
Aku berjalan menuju meja kafe. Kulihat Azzam yang menunjukan wajah gelisah, seperti menunggu sesuatu yang tak pasti. aku kembali duduk di kursi. kulihat Azzam tak berani menatapku. mungkin karena rasa takut akan jawabanku.
beberapa menit kami saling diam satu sama lain.
"Hmm Mel, kalau kamu belum bisa jawab sekarang gapapa kok. Mungkin kamu butuh waktu untuk berfikir dulu." tiba-tiba suara Azzam memecah keheningan kami.
"Hmm baik zam, tapi kamu gapapa?." tanyaku.
"gapapa Mel, aku akan menunggumu. entah apapun jawabmu nantinya." Azzam tersenyum padaku.
kami menikmati juice guava dan beberapa hidangan yang di pesan tadi.
kini waktu menunjukkan pukul 18.30 wib.
"hmm kita mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang, Mel?" Tanya Azzam padaku.
"Emm kita langsung pulang aja ya zam." Aku menjawab pertanyaan Azzam.
"yaudah, aku antar kamu pulang ya Mel. di habiskan dulu makanannya." Azzam tersenyum.
(Sampai di rumah)
"aku langsung pulang ya Mel.."
Azzam berpamitan padaku.
"gak mampir dulu zam?." aku menawarinya untuk mampir kerumah.
"makasih. tapi lain kali aja Mel." Azzam menolak ajakanku.
"yaudah hati-hati dijalan zam." aku melambaikan tangan.
Azzam pulang dan aku masuk ke dalam rumah.
di malam hari, saja aku memikirkan apa yang akan kujawab setelah ini. tentu aku sudah mengetahui jika Azzam benar suka padaku.
"Azzam sudah sangat baik padaku. tapi bagaimana mungkin aku menjalani pacaran tanpa rasa suka padanya. seandainya aku menolak, Azzam pasti sangat kecewa. duh aku kok bingung." aku rebahan sambil bergumam sendiri.
pukul 21.00 wib di kamarku.
aku meletakkan handphone di meja dan aku beranjak menuju kasur. "drrtttt" terdengar suara getar dari handphoneku, aku berbalik dan mengambil lagi handphone yang kutaruh di meja tadi.
"good night amel, have a nice dream." begitulah isi pesan dari WhatsApp yang Azzam kirim. kuletakkan kembali handphoneku tanpa membalas pesan Azzam, dan kembali ke kasur.
Keesokan harinya, seperti biasa. Azzam menghampiriku di pagi hari. di sepanjang perjalanan menuju sekolah, kami tak saling bicara. Bukan tanpa alasan, Azzam menjadi canggung padaku setelah menyatakan cintanya kemarin sore. Begitupun aku, aku bingung mau mulai percakapan dari mana. karena aku sendiri baru pertama kali di tembak cowok. memang sebelumnya aku sempat dekat dengan Anggie, namun Anggie tak pernah menyatakan cinta padaku.
(sampai di sekolah)
__ADS_1
"zam, nanti sore ada acara gak?"
tanyaku sebelum berjalan menuju loby.
"gak Mel, kenapa?." Azzam bertanya balik padaku.
"nanti kan pulang awal jam 12.00 wib. hmm kalo nanti sore kita ketemuan gimana zam?." aku memberanikan diri mengajak Azzam bertemu nanti sore.
"boleh Mel, dimana?." tanya Azzam.
"di kafe ujung senja ya zam, aku tunggu jam 17.00 wib." jawabku sambil tersenyum.
"baik Mel." Azzam mengiyakan ajakanku dan berjalan menuju parkir. sementara aku berjalan menuju loby.
Akhirnya, sore ini pun tiba.
(Di sebuah kafe) Desember, 2016
aku datang ke kafe ujung senja, dimana memang aku yang mengajak Azzam ketemuan di sini. aku datang tepat pukul 17.00 wib.
akhirnya kupesankan dua juice guava dan beberapa makanan ringan pendamping.
kini sudah pukul 17.18 wib. Azzam tak kunjung datang.
"Azzam kok lama banget, di telfon juga gak bisa. huft, dia kemana si?." tanyaku pada diri sendiri.
tepat pukul 17.20 wib
"Azzam, lama banget deh kamu. Telat 20 meni nih!." Jawabku dengan wajah cemberut.
