
Bastian terus mondar mandir di depan ruang operasi. Airmatanya tak mau berhenti mengalir. Delia menghubunginya tak bisa segera sampai di rumah sakit Pertamina karena harus mengurus ibu Kania yang pingsan. Bastian semakin kalut karena keadaan ibu Kania.
Berita tentang Kania kekasih Bastian Widjaja terungkap. Bukan hanya berita kecelakaannya saja yang bikin heboh tapi kebenaran tentang hubungan mereka pun terungkap.
Tangan Bastian sudah diperban pihak rumah sakit, walaupun awalnya ia menolak. Ia sama sekali tak memperdulikan keadaannya. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri akibat kecelakaan yang menimpa Kania.
Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi hal buruk pada Kania. Aku sangat bodoh tak menghubunginya selama 3 hari, bahkan aku membiarkan wanita lain memelukku. Kania bangunlah, maafkan aku yang bodoh ini. gumam hati Bastian.
Sejam kemudian, Rafael dan Delia sampai membawa salah satu adik Kania yaitu Tobi. Bastian langsung memeluk Delia.
"Tenanglah nak, mami yakin Kania wanita yang kuat." ujar Delia menenangkan.
"Bagaimana kak Kania, bagaimana ia bisa kecelakaan kak Tian?" tanya Tobi.
"Maafkan kakak tak bisa menjaga kak Kania. Kakak akan bertanggungjawab atas apapun yang terjadi, kita tunggu saja hasil operasinya." jawab Bastian.
"Kenapa tanganmu Tian?" tanya Delia.
"Hanya tergores mi." jawab Bastian lemah.
"Kau seorang pria Tian, jangan tunjukkan kelemahanmu. Kania pasti baik baik saja, yakinlah." ujar Rafael.
Bastian hanya menunduk sedih. "Ini semua salah Tian mi, Tian yang membuat Kania kecelakaan." ujarnya sedih. "Tapi ini juga karena papi." bentak Bastian
"Apa maksudmu sayang?" tanya Delia.
"Papi kan yang memberitahu Sahara, aku ke Pontianak dan hari ini pulang? Sahara, wanita sialan itu memelukku di bandara. Dan saat bersamaan Kania melihat kami berpelukan dan tentu saja Kania marah. Dan inilah hasilnya." kata Bastian.
"Papi tak pernah bertemu Sahara, bagaimana bisa papi yang memberitahunya." jawab Rafael mulai emosi karena disalahkan.
"Papi tak memberitahu Sahara, tapi papi memberitahu pak Baskoro saat kalian main golf. Tentu saja, pria itu memberitahu anaknya. Papi berhentilah mendekatkan aku dengan Sahara. Tian tak akan bisa menyukainya." bentak Bastian.
"Cukup Tian, kau berani membentak papimu. Papi tak pernah memaksakan perjodohan ini. Papi hanya ingin berhubungan baik dengan pak Baskoro." bentak Rafael.
"Cukup semuanya." bentak Delia. "Kalian apa apaan, ini rumah sakit dan kalian membuat Tobi bingung. Kita sedang menunggu kabar Kania di dalam. Kalian malah berdebat. Tian berhenti dan kau Raf tunggu perhitungan dariku." ujar Delia.
__ADS_1
Rafael dan Bastian langsung terdiam. Rafael sangat takut pada kemarahan Delia. Ia tak ingin istrinya menghukumnya. Rafael sangat tidak tahan jika Delia mendiamkannya selama berhari hari.
Keadaan di rumah sakit sangat mencekam. Sudah 3 jam operasi, dokter sama sekali belum keluar. Bastian terus saja mondar mandir tanpa henti, berkali kali Delia menyuruhnya untuk duduk dan tenang tapi Bastian tak mendengarkannya.
*****
Tobi menghubungi Geisha. Ia ingin tahu kabar ibunya, tapi Tobi terkejut saat Geisha mengatakan mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit Pertamina.
