
Bastian menurunkan barang barang Kania dan langsung membawa ke kamarnya.
"Kemana?" tanya Kania.
"Kamarku." jawab Bastian datar.
"Kita belum menikah, tidak boleh satu kamar." kata Kania.
"Kau lupa seminggu kau tidur denganku, apa aku melakukan hal yang kau takutkan?" tanya Bastian.
"Ayolah sayang, aku hanya berjaga jaga saja. Aku tak ingin kita melewati batas." jawab Kania.
"Kalau kataku tidak ya tentu tidak. Jangan mendebatku Kania. Kau akan terus berada disampingku." ujar Bastian kesal.
Kania menghela nafasnya. Percuma berdebat dengan Bastian yang keras kepala ini. Kania menekuk wajahnya saat masuk ke kamar Bastian.
"Jangan memasang wajah seperti itu Kania atau kau akan aku cium dan merebahkanmu di atas ranjang ini?" goda Bastian.
"Dasar pria gila, kau benar benar tak mau mendengarkan aku Tian." jawab Kania.
Bastian terkekeh. "Bawa barangmu ke kamar pakaian, aku sudah menyingkirkan setengah pakaianku untuk tempat pakaianmu." ujar Bastian.
Kania menuruti keinginan Bastian namun saat masuk ke kamarnya ia bingung, lemarinya sudah penuh pakaian wanita, sepatu dan perhiasan. "Aku letakkan dimana pakaianku Tian, ini pakaian dan peralatan siapa?" tanya Kania.
Bastian masuk dan menunjuk kardus besar disana. "Kau taruh pakaianmu dalam kardus itu. Mulai sekarang kau pakai ini semua." jawab Bastian sambil menunjukkan pakaian yang tergantung itu.
"Maksudmu ini semua punyaku?" tanya Kania.
"Tentu saja sayang, kau pikir aku memakai pakaian wanita." ujar Bastian.
"Kapan kau menyiapkannya, tapi ini sangat berlebihan Tian, aku tak bisa..." ujar Kania.
"Jangan membantah. Kau kekasihku, kita akan sering bertemu kolega dan rekan bisnis. Jadi pakaianmu harus berkelas. Kau bukan hanya sekertarisku tapi kau juga kekasihku. Ini semua dari butik langganan mami Delia. Dan ya Tuhan Kania, kapan kau langsung menuruti perkataanku sih, kau selalu mengajakku berdebat." ujar Bastian.
"Apa selama ini penampilanku membuatmu malu, jika aku tak berkelas mengapa kau mau menjadi kekasihku Tian." kata Kania kesal dan hendak meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Bastian segera menariknya dan mendekapnya. "Siapa yang bilang kau tak berkelas sayang, kau cantik memakai apapun tapi aku hanya ingin kau berpenampilan lebih baik agar kau tak direndahkan orang lain. Itu tujuanku bukan untuk menghinamu. Tapi jika kau tak nyaman, lakukanlah sesukamu tapi jangan marah seperti ini. Aku tersiksa saat melihat wajahmu terus ditekuk sepanjang hari." ujarnya.
Kania berbalik dan memeluk Bastian. "Maaf aku sensitif, seharusnya aku memang tahu diri. Aku mendampingi pria tampan dan kaya, jadi aku tak seharusnya membuatmu malu." jawab Kania.
Bastian menggeleng. "Kau sama sekali tak pernah membuatku malu sayang, maafkan aku jika mengatakannya tadi. Aku hanya tak ingin orang lain menghina kekasihku. Sudahlah, lebih baik kita makan, ini sudah melewati waktu istirahat. Aku akan menghubungi Galih agar ia menghandle pekerjaan sampai kita kembali." ujar Bastian.
Kania mengangguk dan meninggalkan Bastian yang menghubungi Galih menuju meja makan.
*****
Baskoro sudah membuat janji temu dengan Rafael dan Delia. Mereka bertemu di restoran hotel Sheraton. Penjagaan begitu ketat di sekitar Baskoro, mengingat ia seorang jenderal. Rafael dan Delia sampai dan mendapat pemeriksaan dari pengawal Baskoro.
"Kalian sedang apa, mereka tamuku." bentak Baskoro. Pengawal semua mundur. "Maafkan aku pak Rafael, ibu Delia." ujarnya.
