Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 3)
BAB 29


__ADS_3

Keesokan harinya. Rafael menghubungi dokter George, ia sudah mengirimkan hasil rontgen lewat email kemarin. Dan tinggal menunggu jawaban dari dokter George saja.


"Aku bisa melakukannya tapi dilihat dari hasil rontgen, akan membutuhkan waktu lama saat penyembuhan. Paling cepat enam bulan dan paling lama bisa sampai bertahun tahun. Bagaimana tuan Widjaja?" tanya dokter George.


"Lakukanlah dokter George, asal menantuku tak kehilangan kakinya." jawab Rafael. Ia mengakui Kania sebagai menantunya pada dokter George. "Tapi apa selama itu, bisakah kau lebih cepat menyembuhkannya?" sambungnya.


"Baiklah. Aku tunggu kedatangan pasien. Lihat keadaannya terlebih dahulu. Pasien harus dalam keadaan stabil saat diberangkatkan ke Amerika. Dan tentu saja aku akan melakukan yang terbaik untuk menantumu." jawab dokter George.


"Kami akan melakukannya. Terima kasih dokter George. Kaulah harapan kami." jawab Rafael lalu mematikan ponselnya.


"Bagaimana Raf?" tanya Delia.


"Kita bisa mengirimkan Kania ke Amerika tapi waktu penyembuhan sangat lama Del. Bagaimana menurutmu? Apakah keluarga Kania akan setuju pada pengobatan ini?" ujar Rafael.


"Kita harus bertanya? Jika mereka tak setuju maka amputasi jalan keluar keduanya. Dan itu akan menyakiti Bastian, ya Tuhan aku bisa gila." jawab Delia.


Rafael mengangguk. "Mi...jangan marah lagi, aku tak ingin mendapat hukuman darimu." Rayu Rafael.


"Mendengar percakapanmu dengan dokter George yang mengatakan Kania adalah menantumu, maka aku memaafkanmu." jawab Delia.


Rafael memeluk Delia. "Maafkan aku sayang, kau tahu aku hanya ingin menjalin persahabatanku dengan pak Jenderal dengan baik. Bukan untuk menukar putra kita." ujarnya.


Delia mengangguk. "Aku tidak marah karena kau berteman dengannya. Aku kesal saat kau dan putramu berdebat. Kau tahu kan, Bastian adalah putra kebanggaan kita. Kau lihat sekarang bagaimana kita mengajarkannya bertanggungjawab atas apa yang ia perbuat. Aku semakin bangga padanya." jawab Delia.


"Iya sayang, aku semakin bangga pada putra kita. Dan aku baru melihat airmatanya tumpah saat menghadapi masalah. Ia benar benar mencintai Kania." ujar Rafael.


"Aku tak pernah salah menilai sikap Tian, aku sangat tahu ia serius atau tidak dari awal. Ia sangat antusias jika sedang bercerita tentang Kania." ujar Delia. "Dan kita bisa menitipkan Kania pada ibu dan ayah, jika memang Kania harus ke Amerika." sambungnya.


Rafael mengangguk. "Kita harus ke rumah sakit sekarang. Apa Tian sudah mau makan?" tanya Rafael.


"Aku tak tahu sayang, ia sama sekali tak mau meninggalkan rumah sakit." jawab Delia.


"Bawalah makanan kesukaannya. Paksa ia makan, aku tak ingin putra kita menjadi pria lemah." ujar Rafael.


"Aku sudah menyiapkannya. Ayo kita berangkat." ujar Delia. Mereka menuju rumah sakit Pertamina kembali.

__ADS_1


 *****


Tobi dan Geisha memaksa ibunya makan. "Ayolah bu, kak Kania akan sedih jika ibu tidak makan lalu sakit." ujar Tobi.


"Ibu tidak lapar nak, ibu khawatir pada kakak kalian." jawab Rosa.


"Ibu tidak sayang kak Kania kalau begitu, ibu lupa kak Kania sangat marah jika ibu sakit. Sekarang ia sedang diuji sama Tuhan. Masa ibu yang kalah sih, jika ibu benar benar khawatir maka makanlah." ujar Geisha kesal.


Rosa akhirnya mengalah dan mau makan. "Tapi setelah ini antarkan ibu ke rumah sakit ya." pinta Rosa.


Kedua anaknya mengangguk. "Tapi setelah ibu menghabiskan makanannya." jawab Tobi.


