
hari ini, sekolah mengadakan lomba futsal antar kelas untuk memperingati hari ulang tahun sekolah. lomba akan diadakan dari pagi pukul 07.30 wib hingga sore hari.
di siang yang terik ini. aku duduk di samping lapangan menemani Azzam yang ikut mewakili kelasnya sebagai pemain futsal.
"cape ya sayang, minum dulu." ucapku kepada Azzam seraya menyodorkan sebotol minuman teh dingin kepada Azzam.
"makasih ya." ucap Azzam menerima minuman dariku.
Azzam terlihat lelah setelah beberapa kali kelasnya menang dalam pertandingan futsal dengan kelas lain. termasuk kelasku sendiri yang berhasil dia taklukan.
"priiiiitttt" terdengar suara peluit dari lapangan. yang menandakan akan dilanjutkannya pertandingan siang ini.
"kelas kamu main lagi gak sayang?." tanyaku pada Azzam.
"lihat pertandingan ini sayang, yang menang nanti jadi lawan kelasku di final." ucap Azzam.
"sial, kelas Anggie yang sekarang bertanding. semoga saja kelasnya kalah agar Anggie tak bertanding dengan kelasku nanti." ucap Azzam dalam hatinya.
terlihat Anggie di dalam lapangan dengan tatapan sinisnya yang mengarah kepada Azzam.
beberapa saat kemudian, pertandingan selesai. benar saja, kelas Anggie memenangkan pertandingan ini. yang berarti, nanti akan bertanding dengan kelas Azzam di final.
"lihat aja Lo nanti!." ucap Anggie yang berjalan di depanku dan Azzam.
"sial!, kenapa lawan tanding nanti harus Anggie!." ucap lirih Azzam yang memalingkan mukanya dari pandangan Anggie.
Setelah tiga puluh menit istirahat, akhirnya peluit dari lapangan di bunyikan.
"aku main dulu ya sayang." ucap Azzam yang akan bertanding dengan kelas Anggie.
"semangat sayang." ucapku tersenyum kepada Azzam.
Azzam berjalan ke tengah lapangan menyusul teman-temannya yang sudah bersiap untuk bertanding. terlihat Anggie juga sudah berada di tengah lapangan, bersiap untuk bertanding dengan kelas Azzam.
di tengah pertandingan, kelas Azzam lebih unggul daripada kelas Anggie. situasi ini membuat Anggie kesal dan marah. saat merebut bola, Anggie dengan sengaja mendorong Azzam dan menyodorkan kaki kanannya agar Azzam terjatuh. Azzam yang merasa emosi dan tidak terima dengan sikap Anggie sontak mengangkat tangannya dan hendak memukul Anggie.
"Lo bisa nggak bermain secara sehat!!." teriak Azzam kepada Anggie.
wasit yang melihat Azzam dan Anggie segera melerai mereka,
"apa???, Lo mau mukul gue??. pukul, jangan cuma banyak bacot!!!. teriak Anggie kepada Azzam.
__ADS_1
Azzam yang sudah tidak bisa membendung emosinya dan memukul Anggie di tengah lapangan. pertandingan di hentikan sementara, seorang guru olahraga membawa Azzam dan Anggie keluar lapangan. pertandingan di lanjutkan lagi dengan pemain pengganti. Azzam dan Anggie di bawa ke ruang Bimbingan Konseling.
"aduh, gawat kalo Azzam masuk ruang BK lagi." ucapku lirih.
fia dan Nisa menghampiriku yang duduk sendiri di samping lapangan.
"Mel, Azzam sama Anggie masuk ruang BK." ucap fia.
"Anggie yang mulai duluan fi, Azzam udah gak bisa nahan emosi tadi." ucapku khawatir.
"Anggie bener-bener. gak habis fikir aku." ucap Nisa seraya menggelengkan kepala.
"kalo Azzam kena surat peringatan gimana ni." ucapku menundukkan kepala.
"semoga aja enggak Mel, nanti kita coba bantu ya." ucap Nisa.
sementara itu, Bu Winda terlihat memasuki ruang Bimbingan Konseling.
"Azzam lagi, Azzam lagi, kenapa lagi Azzam?." ucap Bu Winda sembari duduk di kursi.
"Azzam mukul saya bu." ucap Anggie kepada Bu Winda.
