
Seminggu telah berlalu, kaki Kania pun sudah sembuh total. Saatnya Kania kembali ke rumahnya. Ia merindukan ibu dan adiknya, walaupun ia sering menghubungi mereka.
"Tak bisakah kau tinggal bersamaku?" tanya Bastian.
"Aku harus merawat ibu dan adik adikku Tian, mereka masih membutuhkan aku." jawab Kania.
"Adik adikmu sudah dewasa dan mereka bisa merawat ibumu. Ibumu pun sudah tak pernah sakit." ujar Bastian. "Aku akan kehilanganmu." Bastian menarik Kania ke pelukannya.
Kania terkekeh. "Aku akan bertemu denganmu tiap hari di kantor. Kau lupa aku sekertarismu." ujar Kania.
"Kantor dan rumah adalah 2 tempat yang berbeda sayang, aku tak pernah mengubah sikapku saat di kantor walaupun kau kekasihku. Tapi jika di rumah maka aku akan menjadi kekasih yang lembut buatmu." kata Bastian.
"Aku sudah tahan banting menghadapi sikapmu yang kejam itu, jadi tak ada pengaruh buatku." jawab Kania.
Bastian menghela nafasnya, ia menyerah berdebat dengan Kania. Tapi ia akan mendekati ibunya agar bisa mengizinkan Kania tinggal bersamanya.
"Baiklah, aku antar kau pulang sekarang. Mulai besok kau akan aku jemput. Tak ada lagi menunggu bus." ujar Bastian.
"Siap bos besar." jawab Kania.
Keduanya berangkat menuju rumah Kania. Mereka sampai jam 7 malam.
"Terima kasih Tian." kata Kania.
"Kau tak mengajakku mampir?" tanya Bastian.
Kania menggeleng. "Rumahku kecil, tak pantas pria tampan dan kaya menginjak rumahku." jawab Kania.
"Omong kosong." Bastian turun dari mobilnya dan mengambil tas pakaian Kania. "Ayo." ajak Bastian.
Kania menyipitkan matanya. Ia sangat ragu mengajak Bastian ke rumah kecilnya. Ia sangat malu dengan keadaannya.
Bastian menarik tangan Kania. "Kau kenapa? Aku mencintaimu bukan rumahmu. Aku ingin mengenal ibu dan adik adikmu." ujarnya.
Kania menghela nafasnya dan mengajak Bastian ke rumahnya. Ibunya menyambutnya dan terkejut saat melihat pria dibelakang Kania.
"Ini atasan Kania bu, pak Bastian Widjaja." ujar Kania.
"Sore tante. Aku Bastian, panggil aku Tian saja." ujar Bastian.
__ADS_1
"Tante tentu saja sudah tahu. Kau sering muncul di televisi. Tapi mengapa nak Tian mau ke gubuk kami yang berantakan ini? Masuklah." tanya Rosa Morris sambil mempersilahkan Bastian masuk. "Seminggu yang lalu tante hanya mendengar suara nak Tian di telpon saat izin mengajak Kania ke luar kota." ujarnya.
"Tante merendah, ini bukan gubuk. Tapi rumah yang sangat nyaman. Aku hanya ingin mengenal tante dan adik adik Kania." jawab Bastian.
"Sayang sekali Tobi dan Geisha ada acara di sekolah mereka, jadi tak pulang malam ini." ujar Rosa.
"Jadi mereka menginap? Acara apa sampai keduanya bersamaan." tanya Kania.
"Get together katanya. Mereka kan satu sekolah. Jadi kelas 10 sampai 12 wajib ikut." Rosa menjelaskan.
"Baiklah, Kania ke kamar dulu dan membuat minuman buat pak Tian." pamit Kania.
Rosa mengangguk dan membiarkan Kania masuk kedalam.
*****
"Jadi nak Tian sekarang bukan hanya atasan Kania saja. Bagaimana bisa nak Tian menyukai Kania. Kami tak sederajat nak." ujar Rosa saat Bastian sudah menjelaskan semuanya pada Rosa.
"Tak ada pembeda derajat di mata Tuhan tante, dan Tian benar benar mencintai Kania. Tian tak akan menyakitinya. Tian akan membahagiakannya. Tante jangan merasa rendah diri. Kania cantik seperti tante, ia juga sangat cerdas." ujar Bastian meyakinkan Rosa. "Tolong restui kami." pinta Bastian lagi.
