Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 9


__ADS_3

di tengah suasana ramai dan berdesakan. tiba-tiba saja Azzam merubah posisi berdirinya. tadinya berada di kananku, kini berada di belakangku. kedua tangannya berada di atas pundakku. jari-jari kedua tangannya berada tepat di depan dadaku.


"sayang..." aku memanggilnya.


"apa sayang? tenanglah aku tak akan jauh darimu." sahut suara Azzam.


pukul 22.30 wib semua orang larut dalam nuansa konser yang bertema romantis ini.


kini kedua tangan Azzam turun ke pinggangku dan kini Azzam memelukku dari belakang. berdebar-debar jantungku karena belum pernah aku merasakan pelukan ini sebelumnya.


"aku sayang banget sama kamu Mel.." Azzam berbisik kepadaku sambil meletakkan dagunya di pundakku.


"hmm aku juga.." aku menjawab sambil memegang kedua tangan Azzam yang berada di depan perutku.


tiba-tiba aku melihat sosok yang tak asing di tengah ramainya orang yang berada di sini. ya, itu fia. aku sangat mengenalinya meski dia belum menoleh ke arahku.


"sayang sayang." aku memanggil Azzam.


"iya sayang ada apa?." Azzam bertanya padaku.


"lihat itu sayang. itu fia kan?." aku mengerutkan dahi.


"eh iya, gimana? mau di samperin?." Azzam menatapku.


"ayok." aku mengajak Azzam.


Azzam menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju tempat dimana fia berdiri.


"fia." aku memanggil fia dari belakangnya.


"lho, kalian juga nonton?." fia terkejut.


"kamu sama siapa fi?." tanyaku penasaran. karena kulihat orang di sekitar fia seperti tidak saling mengenal.


"aku sendiri Mel. aku sudah biasa kemana-mana sendiri." ucap fia sambil tersenyum.


terlihat raut wajah fia yang memendam rasa sakit karena melihat Azzam menggandeng tanganku. mungkin masih terasa sesak jika teringat bahwa fia yang menyukai Azzam. tetapi Azzam tidak menyukai fia, dan justru memilih aku menjadi kekasihnya.


"yauda, kita bertiga aja fi. daripada kamu sendirian." ucap Azzam.


"iya fi, kita temenin." aku menimpali.


"makasih ya, kalian baik banget." fia kembali tersenyum.


kami bertiga menikmati konser bersama. tetapi Azzam benar-benar tidak ingin melepas genggaman tangannya padaku. "entah Azzam ini mengetahui atau tidak jika fia yang selama ini menyukainya sebelum Azzam memilihku. nampaknya Azzam tidak menghiraukan hal itu, atau memang tidak mengetahui. entahlah.." gumamku dalam hati.

__ADS_1


tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 23.30 tanda konser akan segera selesai.


"sayang, kita pulang lebih awal aja ya, takut nanti parkiran macet. bisa kemaleman sampai rumah.." Azzam berbicara padaku.


"hmm iya sayang." aku menjawabnya.


"fi, kamu mau pulang sekalian atau masih mau menikmati konser sampai selesai?." tanya Azzam kepada fia.


"sepertinya aku masih mau di sini dulu zam." jawab fia kepada Azzam.


"yaudah, rumahmu juga berbeda arah dengan rumahku dan Amel. kalau gitu aku dan Amel pamit pulang dulu fi." ucap Azzam kepada fia.


"iya, kalian hati-hati dijalan ya." fia menjawab.


aku dan Azzam memutuskan untuk pulang lebih dulu sebelum konser benar-benar selesai agar tidak terjebak macet.


Minggu ketiga di bulan Juni 2017


waktu menunjukkan pukul 13.00 Azzam baru membalas pesan WhatsAppku yang kukirim tadi pagi. mungkin Azzam semalam bergadang dan tidak langsung tidur setelah mengantarku pulang dari konser semalam.


"sayang, maaf ya aku baru bales.. tadi malam aku di hadang teman-temanku. jadi aku nongkrong sebentar."


isi balasan pesan dari Azzam.


"iya sayang gapapa." aku menimpali pesan WhatsAppnya.