Rosa mengangguk. Ia memaksa makanan itu masuk ke perutnya, lalu ia minum obat asma nya. Tobi dan Geisha mengantarkan ibunya ke rumah sakit. Mereka masih belum bisa menemui Kania, karena masih di ruang ICU.


Sesampainya disana, mereka melihat Bastian masih duduk di depan ICU, keadaannya terlihat semakin kacau. Mereka tak tega melihat Bastian. Pria itu sangat menyukai Kania. Dan wajahnya terlihat sangat sedih sekali.


"Nak Tian, kau masih disini?" tanya Rosa.


Bastian mengangguk. "Tian takkan pergi dari sini sampai Kania sadar tante." jawabnya datar.


"Biarkan saja mereka. Mereka tak akan diizinkan masuk kemari. Penjagaannya juga semakin ketat disini. Dan soal pekerjaan kakak sudah ada asisten yang mengurusnya." jawab Bastian.


"Kak Tian pasti belum makan, kakak keluar sana cari makan. Biar kami yang menunggu kak Kania." ujar Geisha.


Bastian menggeleng. "Kakak sama sekali tidak lapar." jawab Bastian.


"Kau ingin ikut sakit, lalu yang akan menjaga Kania siapa jika kau sakit." ujar Delia. Mereka datang tiba tiba.


Bastian berdiri langsung mendekati Rafael. "Bagaimana pi?" tanyanya langsung.


"Makan dulu baru papi beritahu." jawab Rafael memberi penawaran.


"Tian sama sekali belum..." jawab Bastian.


"Kau harus makan, ini mami bawakan makanannya. Pergilah ke taman bersama Tobi dan Geisha, habiskan makanan ini." potong Delia.

__ADS_1


Bastian menghela nafasnya dan mengambil makanan dari tangan Delia.


"Temani kak Tian makan ya sayang." ujar Delia kepada Tobi dan Geisha. Keduanya mengangguk dan menarik tangan Bastian keluar.


 *****


"Kami ingin berbicara bu Rosa." ujar Delia.


Rosa mengangguk dan menyuruh mereka duduk. Rafael mulai menjelaskannya pada Rosa tentang proses penyembuhan Kania di Amerika.


"Jadi bagaimana bu? Apakah anda setuju?" tanya Rafael setelah menjelaskannya.


"Aku setuju, tapi bagaimana dengan biaya pengobatannya pak, bu. Kami bukan orang kaya, kami hanya punya rumah kecil dan itu tak akan cukup walaupun kami jual sekarang." jawab Rosa.


"Jangan berpikir apapun tentang biaya. Kania adalah tanggung jawab Bastian. Dan kami sudah menganggapnya seperti putri kami sendiri." jawab Delia.


Rosa mulai terisak. "Aku akan banyak hutang budi pada keluarga kalian. Bagaimana aku akan membalasnya nanti?" ujarnya.


"Izinkan Kania menjadi menantu kami. Itulah balasannya." ujar Rafael.


Rosa dan Delia sama sama terkejut mendengar ucapan Rafael. "Jangan terkejut seperti itu sayang, aku sudah menyetujui hubungan mereka." ujar Rafael pada Delia.


Delia mengeluarkan airmatanya dan mengangguk. "Tapi bu, kami tidak bisa membawa ibu ke Amerika. Karena ibu juga sakit dan disini masih ada Tobi dan Geisha." ujar Delia. "Kami lakukan ini bukan untuk memisahkan kalian, tapi kami hanya khawatir." sambungnya.


"Tentu saja bu, aku tak mungkin ikut kesana. Tapi Kania dengan siapa?" tanya Rosa.


"Orang tuaku ada disana. Mereka yang akan merawat Kania. Tentu saja Bastian akan sering kesana juga menjenguk Kania." ujar Delia lagi.


Rosa mengangguk tanda setuju. "Lebih baik seperti itu daripada putriku akan cacat seumur hidupnya. Aku yakin Kania tak akan menerima hidupnya tanpa kaki." ujar Rosa.


Delia memeluk Rosa. "Kita cari jalan yang terbaik untuk anak anak kita bu." jawabnya.


Rosa kembali mengangguk dan bersyukur bisa bertemu keluarga yang kaya namun sangat ramah. Keluarga Widjaja tak pernah memandang orang miskin sebelah mata, mereka sangat berbeda dengan orang orang kaya pada umumnya.


 *****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2