"Bagaimana orangtuamu nak, tante tak ingin ia dihina. Kania adalah putri yang sangat tante banggakan." ujar Rosa sedih.
Rosa terharu dan menitikkan airmatanya. "Jika kalian menyukai Kania dan kalian saling mencintai maka tak ada hak tante melarang hubungan kalian." jawab Rosa.
Bastian mencium punggung tangan Rosa, ia sangat senang ibu Kania merestui mereka. "Terima kasih tante. Tian akan menjaga Kania semampu Tian." ujar Bastian.
"Kalian sangat serius, ada apa?" tanya Kania sambil membawa teh buat Bastian.
Rosa menyeka airmatanya. "Tidak ada sayang." jawab Rosa.
"Aku minta restu pada ibumu tentang hubungan kita." jelas Bastian.
Kania membelalakkan matanya. Ia tak menyangka Bastian akan mengatakannya secepat ini pada ibunya. Kania melirik Rosa. "Ibu tidak marah Kania memiliki kekasih?" tanyanya.
"Kenapa ibu harus marah sayang, ibu dari dulu ingin sekali kau dilindungi seseorang." jawab Rosa.
"Ibu tahu siapa yang membayar rumah sakit dan biaya sekolah adik adik? Ia lah orangnya. Pria yang merahasiakan jati dirinya saat membantu kita." ujar Kania menjelaskan.
Rosa terkejut. "Ya Tuhan, kau malaikat kami nak. Terima kasih banyak atas semuanya." ujar Rosa kembali terharu.
__ADS_1
Bastian menggeleng. "Aku hanya membantu orang yang membutuhkan tante, jangan sungkan mengatakannya jika kalian membutuhkan uang. Dan aku juga beruntung bisa mendapatkan anak tante." ujar Bastian sambil menggenggam tangan Kania. "Tante, Kania selain bekerja sebagai sekertaris. Aku juga memperkerjakannya sebagai asisten pribadi, jadi..." Bastian mulai ragu.
Kania bingung apa yang ingin Bastian katakan.
"Jadi ada apa nak, teruskan?" tanya Rosa.
Bastian berdeham. "Jadi bisakah Kania tinggal bersamaku, aku membutuhkannya karena pekerjaan yang sering dibawa kerumah." ujar Bastian.
Kania dan Rosa sama sama membelalakkan matanya. Mereka terkejut dengan permintaan Bastian.
"Seminggu sekali aku akan mengantar Kania pulang." sambung Bastian.
Rosa tertawa membuat Kania maupun Bastian kebingungan. "Tante tidak marah, tapi bisakah kalian berdua menjaga kepercayaan tante, kalian belum menikah. Tante tak ingin Kania hamil di luar nikah." ujar Rosa.
"Ibu..." bentak Kania. "Tidak Tian, aku tak ingin tinggal bersamamu." ujar Kania.
Bastian kesal dengan Kania. Rosa menggenggam tangan Kania. "Ibu percaya padamu Kania, ibu juga masih ada Tobi dan Geisha. Sepertinya Tian sangat serius dengan ucapannya." ujar Rosa.
"Tapi bu, Kania akan sibuk. Bastian sangat gila kerja. Jika Kania tinggal bersamanya, Kania akan terus lembur lalu tak ada waktu buat kalian." kata Kania.
"Kau kira aku hidup di zaman Jepang yang memaksamu tiap hari, siang dan malam bekerja." ujar Bastian kesal.
"Tapi itu kenyataannya Tian, kapan kau berhenti bekerja." ujar Kania.
"Walaupun aku gila kerja, tapi aku tak akan menyiksamu Kania. Aku hanya membutuhkanmu selalu berada di dekatku." jawab Bastian.
Rosa terkekeh melihat keduanya terus berdebat. Ia mengingat masa masa pacaran ia dengan ayah Kania, Trady Morris. "Kalian berbicaralah dengan baik baik, ibu akan menyiapkan makan malam. Makanlah disini nak Tian." pinta Rosa.
Bastian mengangguk. "Jika Tian tak merepotkan tante." jawabnya.
"Tentu saja tidak merepotkan, tante justru senang jika kau mau mencicipi masakan tante." jawab Rosa.
Bastian kembali mengangguk Dan membiarkan Rosa meninggalkan mereka berdua.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
Jangan lupa dukung, like n komen terus...
__ADS_1