
Delia mengangguk. "Sepertinya ia tertarik pada sekertarisnya, ehm...Kania namanya. Bisakah kau cari tahu tentang wanita itu?" pinta Delia.
"Tentu saja sayang, tapi dengan syarat." ujar Rafael.
"Apa itu?" tanya Delia.
"Layani aku malam ini sampai pagi." goda Rafael.
"Dasar pria mesum." Delia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
__ADS_1
Rafael masuk kedalam selimut dan mulai menggelitik istrinya. Delia terkekeh. "Kau gila." teriaknya.
"Aku selalu tergila gila padamu." ujar Rafael dan mulai melucuti baju istrinya. Malam panjang kembali mereka lalui bersama dengan bahagia.
*****
Kania menatap wajahnya di cermin, bengkak dan ruam ruam merah berangsur angsur pulih. Ia sangat malu saat pingsan depan bosnya dalam keadaan wajah yang begitu jelek. Bastian sama sekali tak geli melihat wajahnya. Justru ia mengurusnya saat di rumah sakit, bahkan seorang atasan mau menyuapi bawahannya.
Sungguh memalukan Kania, kau tak tahu diri. Bagaimana bisa kau membiarkan atasanmu merawatmu? gumam Kania.
Hari ini ia sama sekali belum menjenguk ibunya di rumah sakit, besok pagi pagi sekali ia akan ke rumah sakit sebelum berangkat kerja. Kedua adiknya bilang, ibunya sudah lebih baik. Kemungkinan besok sore sudah boleh pulang ke rumah.
Kania mendesah lega. Semoga pekerjaannya tidak membuatnya lembur, jadi ia bisa menjemput ibunya. Kania tiba tiba terduduk diranjangnya. Uang??? bagaimana cara ia mencari uang untuk melunasi biaya rumah sakit besok.
Kania melihat isi dompetnya. "Ya Tuhan, aku lupa soal biaya, bisakah aku meminjam pada pak Jodhi? Ini sangat memalukan." Kania menggaruk kepalanya frustasi.
Ia terus membalikkan tubuhnya diatas ranjang. Rasa kantuk akibat obat yang dikonsumsinya mulai dirasakannya. Ia akan memikirkannya besok, matanya sekarang tak kuat lagi terbuka. Kania terlelap dengan sendirinya.
*****
Kania terbangun jam 4 pagi. Ia segera mandi dan bersiap siap ke rumah sakit. Kedua adiknya akan bersekolah. Ia harus menemui ibunya sebelum berangkat kerja.
Satu jam kemudian, ia berada di rumah sakit. Ia kebagian administrasi dulu untuk menanyakan total biaya ibunya dirawat. Bagian admin menyebutkan jumlahnya yang begitu banyak, Kania membelalakkan matanya. "Aku akan mencari uangnya siang ini sus." ujar Kania.
"Untuk apa nona, biayanya sudah dibayarkan lunas." ujar kasir penjaga RS.
"Apa maksudnya suster?" tanya Kania.
"Ada seorang pria paruh baya yang melunasinya, ia mengatakan berapapun biaya rumah sakit ibu nona ditanggungnya." ujar kasir.
"Boleh aku tahu siapa pria itu?" tanya Kania lagi.
Suster tersebut menggeleng. "Kami tidak diberitahu identitasnya, ia hanya mengatakan bahwa beliau keluarga nona." jawabnya.
"Terima kasih." ujar Kania. Ia segera masuk ke ruangan ibunya dan membangunkan kedua adiknya.
"Kalian pulanglah, nanti terlambat ke sekolah. Kakak sudah menyiapkan sarapan di rumah." ujar Kania.
Kedua adiknya terbangun dan meninggalkan rumah sakit. Kania menunggu ibunya terbangun, ia ingin menanyakan apakah mereka masih mempunyai keluarga dekat. Kania sangat penasaran siapa pria baik itu. Sambil menunggu ibunya terbangun, ia memakan sarapan yang ia buat sendiri sebelum berangkat tadi.
*****
__ADS_1
Happy Reading...
See you next time...😘😘😘