Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 27


__ADS_3

Bastian terkejut saat melihat Sahara di bandara, benar saja wanita itu langsung memeluknya. Dan lebih terkejut lagi saat bersamaan ia melihat Kania datang menjemputnya.


"Kau ini apa apaan Sahara." bentak Bastian. Bastian mencari keberadaan Kania, tapi wanita itu cepat sekali menghilang. Ia sangat yakin Kania melihat Sahara memeluknya.


Bastian mencoba menghubungi Kania, tapi wanita itu tidak menjawabnya. Bastian ingin berlari mencari Kania. Tapi Sahara menahannya.


"Kau ini, aku jauh jauh menjemputmu kemari. Siapa yang kau cari sih?" tanya Sahara.


"Kau sengaja kan? Kau tahu Kania akan menjemputku." bentak Bastian.


"Aku tidak tahu, jika ia menjemputmu mana wanita itu?" tanya Sahara. "Kau pasti salah lihat Tian. Ayolah kau pulang denganku." ujar Sahara.


Bastian menghela nafasnya, ia sangat yakin tadi adalah Kania. "Kau tahu darimana aku disini hari ini?" tanya Bastian kesal.


"Tentu saja dari papi Rafael. Ia mengatakan kau ke Pontianak dan hari ini kembali." jawab Sahara.


"Sejak kapan kau panggil papi pada papiku?" bentak Bastian.


"Kau ini, tentu saja sejak papimu setuju aku menikah denganmu Tian." jawab Sahara.


"Omong kosong, aku memiliki wanita yang aku cintai yaitu Kania." jawab Bastian. "Berhentilah menggangguku Sahara." ujar Bastian kesal.


"Kau selalu saja jahat denganku Tian. Kau tidak mungkin mencintai sekertarismu. Kau melakukan ini karena sering bertemu dengannya Tian. Ayo sekarang kita pulang." ujar Sahara.


"Kau pulang saja sendiri, aku lebih baik naik taksi." Bastian menyingkirkan tangan Sahara, lalu naik taksi.


"Tunggu Tian, kau kejam sekali meninggalkanku. Tian...." teriak Sahara kesal.


 *****


Kania memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Matanya tak terasa berair dan buram. Ia sangat kesal melihat adegan tadi. Bagaimana bisa Bastian memeluk Sahara di depan umum. Ponsel Kania terus saja berdering, ia tahu itu Bastian. Ia tak memperdulikannya.

__ADS_1


Kania terus saja memacu mobilnya, saat dipersimpangan jalan ia melihat rambu lampu. Ia masih melihat lampu itu hijau jadi ia memacu mobilnya lebih cepat, namun jarak 1 meter lampu berubah menjadi merah. Ia terkejut dan tak mampu mengendalikan kecepatan mobilnya. Ia mengerem mendadak dan membelokkan mobilnya agar tak menabrak mobil dari arah kanan dan kiri namun naas, ia justru menabrak tiang lampu merah. Kecelakaan pun tak bisa dihindarinya membuat jalan Jakarta semakin macet.


 *****


Bastian terus menghubungi Kania, tapi wanita itu tak kunjung menerima telponnya. Ia sudah menghubungi kantor. Kania sama sekali belum sampai disana. Bastian semakin khawatir, ia menghubungi ibu Kania. Dan Kania juga tak ada di rumahnya, malah menanyakan balik karena Kania memang menjemputnya. Bastian melihat kanan kiri, ia berharap bisa melihat mobilnya.


Kemacetan begitu panjang, Bastian sangat kesal dengan jalanan yang dilaluinya. "Lama sekali tak jalan jalan pak." ujar Bastian kepada supir taksi.


"Sepertinya ada kecelakaan di persimpangan, banyak polisi dan ada mobil ambulan juga tuan." jawab supir taksi.


Deg...


Tiba tiba jantung Bastian berdetak dengan hebat, rasa khawatirnya bertambah saat mengetahui ada kecelakaan. "Berapa jauh jarak dari sini ke persimpangan pak?" tanya Bastian, ia berharap itu bukan Kania.


"Masih jauh tuan, sekitar 1km lagi." jawab supir itu.


Bastian menghubungi Kania lagi, dan ia bersyukur ponselnya diangkat. "Dimana kau sayang?" ujar Bastian.