"Maaf ya Mel, tadi banku tiba-tiba kempes dijalan." Jawab Azzam sambil memandangku.
"kenapa di telfon juga gak bisa zam?." kali ini aku memperlihatkan wajah kesalku.
"maaf Mel, aku lupa charger handphone sejak siang. jadi gak bisa di telfon." Azzam memegang tanganku kali ini, entah sengaja atau hanya reflek karena aku merasa kesal.
"emm yauda zam, aku hanya khawatir takut kamu kenapa-kenapa dijalan." ucapku kali ini dengan senyuman.
"cie khawatir.. hehe." Azzam tertawa kecil padaku.
"eh ini zam, tadi sudah kupesankan juice guava kesukaanku juga kesukaanmu kan." Aku menawarkan juice di meja yang sudah kupesan sejak aku datang tadi.
"Makasih ya Mel.." jawab Azzam sambil meminum juice itu.
"iya zam." aku menimpalinya.
kami menikmati hidangan sambil menyaksikan life music yang di selenggarakan kafe ini.
__ADS_1
"bagus ya musiknya zam." aku bertepuk tangan saat musisi kafe selesai menyanyikan sebuah lagu.
"iya Mel, bagus banget." Azzam juga bertepuk tangan.
aku melanjutkan makanku dan Azzam melanjutkan makannya.
"Btw, ada apa Amel sore ini mengajakku ketemu?" Tanya Azzam sedikit heran.
aku masih terus mengunyah dan belum bisa menjawab pertanyaan Azzam, karena mulutku masih penuh dengan makanan. aku memberi kode kepada Azzam dengan menggunakan lima jariku agar bisa ku telan dulu makananku.
setelah kutelan. kini aku mulai menjawab pertanyaan Azzam.
"hmm yang waktu itu zam." aku tak menjelaskan apa-apa. Tentu Azzam sudah tahu maksudku.
"iya Mel, apapun jawabannya. Aku akan terima kok." Jawab Azzam sambil tersenyum.
"Maaf ya zam, aku tidak bisa..." Aku menjeda bicaraku.
"Gapapa kok Mel." Azzam menimpali dengan nada lemas.
"Aku tidak bisa nolak zam." aku melanjutkan bicaraku.
(Azzam terkejut)
"Bener mel??? Aku gak salah denger kan? Jadi kita mulai saat ini jadian ya??"
Azzam terlihat sangat senang.
"Hmm iya zam." Aku tersenyum malu.
Sejak saat itu, kami menjalani hari-hari dengan bahagia. Tak lagi aku teringat tentang Anggie, cinta pertama yang membuatku kecewa. Kini, sudah ada Azzam yang selalu mewarnai hari-hariku.
Sikapnya yang humoris dan apa adanya membuat aku semakin menyukainya.
Sejak akuĀ berpacaran dengan Azzam. Entah kenapa fia, sahabatku sering menghindari ku. Bukan tanpa sebab, ternyata fia menyukai Azzam sejak lama. Hanya saja aku tidak tahu dan fia tidak pernah menceritakannya padaku. Tentu jika fia bercerita, aku tidak akan menerima cinta dari Azzam demi sahabatku.
di kelas, fia terlihat biasa saja, namun dia kini tak sedekat dulu denganku. jarang sekali fia curhat dan bertukar cerita denganku. jika waktu bisa di ulang. aku tak ingin mengecewakan siapapun termasuk sahabatku.
(di sekolah, pukul 16.00)
"kriinggg" bel tanda pulang berbunyi.
seperti biasa, aku dan Azzam pulang bersama. tapi kali ini, fikiranku masih memikirkan fia. bukankah seharusnya yang berada di posisiku saat ini adalah fia. orang yang benar-benar menyukai Azzam.
"Mel.." suara Azzam memanggilku di tengah perjalanan.
"eh iya zam, kenapa?"
__ADS_1
aku bertanya dengan nada sedikit keras karena suaraku tak terdengar terbawa angin.
"tumben diem aja, gak ada cerita apapun hari ini?" Azzam bertanya heran karena biasanya kami saling bertukar cerita saat pulang sekolah.