
Satu bulan setelah kepulangan Kania dan orangtua Delia ke Indonesia menambah kebahagiaan bagi kedua keluarga tersebut. Terlebih bagi keluarga Widjaja, karena Cristina akhirnya memutuskan untuk kembali berkumpul di Indonesia, bisnis busana yang ada di Paris diserahkan pada anak buahnya. Ia akan sekali sekali saja berangkat ke Paris.
Bastian yang awalnya menginginkan Kania terus bekerja di perusahaannya, akhirnya ia berubah pikiran. Setelah lamaran yang ia lakukan seminggu yang lalu. Kania tak diizinkan bekerja lagi. Ia hanya ingin Kania berada di rumahnya setelah menikah seminggu lagi, Kania hanya boleh menjadi ibu dari anak anaknya kelak.
Tapi mengejutkan bagi Bastian karena keluarga Kania memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Rosa tak ingin terus merepotkan Bastian, terlebih lagi sebentar lagi Bastian dan Kania akan membangun rumah tangganya.
"Aku mengizinkan kalian keluar dari sini, tapi dengan syarat." ujar Bastian.
"Tian kau berani mengajukan persyaratan pada ibuku." jawab Kania.
"Dengar dulu sayang, aku ingin mereka menempati rumah yang aku beli untuk mereka. Mohon maaf bu, rumah ibu yang dulu terletak di lingkungan yang kumuh dan jauh dari sekolah Geisha." ujar Bastian, sejak ia melamar Kania, ia memanggil Rosa dengan panggilan ibu.
Rosa terkesiap. "Jangan nak, rumah di Jakarta itu sangat mahal, bagaimana kami bisa menerimanya. Dan kami akan banyak hutang padamu."
"Kita akan menjadi keluarga bu, dan bayarannya sudah ibu berikan dengan melahirkan putri cantik ini yang akan menjadi istriku." jawab Bastian.
Rosa mengeluarkan airmatanya. "Bagaimana bisa Tuhan mengirimkan seorang malaikat dalam hidupku."
Kania memeluk ibunya, kedua adiknya sudah berangkat kuliah dan bersekolah. "Terima kasih sayang, kau selalu memberikan apapun untuk keluargaku." ujar Kania.
Bastian mendekati Kania dan Rosa. "Aku beruntung bisa mendapatkan kalian. Ibu jual saja rumah yang dulu, ibu dan adik adik bisa pindah ke rumah baru yang Tian beli sebelum Tian melamar Kania. Tian sudah menebak kalau kalian tak ingin tinggal bersama kami."
"Dimana kau membeli rumah itu?" tanya Kania.
Bastian tersenyum. "Aku hanya ingin kau tak terlalu jauh mengunjungi mereka, jadi aku membeli rumah hanya beda blok dari rumah ini."
Rosa dan Kania membelalakkan matanya. "Tidak Tian, kau membeli rumah mewah. Bagaimana kami bisa menerimanya." ujar Kania.
"Kau lupa siapa calon suamimu? Uang yang aku keluarkan tidak sebanding dengan yang aku dapatkan. Ibu...Tian mohon terimalah kunci ini." ujar Bastian sambil memberikan kunci rumahnya. "Dan ini kunci mobil buat Tobi, ia tak perlu menaiki kendaraan umum lagi. Dan mobil itu juga sangat diperlukan saat kalian ingin berpergian."
"Rumah dan mobil. Ya Tuhan...Tian...kau berlebihan." ujar Kania kesal.
Bastian memohon dengan berlutut didepan mereka. "Apa yang kau lakukan nak?" tanya Rosa.
"Tian akan bangun kalau ibu mau menerimanya." jawab Bastian.
__ADS_1
Rosa memeluk Bastian. "Semoga Tuhan selalu melindungimu nak, jangan seperti ini. Ibu akan menerimanya jika itu membuatmu senang."
"Benarkah? Terima kasih bu." jawab Bastian.
Rosa menggeleng. "Kami yang harus berterima kasih nak. Baiklah ibu sekarang harus memasak. Ibu harap kau bisa pulang makan siang." ujarnya.
"Akan Tian usahakan bu." jawab Bastian.
Rosa meninggalkan mereka berdua. Kania masih melipat wajahnya. Ia sangat marah karena Bastian tak mengatakannya terlebih dahulu padanya. Ia tahu uang bukan menjadi masalah bagi keluarga Widjaja, tapi Kania sangat malu dengan perlakuan Bastian.
"Sampai kapan kau akan marah seperti ini sayang, bagaimana aku bisa berangkat ke kantor jika wajahmu cemberut seperti ini." ujar Bastian.
"Apa kau tak mengerti seperti apa perasaanku sekarang?" tanya Kania.
"Aku melakukannya demi ibu dan adik adikmu sayang, aku ingin membahagiakan mereka. Aku lakukan itu karena aku sangat mencintaimu." jawab Bastian.
