
Perjalanan yang cukup melelahkan bagi Rafael dan Bastian mengantarkan Kania ke Amerika. Sudah 16 jam lebih mereka di udara, dan akhirnya sampai juga di Bandara International John F. Kennedy mereka transit disana untuk mengurus segala macam perizininan imigrasi dan sebagainya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Baltimore Washington. Sampai akhirnya mereka sampai di Bandara International Rhurgood Marshall. Ternyata Emily sudah ada di bandara menyambut mereka karena kakek dan neneknya memang tinggal di Maryland.
"Nenek..." teriak Bastian sambil memeluk Emili.
"Ya Tuhan cucu kesayangan nenek." jawab Emili menyambut pelukan Bastian.
"Bu..." ujar Rafael sambil mencium punggung tangan Emili.
"Nak Rafael, kalian pasti lelah." jawab Emili. Lalu wanita tua itu melihat dibelakang mereka. Ada Kania yang terbaring dan segera masuk ke mobil ambulan. "Jadi wanita itu calon cucu menantu nenek?" tanya Emili.
"Yang pasti Tian sangat mencintainya nek. Dimana kakek?" tanya Bastian.
"Kakek tak bisa ikut, kau kan tahu kakek tak bisa lelah." jawab Emili.
Bastian mengangguk dan membantu beberapa perawat menaikkan Kania ke mobil ambulan. "Papi sama nenek, biar Tian yang di dalam ambulan." ujar Bastian.
Rafael mengangguk dan membawa Emili ke mobilnya di luar landasan. "Kita bertemu di rumah sakit Johns Hopkins." ujar Rafael sebelum beranjak. Rumah sakit itu adalah tempat Derry Laros dirawat selama bertahun tahun.
Bastian mengangguk dan masuk ke mobil ambulan. Bastian menggenggam tangan Kania. Wanita itu terlihat sangat pucat, membuat Bastian semakin takut. "Apa pasien baik baik saja?" tanya Bastian pada suster yang menjemput mereka.
Suster itu memeriksa keadaan Kania dan mengangguk. "Pasien hanya kelelahan karena berada lama dalam perjalanan tuan. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan pasien."
"Terima kasih suster." jawab Bastian. Ia kembali memandang Kania. "Sayang, kembalilah padaku. Aku sangat merindukanmu. Maafkan kebodohanku." ujarnya sedih.
Satu jam perjalanan, mereka sampai juga di RS Johns Hopkins. Dokter George langsung menyambut mereka. Bahkan ada dokter saraf dan penyakit dalam yang akan menangani Kania sampai wanita itu sadar dan siap untuk terapi tulang.
Rafael sangat mengenal dokter dokter disana, mereka sangat terlihat akrab. Rafael meminta yang terbaik untuk anak menantunya. Kania langsung dibawa ke ruang ICU khusus. Mereka tak diizinkan masuk sampai pemasangan alat pada tubuh Kania selesai.
Beberapa jam kemudian dokter keluar dari ruang ICU. Mereka menjelaskan keadaan pasien kembali. "Semua sangat stabil, kami perkirakan Nyonya Kania akan sadar setelah 3 hari perawatan disini." ujar dokter George.
Kabar itu membuat mereka bahagia. "Terima kasih dokter." jawab Rafael.
Dokter George dan yang lainnya meninggalkan ruangan ICU khusus tersebut. Mereka tak diizinkan pasien di jenguk sampai dipindahkan ke ruang perawatan. Bastian sebenarnya sangat enggan meninggalkan Kania. Ia ingin sekali berada di dekat Kania. Tapi ia harus bersabar, karena pemindahan Kania akan dilakukan besok.
"Tian merindukan kakek." ujar Bastian.
__ADS_1
"Mari kita ke apartemen. Kakek juga sangat merindukan kalian." jawab Emili.
Bastian ragu meninggalkan rumah sakit.
"Tian, Kania sudah ditangani dengan baik disini. Besok kita akan kembali kemari. Dan mami titip salam buatmu saat papi mengabarinya tadi." ujar Rafael.
Bastian akhirnya mengangguk dan mengikuti keduanya menuju apartemen kakek dan neneknya.
