
"Mana mungkin pi, Cristin lusa harus kembali ke Paris, ada fashion show disana." ujar Cristina saat papinya mengatakan ia harus kembali ke Indonesia.
"Jangan mempersulit papi sayang, kau tahu bagaimana mami jika keinginannya tidak terwujud. Bisa bisa papi tidak diberi pintu kamarnya selama setahun, dan kau tahu itu sangat menyiksa papi." ujar Rafael.
"Tapi tidak bisa pi, acara itu sudah biasa Cristin ikuti. Jika absen kali ini, maka nama baik ChrisMore akan hancur di mata dunia desainer." jawab Cristina.
"Apa kau tidak merindukan mami?" tanya Emili mendekati perdebatan mereka.
"Soal itu jangan ditanya nek. Cristin selalu merindukannya dan juga Mila Mili. Tapi kan nenek tahu, Cristin bukan pengangguran." jawab Cristina lagi.
"Kau benar benar tak memikirkan papi Cristin, terserahlah. Papi tidak akan memaksamu lagi." ujar Rafael marah dan meninggalkan Cristina.
Cristina menghela nafasnya. "Nek...bantu Cristin." pintanya.
Emili mengangkat bahunya, ia bingung jika Rafael sudah marah.
"Kapan nenek dan kakek kembali ke Indo? Kalau kalian kembali, Cristin akan kembali juga." ujar Cristina.
"Sebenarnya nenek dan kakek akan kembali minggu ini, namun kami harus tinggal lebih lama untuk membantu Kania disini." jawab Emili.
"Maksud nenek, kak Tian tidak disini sampai kak Kania sembuh?" tanya Cristina.
Emili menggeleng. "Tentu tidak sayang, kakakmu memiliki perusahaan yang harus diurus. Jadi mereka pulang lusa ke Indo."
"Cristin ada ide." ujarnya lalu menghampiri Rafael di balkon apartemen.
*****
Cristina ragu bagaimana bicara pada ayahnya. Rafael akan berubah menjadi keras jika sedang marah. Cristina terus mendekati Rafael. Rafael merasakan keberadaan seseorang dibelakangnya. Dan ia tahu itu pasti putrinya.
"Apa sudah mengambil keputusan?" tanya Rafael seraya berbalik menghadap Cristina.
Cristina menunduk. "Pi...Cristin tetap tidak bisa ikut papi lusa, tapi Cristin janji akan kembali saat nenek dan kakek membawa kak Kania pulang." ujarnya.
Rafael memegang pagar balkon dengan keras. "Kau ingin kembali setelah 6 atau 12 bulan lagi Cristin, penyembuhan Kania sangat lama mengingat kakinya yang patah dengan parah. Ia harus dirawat dengan dokter George paling cepat 6 bulan."
Cristina membelalakkan matanya. Ia tak tahu jika kaki Kania patah. Pantas saja Bastian sangat merasa bersalah. Akhirnya ia menyerah. Cristina menghela nafasnya. "Baiklah pi, Cristin ikut pulang. Biar anak buah Cristin yang menangani fashion shownya." ujarnya.
Rafael menyipitkan matanya. "Kau yakin?"
__ADS_1
Cristina mengangguk. Rafael membentangkan tangannya dan Cristina menghambur ke pelukan ayahnya.
*****
"Bagaimana dokter George?" tanya Bastian saat dokter George memeriksa Kania dan melakukan rontgen kembali.
"Maafkan aku harus mengatakan ini, setelah kita melakukan rontgen kembali. Tulang kakinya yang patah sangat parah, ini akan memakan waktu lebih lama dari perkiraan kita tuan." jawab dokter George.
Bastian merosot di kursinya. Ia memegangi kepalanya. "Ya Tuhan, aku harus melepasnya lama disini."
Dokter George menepuk pundaknya. "Bersabarlah tuan, kami akan mengusahakan yang terbaik buat nyonya. Semua tergantung seberapa besar keinginan nyonya untuk sembuh. Itu juga akan mempengaruhi kesembuhannya dengan cepat."
"Terima kasih dokter George. Aku akan berbicara padanya." jawab Bastian lalu meninggalkan ruangan dokter George.
Bastian kembali ke ruang perawatan dan menghampiri Kania. "Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
"Aku baik baik saja." ujar Kania dengan suara serak. "Apa aku bisa berjalan lagi?" tanyanya.
Bastian menggenggam tangannya dan mengecup keningnya. "Kau akan kembali seperti semula, asal kau memiliki keinginan yang kuat untuk sembuh."
"Tentu saja, aku merindukan ibu dan adik adikku. Aku ingin kembali secepatnya." jawab Kania.
Bastian menjelaskan pengobatan dan terapi dokter George, lalu Kania menangis saat tahu waktunya sangat lama untuk ia kembali berjalan. Bastian memeluknya.
