
selamat membaca teman-temanš¤
Hay, perkenalkan namaku Amel. saat ini aku sedang duduk di bangku SMK kelas satu. seperti biasa, setiap pagi aku selalu sarapan sebelum memulai aktivitas. Ayahku, bekerja sebagai petani di kampung. maklum, aku tinggal di kampung yang bisa di bilang plosok. ibuku merantau demi menghidupi keluarga kecil ini. dan inilah awal aku mengenal cinta. ya kelas satu SMK
aku siswi di salah satu SMK yang notabene banyak siswa laki-lakinya. tak heran jika saat perkenalan banyak yang ingin bersapa denganku, 2 hari pertamaku mengikuti masa orientasi. aku tak sengaja mengenal Azzam. seorang siswa satu angkatan yang berasal dari jurusan otomotif, btw aku sendiri berada di jurusan perkayuan. meskipun cewek, ternyata lumayan banyak yang berminat.
kisahku dan Azzam ini bermula saat masa orientasi siswa, dimana satu angkatan di haruskan apel pagi dan sore, sebelum dan sesudah aktifitas. dia sering memandangiku di lapangan, meskipun aku sering menghiraukannya. tak cuma Azzam, Anggie dari jurusan listrik juga tak segan-segan memandangiku saat berada di lapangan. tetapi bukan Azzam, malah Anggie yang memulai percakapan dulu denganku. saat istirahat tak sengaja bertemu Anggie di loby kelas, dia berbisik "Mel, nanti abis pulang kita ketemuan ya di parkir belakang" sambil senyum-senyum tipis akupun melanjutkan jalanku tanpa membalas ajakan Anggie.
"cieee" sahut temanku yang sedang berjalan bersamaku. sebut saja fia, anak yang lumayan tinggi di banding aku, dengan hidung mancung dan lesung Pipit di kedua pipinya.
"his apa sih fi..." aku tersipu malu.
"btw, lumayan juga loh Anggie. udah putih, tinggi dan mirip oppa gitu." fia menyeletuk.
"hmm iya fi kok bisa ya Anggie melirik aku yang jelek gini hahahha." aku tertawa menimpali fia.
"anjayyy merendah untuk meroket hahaha." sahut fia.
saat aku dan fia sedang duduk berdua di taman, aku menoleh ke sebuah tempat dimana siswa otomotif biasa berkumpul dan bercanda. terlihat Azzam memandangiku. namun, aku berpaling dan menghiraukannya. "itu kan Azzam, yang kemarin ngelihatin aku terus di lapangan. hmm ngapain si sekarang ngelihatin lagi. gak suka banget aku sama dia." aku bergumam dalam hati.
"kamu lihatin siapa Mel?" tiba-tiba pertanyaan fia memecah lamunanku.
"engga kok fi, tu anak otomotif ada yang ngelihatin mulu. sebel lama-lama." aku berucap kepada fia dengan nada judes.
"yang mana mel. Azzam kah?. fia kali ini menatapku.
"maybe." aku menjawab dengan nada malas.
__ADS_1
entah kenapa saat membicarakan Azzam, raut wajah fia sedikit berbeda. tidak seperti saat membicarakan anggie, fia terlihat senang saat Anggie mendekatiku. namun, fia merasa aneh jika Azzam yang mencoba mendekatiku.
"btw, Azzam itu satu satu kecamatan ya sama kamu Mel?." fia tiba-tiba bertanya padaku.
"kayaknya sih iya fi, tapi beda sekolah aja waktu SMP." aku menjawab pertanyaan fia dengan malas, karena benar-benar tidak ada rasa dengan Azzam. melainkan aku hanya terfokus dengan Anggie.
"cielah pasti udah kepikiran nanti bakal ketemuan sama Anggie kan?." fia bertanya padaku.
"iya nih, kira-kira bener gak si Anggie ngajak aku ketemuan nanti sore. aku grogi banget loh fi." aku menjawab sambil meminum sebuah jus di tanganku.
