
waktu menunjukkan pukul 15.30 wib.
terlihat ada beberapa petani yang akan pulang melewati depan rumah Azzam.
"Ting, Ting, Ting!!" terdengar suara mangkuk yang di ketuk dengan sendok.
"ahh pas sekali ada tukang bakso. sayang, kamu mau bakso?." Azzam menawariku.
"boleh.." aku menimpalinya.
aku mengeluarkan bedak padat dari tasku, dan mengoleskan diwajah yang terlihat pucat sehabis di cium Azzam.
Azzam mengambil dua mangkuk miliknya dan berjalan menuju arah tukang bakso berjualan (di jalan depan rumah).
Azzam meninggalkan mangkuk dan kembali, "nanti kalo sudah jadi mau di antar Abang tukang baksonya." ucap Azzam padaku.
"iya sayang." aku menimpali dan kami kembali menonton televisi.
Abang tukang bakso datang membawa dua mangkuk bakso yang terlihat sangat lezat. ya, karena aku memang suka bakso.
"Monggo, baksonya.." ucap Abang tukang bakso.
"makasih bang, ini uangnya." Azzam memberikan uangnya kepada penjual bakso.
"baik, makasih." tukang bakso tadi menjawab.
aku dan Azzam menikmati bakso sambil mengobrol.
"kamu sudah pernah mencium seseorang sebelumnya sayang?." aku bertanya kepada Azzam yang sedang meyiapkan minum.
"hmmm aku jawab jujur gak ya." Azzam membuatku penasaran.
"ih jawab jujur dong sayang!!." jawabku sambil mencubit lengan Azzam.
"iya deh nanti aja ya, sekarang di makan dulu baksonya. enak loh mamaku sering beli kalo di rumah." Azzam menimpali sambil menyuapiku bakso.
(selesai makan)
"aku bawa ke belakang ya sayang." aku berkata sambil membawa dua mangkuk menuju dapur.
"hmm aku cuci mangkuknya aja deh sekalian, kasian Azzam kan di rumah sendiri." gumamku dalam hati.
(aku sedang mencuci mangkuk)
tiba-tiba saja ada yang memelukku dari belakang. tentu saja Azzam, karena memang hanya ada kami berdua di rumah ini.
"sayang apaan si, aku lagi nyuci mangkuk nih." aku berkata sambil membilas mangkuk.
__ADS_1
"baik banget si pacarku ini.. muah muah." Azzam mencium pipi chubbyku dari belakang.
"his, jangan ciumi aku lagi sayang. aku udah pake bedak ya nih nanti bisa luntur lagiii." jawabku kesal.
"engga sayang.." jawab Azzam sambil kembali ke ruang tamu.
selesai mencuci mangkuk, aku langsung kembali ke ruang tamu. kulihat Azzam sedang mencuci motor antiknya itu.
beberapa para petani yang lewat disapa oleh Azzam.
"sayang udah sore ni, kamu gak mau anterin aku pulang?." ucapku.
"abis ini aku antar pulang ya, sayang." Azzam berbicara padaku sambil mengelap motornya dengan kanebo.
"iya sayang." jawabku sambil ku tutup pintu rumah Azzam dan bersiap memakai flatshoes.
"udah selesai, yokk!!." Azzam bergegas menyalakan mesin motornya.
belum juga aku menaiki motor, tiba-tiba segerombol teman-teman Azzam datang.
"bremmm bremmm." bunyi motor mereka.
Azzam tak jadi menyalakan mesin motornya, karena melihat segerombolan temannya yang datang.
"halo bro." Roni menyapa Azzam, Roni adalah salah satu teman dari club' motornya.
"wah, tumben sore-sore udah pada dateng nih." Azzam menyapa semua temannya.
"kamu mau Turing?." tanyaku kepada Azzam.
Azzam memang tidak memberitahuku jika malam ini dia akan touring.
"emmm, nanti kalo jadi kok sayang." Azzam menjawab pertanyaanku dengan terbata-bata.
terlihat Roni mencubit seorang temannya yang menyeletuk tadi.
"kamu bohong ya, katanya hari ini gak ada acara apa-apa." ucapku.
"bentar ya sayang." Azzam berjalan menuju motor yang di kendarai Roni.
terdengar lirih sekali obrolan mereka
"kamu gak ngasih tau temen-temen kalo harusnya Amel jangan sampai tahu soal malam ini kita bakal touring." ucap Azzam kepada Roni.
