
Seminggu kemudian, Bastian harus ke Pontianak setelah pembangunan properti disana sudah hampir selesai.
"Aku berada disana 3 hari Kania. Aku ingin kau ikut tapi disini memerlukan kau juga. Jadi aku akan meninggalkanmu disini. Tapi ingat, jangan macam macam selama aku pergi." ujar Bastian.
"Aku akan menunggu Tian, kau berangkat hati hati. Dan aku tak berani macam macam." jawab Kania.
Bastian memeluk Kania. "Aku pasti akan merindukanmu sayang." ujarnya.
Kania membalas pelukan Bastian. "Aku juga pasti akan merindukanmu." balas Kania.
"Kau sudah belajar mengemudi. Jadi gunakan mobilku untuk ke kantor." ujar Bastian. Sebelum Kania menjawab Bastian sudah mengancamnya. "Jangan membantah. Aku tak ingin kau naik kendaraan umum dan berdesakan dengan pria pria, jika kau membantah aku akan membuatmu tidur bersamaku setelah aku kembali dari Pontianak." ancamnya.
"Kau selalu saja mengancamku Tian, tapi bolehkan aku pulang ke rumah ibu selama kau di luar kota." pinta Kania.
"Tentu saja sayang, kau lebih aman bersama keluargamu daripada tinggal disini sendirian." jawab Bastian.
Kania sangat senang memiliki atasan sekaligus kekasih yang perhatian dan baik seperti Bastian. Ia mengantarkan Bastian ke bandara Soekarno Hatta. Sesampainya disana Bastian memeluknya dengan sangat erat.
"Aku tak ingin berpisah darimu Kania." ujar Bastian.
"Jangan merengek seperti anak anak sayang, kau hanya pergi 3 hari." jawab Kania sambil terkekeh.
"Awas saja jika aku mendengar kau macam macam disini." ancam Bastian.
"Harusnya aku yang mengatakannya Tian, kau akan bertemu wanita cantik disana, lalu kau akan berpaling dariku." ujar Kania.
"Tidak ada wanita cantik selain dirimu Kania." jawab Bastian.
Bastian tak memakai jet pribadi ayahnya. Ia lebih memilih memakai pesawat umum. Pesawat yang akan ditumpangi Bastian akan segera take off. Mereka berpisah di bandara.
"Hati hati dijalan sayang." ujar Bastian.
"Kau juga, kabari aku jika sudah sampai." ujar Kania.
Keduanya berpisah dan Kania langsung menuju perusahaan.
__ADS_1
*****
Satu setengah jam perjalanan akhirnya Bastian sampai juga di Bandara Supadio Pontianak. Ia segera menghubungi Kania namun wanita itu tak mengangkatnya. Bastian melihat jam tangannya.
Ini jam sibuk di kantor. Baiklah, nanti saja aku telpon lagi. pikir Bastian.
Bastian langsung menuju hotel tempatnya menginap, ia akan ke lokasi pembangunan setelah beberapa jam beristirahat terlebih dahulu. Ia merindukan adik kesayangannya. Cristina akhir akhir ini sangat sulit dihubungi. Menjadi desainer artis artis terkenal membuatnya lupa untuk pulang ke Indo.
"Ya Tuhan jika disini jam 8 pagi, maka di Paris jam 2 dini hari. Tak mungkin aku mengganggu tidur Cristin." gumamnya sendiri.
Lalu ia menaiki mobil jemputannya. Karyawannya di Pontianak memang akan menjemputnya dan membawanya ke hotel.
Sejam dari bandara menuju hotelnya, sudah jam 11 siang, ia istirahat sejenak sebelum akhirnya makan siang dan menghubungi Kania.
*****
Kania sangat sibuk di kantornya, ia mengurus berkas berkas untuk klien China bersama Galih. Beberapa kali Galih menemuinya untuk berbicara, dan saat ini Galih mengajaknya makan siang.
"Bisakan kita makan siang bersama?" tanya Galih.
"Lihat nanti Gal, aku akan menghubungimu lagi. Pekerjaanku masih belum selesai." jawab Kania.
Kania hanya mengangguk menanggapi ucapan Galih.
