
di dalam ruangan kelas.
aku dan fia saling memberi kode untuk bertanya kepada Nisa. Nisa yang dari tadi terlihat diam semakin membuat aku dan fia canggung untuk bertanya.
akhirnya, aku mencoba memberanikan diri untuk menyapa Nisa.
"Nis..." ucapku lirih.
"eh, iya Mel. kenapa?."jawab Nisa sembari tersenyum.
"boleh nanya sesuatu gak?." ucapku lirih.
"oh, boleh Mel. ada apa?." tanya nisa, wajahnya terlihat biasa saja. seperti tidak ada rahasia apapun antara kami.
"emm,... kamu kemarin jalan sama Anggie?." tanyaku lirih. jariku menepuk lengan fia yang berada di sebelahku.
"kalian kok tahu?." tanya Nisa. kali ini wajahnya terlihat keheranan dan penasaran darimana aku dan fia tahu jika kemarin Nisa jalan dengan Anggie.
"kami kemarin gak sengaja lihat kamu jalan pas kami di coffe shop mall." ucapku kepada Nisa.
"oh kemarin kalian nonton di mall itu, kok kalian gak manggil aku." ucap Nisa sembari tersenyum kecil.
aku melirik ke arah fia, memberi kode kepada fia untuk menjawab alasan kenapa tidak memanggil Nisa. fia yang lulirik juga terlihat nampak bingung.
"ee kemarin kita berada di dalam coffe shop waktu kamu sama Anggie jalan. jadi gak kedenger kalopun teriak-teriak. karena ruangannya kedap." ucap fia sembari nyengir.
"iya nis, di coffe shop itu kan kedap suara." ucapku menimpali fia.
"kalian gak ngikuti aku kan?." tanya Nisa kepada aku dan fia.
"emm maaf nis, kita kemarin sempet ngikutin kamu. tapi gak ada maksud apa-apa nis. eee kamu kok bisa jalan sama Anggie lagi?. kamu balikan sama Anggie?." tanya fia.
"gimana ya." ucap Nisa lirih. wajahnya terlihat seperti orang yang bingung.
"emang kamu beneran balikan sama Anggie nis?." tanyaku heran.
"sebenarnya, aku yang ngajak Anggie jalan duluan kemarin." ucap Nisa.
__ADS_1
"maksudnya, kamu ngajak Anggie jalan berdua?, bukannya kamu benci sama Anggie ya nis?. kok bisa?? kamu ngajak jalan Anggie?." tanya fia yang terlihat sangat heran.
"aku ngajak Anggie jalan, aku mencoba mendekati Anggie lagi. mungkin aku akan balikan sama Anggie." ucap Nisa lirih.
"hah????,,, balikan??????." ucap aku dan fia secara bersamaan, mataku dan mata fia kini saling pandang.
"kok bisa nis?, kamu yakin?. kamu kan tahu sendiri sifat Anggie kayak gimana." ucap fia kepada Nisa.
aku dan fia tidak habis fikir, kenapa Nisa bisa mengajak Anggie jalan. bahkan, Nisa kemungkinan akan balikkan dengan Anggie. yang aku tahu, Nisa sangat membenci Anggie. bagaimanapun, Nisa pernah di buat kecewa oleh Anggie berulang kali. tapi entah apa yang membuat Nisa ingin kembali kepada Anggie.
"Nis, kamu baik-baik aja kan?." tanyaku, karena kulihat tatapan Nisa yang nampak kosong.
"orang tuaku dan orang tua Anggie masih saja ingin saling menjodohkan. orang tuaku memaksa karena hal bisnis.
lagipula Mel, dengan cara aku dekat dengan Anggie. Anggie mungkin gak bakal gangguin Azzam lagi." ucap Nisa dengan senyumnya yang menandakan keterpaksaan.
"tapi, nis. gak harus mengorbankan dirimu sendiri." ucapku.
"ya, mau gimana lagi. untuk sekarang memang gak ada pilihan. ini demi bisnis orang tuaku juga Mel. aku belum siap melihat orang tuaku susah. selama ini, orang tua Anggie lah yang sering berjasa membantu bisnis ayahku Mel. atau mungkin nanti setelah lulus, aku akan menikah dengan Anggie." ucap Nisa padaku.
