
Bastian menghubungi Kania sebelum makan siang bersama. "Sayang aku sudah sampai, kau sudah sarapan?" tanya Bastian.
"Syukurlah kau dan keluargamu sampai dengan selamat. Aku sudah sarapan barusan. Hari ini aku akan memulai terapiku. Doakan aku agar segera sembuh ya." ujar Kania.
"Tentu saja, doa itu selalu aku lakukan untukmu Kania. Maafkan aku tak bisa menemanimu di terapi pertamamu." ujar Bastian.
"Tidak apa apa Tian, semua yang kau lakukan ini sudah lebih dari cukup. Dokter George sudah datang, aku sudahi dulu ya. Bye sayang." ujar Kania.
"Bye juga sayang." jawab Bastian lalu mematikan ponselnya. Ia menghela nafasnya dan merebahkan tubuhnya karena lelah. Ia merasa bersalah tak bisa berada di samping Kania sekarang.
"Kak waktunya makan siang." teriak Cristina.
Bastian bangun dari tempat tidurnya. "Iya sebentar." ia segera mengganti bajunya dan turun menemui keluarganya di meja makan.
"Kau lama sekali. Apa kau tertidur?" tanya Delia.
Bastian menggeleng. "Aku menghubungi Kania sebentar, ia melakukan terapi pertamanya hari ini." jawab Bastian.
Semuanya terkejut mendengarnya. Rosa menahan tangisnya. Ia sangat ingin menemani Kania disana, namun ia juga memiliki putra putri yang harus diurusnya.
"Tante tenang saja, ia sangat sehat disana. Ia sedang berusaha sembuh dan kembali dengan kita lagi." ujar Bastian menenangkan Rosa. Rosa mengangguk.
"Baiklah ayo kita makan, ini makan siang pertama kita bersama." ujar Rafael. "Selanjutnya akan ada kakek nenek dan juga Kania." sambungnya.
Mereka semua tersenyum dan mulai menikmati makan siangnya.
*****
"Mami ingin bicara Tian." ujar Delia setelah mereka menyelesaikan makan siangnya.
Bastian mengangguk dan mengikuti Delia ke ruang santai. "Ada apa mi?" tanya Bastian. Disana sudah ada Rafael juga.
"Ini soal sekertaris pengganti Kania. Dua hari yang lalu mami sudah menanganinya. Wanita itu bernama Fera. Tapi ia sudah berkeluarga, mami sengaja memilihnya agar Kania tak merasa cemburu padamu." ujar Delia.
"Mami sangat memahami perasaan Tian. Terima kasih mi." kata Bastian.
__ADS_1
"Ada satu hal lagi sayang." sambung Delia. "Saat kalian berada di Amerika, pak Baskoro bertamu. Ia meminta maaf atas segala yang terjadi akibat perbuatan Sahara. Sahara pergi ke Italia. Ia akan tinggal disana untuk selamanya." Delia menjelaskan.
Rafael dan Bastian sama sama terkejut dengan cerita Delia. Mereka tak menyangka, Sahara akan menyerah begitu saja.
"Syukurlah masalah demi masalah kita teratasi." ujar Rafael.
Bastian mengangguk. Ia setuju pada pernyataan ayahnya. Sedikit demi sedikit masalah mereka teratasi. Semakin mudah jalannya bersama Kania.
"Jadi besok Tian akan bertemu sekertaris baru, apa ia seperti Kania?" tanya Bastian.
"Mami sudah memilih yang terbaik Tian." jawab Delia.
"Mami sudah mengatakannya kan kalau ia sekertaris pengganti." ujar Bastian.
"Apa kau masih ingin Kania menjadi sekertarismu. Apa kau sama sekali tak berniat menikahinya?" tanya Delia.
"Bukan itu masalahnya mi, tapi Tian tidak mau jauh dari Kania. Jadi Tian akan membiarkan Kania tetap membantu Tian di perusahaan walaupun nantinya ia menjadi istriku." jawab Bastian.
Delia dan Rafael sama sama menggeleng.
"Tapi pi, Tian semangat bekerja kalau ada Kania." jawab Bastian.
"Kau akan memahaminya setelah kalian nanti menikah." ujar Delia. "Lebih baik kalian beristirahat, perjalanan belasan jam itu sangat melelahkan kan?" sambungnya.
Bastian mengangguk. "Nanti malam Tian akan kembali ke rumah. Tian akan membawa keluarga Kania."
"Mengapa mereka dibawa, mami menyukai mereka disini." ujar Delia.
"Mi...mami ada papi dan juga adik adik. Tian tidak ingin rumah tangga kalian diikuti dengan keluarga lain. Biar mereka dengan Tian saja." jawab Bastian.
"Mila Mili pasti akan kehilangan mereka. Mereka sangat akrab selama kalian tidak ada. Rumah ini juga cukup besar untuk mereka tinggal. Dan sekolah Tobi, Geisha sekarang sama dengan Mila Mili." kata Delia.
Bastian tetap menggeleng. "Dari rumah sana ke sekolah juga tak terlalu jauh. Jangan berdebat lagi. Papi pasti lebih setuju dengan Tian kan?" tanyanya.
Rafael mengangguk. "Sudahlah sayang, biarkan Tian lebih dekat dengan keluarga Kania. Kita bisa mengunjungi mereka jika ada waktu. Dan Mila Mili bisa bertemu mereka di sekolah."
__ADS_1
Delia menghela nafasnya. "Baiklah, tapi besok. Kau kembali bersama mereka besok saja Tian, biarkan mereka menginap satu malam lagi dan membereskan barangnya."
Bastian mengangguk. "Oke, Tian akan menjemput mereka besok pagi. Tian malam ini tetap ingin kembali, banyak yang harus dikerjakan."
Delia dan Rafael mengangguk. Tak ada gunanya menahan Bastian, putra mereka takkan pernah mau tinggal lama di rumah besar Widjaja. Bastian pamit ke kamarnya.
*****
"Aku merindukanmu." bisik Rafael.
"Tidurlah sayang, kau pasti lelah." jawab Delia.
Keduanya sudah berada di kamar mereka saat mulai berbincang.
"Aku memang lelah sayang, tapi aku menginginkanmu." ujar Rafael lagi. Ia menarik pinggang Delia.
Rafael memang tak berubah jika sudah berada di dekat Delia. Nafsunya masih juga tinggi seperti saat ia masih muda. Namun kekuatannya di ranjang masih tidak berubah, itulah yang Delia rasakan.
"Ini masih siang sayang, dan..." Delia tak bisa meneruskan ucapannya karena Rafael sudah mendorongnya ke ranjang.
"Sayang, kalau anak anak dengar bagaimana?" tanya Delia.
"Aku tak perduli." jawab Rafael. Ia menciumi wajah Delia sampai akhirnya tangan Rafael meraba tubuh istrinya. Delia tak bisa menahan sentuhan suaminya, sampai akhirnya ia menyerah untuk menolak. Delia hanya bisa pasrah menerima kelembutan suaminya yang selalu membuatnya menggila.
"Ya Tuhan sayang, akhirnya aku kembali." gumam Rafael membuat Delia terkekeh geli.
Keduanya melakukan hubungan suami istri di siang hari seperti pasangan yang baru saja menikah dan sedang mabuk cinta. Rafael jatuh lemas diatas tubuh Delia. Nafas mereka semakin teratur setelah keduanya melampiaskan kerinduan mereka.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
Dukung, Like n Komen ya...
Baca Novel Terbaruku "Aku Mencintai Supir Tampanku."
__ADS_1
Semoga kalian terhibur...