"Tidak apa apa, itu tugas mereka. Mereka melakukannya dengan baik." jawab Rafael sambil menjabat tangan Baskoro. "Suatu kehormatan buat kami bisa bertemu anda pak." sambungnya.
"Aku yang merasa terhormat bisa bertemu pria terkaya ini." jawab Baskoro sambil terkekeh. "Ayo silahkan duduk, sudah waktunya kita makan siang." ujar Baskoro.
Rafael dan Delia duduk dan menikmati makan siang bersama pak Jenderal.
"Ini semua tentang putriku, kalian tahu lah Sahara itu anak satu satunya yang aku miliki." ujar Baskoro.
"Kami menyerahkannya pada putra kami. Tian dan Sahara sudah sama sama dewasa, kita tak bisa memaksakan perasaan mereka. Maafkan kami." ujar Delia.
Baskoro terkekeh. "Mengapa harus minta maaf bu, aku juga sudah mengatakannya pada Sahara. Tapi putriku sepertinya sangat menyukai putra anda. Jadi aku tak bisa melakukan apapun untuk menenangkannya." ujar Baskoro.
"Sejujurnya aku sangat menyukai putri anda, selain cantik dan cerdas, ia juga terlahir dari keluarga baik baik. Jika Sahara bisa mendapatkan hati Tian, tentu saja kami akan setuju. Tapi kami benar benar tak bisa memaksa Bastian" ujar Rafael.
Baskoro mengangguk anggukan kepalanya. "Artinya aku mendapatkan lampu hijau dari kalian. Selanjutnya kita serahkan pada anak anak. Aku berharap Tian bisa memandang putriku. Mereka sudah sangat akrab kan?" tanyanya.
"Anda benar pak, anak kita sudah akrab. Tapi Tian hanya memandang Sahara sebagai adiknya saja." sambung Delia.
"Mami... Biarkan mereka dekat. Papi sangat menyukai Sahara." ujar Rafael.
"Maafkan aku pak, baiklah kita serahkan saja pada putra dan putri kita. Jika memang mereka jodoh pasti akan bersatu." ujar Delia lagi.
__ADS_1
"Aku sangat senang berbincang dengan kalian, pak Rafael terakhir kita bertemu sepertinya sudah 3 tahun yang lalu. Bagaimana pertemuan selanjutnya kita main golf lagi seperti dulu." ujar Baskoro.
"Dengan senang hati pak Jenderal." jawab Rafael sambil terkekeh.
Rafael sangat menyukai putriku artinya pria inilah yang harus aku dekati agar Sahara bisa mendapatkan Bastian. Pikir Baskoro.
"Baiklah, mohon maaf aku tak bisa menemani kalian lebih lama. Aku masih ada tugas yang lain. Aku akan menghubungi anda lagi." ujar Baskoro sambil berjabat tangan pada keduanya.
Rafael dan Delia pun meninggalkan restoran.
*****
"Kau memberi harapan pada pak Baskoro Raf. Aku menyukai Kania, bukan Sahara." ujar Delia saat berada dalam mobil menuju rumah mereka.
"Hanya untuk basa basi sayang, aku tak ingin kasar padanya. Kau tahu, kita membutuhkan koneksi di kepolisian. Kita harus tetap menjaga hubungan dengan baik. Dan Sahara itu tidak buruk buat Tian sayang." jawab Rafael.
"Lalu bagaimana dengan Kania? Tian sangat menyukai wanita itu." kata Delia kesal.
"Tian menyukai sekertarisnya karena seringnya bertemu, aku yakin perasaan itu akan berubah sayang, kita tunggu saja nanti." ujar Rafael.
"Apa kau tidak menyukai Kania?" tanya Delia.
"Aku juga menyukainya, tapi jika ada yang lebih pantas mengapa kita harus menghalanginya." jawab Rafael.
"Terserahlah, yang pasti aku tetap menyukai wanita mandiri daripada wanita manja. Lihat saja prilaku Sahara, ia menggunakan ayahnya untuk mendapatkan Tian. Wanita itu benar benar manja." ujar Delia jengkel.
Rafael hanya terkekeh. "Biarkan putra kita yang nanti memutuskannya." jawab Rafael datar.
Mereka akhirnya menghentikan perdebatan tentang perjodohan itu.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
Maaf kemarin Author menyelesaikan novel "Dialah Jodohku". Jadi baru sempat up kembali.
__ADS_1
Dukung, Like n Komen terus ya...