"aku hari ini kebetulan tidak ada acara. bisa kok sayang." aku segera bersiap diri. memakai make up tipis tak lupa lip cream dengan warna merah terang yang selalu ku ombre dengan warna nude. agar terkesan natural.


"aku jemput sekarang ya." Azzam membalas pesanku dan segera menjemputku.


seperti biasa, aku menunggu di gazebo depan rumah agar Azzam tak perlu turun motor untuk memanggilku.


lima menit perjalanan, kami sudah sampai di rumah Azzam. terlihat sepi dan sejuk karena berada di ujung kampung dan di kelilingi sawah.


aku berjalan menuju teras rumah sambil melepas flatshoesku. Azzam membukakan pintu untukku dan mengajakku untuk masuk.


"ayo masuk sayang gak usah malu-malu"


ajaknya.


"kok sepi sayang, dimana ayah ibumu?." tanyaku heran karena tidak ada orang di dalam rumah.


"ayah dan ibuku sedang mudik sayang, seminggu di kampung nenek. di luar pulau jadi agak lama." jawabnya sambil membawakan minuman dingin untukku.


di lantai terlihat ada bekas kulit kacang dan beberapa botol minuman beralkohol. kemungkinan tadi malam teman-teman Azzam menginap di sini.

__ADS_1


kami duduk berdua di ruang tamu.


"tadi malem abis nongkrong, temanmu menginap disini sayang?." tanyaku.


"eh iya sayang, temen club' motorku sih. maaf ya ruang tamunya belum sempat aku bersihkan, masih kotor banget."


disini Azzam mengambil sapu dan hendak menyapu ruang tamu yang berantakan ini.


"sini sapunya sayang, biar aku aja yang nyapu." aku meminta sapu yang di pegang Azzam.


"lhoo, kamu tamu kok masa iya aku suruh nyapu." Azzam tidak memberi sapunya kepadaku.


"ah gapapa, lagian yang biasa menyapu itu cewek lho." aku kembali meminta agar sapunya di berikan padaku.


"yaudah, tapi ini kamu yang minta ya sayang. aku sama sekali tidak memintamu menyapu." ucap Azzam.


"iya sayang. aku yang mau menyapu kok." jawabku sambil tersenyum.


"baik sekali pacarku ini." ucap Azzam sambil mencubit pipi chubbyku.


"ih apaan sih kamu." aku berkata sambil memanyunkan bibirku.


"gemes deh." ucap Azzam.


kusapu ruang tamu Azzam yang nampak sangat kotor dengan kulit kacang dan bekas bungkus-bungkus makanan ringan.


terlihat beberapa petani membawa cangkul hendak pulang dari sawah. mereka melewati rumah Azzam yang memang berada di ujung desa, sebelah kanan dan kirinya masih berbentuk ladang sawah. udaranya sangat sejuk dan suasananya sepi damai.


tak heran, jika saat orang tuanya Azzam pergi atau mudik keluar kota. rumah Azzam dijadikan tempat nongkrong teman-temannya.


"wusssttttt." suara angin yang bertiup dari sawah membuat apa yang kusapu tadi berserakan kembali.


"loh, percuma dong aku nyapu." ucapku sambil menatap Azzam yang duduk di sofa ruang tamu.


"oh iya sayang, aku lupa. anginnya jika siang hari memang kadang agak besar. biasanya ibuku menutup pintu kalau sedang menyapu." ucap Azzam sambil menepuk jidatnya.


"gimana dong sayang?." aku bertanya dengan muka datar dan polos.


"aku tutup pintunya dulu, kamu masih mood nyapu gak? hehehe." tanya Azzam kepadaku sambil nyengir.


"yauda, aku sampu lagi gapapa." jawabku sambil menghela nafas.


"maaf ya sayang, gara-gara aku lupa gak ngingetin tadi. kamu jadi nyapu dua kali." terlihat Azzam kasian melihatku.


"gapapa sayangku." aku tersenyum.

__ADS_1


"emang pacar idaman ini mah." Azzam mencubit pipi chubbyku.


__ADS_2