
Acara peresmian cabang perusahaan PT. Sinar Abadi berlangsung tanpa hambatan apapun. Kantor cabang ini akan dikelola oleh Mila dan Mili setelah mereka dewasa nanti. Sementara saat ini perusahaan akan ditangani oleh Bastian dan orang orang kepercayaannya. Acara berlangsung sampai sore. Karena banyaknya kolega dan rekan bisnis Rafael Widjaja yang menyempatkan hadir sampai ke Manado.
Bastian menikmati minumannya setelah ia berbicara dengan beberapa orang rekan bisnisnya, tiba tiba ada seorang wanita menghampirinya.
"Bastian kan?" tanya seorang wanita cantik bertubuh tinggi dan berkulit putih menyapanya.
Bastian memperhatikan wanita itu. Sangat cantik, siapa wanita ini? pikir Bastian.
"Benar, apa kita saling mengenal?" tanya Bastian.
"Ya Tuhan, kau sombong sekali Tian. Aku Janeta teman kuliahmu waktu di Harvard." ujar Janeta.
Bastian membelalakkan matanya. "Janeta, wanita tomboi berambut pendek itu. Ini kau? Tak mungkin." ujar Bastian tidak percaya.
Janeta adalah teman kuliah Bastian yang terkenal sangat tomboi. Ia tak percaya apa yang terlihat di depannya sekarang.
Janeta tertawa dengan anggun. "Iya Tian, aku Janeta yang itu." jawabnya.
"Tapi...bagimana bisa kau berubah seperti bidadari seperti ini?" tanya Bastian.
"Kau sangat berlebihan. Aku dulu tomboi, karena aku tahu seberapa kerasnya kehidupan di Amerika. Jadi aku mengubah penampilanku. Aslinya seperti inilah aku." jawab Janeta.
"Ck.ck.ck..." ujar Bastian sambil menggelengkan kepalanya. "Sungguh aku sangat terkejut Jen. Lalu bagaimana kau bisa disini?" tanya Bastian lagi.
"Aku putri dari pak Hardoyo. Rekan bisnis ayahmu Rafael Widjaja. Aku tadinya tak berpikir bahwa Bastian Widjaja itu adalah kau Tian. Lalu aku ditunjukkan oleh mama, bahwa anak om Rafael adalah dirimu. Setelah aku dekati ternyata benar, Bastian yang dimaksud adalah teman kuliahku. Aku sangat merindukanmu." ujar Janeta.
"Aku juga sangat merindukanmu Jen. Sumpah ini kebetulan yang sangat menyenangkan." jawab Bastian.
Janeta tersenyum. Ia mencari cari pasangan Bastian disitu tapi tak menemukannya. "Apa kau sendirian?" tanya Janeta.
"Aku bersama orangtuaku dan juga karyawanku." jawab Bastian.
"Maksudku pasangan Tian." ujar Janeta.
"Oh..." Bastian menggeleng. "Aku sendirian." jawabnya.
Janeta mendesah lega. "Syukurlah, aku takut ada yang menjambak rambutku lalu membuat dandanan ku berantakan." ujarnya sambil terkekeh.
Bastian ikut terkekeh. "Kau sendiri, mana pasanganmu?" tanya Bastian.
"Sekarang di depanku." jawab Janeta.
"Kau sangat pintar menjawab." ujar Bastian.
__ADS_1
Hari semakin sore saat mereka berbincang bincang. "Selamat atas pembukaan perusahaan cabangmu ini Tian, aku tak menyangka pengusaha kaya yang sangat muda adalah temanku sendiri." ujar Janeta. Ia mendekatkan bibirnya di telinga Bastian. "Aku menginap di hotel xxx kamar 280. Datanglah jika kau sempat." ujar Janeta.
Bastian terkejut. "Kau mengundang pria ke kamarmu Jen, aku akan datang. Dan bersiaplah akan kenakalanku, kebetulan kita satu hotel dan aku dikamar 340." goda Bastian.
Wajah Janeta memerah. "Baiklah, aku tunggu kedatanganmu Tian." ujar Janeta sambil mengedipkan matanya dan meninggalkan Bastian.
Bastian hanya tersenyum melihat wanita cantik itu berlalu.
"Hei...siapa wanita cantik itu?" tanya Delia mengejutkan Bastian. Dari tadi Delia ternyata memperhatikan Bastian bersama Janeta.
"Janeta mi, katanya putri pak Hardoyo rekan bisnis papi. Ia juga teman kuliah Tian." jawab Bastian.
"Kau terlihat sangat akrab dengannya." ujar Delia.
Bastian mengangguk. "Waktu di Harvard, aku sering jalan dengannya. Tapi waktu itu ia sangat tomboi. Berpakaian pria dan berambut pendek, ternyata penampilannya hanya samaran saja karena takut pergaulan Amerika."
Delia menepuk pundak Bastian. "Jangan bermain api sayang, kau memiliki Kania." ujar Delia lagi.
Bastian hampir melupakan kekasihnya saat bertemu Janeta, wanita itu mampu membius Bastian hingga lupa segalanya. "Mami tenang saja, aku dan Janeta benar benar hanya berteman." jawab Bastian.
"Kalian sangat serius, apa yang kalian bicarakan?" tanya Rafael menghampiri mereka.
"Putri pak Hardoyo yang cantik tadi ternyata teman kuliah Bastian sayang." jawab Delia.
"Benarkah? Itu sangat bagus, pak Hardoyo ingin bekerjasama lagi dengan perusahaan kita. Sangat kebetulan jika putrinya berteman dengan Tian." ujar Rafael.