"duh maaf zam, udah aku sampein kok ke semua anggota club' kita. tapi emang dasarnya dia itu pelupa. jadi menyeletuk tadi." raut wajah Roni terlihat gelisah.
"Amel pasti bakal marah ini, dia pasti tau kalo besok aku bakal bolos lagi." ucap Azzam sambil meletakkan jari di dagunya. terlihat seperti orang yang kebingungan.
__ADS_1
"kenapa kamu gak ajak Amel sekalian si zam?." tanya Roni.
"gila kali kau Ron, gak mungkin aku ajak Amel membolos sekolah. biar aku sendiri yang nakal. Amel jangan sampai. dia itu murid baik-baik di sekolah." Azzam memarahi Roni.
"lah terus gimana dong zam?, kita tetep berangkat touring kan?." tanya Roni pada Azzam.
"kita bakal berangkat touring, meskipun nanti mungkin Amel bakal marah padaku." ucap Azzam.
"nah gitu dong, lagipula orang tuamu sedang mudik. ini kesempatan kamu touring zam. mereka gak tau dan mereka gak akan marahin kamu." ucap Roni.
"Amel gimana?." tanya Azzam kepada Roni.
"halah zam, nanti kamu belikan oleh-oleh yang banyak dari touring kita di luar kota. pasti hatinya bakal luluh lagi." Roni berkata, tapi kali ini lirikan matanya tertuju padaku.
entah apa maksud Roni. seakan-akan Roni ini tidak suka dengan hubungan Azzam denganku. mungkin karena aku sering melarang Azzam untuk ikut touring. bukan tanpa alasan, aku takut jika terjadi sesuatu di jalanan. lagipula, Azzam ini masih sekolah. absensinya berantakan karena dia sering membolos. aku hanya tidak ingin Azzam terpengaruh pergaulan dari teman-teman club'nya.
"yauda, aku mau mengantar Amel pulang dulu. sambil kupikirkan alasan apa yang akan kubicarakan pada Amel nanti." ucap Azzam kepada Roni.
"oke zam, kamu antar saja dulu Amel. lalu kita persiapkan touring kita malam ini." Roni berkata kepada azzam. terlihat Roni menepuk pundak Azzam.
Azzam berjalan menuju ke arahku. aku yang sejak tadi berdiri menunggu obrolan Azzam dan roni yang lumayan lama. entah apa yang mereka bicarakan. tidak terdengar jelas di telingaku, karena jarak kami memang lumayan jauh.
"ayok kuantar pulang, sayang." Azzam memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya.
"kamu mau touring nanti malem?." tanyaku sekali lagi.
"belum tentu sayang. udah gak usah mikir yang aneh-aneh dulu." Azzam menatapku.
"ini udah mau kenaikan kelas, kamu masih mau membolos. kalau absensimu jelek dan tidak naik kelas gimana?." aku berucap sambil mengerutkan dahi.
"lho jangan bilang jelek gitu dong sayang." Azzam menatapku tajam kali ini.
"aku hanya takut saja sayang, kan nanti aku juga ikut malu dong kalau kamu gak naik kelas. sementara, aku ini kan pacarmu. pasti mereka berpikir aku tidak peduli padamu sampai-sampai kamu tidak naik kelas." ucapku.
"udah, sekali ini aja deh. aku ikut touring ya sayang. sini kupakaikan helmnya" Azzam tersenyum padaku.
aku tidak menjawab apa-apa. aku tidak memberikan helmku kepada Azzam untuk di pakaikan. aku memakai helm sendiri. terlihat raut wajahku sangat datar tidak menunjukkan ekspresi apapun. aku naik ke motor Azzam dan tak berucap satu kata pun.
"yang.... jangan marah dong." Azzam berucap sambil melihat kaca spion yang disorotkan ke wajahku.
aku masih diam saja tak menjawab apapun.
"yaudah kuantar pulang sekarang ya?." tanya lagi Azzam padaku.
aku masih terdiam. Azzam menyalakan mesin motornya.
"teman-teman, kalian di sini dulu. aku mau mengantar tuan putri pulang dulu." ucap Azzam kepada teman-teman club'nya.
__ADS_1
"oke bro, oke." sahut mereka.
Azzam menarik gas motornya dan mengantarku pulang kerumah.