Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 6


__ADS_3

"Benarkah? Dimana mbok?" tanya Delia saat baru sampai di rumahnya dan diberitahu jika ada Bastian. "Apa ayah dan ibu belum pulang?" tanyanya.


"Di kamarnya nyonya. Nyonya dan tuan besar belum pulang nyonya." jawab pembantunya.


"Sejak kapan Bastian datang?" tanya Rafael.


"Jam 5 sore tadi tuan, langsung masuk ke kamarnya, den Tian sepertinya kelelahan." jawab pembantunya lagi


"Mila, Mili mandi dulu. Setelah itu bangunkan abang buat makan malam." perintah Delia.


"Oke." jawab mereka.


"Putra kita pulang tanpa memberitahu. Aku akan membuat makanan kesukaannya." ujar Delia pada suaminya.


"Lagi lagi seafood." desah Rafael.


Delia hanya terkekeh dan menuju dapur.


 *****


Tok.Tok.Tok...


"Abang bangun." ujar Mila Mili kompak.


Bastian tidak bergeming. Keduanya membuka pintu kamar. Dan langsung menghambur ke atas ranjang, Mila menggelitik Bastian sedangkan Mili mulai menciumi abangnya.


"Gadis gadis nakal." ujar Bastian sambil terkekeh. Ia mulai menggelitik adik adiknya hingga keduanya tertawa lepas.


"Habisnya dibangunin susah sih." ujar Mila.


"Abang lelah, jadi tidak dengar." jawab Bastian.


"Biar tidak lelah, rasakan ini." ujar Mili mulai menggelitik abangnya lagi.


"Aduh ampun, abang menyerah." ujar Bastian, nafasnya mulai terengah engah.


"Berhenti bercanda, sudah waktunya makan malam." teriak Delia.


"Siap nyonya." kata ketiganya bersamaan dan terkekeh kembali.


"Kalian tunggu di meja makan, abang mandi sebentar. Badan abang bau keringat." ujar Bastian sambil mencium pipi keduanya.


Mila dan Mili menurut dan keluar dari kamar Bastian.


 *****


"Dimana abang kalian?" tanya Delia.


"Mandi, katanya bau keringat dan kita disuruh menunggunya." jawab Mila.


Rafael ikut bergabung di meja makan. "Ayah dan ibu belum kembali?" tanya Rafael.

__ADS_1


"Belum, katanya pulang terlambat karena banyak pasien yang datang. Jadi menunggu nomor antrian." jawab Delia.


"Harusnya kita sewa dokter pribadi saja disini. Biar ayah tidak perlu bulak balik rumah sakit." ujar Rafael.


Delia menggeleng. "Ibu sangat marah jika kita melakukannya. Kedua orangtuaku bukan orang yang suka bermanja manjaan." jawab Delia.


Rafael menghela nafasnya. "Mereka keras kepala sama sepertimu. Tapi mereka tak manja beda denganmu sayang." ejek Rafael.


"Kenapa jadi aku?" tanya Delia.


Mila dan Mili hanya terkekeh melihat dan mendengar orangtuanya berdebat.


"Kalian suka sekali berdebat." ujar Bastian.


"Eh sayang kemari. Kenapa tidak memberitahu jika ingin pulang nak, mami hanya masak seadanya." ujar Delia.


Mereka semua menatap meja makan yang penuh dengan masakan Delia.


"Mamimu mulai gila, ia terobsesi memasak. Begitu banyak makanan di meja, ia bilang seadanya." ujar Rafael sambil terkekeh.


Delia mendelikkan matanya. "Malam ini kau akan tidur di sofa tuan, kau mengejekku dengan kata keras kepala, manja dan gila." ancam Delia.


"Sialan, tidak nyonya ampuni kesalahanku." jawab Rafael.


Semuanya tertawa melihat papinya diancam maminya.


"Papi akan dikerumuni nyamuk malam ini." goda Mili.


Delia akhirnya terkekeh. "Sudah diam semua, waktunya makan malam." perintahnya.


Mereka menikmati makan malam mereka sambil menunggu Derry dan Emili pulang ke rumah. Seperti biasa Bastian sangat antusias jika sedang memakan seafood kesukaannya.


