
"yeeeyyyyyyyy!!!!!!" terdengar sorak-sorak dari seluruh siswa yang hari ini lulus. ya, hari ini adalah hari kelulusan siswa di Sekolah Menengah Kejuruanku ini.
tak lupa, aku dan fia saling merangkul merayakan kelulusan ini.
"yeyyy!!! akhirnya kita lulus ya Mel." ucap fia
"iya fi akhirnyaa....!!!!" teriakku merayakan kelulusan.
"eh, Nisa mana ya Mel?." tanya fia padaku.
"loh iya ya, kok gak ada suara nisa dari tadi." ucapku yang juga penasaran Nisa berada dimana.
aku dan fia berjalan ke taman, mencoba untuk mencari Nisa. benar saja, Nisa tengah duduk sendirian di salah satu kursi taman.
"nah tu Nisa Mel." ucap fia seraya menunjuk ke arah Nisa.
"kita samperin fi." ajakku kepada fia.
aku dan fia berjalan ke arah dimana Nisa sedang duduk. raut wajah Nisa terlihat murung dengan tatapan kosong. entah apa yang di fikirkan Nisa, sehingga dia tidak sebahagia siswa lain yang merayakan kelulusannya.
"nis?." suara fi memecahkan lamunan Nisa.
"eh kalian, kok kalian disini. bukannya semua siswa sedang di lapangan merayakan kelulusan." ucap Nisa kepada aku dan fia.
"kami nyariin kamu, kamu kenapa Nis?. kenapa di hari kelulusan ini kamu seperti tidak bahagia?. kamu juga gak ikut kumpul di lapangan bareng kita tadi." tanyaku kepada Nisa.
"emmm aku lagi pengen menyendiri Mel." ucap Nisa dengan nada lemas.
"kamu kenapa Nis?. kalo kamu sedang ada masalah bisa cerita ke kami. agar kamu merasa lega nis." ucapku.
"kalian kan tahu, setelah lulus aku akan menikah dengan Anggie." ucap Nisa.
"jadi, itu beneran nis?. kenapa gak minta di undur aja sih nis. kalian masih terlalu muda." ucap fia seraya mengerutkan dahinya karena masih tidak percaya jika Nisa akan benar-benar menikah setelah kelulusan ini.
"dalam waktu dekat ini mungkin, karena orang tua Anggie sudah mempersiapkan semuanya." ucap Nisa.
"maksudmu nis?, sudah mempersiapkan apa?." tanya fia.
"segala sesuatunya untuk nikah fi. kayak dekor dan lain-lain gitu." Nisa menjawab pertanyaan fia.
"emang gak ada cara lain ya nis?." tanyaku.
__ADS_1
"cara lain apa Mel?. lagipula aku ini anak satu-satunya ayah dan ibuku. jadi tidak mungkin ada yang menggantikanku juga." ucap Nisa, tidak terduga air mata Nisa menetes melewati pipinya.
aku duduk di sebelah kana Nisa dan fia duduk di sebelah kiri Nisa. kami mencoba untuk menguatkan Nisa.
"kenapa ya jaman udah modern gini masih ada aja perjodohan. kayak jaman Siti Nurbaya aja." ucap fia yang merasa kesal.
"sabar ya nis, di balik ini. pasti tuhan sudah mempersiapkan rencana indah untukmu." ucapku menenangkan Nisa.
"memang sebesar apa sih nis hutang orang tuamu sampai-sampai harus mengorbankan anaknya sendiri untuk di nikahkan dengan Anggie." tanya fia.
"udah tak terhitung mungkin fi, kalaupun di hitung. ayah ibuku mungkin sudah tidak sanggup untuk membayarnya." ucap Nisa.
"kamu yang sabar ya." ucap fia kepada Nisa seraya mengelus pundak nisa.
tiba-tiba Anggie datang dari arah gerbang.
"nis itu Anggie bukan?." tanyaku, dahiku mengerut melihat Anggie berjalan memasuki gerbang sekolah.
"kalian masuk aja, atau ke lapangan sama yang lain dulu. biar aku temui Anggie sendiri. sebelum Anggie sampai di sini." ucap Nisa padaku dan fia.
sontak aku dan fia pergi meninggalkan nisa sendiri di taman. namun karena penasaran, aku dan fia bersembunyi di depan loby. dimana terdapat dua pot besar yang cukup untuk menutupi badanku dan fia agar tidak terlihat oleh Anggie.
