
Bastian menyelesaikan makannya dengan enggan, walaupun itu kesukaannya namun justru membuatnya kembali terisak. Ia mengingat saat Kania memakan seafood dan alergi. Bastian merasakan sesak di dadanya. Ia merindukan tawa dan kemarahan wanita itu. Sejak kejadian kecelakaan itu, Sahara hilang entah kemana. Ia sama sekali tak mengganggu Bastian lagi, menghubunginya pun tidak.
Bastian yakin, Sahara kabur karena takut saat mendengar kejadian kecelakaan di hari itu. Karena bagaimanapun penyebab kecelakaan itu adalah Sahara.
"Kak kenapa kau menangis?" tanya Tobi.
Bastian menggeleng. "Tidak apa apa, kakak merindukan kakak kalian saat melihat makanan ini." jawab Bastian.
"Kak Kania kan alergi seafood." ujar Geisha.
Bastian terkekeh. "Justru itu yang mengingatkan kakak padanya. Kakak kalian sangat bodoh, ia memakan seafood karena takut dengan perintah kakak, lalu ia pingsan karena alergi." jawab Bastian.
"Kak Kania sangat takut dipecat, ia takut tak bisa membiayai ibu dan kami. Ia mengorbankan banyak sekali buat kami." ujar Tobi yang akhirnya terisak. Geisha memeluknya dan ikut menangis.
"Kakak janji akan membuat kak Kania kembali lagi, kakak akan melakukan apapun agar ia sembuh. Kalian jangan sedih." ujar Bastian.
"Kak Tian pria yang sangat baik buat kak Kania, kami senang ia bisa mengenal kakak." ujar Tobi.
"Apa kalian tahu sebenarnya kakak terkenal sangat kejam?" ujar Bastian.
Keduanya mengangguk. Bastian menyipitkan matanya. "Kak Kania sering memaki kakak saat pulang ke rumah." ujar Geisha.
Bastian terbelalak. "Benarkah?" tanya Bastian.
Keduanya mengangguk. "Tapi kakak tak seburuk yang kami kira, kakak sangat baik setelah kami mengenal lebih jauh." ujar Tobi.
"Terima kasih kalian sangat menghibur." jawab Bastian. "Lebih baik kita kembali sekarang, sebelum wartawan menemukan kita disini." ujar Bastian.
Keduanya mengangguk. Mereka semua kembali kedalam rumah sakit.
*****
"Jadi tante setuju dan kita akan mengirim Kania ke Amerika?" tanya Bastian saat sudah di dalam dan mendapat penjelasan dari mereka.
__ADS_1
Rosa mengangguk. "Tante tak ingin memberikan putri yang cacat padamu Tian." jawabnya.
Mata Bastian kembali berkaca kaca, ia sangat bingung mengapa sejak mengenal Kania dan keluarganya, ia sangat sentimentil. Ia sendiri lupa sikap arogannya yang dulu.
"Tapi ia akan lama disana tante, apa tante baik baik saja disini?" tanya Bastian lagi.
"Tante memiliki Tobi dan Geisha, tante hanya ingin yang terbaik buat Kania walaupun kami akan berhutang banyak pada keluargamu." ujar Rosa.
Bastian menggeleng. "Tak ada masalah soal biaya tante, persetujuan tante saja sudah membuat Tian senang. Disana ada kakek dan nenek, dan juga Tian akan menjenguknya sering sering." ujarnya.
Rosa dan kedua adik Kania sangat senang. Mereka bisa membuat Kania berjalan seperti semula walaupun mereka akan berpisah lama. Dan mereka benar benar beruntung bisa mengenal keluarga Widjaja.
*****
Seminggu sudah Kania berada di ruang ICU, keadaannya semakin stabil walaupun wanita itu belum mau bangun dari komanya. Persiapan keberangkatannya pun sudah selesai. Dokter di Pertamina sudah mengizinkan Kania dipindahkan ke rumah sakit Amerika dengan prosedur yang sedikit rumit.
Keluarga Bastian dan Kania mengiringi kepergian Kania ke bandara. Mereka menggunakan jet pribadi Rafael. Dan Rafael serta Bastian ikut kesana terlebih dahulu sampai bertemu dokter George yang akan menangani Kania.
