Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 43


__ADS_3

Pagi itu tepat jam 7 pagi, Bastian sampai di bandara Soekarno Hatta. Entah bagaimana Janeta bisa tahu ia kembali, wanita itu menunggunya. "Selamat pagi tuan Bastian Widjaja." ujar Janeta.


"Mengapa kau berada di bandara?" tanya Bastian.


"Aku menyambutmu." jawab Janeta.


"Untuk apa Jen, aku bisa sendiri. Dan aku minta maaf atas kejadian malam itu, mungkin aku sedikit mabuk. Dan aku sudah menebus kesalahanku dengan menerima proposal ayahmu." ujar Bastian.


"Aku hanya ingin berteman denganmu seperti dulu Tian. Kau berubah setelah memiliki kekasih. Dan bisnis papa ku jangan kau sangkut pautkan dengan kita." kata Janeta.


"Tolong jangan ada kata kita Jen. Lupakan saja, aku hanya ingin menghargai kekasihku." jawab Bastian.


"Pikiranmu sangat kolot Tian, kita hanya berteman. Aku tak akan mengganggumu dengan sekertaris sekaligus kekasihmu itu." ujar Janeta.


Bastian menyipitkan matanya. "Kau menyelidikinya?"


"Aku hanya penasaran saja Tian. Apa wanita itu sudah bisa berjalan?" tanya Janeta.


"Cukup Jen." bentak Bastian. "Berhentilah mengikutiku." ujar Bastian seraya meninggalkan Janeta.


Janeta mengejar Bastian. Ia menarik tangan Bastian. "Tak bisakah kita seperti dulu Tian." tanya Janeta.


Bastian menghela nafasnya. "Dulu kau wanita tomboi, dan sekarang kau sangat cantik Jen. Carilah pria yang bisa membahagiakanmu."


"Aku akan menjadi tomboi lagi, asal kau bisa bersamaku." pinta Janeta.


"Aku memiliki kekasih Jen, aku sangat mencintainya. Dan aku akan membatalkan kontrak perusahaanku dengan ayahmu jika kau terus seperti ini." ancam Bastian.


"Aku tidak perduli Tian, aku mencintaimu saat kita kuliah bersama, aku memendamnya sejak lama sampai akhirnya kita bisa bertemu lagi. Apa malam itu kau tidak ada perasaan sedikitpun terhadapku." teriak Janeta.


Plaaaaakkkk...


Suara tamparan keras terdengar membuat Bastian terkejut. Janeta terjatuh di lantai bandara. Pak Hardoyo bersama beberapa orang menghampiri mereka.


"Pak Tian, aku minta maaf atas perlakuan putriku." ujarnya.


Bastian membangunkan Janeta. "Aku memang merasa terganggu, tapi anda tak perlu menampar putri anda di depan umum seperti ini." bentak Bastian.


"Maafkan kekasaranku. Tapi aku tak bisa menahannya." jawab Hardoyo. Istri dan putriku, keduanya akan menghancurkan usahaku sialan. pikir Hardoyo.


Bastian melihat sudut bibir Janeta yang berdarah. "Kau baik baik saja kan?" tanyanya.


Janeta mengangguk. "Maafkan aku telah menggangggumu Tian." jawab Janeta, ia langsung berlari meninggalkan mereka.


"Aku memang lebih muda dari anda. Tapi aku tak pernah membenarkan tindakan kasar pada seorang wanita. Permisi." ujar Bastian seraya meninggalkan Hardoyo.


Bastian menaiki taksi. Ia menyenderkan kepalanya di kursi penumpang. Ia akan langsung ke rumah besar Widjaja.


*****

__ADS_1


"Tian, kau sudah kembali nak." sambut Delia.


Bastian hanya diam. "Tian lelah mi, Tian naik ke kamar sebentar ya." ujarnya.


Delia bingung dengan sikap Bastian, namun ia mengangguk. Putranya dalam mood yang tidak baik. "Ada apa dengan putramu?" tanya Delia pada Rafael yang ikut bingung.


Rafael mengangkat bahunya. "Biarkan ia tenang dulu sayang, nanti juga ia akan bicara." ujarnya.


Delia menghela nafasnya dan mengangguk.


Bastian merebahkan tubuhnya di ranjang, ia sangat lelah namun harus berangkat ke kantor. Ayah dan ibunya sudah pasti bingung, tapi ia tak memiliki tenaga untuk bercerita sekarang.


Sejam kemudian...


"Tian...sayang..." panggil Delia dengan lembut.


"Ya mi, sebentar." jawab Bastian.


"Mami hanya ingin kau sarapan. Kau belum sarapan kan?" tanya Delia.