"Ibu belum sembuh kan, kenapa malah kemari?" tanya Tobi.
"Ibu memaksa dan kabur dari rumah sakit kak, sekarang kami di dalam taksi." ujar Geisha.
"Ya Tuhan, ini akan semakin runyam." jawab Tobi.
"Ada apa nak?" tanya Delia.
"Ibu dan Geisha sedang kemari. Ibu kabur dari rumah sakit." ujar Tobi.
"Apa???" Delia terkejut begitu juga Rafael dan Bastian. "Kita belum tahu keadaan Kania, jika terjadi apa apa bagaimana? Ya Tuhan, aku sangat bingung sekarang." ujar Delia.
"Tenanglah Tian, kita harus menenangkan ibu Kania, jika kita panik maka ia pasti ikut panik." ujar Delia.
"Tante benar kak, jangan panik. Tobi akan menenangkan ibu jika sampai disini." ujar Tobi.
Bastian menghela nafasnya dan mengangguk. Ia berusaha mengendalikan emosinya. Ia tak ingin ibu Kania syok dan membuatnya semakin ambruk.
Beberapa menit kemudian lampu operasi mati dan dokter keluar dari ruangan. Mereka semua menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan Kania dok?" tanya Bastian.
"Kami berhasil melakukan operasi kepala, tapi ada kabar buruk. Kaki pasien patah dan kami harus melakukan amputasi. Jadi kami membutuhkan persetujuan pihak keluarga." ujar dokter.
Semuanya terkesiap mendengar penjelasan dokter. Bastian ambruk ke lantai. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Begitu juga Delia dan Tobi, mereka semua menangis tanpa henti. Bastian tak mungkin membiarkan Kania kehilangan kakinya.
"Kami butuh hasil rontgen." ujar Rafael.
__ADS_1
"Baik pak kami akan segera melakukannya." ujar dokter.
"Tenanglah aku akan menghubungi dokter George di Amerika. Ia dokter ahli tulang. Jika memang ia bisa menyembuhkannya maka kita akan mengirim Kania ke Amerika." ujar Rafael.
Ada secercah harapan saat Rafael mengatakan seperti itu. Bagaimanapun Rafael memang memiliki koneksi yang sangat banyak di seluruh dunia.
*****
Rosa dan Geisha sampai di rumah sakit. Rosa tak henti hentinya menangis saat sampai di depan ruang operasi.
Bastian mendekatinya. "Maafkan Tian tante, Tian tak bisa menjaga Kania." ujarnya.
Rosa menggeleng. "Tidak nak, ini musibah bukan salahmu. Tante yakin kau anak baik." jawab Rosa.
"Tian yang salah mengajarkan Kania mengemudi, seharusnya Kania tidak boleh membawa mobil sendiri. Tian sangat menyesal. Tian akan bertanggungjawab atas semuanya. Tian janji apapun yang akan terjadi, Tian tak akan meninggalkan Kania." kata Bastian.
Rosa menangis sambil memeluk Bastian. "Tante berharap Kania bisa kembali seperti sediakala nak, tante sangat menyayanginya. Kania adalah anak tante yang paling kuat." ujarnya.
Bastian menenangkan Rosa, ia tak ingin wanita paruh baya ini syok kembali.
Delia menghampiri mereka. "Apapun yang terjadi, kami tidak akan meninggalkan Kania bu." ujar Delia.
"Terima kasih bu Delia. Kalian keluarga terpandang, tapi masih perduli pada keluarga miskin seperti kami." jawab Rosa.
Delia menggeleng. "Tak ada pembeda miskin dan kaya bagi manusia. Di mata Tuhan hanya keimanan saja yang membedakan. Harta kami adalah titipan Tuhan bu." jawab Delia.
"Kalian sangat baik." ujar Rosa sambil menangis.
Semuanya menunggu hasil rontgen kaki Kania dan berharap Rafael bisa menghubungi dokter George.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
Dukung, like n komen ya...
__ADS_1