"Nisa kenapa sih Mel. setiap akan bertemu Anggie pasti langsung menyuruh kita pergi menjauh." ucap fia penasaran.
"iya juga sih. Anggie macam orang psikopat!." ucap fia.
terlihat Anggie berjalan menuju arah Nisa. nampak Anggie juga membawakan sesuatu untuk Nisa. sebuah buket bunga mawar berukuran besar. tentu saja, bunga itu hadiah untuk kelulusan Nisa.
"aku bawain sesuatu buat kamu." ucap Anggie kepada Nisa seraya memberikan sebuah buket bunga mawar berukuran besar.
"makasih." jawab Nisa singkat.
Nisa menerima buket bunga tersebut. terlihat nisa mencium bunganya yang nampak wangi.
"matamu kok merah. kamu abis nangis ya!. siapa yang membuat kamu nangis!. bilang sama aku!." ucap Anggie marah karena melihat mata Nisa seusai menangis tadi.
"Anggie kok kasar banget si sama Nisa." ucap fia lirih kepadaku yang sembari tadi masih sembunyi di balik pot bunga.
"sssttt." aku meletakkan jari telunjukku di depan hidung untuk mengode fia agar tetap tenang dan diam.
"enggak ada nggie, ini tadi kelilipan kotoran atau debu mungkin." Nisa berkata sambil mengelap bekas air matanya tadi.
__ADS_1
"awas aja ya kalo ada yang bikin kamu nangis, atau mungkin kamu ngadu ya sama temen-temenmu kalo perjodohan kita masih berlanjut!." ucap Anggie dengan nada membentak.
"enggak nggie, aku gak bilang ke siapa-siapa kok soal ini." ucap Nisa kepada Anggie. raut wajah Nisa terlihat sangat tertekan dan nampak tidak bahagia saat bersama Anggie.
"yaudah yok ikut aku!." ucap Anggie seraya menggandeng tangan Nisa secara paksa.
"kita mau kemana?." tanya Nisa.
"ikut aja!." Anggie memaksa.
"aku gak bisa biarin ini Mel!." tiba-tiba ucapan fia mengagetkanku.
"loh fi, mau kemana?." ucapku.
fia berlari menuju arah Nisa dan Anggie, sementara aku masih di balik pot bunga ini. jika aku keluar, tentu saja akan menjadi masalah besar karena sebelumnya Anggie dan pacarku (Azzam) sudah sering terlibat perkelahian yang membuat Anggie di keluarkan dari sekolah ini.
"maksud Lo apa nggie maksa Nisa gitu!!!." teriak fia di depan Anggie.
"fii...." ucap Nisa lirih. wajahnya terlihat khawatir karena fia tiba-tiba menentang Anggie. Nisa takut jika Anggie akan melakukan hal buruk terhadap siapapun yang menentangnya.
"heh!!!, siapa Lo berani-beraninya gangguin gue!!!!." teriak Anggie kepada fia.
"Lo tu cowok brengsek yang gak bisa lembut sedikit sama cewek!!!!." teriak fia lagi.
"ini bukan urusan Lo!!!!, ohhhhh.... atau Lo emang mau cari gara-gara sama gue!!." ucap anggie. wajahnya terlihat memerah, menandakan Anggie yang sangat marah.
"fi udah fi, kamu lebih baik pergi dari sini." ucap Nisa kepada fia.
"gue bisa aja ya pukul Lo sekarang!!." teriak Anggie kepada fia.
"emang cowok psikopat Lo nggie!!!." teriak fia sembari pergi meninggalkan Anggie dan Nisa.
Anggie mencoba untuk mengejar fia. namun, tangan Anggie di tarik oleh Nisa.
"udah nggie udah, aku akan nurutin kamu kemanapun." ucap Nisa kepada Anggie.
"buat gue emosi aja!!." ucap Anggie seraya pergi meninggalkan taman bersama Nisa.
di sisi lain, aku menunggu fia di loby.
"gila si Anggie!!." ucap fia di depanku.
__ADS_1
"fi, kamu harus hati-hati menghadapi Anggie." ucapku kepada fia.
"bener-bener psikopat si Anggie Mel... tadi dia maki-maki aku. malah sempat mau mukul aku saat aku bilang dia psikopat. untung aku lari." ucap fia dengan nafas yang masih terbata-bata karena fia berlari dari taman ke loby.