"hah???, menikah??. kamu yakin nis?." tanya fia kepada Nisa.
"pendidikanmu gimana Nis kalo abis lulus langsung nikah????." tanyaku.
"aku tetap lanjut kuliah setelah menikah Mel." ucap Nisa.
"hmm kamu sabar banget nis." ucap fia sembari mengelus lengan Nisa.
"semoga Anggie bisa berubah nis." ucapku kepada Nisa.
"makasih ya." Nisa menimpali aku dan fia.
bel tanda pulang pun berbunyi.
aku dan fia berjalan menuju parkir motor. terlihat Azzam sudah menungguku.
"gimana keadaan Azzam udah baikan?." tanya fia kepadaku seraya berjalan menuju ke tempat Azzam yang sedang menunggu.
__ADS_1
"udah fi. hari ini udah sekolah lagi. tuh, dia." aku berkata sambil menunjuk ke arah Azzam.
aku dan Azzam keluar dari tempat parkir. sampai di gerbang, aku melihat Anggie di depan sekolah.
"itu Anggie ngapain di depan sekolah sayang?." tanya Azzam heran.
sambil menikmati perjalanan menuju rumah di sore hari ini, aku menceritakan secara detail tentang kisah Nisa dan Anggie yang tadi Nisa ceritakan padaku dan kepada fia.
"ohh, jadi orang tua Nisa itu berhutang Budi kepada orang tua Anggie." ucap Azzam.
"iya, ada sisi baiknya sih buat hubungan kita sayang. Anggie jadi gak gangguin kamu lagi kan. hanya saja, pasti tertekan sekali jika menjadi seorang Nisa." ucapku kepada Azzam.
"semoga Anggie bisa berubah ya sayang. kasihan si Nisa tertekan sekali hidupnya karena harus bersama orang yang tidak di cintainya." ucap Azzam.
"btw, Anggie setelah di keluarin. dia sekolah dimana sih?. tadi waktu jemput Nisa masih pake seragam deh." tanyaku kepada Azzam.
"itu seperti seragam SMK Pelita Harapan. mungkin Anggie pindah di sekolah itu." ucap Azzam padaku.
"jauh kah jaraknya dari sekolah kita?." tanyaku lagi.
"lumayan sih sayang, sekitar 20 menit. tapi nyatanya Anggie mau menjemput Nisa ke sekolah. mungkin saja Anggie sudah benar-benar mau berubah." ucap Azzam padaku.
"semoga saja." ucapku menimpali Azzam.
memang, tidak semua yang kita inginkan akan menjadi kenyataan. bahkan, saat sudah di usahakan. apa yang telah di takdirkan untuk kita harus kita terima meski rasanya sangat berat. di balik itu, tentu ada pembelajaran hidup yang sangat berarti untuk diri sendiri dan orang lain.
"pipi kirimu masih sakit yang?." tanyaku kepada Azzam.
"udah enggak, kemarin masih bengkak. jadi aku izin gak masuk sekolah kemarin. maaf ya sayang, kamu jadi berangkat sekolah sendiri." ucap Azzam.
"gakpapa, yang penting kamu sembuh dulu." ucapku memeluk Azzam dari jok belakang motornya.
"gak terasa ya, hubungan kita udah hampir 3 tahun sayang." ucap Azzam padaku.
"iya sayang, makasih ya udah mau berubah demi hubungan kita. dari kamu yang hoby motor, sering bolos, jadi kamu yang sekarang ini. yang bisa menahan emosi, gak pernah bolos lagi. semoga bakal bareng terus ya sayang." ucapku kepada Azzam.
"iya sayang, makasih juga kamu udah menemani aku sampai detik ini." ucap Azzam padaku.
__ADS_1
aku teringat semua perjuangan Azzam agar sampai di kelas dua belas ini. dari naik kelas bersyarat, hingga harus sabar menghadapi Anggie yang selalu berusaha untuk mencelakainya. buah dari kesabarannya pun kini membuat Azzam bisa berada di kelas dua belas. hubungan kami juga bisa bertahan hingga saat ini. semoga kami bisa terus bersama.