Sepanjang perjalanan, Bastian tak melepaskan tangannya dari Kania. Ia terus menyuruh Kania bangun dari tidurnya yang sudah lama. Tapi Kania sama sekali tak bergeming. Matanya masih menutup rapat. Bastian sangat merindukan wanita itu.
"Tian janji akan menjaga Kania selama seminggu disana tante, Tian akan kembali ke Indo setelah semuanya terjamin disana." ujar Bastian meyakinkan Rosa. "Kalian jaga ibu ya, kak Kania akan marah jika sampai ibu sakit." sambung Bastian pada Tobi dan Geisha.
Mereka semua mengangguk dan mencium kening Kania yang masih terbaring. Akhirnya merek melepaskan kepergian Kania. Di bandara sudah banyak wartawan yang menyorot mereka, namun tak ada yang bisa mendekat karena penjagaan sangat ketat.
"Aku berangkat sayang, jaga kesehatan selama aku tak ada. Aku akan seminggu bersama Tian disana." ujar Rafael pada Delia.
Delia memeluk suaminya. "Kau juga jaga kesehatan, sampaikan salamku pada ayah dan ibu." ujarnya. Delia juga memeluk Bastian. "Ingat sayang, jangan panik apapun yang terjadi, menjadi pria harus kuat seperti baja." pesan Delia.
"Tian akan ingat itu." jawab Bastian.
Mereka semua memasuki pesawat, dan akhirnya terbang menuju Amerika. Keluarga Kania dibawa Delia ke rumah besar Widjaja.
*****
__ADS_1
"Mengapa kami dibawa kemari, dan ini barang barang siapa?" tanya Rosa kebingungan.
"Maafkan aku bu, ini permintaan Tian. Ia ingin kalian tinggal bersama kami disini. Dan ini barang barang kalian yang sudah dikemas oleh supirku." jawab Delia.
Rosa dan anak anaknya tidak percaya. "Bagaimana bisa kami tinggal di rumah besar begini? Kami sangat malu menumpang." ujar Rosa lagi.
"Aku mohon kalian menerimanya, jangan mempersulitnya. Tian akan sangat marah jika kalian menolak. Dan Mila Mili sangat senang saat tahu Tobi dan Geisha akan tinggal disini. Mereka sangat kesepian selama ini di rumah." kata Delia.
Rosa memandang kedua anaknya dan mendapat anggukan persetujuan dari mereka. "Aku akan menerimanya tapi dengan syarat." pinta Rosa.
Delia menyipitkan matanya. "Katakanlah bu Rosa." jawab Delia.
"Jangan larang aku bekerja di rumah ini, biarkan aku membantu memasak dan beres beres rumah." ujar Rosa.
Delia membelalakkan matanya. "Kami punya setidaknya 5 pelayan di rumah. Bagaimana bisa aku membiarkan calon besanku bekerja." ujar Delia tak percaya.
"Jika tidak setuju, kami kembali ke rumah kami saja." ancam Rosa.
Delia menghela nafasnya. "Baiklah, setidaknya kalian bisa tinggal disini. Tapi aku berharap ibu tidak sampai kelelahan." ujar Delia.
Rosa akhirnya mengangguk dan tersenyum lalu mengikuti Delia masuk ke rumah besar Widjaja. Mereka memandang isi rumah tersebut dan sangat takjub melihatnya. Inilah pertama kalinya mereka masuk kedalam rumah bak istana kerajaan di televisi.
Delia menunjukkan kamar Rosa, Tobi dan Geisha. Ketiganya diberi kamar terpisah. Mengingat kamar rumah Widjaja memang sampai puluhan kamar.
"Sebentar lagi Mila dan Mili pulang sekolah, nanti kalian berkenalan lah. Kalian mulai besok akan pindah di sekolah mereka." ujar Delia membuat mereka terkejut kembali.
Delia memegang tangan Rosa. "Semuanya sudah aku atur, agar Tobi dan Geisha tidak jauh bersekolah, jangan pikirkan soal biaya. Kami semua yang menanggungnya." ujar Delia.
Tobi dan Geisha seraya menangis, mereka akan bersekolah di sekolah yang sangat elite bagaikan mimpi. Keduanya memeluk Delia berterima kasih. Tuhan bagi mereka sangat baik. Ini takdir yang luar biasa bagi keluarga Kania.
*****
See you next time...
__ADS_1
Sampai disini dulu ya para Readerku...
😘😘😘