*****
"Kania dan yang lainnya sudah sampai di Amerika dengan selamat bu." ujar Delia memberitahu Rosa.
"Terima kasih ya Tuhan, kau menyelamatkan mereka sampai tujuan." ujar Rosa bersyukur.
"Keadaan Kania juga semakin membaik, dokter memperkirakan hanya 3 hari ia bisa sadar kembali, kita berdoa saja terus agar Kania bisa kembali seperti sediakala." kata Delia.
"Amien. Terima kasih bu Delia. Keluarga kalian seperti malaikat, sangat baik pada keluarga kami yang miskin." jawab Rosa.
Delia menggeleng. "Tidak ada pembeda miskin dan kaya bu, kalian sudah menjadi keluarga kami. Ibu lihat Mila Mili dan Tobi Geisha, mereka berempat sangat akrab. Dan ada salam dari Cristin, putri kedua saya. Ia sangat penasaran pada keluarga calon kakak iparnya." ujar Delia sambil terkekeh.
"Saya pernah melihat beberapa kali Cristin di televisi sebagai desainer terbaik asal Indonesia. Gadis itu sangat cantik." ujar Rosa.
"Ada waktunya kita akan berkumpul kembali, bersama sama dan bahagian bu. Kesuksesan anak anak keluarga Widjaja karena sikap orangtuanya yang sangat baik terhadap sesama. Kania sangat beruntung jika berjodoh dengan Bastian." Rosa berharap.
Delia menggenggam tangan Rosa. "Setelah musibah dan semua yang kita alami bersama. Saya berharap mereka bisa menikah. Saya sangat menyukai Kania."
"Sekali lagi terima kasih buat semuanya." jawab Rosa dan mendapat anggukan Delia.
*****
"Jadi bagaimana hari ini di sekolah kak?" tanya Mili pada Tobi.
"Sedikit canggung, karena hanya aku yang miskin." jawab Tobi.
Mili menyipitkan matanya. "Bagaimana kakak bisa miskin? Ini rumah kakak juga. Jadi kakak tidak miskin."
__ADS_1
Bagaimana keluarga Widjaja memiliki hati malaikat seperti ini? Aku sangat bingung, aku kira orang kaya sangat merendahkan kami yang miskin. pikir Tobi.
"Hei...kak Tobi malah melamun." ujar Mili menyadarkan Tobi.
"Lalu bagaimana dengan Geisha. Ia sekelas denganmu kan?" tanya Tobi.
Mili mengangguk. "Geisha sangat cantik. Jadi pertama kali masuk kelas, malah laki laki di kelas pada heboh." jawab Mili kesal.
"Apa kau merasa kalah saing?" tebak Tobi.
Mili membelalakkan matanya. "Bagaimana mungkin. Aku juga tak kalah cantik." jawabnya narsis.
Tobi terkekeh. "Kau sangat cantik Mili, aku akan melindungimu kalau ada yang mengganggumu. Jadi katakan apapun padaku, jika ada yang membuatmu kesal."
Mili mengangguk senang. Sejak kedatangan Tobi di rumah. Mili merasa memiliki kakak lagi selain Bastian. Tapi umur Bastian sangat jauh dengannya, jadi ia merasa lebih akrab dengan Tobi.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Mila.
"Kak Mila sangat ingin tahu. Ini urusan kami." jawab Mili sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar gadis nakal." ujar Mila cemberut.
"Kalian adalah adik adikku sekarang, jadi mulai sekarang, siapapun yang mengganggu kalian, kak Tobi yang akan melawannya." ujar Tobi. "Dimana Geisha?" tanyanya.
"Tuh lagi ngadu sama ibu Rosa." jawab Mila.
Tobi menyipitkan matanya. "Kenapa?"
"Karena laki laki di kelas kami mendekatinya di hari pertama ia masuk." jawab Mila terkekeh. "Ia merasa terganggu, suruh siapa memiliki wajah cantik seperti kak Kania."
Akhirnya ketiganya tertawa bersama.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1
Maaf terlalu lama up...karena kesibukan Author... 🙏🙏🙏
Ada yang bertanya Author sibuk apa? Author adalah wanita pekerja. Bukan wanita pengangguran. Jadi mohon dimaklumi ya sayang sayangku... 😘😘😘