Kania melihat ponselnya dan ada panggilan tak terjawab dari Bastian. Ia melihat jam dinding masih jam 11 siang. Kania tak ingin menghubungi Bastian, ia takut mengganggunya. Ia akan menunggu sampai Bastian menghubunginya lagi.
Jika aku makan siang dengan Galih, apakah Tian akan marah padaku. pikir Kania.
Sejam kemudian benar saja Bastian menghubunginya. "Kau sangat sangat sibuk sayang, kau melupakan kekasihmu ini." ujar Bastian.
"Sangat sangat sibuk, siapa yang melupakanmu sayang. Kau sedang apa sekarang?" tanya Kania.
"Aku akan ke restoran hotel untuk makan siang, lalu langsung ke lokasi pembangunan. Kau mau makan apa dan dengan siapa?" tanya Bastian.
Kania menelan ludahnya. Ia berharap Bastian tidak marah padanya. "Sebentar lagi aku akan keluar makan, tapi aku tak tahu makan dimana." jawab Kania.
__ADS_1
"Aku belum mendapat jawaban pertanyaanku yang terakhir, jadi aku bisa menebak. Kau mau makan dengan Galih kan?" tebak Bastian.
"Ehm... Apa kau marah jika aku bersamanya?" tanya Kania.
"Menurutmu?" tanya Bastian kembali.
"Sayang, aku tak enak menolaknya. Izinkan aku sekali ini saja ya." ujar Kania memohon.
"Terserahlah." jawab Bastian lalu ponselnya langsung dimatikan.
Kania menghela nafasnya. Bastian pasti marah karena ia pernah mengatakannya Tidak ada lain kali selama ia hidup. Kania langsung menghubungi Galih.
"Maafkan aku Galih, aku tak bisa makan siang denganmu. Masih banyak pekerjaan jadi aku akan makan di kantor saja." ujar Kania.
"Aku temani ya, aku akan membeli makanan di luar lalu membawanya ke ruanganmu." ujar Galih.
"Terima kasih Galih, aku ingin makan sendiri sambil bekerja. Aku tak ingin pak Tian tahu kau makan di kantornya, jika aku memang sudah mendapat izinnya. Maaf." ujar Kania.
"Apa pak Tian marah jika kau makan denganku? Apa kalian punya hubungan spesial?" tanya Galih penasaran.
"Ya Tuhan tidak Gal, aku benar benar masih banyak pekerjaan. Dan aku tak ingin kau dalam kesulitan hanya karena makan di kantornya. Sudah dulu ya." ujar Kania lagi sambil mematikan ponselnya.
Maaf Galih, aku tak ingin Bastian marah. Aku mencintainya, jadi aku harus menjaga perasaannya. gumam Kania.
Kania berusaha menghubungi Bastian kembali. Tapi pria itu tak mengangkatnya. Kania sangat kesal dengan sikap Bastian. Pria itu sangat pencemburu membuat Kania serba salah menghadapinya.
*****
Sudah 3 hari sejak kepergian Bastian ke Pontianak, dan sejak ia marah pada Kania. Mereka tak saling berkomunikasi. Kania juga tidak menghubungi Bastian sama sekali. Setiap hari Galih berusaha mengajaknya makan siang bahkan makan malam, tapi selalu Kania tolak. Sampai akhirnya Galih menyerah untuk dekat dengan Kania.
Hari ini adalah hari kepulangan Bastian ke Jakarta, pria itu tak minta jemput di bandara. Kania bingung harus bagaimana. Ia menghubungi Bastian namun ponselnya mati. Kania mencari info jam pesawat landing dari Pontianak, Kania menebak kemungkinan Bastian kembali dengan pesawat GA pada penerbangan pagi hari. Seperti saat ia berangkat. Kania berdandan dengan cantik untuk menjemput Bastian di bandara.
Kania sampai di bandara, ia menunggu kedatangan Bastian. Dan ia membelalakkan matanya saat seorang wanita memeluk Bastian dengan erat di bandara. Wanita itu siapa lagi kalau bukan Sahara.
Kania mundur, dan merasakan sakit hati yang luar biasa. Pantas saja Bastian tak menghubunginya, itu karena ia menjadikan Sahara sebagai penggantinya. Kania semakin kesal dan segera berlari menuju mobilnya.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘😘😘