
"Kau sudah gila Tian, aku kapan setuju akan tinggal bersamamu." ujar Kania kesal.
"Aku tak bisa tidur nyenyak Kania, kau telah mengisi hari hariku selama seminggu terakhir. Dan jika tiba tiba kau tidak ada, maka aku akan sangat kehilangan." ujar Bastian.
"Kau lihatkan, hari ini saja ibu sendirian karena Tobi dan Geisha ada acara sekolah. Jika asma ibu kambuh lalu tak ada orang bagaimana?" kata Kania lagi.
Bastian menarik tangan Kania. "Aku janji akan mengantarmu pulang jika ibumu sendirian." Bastian meyakinkan. "Aku akan memberikan ponselku pada ibumu. Jadi jika ia sendirian bisa menghubungimu dan kau bisa tinggal sampai adik adikmu pulang." ujarnya meyakinkan lagi.
"Benarkah? Kau janji akan mengantarkanku pulang jika ibu sendirian?" tanya Kania.
Bastian mengangguk. "Tentu saja sayang, kau kira aku kejam sebagai kekasihmu. Ibumu juga sekarang ibuku juga." jawab Bastian.
Kania memeluk Bastian. "Aku sangat beruntung memiliki kekasih yang tampan, kaya dan sangat baik sepertimu walaupun sikapmu kadang keras dan kejam seperti batu." ejek Kania.
"Kau akan menerima hukuman karena mengataiku." Bastian menarik wajah Kania dan menciumnya. "Kau sangat manis Kania, kau canduku." ujar Bastian dan menciumnya lagi.
Kania hanya tersenyum mendapat perlakuan itu dari Bastian. Setelah keduanya saling bicara dan mengambil keputusan akhirnya mereka makan malam, setelah selesai makan malam Bastian pun pamit pulang.
*****
"Ara tak ingin tahu papi, Ara sangat mencintai Tian. Tolong katakan pada om dan tante Widjaja." ujar Sahara merengek pada ayahnya padahal masih sangat pagi buta.
"Sudah berapa tahun kau menyukai Tian, dan sampai sekarang kau belum mendapatkannya Ara. Papi masa harus turun tangan dengan cerita asmaramu, itu sangat memalukan." ujar Baskoro Widianto.
Sahara cemberut. Ia tak punya ide lagi untuk mendekati Bastian.
Baskoro menghela nafasnya. "Baiklah sayang, papi akan mencoba berbicara pada om Rafael, tapi papi tak menjanjikan apapun. Bastian putra satu satunya keluarga Widjaja, keputusan tetap ada ditangannya. Apalagi tante Delia sangat memegang kendali suaminya." ujar Baskoro.
"Setidaknya papi mencoba membantu Ara. Tian sangat keras kepala dan selalu kejam pada Ara. Dan sangat menjijikan Ara harus kalah dengan sekertaris jelek dan miskin itu." ujar Sahara.
Baskoro membelalakkan matanya. "Sekertaris apa maksudmu?" tanyanya.
"Tian menyukai sekertarisnya, dan tante Delia sangat menyukai wanita sialan itu." jawab Sahara kesal.
"Jaga ucapanmu Ara, kau semakin kasar saja. Papi tak pernah mengajarkanmu seperti itu. Sejak kau tinggal di Amrik kau semakin liar dan manja. Tapi papi tidak senang kau dibandingkan dengan sekertarisnya." ujar Baskoro.
"Itulah mengapa Ara sangat marah, bertahun tahun Ara tak pernah diliriknya tapi ia lebih memilih sekertarisnya. Bukankah sangat aneh bagi keluarga terpandang menikahi wanita rendahan itu." ujar Sahara.
__ADS_1
"Jangan sembarangan berkata, kau bisa kena pasal fitnah. Siapapun wanita itu tetap saja tak pantas buat keluarga Widjaja jika hanya seorang sekertaris. Papi akan segera menemui Rafael." Baskoro menenangkan putrinya.
"Terima kasih papi, papi yang terbaik yang Ara punya." ujar Sahara sambil memeluk papinya.
"Papi akan ke kantor sekarang, masih banyak pekerjaan. Jangan pergi ke tempat yang tidak baik Ara. Banyak sekali pria jahat diluar." nasihat Baskoro.
"Siap pak Jenderal." jawab Sahara.
Baskoro meninggalkan putrinya untuk bekerja.