"udah temuin aja, lagian yang suka sama Anggie banyak loh Mel. kamu beruntung bisa di deketin Anggie duluan." fia mencoba meyakinkanku.
"kriiingg" bel tanda masuk kelas sudah berbunyi.
"loh udah bel aja" aku terkaget.
"eh bentar fi, belum kelar ni minum juicenya. telat dikit gapapa lah" aku menjawab sambil terus meminum juice di tanganku.
"haisss kamu tuh Mel, kita baru juga orientasi harus jadi murid baik dulu dong Mel." fia menasehatiku.
"ya yaaa deh, bentar aja nih ah nanggung tinggal dikit." aku menjawab dengan lirih.
"iya deh amel, jangan nangis dong." fia berucap sambil tertawa.
"apaan eh. udah ni habis. yok masuk kelas." aku berdiri dari kursi taman.
pukul 16.00 wib
__ADS_1
akhirnya, bel waktu pulangpun berbunyi. aku sengaja melambatkan langkahku menuju parkir motor di belakang kelas. teringat ucapan Anggie tadi, tercetuk di bibirku dengan nada rendah "apakah Anggie akan benar-benar menungguku di parkiran belakang." dengan langkah sedikit ragu, aku melangkahkan kaki menuju parkiran dimana Anggie mangajakku bertemu tadi.
betapa terkejutnya aku, ternyata Anggie benar-benar menunggu tepat di depan motorku. aku bertanya dengan nada rendah. "nggie kamu beneran ngajak aku ketemuan sore ini?" dengan senyumnya yang nampak manis dia menjawab "iya Mel, sudah 2 hari aku ingin kenalan denganmu tapi aku baru bisa mengajakmu ketemu sore ini." seketika hatiku meleleh karena senyumnya. "boleh minta nomor whatsappmu Mel? supaya lebih akrab" sambungnya.
"oh boleh kok nggie, di scan aja ya." aku menunjukkan barcode di layar handphoneku.
"oke, sudah aku kirim pesan. di save ya Amel." Anggie terlihat senang.
kami bertukar nomor WhatsApp dan Anggie selalu menghubungiku setiap pulang sekolah, setiap malam tak lupa kata-kata manis selalu di lontarkannya lewat pesan WhatsApp yang membuatku semakin meleleh di buatnya. "ternyata Anggie orangnya romantis juga." gumamku saat Anggie mengirim kata-kata manisnya lewat pesan WhatsApp.
semakin dekat aku dengan Anggie, kabar ini pun sampai di telinga teman-temanku. tak heran, saat berpapasan di manapun selalu terdengar kata "cieee yang lagi pedekate" terutama dari fia yang memang teman dekatku saat ini.
tak terasa sebulan sudah berlalu, masa orientasi siswa baru sudah selesai.
aku dan Anggie masih dekat meski kami belum ada ikatan apapun. akupun tidak tau di luar sekolah apakah Anggie sudah mempunyai pacar atau belum, perihal kedekatan kami hanya lingkungan teman sekolah saja yang tau. sampai suatu jam istirahat, Anggie menemuiku di depan kelas. dia ingin meminjam ponselku.
"Amel, boleh pinjam handphonenya?"
tanya Anggie padaku.
"boleh gak nih?." Anggie coba menggoda sambil tersenyum.
"(salting) eh iya-iya boleh kok nggie." aku menjawab sambil memberikan handphoneku kepada Anggie.
kami duduk berdua di depan kelas,
ya meskipun kami tidak jadian. tapi Anggie ini bersikap seolah olah aku ini sudah menjadi pacarnya. diapun tak malu saat menemuiku di depan kelas. "Mel, aku cek WhatsApp boleh? aku ingin memastikan saja kamu tidak aneh-aneh" sontak aku tertawa geli mendengar katanya yang takut kalo aku aneh-aneh. sambil menjawab "isi chat WhatsApp hanya sebatas grub kelas dan keluarga saja nggie gak ada yang aneh-aneh". bukan senang tanpa alasan, karena Anggie adalah siswa pertama yang berhasil mencuri hatiku.
__ADS_1