Kania menghela nafasnya. "Kapan kau mau mendengarkan aku pria arogan. Kau selalu saja mengambil keputusan sendiri yang menurutmu baik." ujar Kania kesal.
Bastian duduk disamping Kania lalu mengecup pipinya. "Aku janji setelah kita menikah nanti, aku akan meminta pendapatmu sebelum mengambil keputusan. Tapi kali ini, aku mohon maafkan atas tindakanku sayang."
Kania menatap wajah Bastian. "Aku hanya malu Tian, kau terlalu baik untukku dan keluargaku. Aku benar benar bingung harus membalasnya seperti apa."
Wajah Kania memerah. "Kau...!!! Pergilah sana sebelum terlambat ke kantor." usir Kania.
Bastian tersenyum melihat wajah Kania yang memerah. "Aku harap wajahmu memerah saat diatas ranjang nanti, aku penasaran." ujarnya lalu tertawa dan meninggalkan Kania sebelum wanita itu semakin murka.
*****
Bastian sibuk dengan pekerjaannya. Namun tiba tiba Fera mengetuk pintunya.
"Masuk..." perintah Bastian.
"Pak ada seorang wanita yang ingin menemui anda, namanya Janeta." ujar Fera.
Bastian terkejut mendengar nama itu. Untuk apalagi Janeta menemuinya. "Baiklah suruh ia masuk." jawab Bastian.
__ADS_1
Fera mengizinkan Janeta masuk. Janeta melangkahkan kakinya di ruangan Bastian.
"Hai Tian apa kabar?" tanya Janeta.
"Jen...ada apa kau menemuiku lagi." jawab Bastian.
"Kau jangan marah dulu Tian, aku tak bermaksud mengganggumu. Aku kemari sebagai temanmu saat kita kuliah dulu. Aku mohon bantulah aku kali ini Tian." pinta Janeta.
"Duduklah Jen, apa yang kau inginkan?" ujar Bastian.
Janeta duduk di kursi, ia sangat gugup. "Mama sakit parah sejak perusahaan papa bangkrut. Sampai sekarang mamaku tak bisa keluar dari rumah sakit. Papa selalu marah di rumah karena pusing dengan hutang hutangnya. Tian...aku mohon berikan perusahaan papa kesempatan, agar kami bisa bangkit lagi. Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu. Aku tak akan mengganggu kehidupanmu lagi, karena aku mencintaimu dari hatiku. Aku tak terobsesi dengan ragamu. Aku cukup melihatmu bahagia saja, aku akan ikut bahagia. Tapi tolong bantulah keluargaku Tian, anggaplah aku temanmu yang dulu." Janeta memohon.
"Aku minta maaf Jen, tapi proyek itu sudah ditangani perusahaan lain." jawab Bastian.
Tiba tiba Janeta berlutut. "Aku mohon Tian, berikan papa proyek yang lain. Kembalikan kebahagiaan keluargaku Tian, aku takut sendirian. Mama orang yang selalu dekat denganku."
"Apa yang kau lakukan Jen. Bangunlah." bentak Bastian.
Janeta menggeleng. "Aku akan terus memohon padamu Tian. Tolong selamatkan keluargaku."
Bastian menghampiri Janeta, ia memegang lengan wanita itu dan membangunkannya. "Aku akan membantumu Jen, aku akan mencari proyek lain untuk papa mu. Kau jangan seperti ini. Mana Janeta tomboi dan kuat yang dulu aku kenal. Aku ingin kau bahagia seperti dulu Jen. Kau teman terbaikku saat di Amerika. Aku takkan melupakan itu. Pulanglah, jangan mengkhawatirkan apapun. Dan carilah pria yang baik. Kau sangat cantik, aku yakin ada banyak pria diluar sana yang tertarik padamu."
"Aku belum memikirkan tentang diriku, aku hanya memikirkan papa dan mama." ujar Janeta sambil menangis.
"Aku janji akan mengembalikan semuanya. Bersabarlah Jen." jawab Bastian.
Janeta memeluk Bastian. "Terima kasih Tian, aku doakan kau bahagia bersama Kania, kirim aku undangan pernikahanmu padaku. Aku janji akan datang sebagai Janeta yang tomboi."
Bastian tertawa. "Aku menantikan kehadiranmu Jen, hati hati saat kau pulang nanti. Aku akan mengabari papa mu setelah aku mendapatkan proyeknya."
Janeta mengangguk dan meninggalkan Bastian dengan ucapan terima kasih yang tak henti hentinya dilontarkan wanita itu.
Bastian menghela nafasnya. Ia sangat lega bisa bertemu dengan Janeta yang terlihat baik baik saja, walaupun ada kesedihan dimatanya. Ia akan mencoba membantu keluarganya, karena Janeta sudah banyak membantu saat di Amerika dulu.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘
Menjawab rasa penasaran kalian. Author tak pernah memberikan cerita yang tergantung, jadi mohon bersabar sampai selesai ya...