Tubuh Bastian tiba tiba bergetar hebat, bagaimana bisa ketakutannya terjadi. Kania kecelakaan. Tanpa pikir panjang ia turun dari taksi tersebut dan berlari ke arah persimpangan yang masih jauh dari taksinya. Supir taksi juga kebingungan. Barang barang Bastian masih di dalam taksi.


Bastian terengah engah saat sampai di lokasi kejadian karena berlari. Mobil itu memang mobil Bastian yang ringsek bagian depannya dan mengeluarkan asap. Bastian tak memperdulikan polisi yang melarangnya mendekat.


"Kania..." teriak Bastian.


Semua orang menengok Bastian, sebagian ada yang mengenali Bastian termasuk beberapa anggota polisi.


"Kania..." teriak Bastian lagi, ia berusaha membuka pintu mobilnya namun tidak bisa. Bastian mencari alat untuk menghancurkan kaca mobil belakang, beberapa polisi membantunya. Akhirnya ia berhasil membuka pintu itu. "Kania, sayang...bangunlah..." Bastian berusaha mengguncang tubuh Kania. Darah dikepalanya mengucur dan kaki Kania terjepit. "Cepatlah bantu tolong korban." teriak Bastian. Tak terasa airmatanya mengalir.


"Kania aku mohon bangunlah." ujar Bastian sambil terisak.


Beberapa polisi dan warga membantu melepaskan Kania dari jepitan mobil.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong selamatkan Kania." Bastian terus saja histeris. Semua yang mendengarnya merasakan kepiluan. Bastian terus saja memeluk Kania yang bersimbah darah. "Kania, aku akan menghukummu jika tidak bangun." bentak Bastian, ia terus saja mengguncang tubuh Kania.


Bastian kesal dengan polisi yang sangat lama mengevakuasi Kania, ia menarik body mobil sekuat tenaga sampai tangannya berdarah karena terkena goresan. Kania sudah dipasang alat bantu pernafasan, kakinya terus diusahakan lepas dari jepitan. Sejam lamanya, akhirnya kaki Kania berhasil dilepaskan dari jepitan depan mobil. Tanpa pikir panjang, Bastian mengangkatnya dan membawanya ke ambulan yang sudah menunggu. "Cepat jalan." teriak Bastian.


Bastian tak sadar jika ia terus menangis di depan Kania. "Sayang, aku mohon sadarlah. Kania... Kau takut aku hukum kan? Bangunlah sayang. Bangun..." teriak Bastian.


Bastian terus menggenggam tangan Kania. Ia terus terisak. Ia tak ingin kehilangan Kania. Tangannya bergetar saat ponselnya berbunyi. Mami calling...


"Mi, Tian harus bagaimana?" tanya Bastian dan menangis.


"Jadi berita ini benar sayang, kau menuju rumah sakit mana? Kau tenanglah." ujar Delia.


"Rumah Sakit Pertamina mi, Tian membawa Kania kesana. Tian tak mau kehilangan Kania, ia tak mau bangun juga." jawab Bastian.


"Kau tenang sayang, mami papi dan keluarga Kania akan segera kesana." ujar Delia meyakinkan.


 *****


Delia terkejut saat melihat berita kecelakaan. Itu siaran langsung yang mengatakan kecelakaan terjadi di persimpangan jalan dan menyorot pria pengusaha terkaya di Indonesia. Dan Delia melihat Bastian yang terus memeluk Kania. Dan ternyata berita itu benar adanya. Kania kecelakaan, tapi bagaimana bisa Bastian baik baik saja. Bukankah Kania menjemput Bastian. pikir Delia.


Delia bersama Rafael segera mengunjungi rumah Kania, ia yakin ibunya tidak baik baik saja jika melihat berita itu, mengingat ibu Kania menderita asma akut menurut cerita Bastian.


Delia berkali kali menanyakan letak rumah Kania, dan akhirnya menemukannya. Delia mengetuk pintu dan seorang ibu sedikit lebih tua dari Delia membukanya.


"Maaf bu, aku orangtua dari Bastian Widjaja." ujar Delia. "Aku ingin mengajak anda ke rumah sakit, ada sesuatu yang terjadi pada Kania." sambungnya. Delia beruntung ternyata ibu Kania, belum mengetahui berita itu.


Tapi tiba tiba, anak laki laki dan perempuan memakai seragam SMA berlari ke arah mereka. "Bu...kak Kania kecelakaan." ujar keduanya.


Tentu saja berita itu membuat ibu Kania syok, ia memegang dadanya dan jatuh pingsan.


 *****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2