
WARNING...!!! HANYA 17+ KEATAS
MOHON BIJAK MEMBACA EPISODE KALI INI... JIKA BELUM CUKUP UMUR MOHON LEWATI...
TERIMA KASIH...🙏🙏🙏
*****
Bastian memeluk Kania. Kania berusaha melepaskannya, namun percuma Bastian sama sekali tak melepaskan Kania. Pelukannya semakin erat. "Ampuni aku sayang, aku melakukan itu karena sangat merindukanmu. Aku bersyukur wajahmu selalu membayangiku. Jadi aku tak melakukan kebodohan itu. Aku mohon maafkan aku." ujarnya.
"Tidak apa apa Tian, kau pantas bahagia. Aku hanya menjadi beban..." Bastian menciumnya dengan kasar untuk menghentikan kata kata Kania. Kania berusaha memalingkan wajahnya, namun Bastian menahan wajah dan tengkuk lehernya. Bastian memperdalam ciumannya hingga lidahnya memasuki mulut Kania. Penolakan yang awal dilakukan Kania berubah menjadi keinginan yang lebih saat Bastian mulai membelit lidahnya.
Bastian tidak membiarkan Kania menghentikannya. Ia membuka kancing baju pasiennya. Untuk pertama kalinya Bastian memegang payudara Kania. "Tian..." ujar Kania parau.
"Aku sangat merindukanmu, aku benar benar menginginkanmu." bisik Bastian. Ia menghentikannya lalu segera mengunci pintu ruangan. Bastian kembali ke Kania lalu menciumnya lagi. Bastian membuka baju Kania dan membuangnya ke lantai. Ia merebahkan tubuh Kania. Kania memang sudah tidak diinfus, ia hanya melakukan terapi kakinya saja.
Bastian menangkup kedua payudara Kania yang lumayan besar ukurannya dan sangat keras dan kenyal saat diremas. Bastian tahu Kania masih suci. Bastian menciumi leher Kania sampai turun ke dadanya dan meninggalkan bercak merah tanda kepemilikan disana. "Ahhhh..." desahan Kania keluar saat Bastian menciumi sekitar payudaranya dan menggigitnya.
Bastian membuka pengait bra nya, membuat payudara Kania terbebas. Kania seketika menutupinya dengan tangan. Bastian menggeleng lalu melepaskan tangan Kania. "Terlihat sangat cantik." ujar Bastian. Ia menahan kedua tangan Kania diatas kepalanya, lalu menunduk dan mulai menjilat dan menggigit ujung payudaranya.
"Aaahhh...aaaahhhh..." Kania mulai mengeluarkan suara yang membuat Bastian semakin menggila. Ia semakin gila juga memainkan ujung payudara itu didalam mulutnya. Mengisap serta menjilatinya dengan lidah. Tubuh Kania menggelenyar dan berkali melengkungkan tubuhnya tanpa menggerakkan kakinya.
Tangan Bastian mulai meraba kebawah dan masuk kedalam celana Kania. Kania menggeleng dan menahan tangan Bastian. "Aku tak akan menyakitimu sayang, aku janji." bisik Bastian. Kania menarik tangannya dan membiarkan tangan Bastian merasakan miliknya.
Bastian mulai mengelus rambut rambut yang ada disekitar milik Kania. Lalu ia mencoba mencari celah. Ternyata milik Kania sudah mulai basah. Bastian tersenyum. Ia masih perawan tak mungkin Bastian memasukkan jarinya yang akan membuat Kania kesakitan. Bastian hanya mengelus elus bagian inti itu.
Desahan Kania semakin indah terdengar. Bastian melakukannya sambil terus menjilati payudara Kania secara bergantian. Kania merasakan keanehan pada perutnya. Ia seperti ingin mengeluarkan lahar panasnya. Bastian merasakan kedutan kedutan pada inti Kania. Bastian mempercepat jarinya agar Kania melepaskan cairan yang akan keluar dari tubuhnya.
"Saaaayyyaaanggg...aaaaahhhh..." teriak Kania saat pelepasan itu dirasakannya. Tubuhnya bergetar hebat, dan intinya berkedut kedut dengan keras.
Bastian menarik jarinya. Dan mencium bibir Kania. "Bagaimana rasanya?" tanya Bastian.
__ADS_1
Nafas Kania masih berat, ia mengaturnya perlahan. "Apa itu tadi Tian?" tanya Kania tak mengerti.
"Itu klimaks pertamamu setelah 24 tahun di usiamu sekarang." jawab Bastian.
"Apa aku tidak suci lagi?" tanya Kania polos.