 *****


Mereka menuju ruang santai setelah semuanya selesai makan malam.


"Bagaimana pekerjaanmu Tian?" tanya Rafael pada Bastian.


"Semakin berat sejak tidak ada sekertaris pi." jawab Bastian.


"Kau belum menemukan yang cocok untukmu?" tanya Delia.


"Syukurlah sudah mi, besok wanita itu mulai bekerja. Wanita yang cantik seperti mami." jawab Bastian.


Baru kali ini Bastian memuji seorang wanita di depan orang tuanya. Delia dan Rafael saling pandang pandangan.


"Apa kau menyukainya nak?" tanya Delia penasaran.


"Yang benar saja, aku tak mengenalnya. Hanya melihat sekilas saat wawancara. Dan wanita itu memang cantik, mudah mudahan cara kerjanya sama seperti wajahnya." jawab Bastian.


"Jangan kejam pada bawahanmu sayang, ini sekertaris ketigamu. Jika kau selalu kejam. Mereka akan terus terusan kabur." ujar Delia lagi.

__ADS_1


"Putraku melakukan yang terbaik. Jika karyawan tidak becus, buat apa mempertahankannya." kata Rafael.


"Papi benar mi, tapi mami harus tahu, Tian tidak memecat mereka." jawab Bastian.


"Itu karena mereka ketakutan sebelum kau pecat." kata Delia.


Bastian terkekeh. "Doakan saja mi, sekertaris yang ketiga lebih berani menghadapi Tian. Bahkan ia lulusan universitas yang sama seperti mami. Jadi Tian harap ia mirip mamiku." godanya.


"Kau keras kepala Tian, dan tidak ada yang bisa mirip dengan mami, setiap wanita memiliki karakter yang berbeda." jawab Delia.


"Putraku keras kepala sama sepertimu." ujar Rafael.


"Kau benar benar ingin tidur di sofa Raf." ancam Delia.


"Ampun sayang, aku tak bisa tidur tanpa memelukmu." jawab Rafael.


Wajah Delia merah karena malu. Ia menginjak kaki suaminya. "Untung saja Mila Mili sedang belajar sekarang, jika tidak aku akan menghukummu sungguhan." ujar Delia.


Bastian terkekeh melihat tingkah mereka. Emili dan Derry akhirnya pulang kerumah, Bastian langsung menyambut kakeknya dan mengantarnya ke kamar. "Biar Tian saja nek." ujar Bastian.


"Kapan kau datang?" tanya Emili.


"Tadi sore, kalian pasti sangat lelah." jawab Bastian sambil berlalu masuk ke kamar kakeknya.


 *****


Bastian kembali bergabung setelah membantu kakeknya tidur. "Bagaimana keadaan kakek?" tanyanya.


"Semakin memburuk. Itulah yang dikatakan dokter." jawab Emili sedih.


"Sabar nek, apa perlu kita bawa ke Amerika untuk pengobatan?" tanya Bastian lagi.


Emili menggeleng. "Kakekmu tak mau Tian, ia bilang tubuhnya memang seperti itu karena semakin menua. Nenek tidak bisa memaksanya." jawab Emili.


"Sulit sekali mengatur kakekmu Tian." ujar Delia. "Ia selalu saja berkata, sudah waktunya kembali pada Tuhan itu membuatku takut setengah mati. Mami belum siap kehilangan lagi." sambungnya.


"Tidak, kakek harus semangat. Tian juga tidak mau kehilangan kakek Laros, setelah opa Widjaja pergi." ujar Bastian.


"Rayulah kakekmu agar mau dibawa berobat ke Amerika Tian. Ia pasti mendengarkanmu." ujar Rafael.


"Papi benar, kakek selalu mendengarkanmu Tian." sambung Delia.


"Nenek berharap kakek masih semangat untuk hidup, nenek bersedia menemani kakek kemanapun." ujar Emili.


"Kalian tenang saja, Tian akan memastikan kakek mau berangkat ke Amerika." janji Bastian.


Semuanya mengangguk dengan harapan tinggi pada Bastian. Malam sudah semakin larut, akhirnya mereka kembali ke kamar masing masing untuk beristirahat.


 *****


See you next time...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2