"Sayang, mereka hanya berteman. Kau sangat takut kehilangan Kania." kata Rafael.
"Terserahlah, aku lelah. Sebaiknya kita kembali ke hotel. Acara sudah usai kan." ujar Delia. Rafael mengangguk dan mengajak Delia kembali.
Bastian menghela nafasnya dan mengikuti mereka kembali. Saat di pintu lift. "Kalian duluan, Tian ada perlu sebentar." ujarnya pada Delia dan Rafael.
"Kau ingin kemana Tian?" tanya Delia.
"Menemui teman mi." jawab Bastian.
Bastian keluar dari pintu lift, karena kamar 280 ada dilantai 11, sedangkan kamarnya dilantai 14. Ia ingin menemui Janeta. Wanita itu benar benar mengganggu pikiran Bastian. Bastian menekan tombol bel pintu kamar. Suara pintu terbuka, dan muncullah sosok wanita cantik tadi. Wanita itu memakai jubah mandi.
"Kau sangat cepat mengunjungiku Tian, aku baru selesai mandi." ujar Janeta.
"Maaf, aku masih merindukan temanku. Mandilah sana, aku akan menunggu." jawab Bastian.
Janeta mengangguk dan mempersilahkan Bastian masuk. Janeta masuk ke kamar mandinya, sedangkan Bastian duduk di sofa dekat ranjang. Beberapa menit kemudian, Janeta selesai mandi dan mulai mengeringkan rambutnya. Bastian memperhatikan setiap gerakan Janeta. Wanita itu tetap cantik tanpa make up.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu. Kau seperti binatang buas yang siap menerkam." ujar Janeta.
Bastian menghampiri Janeta dan memegang kedua pundaknya dari belakang. "Aku tak tahu jika ada wanita cantik sepertimu." jawab Bastian.
Janeta bangun dan menghadap Bastian. "Apa kau menyukaiku?" tanya Janeta.
Bastian menggeleng. "Aku sudah memiliki kekasih. Ia sedang menyembuhkan kakinya di Amerika. Aku mencintainya dan aku hanya mengagumimu saja." jawab Bastian.
Janeta merasa kecewa. Tapi ia ingin sentuhan Bastian malam ini. "Apa kita bisa melakukan cinta satu malam? Aku janji tak akan mengganggumu setelah ini." pinta Janeta.
Bastian mengecup pipi Janeta. "Apa kau masih perawan?" tanya Bastian.
Janeta tertawa. "Kau sangat lucu Tian, jarang sekali wanita perawan pada zaman ini, walaupun aku tak suka pergaulan di Amerika dulu, tapi tentu saja aku bukan Janeta yang dulu. Aku pernah melakukannya dengan mantan kekasihku." ujarnya.
"Kalau begitu, mengapa tidak." Bastian merengkuh kepala Janeta lalu mencium bibirnya. Saat ia menikmati ciuman itu, tiba tiba wajah Janeta berubah menjadi wajah Kania. Bastian melepaskannya dan mundur. "Sialan, maafkan aku Jen. Aku tidak bisa mengkhianati kekasihku." ujar Bastian, ia mencium kening Janeta lalu meninggalkan kamarnya.
Janeta masih terkejut dengan perlakuan Bastian, bagaimana pria tampan itu bisa berhenti karena memikirkan kekasihnya. Ia sangat penasaran seperti apa wajah kekasih Bastian. Ia membuka laptopnya lalu segera mencari informasi tentang itu.
*****
"Brengsek...aku pria brengsek...Apa yang aku lakukan tadi. Hampir saja aku menyakiti Kania. Kania maafkan aku. Aku takkan melakukannya lagi. Aku merindukanmu, sampai hampir gila rasanya." gumam Bastian saat ia sudah di kamarnya.
Bastian memukul kepalanya berkali kali. Ia hampir melakukan kebodohan. Ia menghubungi Galih. "Galih, siapkan perjalananku ke Amerika sekarang." perintahnya.
"Tapi pak mana mungkin, kita masih ada pekerjaan besok." jawab Galih.
"Aku tak perduli. Siapkan sekarang. Aku akan menyerahkan pekerjaan pada ayahku. Segera." bentak Bastian.
"Baik pak." jawab Galih.
Bastian membereskan barangnya lalu mengetuk pintu kamar orangtuanya. "Pi, Tian akan berangkat ke Amerika malam ini." ujarnya.
Orangtuanya terkejut terutama Delia. "Apa yang terjadi pada Kania sayang." tanya Delia.
Bastian segera menggeleng. "Tidak ada apa apa mi, Tian tak bisa menahan rindu ini. Papi please hubungi pilot papi. Dan papi handle pekerjaan disini. Tian mohon." pintanya.
Rafael memperhatikan putranya. Ada yang aneh dengan Bastian. Tapi ia tak ingin banyak bicara. "Baiklah, kau jangan khawatir soal pekerjaan. Berangkatlah nak, temui kekasihmu." ujar Rafael.
Bastian memeluk Rafael dan Delia. "Kalian memang yang terbaik. Tolong sampaikan maafku pada keluarga Kania karena tak bisa mengajak mereka."
Rafael dan Delia mengangguk. Mereka segera menyiapkan perjalanan Bastian menuju Amerika.
*****
__ADS_1
Mohon maaf para Readerku...ada selingan sedikit menuju episode episode terakhir. Semoga kalian suka...😘😘😘
Happy Reading All...