"Tidak Tian, lebih baik jangan menungguku. Aku wanita miskin yang cacat, kau akan mendapatkan wanita lebih daripada aku." jawab Kania sambil terisak.
"Aku tak menyukai kata katamu Kania, kau ingat kan aku kesal karena kata katamu. Dan kau akhirnya salah paham saat Sahara memelukku di bandara dan mengakibatkan kau kecelakaan. Itu sudah menjadi hukuman buatku. Jangan mengatakan kata kata yang tidak penting lagi. Aku memilihmu dari awal, maka sampai akhir pun aku akan bersamamu." ujar Bastian.
Kania memeluknya erat. "Aku mencintaimu Tian, aku hanya ingin kau bahagia."
"Aku juga mencintaimu sayang, kebahagiaanku adalah dirimu. Aku mohon bersemangatlah untuk kesembuhan kakimu, aku akan menantimu menyambutku sambil berlari menghampiriku Kania. Walaupun aku akan kembali ke Indonesia, aku janji akan menjengukmu jika pekerjaanku tak terlalu sibuk disana. Dan ada kakek nenek yang menjagamu disini." Bastian kembali menjelaskan.
"Aku akan merepotkan keluargamu Tian, aku malu menghadapi keluarga Widjaja." ujar Kania.
Bastian menggeleng. "Ini semua salahku sayang, aku yang membuatmu seperti ini. Jangan banyak berpikir. Yang harus kau pikirkan hanya kesembuhan kakimu saja."
Kania mengangguk. Ia tak menyangka Tuhan mengirimkan seorang malaikat padanya saat ini. Pria tampan dan sangat kaya ini, lebih mempertahankannya yang cacat daripada mencari wanita lain yang lebih baik darinya. Ia akan sangat merindukan Bastian saat pria ini akan meninggalkannya di Amerika.
"Kau ingin menghubungi ibumu?" tanya Bastian.
__ADS_1
Kania tersenyum cerah dan mengangguk. Tentu saja ia ingin berbicara dengan ibunya. Bastian mengambil laptop yang dibawanya kerumah sakit lalu melakukan panggilan video ke Indonesia.
"Pagi mami..." sapa Bastian saat Delia mengangkat ponselnya.
"Sayang mami, apa kabar sayang? Kau baru menghubungi mami setelah beberapa hari. Kau tahu betapa mami sangat merindukanmu. Papi baru saja selesai menghubungi mami dan memberi kabar baik." ujar Delia cerewet.
Bastian menghela nafasnya. "Mami makin cerewet saja."
"Hei, kau berani mengatakan mami cerewet sayang." jawab Delia.
Kania terkekeh. "Hai tante, ini Kania." ujarnya.
"Menantuku...itu benar benar kau. Bu Rosa, ini Kania." teriak Delia.
Bastian hanya menggeleng melihat tingkah ibunya. Tak lama Rosa menyapa Kania sambil menangis. "Ya Tuhan, Kania...kau sudah sadar sayang, bagaimana keadaanmu disana?" tanya Rosa.
Kania ikut menangis saat melihat ibunya. Bastian mengelus pundaknya menenangkan. "Hai bu, Kania baik baik saja. Kania sangat merindukan ibu." jawabnya sambil terisak.
"Ibu juga sayang, ibu benar benar ketakutan tak bisa melihatmu lagi Kania. Mengapa kau jahat menyiksa kami." ujar Rosa.
"Maafkan Kania bu, Kania bersalah atas semuanya. Gara gara Kania kalian semua kerepotan. Maaf." jawab Kania lagi, ia masih tak bisa menahan tangisnya. "Dimana Tobi dan Geisha?"
"Mereka tentu saja bersekolah sayang, disini kan sudah pagi." jawab Rosa
"Kania lupa, salam buat mereka. Kania sangat merindukan mereka." ujar Kania.
"Baik baik disana sayang, jaga kesehatan. Cepat sembuh dan kembali bersama kami lagi. Kami tak bisa tanpamu Kania." ujar Rosa terisak kembali.
"Kania janji akan segera sembuh bu, tante Delia terima kasih atas semuanya. Tante sudah merawat keluarga Kania." katanya.
"Tentu saja sayang, mereka sekarang keluarga kami juga. Baik baik disana ya, beristirahatlah." ujar Delia
Kania mengangguk.
"Baiklah, sudah saatnya Kania beristirahat. Sampai jumpa lagi semua. Bye." ujar Bastian lalu mematikan sambungan telponnya.
Kania memeluk Bastian. "Aku merindukan ibu."
Bastian mengelus punggungnya. "Segeralah sembuh, dan kembali bersama kami sayang."
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘😘😘