*****
Bastian menjemput Kania, sekaligus membawa barang barang Kania. Mulai malam ini Kania sudah akan tinggal dengan Bastian. Sungguh beruntung bagi Bastian bisa mendapatkan izin dari Rosa.
"Pagi sayang." ujar Bastian setelah Kania masuk ke mobilnya.
"Pagi juga sayang." jawab Kania.
"Mana morning kiss buatku?" tanya Bastian.
"Bukan seperti itu tapi begini." ujar Bastian sambil menarik wajah Kania dan mencium bibirnya sekilas.
"Tian ini di tempat umum, kau gila." wajah Kania memerah.
"Aku akan melakukannya setiap hari dimanapun sayang." jawab Bastian sambil terkekeh.
Kania hanya menghela nafasnya. Pria ini tak bisa dibantah ataupun dilawan. Mereka menuju perusahaan. Belum ada yang tahu jika Kania dan Bastian berpacaran, hanya pak Jodhi yang tahu tapi pria itu sudah pensiun.
Ini hari pertama buat Bastian menemui Galih. Asisten baru yang direkomendasikan pak Jodhi buat Bastian. Menurut Jodhi pria itu sangat pintar dan bisa menyelesaikan pekerjaannya selama seminggu saat Bastian tak ada di kantor. Kania dan Bastian menuju lantai 4.
"Kania hubungi ruangan pak Jodhi, maksudku sekarang pak Galih." perintah Bastian.
"Baik pak." jawab Kania.
Bastian tak tahan melihat bibir Kania, ia mendekati meja Kania dan menciumnya lagi. "Selamat bekerja sayang." bisiknya.
Kania membelalakkan matanya dan melihat keadaan kanan dan kiri.
__ADS_1
Dasar pria gila, jika ada yang melihat bagaimana. Untung ia langsung kabur kekantornya, kalau tidak sudah aku pukul kepalanya dengan dokumen ini. pikir Kania.
*****
Kania menghubungi ruangan pak Galih. Ia juga sama sekali belum mengenal asisten baru Bastian. Hari ini mereka akan berkenalan. Nama Galih mengingatkan Kania pada teman kuliahnya.
"Pagi pak Galih, pak Tian ingin menemui anda dikantornya sekarang." ujar Kania.
"Pagi juga... Baik, terima kasih." jawab Galih.
Kania menyipitkan matanya. Suara itu pernah ia dengar tapi dimana. Kania berpikir dengan keras tapi mengabaikannya. Beberapa menit kemudian suara pintu lift terbuka dan langkah kaki terdengar. Kania mendongak dan terkejut saat melihat sosok yang ia kenal.
"Galih." ujar Kania.
"Kania." ujar Galih juga.
Keduanya bersalaman dan cipika cipiki. "Ya Tuhan, pantas saja aku tadi pernah mendengar suaramu. Ternyata pak Galih itu dirimu, aku juga sempat berpikir soal namamu tadi." ujar Kania.
"Dan aku juga tak menyangka bisa bertemu denganmu disini Kania." kata Galih sambil menilai Kania dari atas sampai bawah. "Sumpah kecantikanmu tak pernah memudar." goda Galih.
"Kau berlebihan Galih. Kau juga semakin tampan saja. Jadi kita akan sering bertemu sekarang." ujar Kania.
Galih mengangguk. "Aku sangat senang bisa bertemu lagi denganmu Kania." jawabnya.
"Aku juga sangat senang Galih, selamat bergabung di perusahaan Widjaja, semoga kau bisa membantu pak Tian." ujar Kania.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin Kania." jawab Galih.
"Dan aku paling benci menunggu terlalu lama." ujar Bastian tiba tiba. Bastian sudah memperhatikan mereka sejak tadi. "Apa reuninya sudah selesai? Bukankah aku yang ingin kau temui?" tanya Bastian kasar.
Kania dan Galih terkejut lalu mereka menunduk menyapa Bastian. Galih masuk ke ruangan Bastian. Bastian sangat kesal saat Kania mengumbar tawanya bahkan cipika cipiki dengan Galih. Ia sangat cemburu, ingin sekali Bastian mencuci pipi kekasihnya itu. Lihat saja nanti Bastian akan memberikan hukuman pada wanita itu.
*****
Happy Reading All...
Semoga kalian suka dengan ceritanya.
__ADS_1