Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 4


__ADS_3

jam pulang sekolah tiba. aku dan fia berjalan bersama menuju parkiran. tiba-tiba kami di kejutkan dengan apa yang kami lihat di tengah ramainya siswa yang sedang mengambil motor mereka. "lho lhooo Mel, itu kan Anggie!" celetuk fia, nadanya yang lumayan keras membuat para siswa memusatkan pandangannya kepada kami.


sontak kutarik tangannya dan berjalan kembali menuju kelas.


"Mel, ngapain si kita kembali ke kelas lagi." tanya fia.


"kamu hampir membuat suasana jadi ramai fia!." aku menjawab dengan nada sedikit tinggi.


"lah itu tadi Anggie sama Nisa ngapain berduaan di parkiran Mel, mana tadi gandengan tangan. masa iya kalo mereka saudaraan pake gandengan tangan segala." ucap fia dengan wajah sedikit geram.


"Fi, itu yang ingin aku ceritakan. Nisa itu sudah berpacaran dengan Anggie sejak kelas 8. mereka juga satu sekolah fi. tadi waktu kamu ke toilet, Nisa cerita semua ke aku. dan Nisa taunya aku sama Anggie itu cuma temenan biasa. Nisa bahkan tidak ada rasa curiga sedikitpun" sambil duduk di bangku aku menceritakan persoalan ini kepada fia. "lho, sudah tau punya pacar. kenapa si Anggie juga mendekatimu Mel? pantas saja Anggie tidak nembak kamu. ternyata ada hati yang di jaga. hmm tapi keterlaluan juga di Anggie ini Mel!". jawab fia sembari mengepalkan tangan di atas meja. terlihat sekali sahabatku itu sedang emosi. "udahlah fi, gapapa. toh aku dan Anggie statusnya belum pacaran. mau di debatkan tentu saja banyak yang membela nisa. tentu nisa lebih lama mengenal Anggie di banding aku. aku takut kalau aku yang di sangka jadi orang ke tiga fi." dengan menghela nafas panjang aku menjawab luapan emosi sahabatku itu.


"jahat banget ternyata Anggie, gak nyangka banget aku lho Mel Anggie Setega itu sama kamu. meskipun kalian belum jadian tapi kan nyesek banget mel kalo aku jadi kamu hihhhh... yang sabar ya sahabatku" ucap fia sambil mengelus lenganku.


"iya fi, mau gimana lagi.. kukira Anggie itu tulus denganku. ternyata hanya untuk pelampiasan sementara saja." aku menimpali fia.


"yaudah habis ini kita mampir ke kota bentar yok Mel, udah jangan sedih lagi. nanti kita nonton sama jalan-jalan ya."


ucap fia sambil menggandeng tanganku.


aku dan fia kembali berjalan ke parkiran. terlihat Anggie dan Nisa berboncengan lewat persis di depan kami.

__ADS_1


"duluan ya kak.." Nisa menyapa kami.


"iya nis." fia menjawab Nisa.


aku hanya tersenyum saja kepada nisa. sementara Anggie, sama sekali tidak menoleh ke arah kami.


sudah beberapa hari ini aku dan Anggie tanpa berkabar, bertukar pesan, ataupun berbicara. ya, walaupun kadang kami berpapasan di loby sekolah atau di taman. kami seperti dua orang asing yang tak pernah saling mengenal sebelumnya. entah apa yang membuat Anggie mendiamkanku seperti ini. karena aku sendiri sudah ikhlas jika memang aku hanya di jadikan pelampiasan sesaatnya.


karena tidak mungkin bagiku menghancurkan sebuah hubungan yang sudah lama di bangun, meskipun ini kesalahan Anggie, sementara aku dan Nisa hanya menjadi korban.


senang rasanya melihat hubungan Anggie dan Nisa yang romantis. meskipun aku sendiri yang merasa kecewa. tak apa, aku tidak tega jika Nisa harus merasakan kecewa jika mengetahui apa yang Anggie perbuat sebelum dirinya pindah di sekolah ini. biarlah, aku saja yang merasakan.


meski harus membiasakan diri tanpa Anggie yang dulu selalu membuat hari-hariku di sekolah semakin berwarna.


"Aghhh" jeritku saat akan berdiri karena mungkin ada yang terkilir.


"kakimu sakit Mel, biar aku antar pulang ya? motormu biar tak titipkan di bengkel. oiya ibu tadi menitipkan KTPnya dan mau bertanggung jawab atas kerusakan motormu dan biaya berobatmu Mel." Azzam menenangkanku.


"rupanya Azzam gak seperti yang aku pikirkan. Azzam orangnya baik, dan suka menolong." gumamku dalam hati.


"lalu ibu itu dimana zam?" aku tanya heran.

__ADS_1


"dibawa ke klinik Mel, orangnya tadi masih sadar dan masih bisa diajak bicara. hanya saja tangan dan kakinya memar dan sedikit berdarah Mel." Azzam menjawab pertanyaanku.


"syukurlah zam, jika ibuk tadi juga tidak parah." aku berkata dengan nada lirih.


Azzam masih menemaniku di depan salah satu ruko yang tutup. dia juga yang membawa motorku ke bengkel agar segera di perbaiki.


"kubantu kamu berjalan ya Mel." Azzam mengulurkan tangannya padaku.


"aku bisa berdiri sendiri kok zam." aku menghiraukan uluran tangan Azzam yang berada di depanku.


"hmm yaudah Mel, di minum dulu airnya biar agak tenang." Azzam mengambilkan minum yang tadi.


aku menatap Azzam, terlihat keringat menetes di dahinya. mungkin Azzam kelelahan karena tadi dia juga mendorong motorku sampai di bengkel.


"kenapa Mel?" tiba-tiba Azzam memecah lamunanku. wajahnya terheran-heran karena aku menatapnya.


"engga zam, gapapa kok. makasih ya minumnya." kali ini aku berbicara dengan nada lirih.


"iya mel, yang penting kamu gapapa, gak ada yang terluka. aku khawatir kalo kamu kenapa-kenapa." ucap Azzam.


"khawatir kenapa zam?" tanyaku heran.

__ADS_1


"eh, gapapa kok Mel. nanti biar aku aja yang ngambil motormu sore ya di bengkel. kasian kamu kan kakinya lagi sakit." Azzam berucap sambil tersenyum kepadaku.


__ADS_2