Bastian membuka pintu kamarnya. "Tian sudah sarapan di pesawat mi." jawabnya.


"Apa mami tak boleh tahu?" tanya Delia.


Bastian memeluk Delia dengan manja. "Tian sangat lelah, tadi di bandara ada kejadian yang membuat Tian makin lelah."


"Mami tahu Janeta, putri pak Hardoyo." tanya Bastian.


"Tentu saja. Sehari setelah kau pergi. Ia menghampiri kami dan mencarimu, lalu ibu dan ayahnya datang. Tapi wanita tua itu memiliki lidah yang tajam, ia menghina kau, mami dan Kania." ujar Delia.


Bastian membelalakkan matanya. "Apa maksud mami?" tanya Bastian lebih tertarik pada cerita Delia.


Delia mulai menceritakannya dari awal sampai akhir. "Begitulah ceritanya Tian, makanya mami sangat marah saat kau setuju dengan kerjasama itu." ujar Delia.


"Mengapa mami tak menelpon Tian setelah itu?" tanya Bastian.


"Mami sangat tahu kau ingin menghabiskan waktu dengan Kania, makanya mami tak mengganggumu Tian." jawab Delia.


"Malam itu sebelum berangkat ke Amerika, Tian melakukan kesalahan mi." ujar Bastian. Ia mulai menceritakan kejadian itu. "Itulah mengapa Tian segera berangkat ke Amerika untuk meminta maaf pada Kania. Dan pagi ini tiba tiba Janeta menjemput Tian dan memaksa Tian untuk bersamanya."


Delia terkesiap. "Ya Tuhan sampai seperti itu, kau memang salah Tian. Kau anak nakal."


"Maaf mi, Tian memang salah. Justru itu Tian menyetujui kontrak bersama pak Hardoyo agar bisa menebus kesalahan Tian. Tapi sekarang Tian kembali bimbang." ujar Bastian.


"Ada apalagi sayang?" tanya Delia.


"Saat Janeta berusaha merayu Tian, tiba tiba pak Hardoyo datang dan menampar Janeta hingga tersungkur." jawab Bastian.


Delia kembali terkesiap. "Itu sangat kejam Tian." ujarnya.

__ADS_1


Bastian mengangguk. "Tian tak tega melihat darah yang keluar dari sudut bibirnya. Janeta adalah teman terbaik Tian saat kuliah mi. Saat ia disakiti, hati Tian ikut sakit. Jika Tian membatalkan kontraknya, Tian yakin Janeta akan lebih disakiti pak Hardoyo." ujar Bastian.


"Kau benar, lalu apa keputusanmu?" tanya Delia.


Bastian hanya bisa menggeleng lemah.


"Tetap batalkan kontrak itu, jika terjadi sesuatu pada Janeta. Papi akan melaporkannya ke kantor polisi. Papi tak menyukai rekan bisnis yang tak punya hati Tian." ujar Rafael tiba tiba menghampiri mereka.


Bastian dan Delia memperhatikan Rafael. "Papi serius Tian. Lakukan perintah papi." pintanya.


Bastian mengangguk. "Aku akan menghubungi Galih. Dan menarik kontrak itu." jawab Bastian.


"Jadilah pria yang tegas mengambil putraku." ujar Rafael.


"Siap my king." jawab Bastian membuat semuanya terkekeh.


"Kau terlalu lama menjemput putramu, sampai kau lupa suami dan putri putrimu kelaparan di meja makan." ujar Rafael pada Delia.


"Ya Tuhan, aku sampai lupa. Ayo kita turun. Tian jika kau lapar bergabunglah sayang." ujar Delia menarik tangan Rafael.


"Tian akan siap siap berangkat ke kantor saja mi, banyak sekali pekerjaan yang tertunda." jawab Bastian.


"Istirahatlah hari ini Tian, kau baru sampai." teriak Delia sambil menuruni anak tangga.


Rafael menciumi pipi Delia sambil turun kebawah. "Raf...kau gila." ujarnya.


"Aku dari dulu memang gila." jawab Rafael sambil tertawa.


*****


"Heeeem mami kami bisa terlambat ke sekolah." ujar Mila.


"Biasa kalau ada abang, kami dilupakan." kata Mili.


"Maaf sayang, abang kalian sedang ada masalah." jawab Delia.


"Apa abang baik baik saja sekarang?" tanya Mila.


Delia mengangguk. "Papi sudah membantu masalahnya."


"Abang sudah dewasa, tapi masih saja manja." ujar Mili.


"Ssssstttt...saatnya sarapan." perintah Rafael.


Mereka terdiam dan mulai menikmati sarapannya. Sebelum akhirnya Mila Mili berangkat ke sekolah dengan mang Dodo.


*****


Happy Reading All...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2