Bastian tertawa dan menciumi wajahnya. "Kau masih suci sayang, jika saja kau sudah sehat. Aku akan menembus keperawananmu dengan milikku yang sudah mengeras ini." ujar Bastian sambil menunjukkan celananya.
Kania sangat malu melihatnya. "Apa kau mau klimaks juga?" tanya Kania.
"Sejujurnya iya. Tapi aku tak ingin menyakitimu. Aku akan menahannya sampai kau sembuh nanti." jawab Bastian.
"Jika aku tak bisa sembuh bagaimana? Apa kau ingin mencari wanita lain?" tanya Kania lagi sedih.
Bastian menjentikkan jarinya di hidung Kania. "Itu takkan terjadi sayang, jika kau tak bisa jalan pun, aku bisa melakukannya. Tapi tidak disini." jawab Bastian sambil mulai memakaikan baju Kania dan merapikannya.
Kania mulai mengantuk, ia mengerjapkan matanya berkali kali. "Tidurlah sayang, aku akan menemani terapi mu besok pagi." ujar Bastian.
*****
Bastian menyiram tubuhnya di kamar mandi malam itu, ia mencoba menenangkan dan mendinginkan adik kecilnya. Ia hampir saja menyakiti Kania. Ia akan merasa bersalah membuat Kania kesakitan saat sedang berusaha sembuh dari kakinya yang cidera. Air dingin di Amerika mampu menenangkan pikiran serta adik kecilnya. Beberapa menit kemudian ia keluar dan mengganti bajunya.
Bastian memandangi wajah cantik kekasihnya. Dan mencium kening wanita itu lalu ia duduk di sofa sambil membuka laptopnya. Ia melihat laporan yang dikirimkan Galih padanya. Keadaan semakin stabil. Perusahaan semakin berada diatas bursa bisnis. Lalu ada satu proposal dari perusahaan Hardoyo yang menginginkan kontruksi bangunan di Singapura.
Ia kembali mengingat kejadian malam itu, ia merasa sangat bersalah pada Janeta.
Baiklah...aku akan menyerahkan kontruksi itu pada Hardoyo sebagai penebus kesalahanku telah mencium putrinya. gumam Bastian.
Ia menuliskan balasan email buat Galih, agar Galih segera membuat kontrak terhadap perusahaan Hardoyo. Lalu ia menutup laptopnya dan segera merebahkan tubuhnya di sofa karena lelah akibat perjalanannya tadi siang.
*****
__ADS_1
Rafael, Delia, Galih dan Fera kembali ke Jakarta. Mereka sudah menyelesaikan segala urusannya di Manado. Tapi Delia tengah merajuk sekarang, istrinya sangat kesal saat tahu Bastian memberikan kontrak kontruksi di Singapura pada keluarga Hardoyo. Delia masih ingat kata kata tajam yang diucapkan istri Hardoyo padanya.
"Kau kenapa marah padaku sayang, aku tak tahan melihat wajahmu seperti itu." ujar Rafael saat mereka berada di mobil menuju rumah mereka. "Putramu yang melakukannya bukan aku, dan sumpah demi Tuhan, aku sama sekali tak ikut campur soal proyek itu."
Delia tidak bergeming, ia hanya menatap keluar jendela. Memandang gedung gedung tinggi kota Jakarta.
"Del bicaralah atau aku akan menerkammu disini." ancam Rafael.
"Coba saja jika kau menginginkan tidur di sofa." jawab Delia. Perkataannya membuat supir mereka tersenyum.
"Mang Dodo jangan dengarkan nyonya, ia selalu saja menghukum tuanmu ini." ujar Rafael pada supirnya.
"Siap tuan, anggap saja mang Dodo tidak ada." jawabnya.
Delia menahan senyumnya. "Jadi apa aku harus menghukum putra kesayanganku? Tidak akan."
"Ya Tuhan, kau melampiaskan padaku. Itu tidak adil sayang." ujar Rafael.
"Karena hanya kau yang bisa aku hukum." kata Delia sambil memalingkan wajahnya kembali.
Rafael hanya menghela nafasnya. Ia tak bisa merayu istrinya kalau sudah seperti ini. Hanya Mila Mili yang selalu membantunya agar Delia tak menghukumnya.
Tapi apa salahku? Yang menerima proposal itu putranya. pikir Rafael sedih.
Selalu saja ia menjadi pelampiasan saat Delia kesal. Delia memang sangat menyayangi putra putrinya, sehingga apapun kesalahan anaknya maka akan dilampiaskan padanya. Rafael hanya mengambil keuntungan setelahnya. Karena setiap kali mereka baikan, ranjang besar mereka yang menjadi saksi. Rafael akhirnya tersenyum.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
See You Next Time...
__ADS_1
Dukung, Like n Komen terus ya...