"ya, tapi Anggie dulu yang memulai." jawab Azzam kepada Bu winda.
"sebentar dulu, Bu Winda ingin tahu awal mula permasalahannya apa." ucap Bu Winda.
"maaf Bu ijin menjawab. saat main bola tadi, Anggie mendorong saya dan menyodorkan kakinya di depan saya. sehingga saya terjatuh." ucap Azzam kepada Bu Winda.
"lalu, kamu mukul Anggie?." tanya Bu Winda.
"ya, saya mukul Anggie, karena saya gak terima Anggie mengejek saya." ucap Azzam.
"Azzam, kamu kan tahu, kalau kamu naik kelas bersyarat. kenapa kamu membuat masalah lagi?." ucap Bu Winda.
"Bu, tapi yang memulai Anggie." ucap Azzam.
"tapi gak usah mukul juga dong." ucap Anggie.
"Azzam, kamu masih ingat surat peringatan pertamamu saat kamu membolos?." tanya Bu Winda.
"ya, Bu." jawab Azzam.
__ADS_1
"Bu Winda bakal kasih kamu surat peringatan kedua, ingat Azzam surat peringatan terakhir adalah ke tiga. jadi, sekali lagi kamu membuat masalah. kamu sudah tidak ada toleran untuk naik ke kelas dua belas. dan ada kemungkinan juga bisa di keluarkan dari sekolah. dan untuk kamu Anggie, tolong jangan memulai masalah ya. apa tujuan kamu melakukan itu kepada Azzam?. apa ada masalah sebelumnya dengan Azzam?." tanya Bu Winda kepada Anggie.
"Azzam sering ngejek saya Bu." ucap Anggie.
"kamu jangan fitnah ya. kapan aku ngejek kamu!." ucap Azzam seraya menoleh ke arah Anggie.
"udah-udah, jangan lanjutkan lagi pertengkaran kalian. Anggie juga bakal ibuk kasih surat peringatan pertama. ibuk akan kasih surat panggilan orang tua untuk kalian. tunggu sebentar." ucap Bu Winda sembari bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"ini semua gara-gara Lo!." ucap Azzam.
"hahaha sekali lagi, Lo bakal keluar dari sekolah ini." Anggie tertawa puas.
"awas aja Lo!." ucap Azzam kesal.
"apa??, berulah sekali aja Lo gak naik kelas." ucap Anggie yang masih tertawa puas.
Bu Winda datang lagi menghampiri mereka, terlihat Bu Winda membawa dua amplop yang berisi surat panggilan orang tua.
"Azzam, Anggie. ini surat panggilan untuk orang tua kalian. tolong di sampaikan. dan Bu Winda berpesan sama kalian. tolong jangan ulangi perkelahian ini lagi. kalian gak malu apa sama adek kelas. bukannya memberi contoh yang baik malah memberi contoh yang buruk." ucap Bu Winda kepada Azzam dan Anggie.
"ya, Bu." ucap Azzam.
"iya, Bu. Anggie menimpali.
"kalian boleh kembali ke kelas masing-masing." ucap Bu Winda.
Anggie dan Azzam keluar dari ruang BK.
pertandingan antara kelas Azzam dan kelas Anggie rupanya belum selesai dan masih tersisa waktu lima menit. namun, terlihat kelas Azzam lebih unggul daripada kelas Anggie. Azzam menghampiriku yang masih terduduk di samping lapangan.
"gimana?." tanyaku.
"dapet surat peringatan." ucap Azzam.
"sabar sayang. masih ada kesempatan terakhir kamu buat buktiin kalo kamu bisa naik kelas." ucapku menenangkan Azzam.
"prittttt prittttt." wasit membunyikan peluitnya tanda permainan telah selesai.
panitia menyerahkan piala kepada kelas otomotif yang memenangkan pertandingan ini, tiba-tiba salah seorang pemain futsal dari kelas otomotif menghampiri Azzam dan menariknya memasuki lapangan.
seorang yang memegang piala memberikannya kepada Azzam, mereka merayakan kemenangan bersama meskipun Azzam tidak bisa menyelesaikan pertandingan sampai akhir. terlihat solidaritas dari kelas otomotif yang sangat kental. teman-teman Azzam selalu mensupport Azzam dalam keadaan apapun. karena mereka tahu, perkelahian tadi tidak akan terjadi jika Anggie tidak memulainya.
__ADS_1