Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 20


__ADS_3

suatu sore di bulan Januari 2018.


"Mel..!!" suara Azzam memanggilku dari belakang.


aku menoleh ke belakang, kulihat Azzam berada di belakangku.


"ada apa?." tanyaku dengan raut wajah datar.


Azzam menghampiriku yang sudah berada di depan tempat parkir


"kamu ini kenapa Mel?." tanya Azzam dengan raut wajah khawatir.


"aku?, aku gak kenapa-kenapa zam." jawabku heran.


"Mel, kamu sadar gak sih. kamu tuh udah gak kayak Amel yang aku kenal dulu." ucap Azzam, tangannya kini memegang tanganku.


"lalu aku kayak apa zam?." tanyaku dengan raut wajah datar.


"Mel.... tolong jangan kayak gini." ucap Azzam.


"aku capek zam, jujur aku capek banget sama kamu. kamu bilang di kelas sebelas ini akan berubah. tapi nyatanya apa zam?, kamu masih suka bolos. iya kamu berubah, hanya di awal-awal saat naik ke kelas sebelas. tapi sekarang apa?. bukan itu aja zam, aku juga capek setiap kamu membolos selalu aku yang di panggil Bu Winda. selalu aku yang banyak di tanya. selalu aku yang di tekan untuk membuatmu berubah. dari orang tuamu juga, mereka ingin kamu berubah zam. jika kamu masih kayak gini dan nantinya tidak naik ke kelas dua belas, siapa yang kecewa?. gak cuma orang tuamu, tapi juga aku. kamu gak inget orang tuamu bilang apa waktu itu?. mereka gak akan restuin kita zam kalo kamu masih kayak gini." ucapku sambil melepas genggaman tangan Azzam.


di sisi lain, fia ternyata berada di kamar mandi siswa yang dekat dengan parkiran motor. fia mendengar semua yang aku dan Azzam debatkan tanpa sepengetahuanku.


"waduh, Amel dan Azzam bertengkar nih. apa mereka bakalan putus?" ucap fia lirih di kamar mandi.


"maaf Mel, maafkan aku. aku janji bakal berubah. tapi kali ini tolong kamu jangan kayak gini Mel." ucap Azzam.


"maaf zam, aku udah terlalu cape, sepertinya hubungan kita sampai di sini saja." ucapku sambil berjalan ke parkiran meninggalkan Azzam.


"agggrrtt" teriak Azzam seraya tangannya memukul tembok.


aku tak menghiraukannya, kulanjutkan jalanku menuju parkiran.


di malam hari.


"maafkan aku Azzam, sebenarnya aku gak mau kita putus. aku masih sayang sama kamu. tapi aku capek, kamu gak bisa berubah." ucapku dalam hati, sambil menatap foto kami berdua saat masih berpacaran.


"drtttt..drtt..drttt.." tiba-tiba handphone ku bergetar.


"fia, tumbel nelpon malem-malem gini." ucapku lirih.


"halo fi?." aku menjawab panggilan WhatsApp dari fia.

__ADS_1


"hmm, lagi apa Mel?." tanya fia.


"gak lagi apa-apa fi rebahan aja, ada apa?." tanyaku balik.


"Mel sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya tadi sore aku mendengar pertengkaran kalian (Amel dan Azzam). tapi, aku gak bermaksud nguping Mel sumpah. aku gak sengaja mendengar saat aku berada di kamar mandi sebelah tempat parkir." ucap fia padaku.


"hmm iya gpp kok fi." jawabku singkat.


"kamu beneran putus Mel sama Azzam?, gak kan?. tadi cuma berantem biasa kan Mel?." ucap fia.


"aku beneran putus fi." ucapku lesu.


"Mel... kok bisa?. astaga, padahal kalian tuh cocok banget. banyak yang iri dengan hubungan kalian." ucap fia dengan nada bicara terkejut.


"aku capek fi, kamu kan tahu. setiap Azzam bermasalah entah itu absensinya atau apa. pasti aku juga ikut di panggil fi. aku yang di tekan agar Azzam berubah. aku udah gak bisa fi. lagipula jika Azzam gak naik ke kelas dua belas, hubunganku dan Azzam juga gak di restuin orang tuanya." jawabku dengan nada lemas.


"kamu yang sabar ya Mel." ucap fia.


keesokan harinya, di sekolah.


"Amel...." tiba-tiba Bu Winda memanggilku yang sedang duduk di dalam kelas.


"iya Bu." jawabku.


"ada apa lagi sih." ucapku lirih sambil terbangun dari bangku dan berjalan menuju ruang bimbingan konseling.


"permisi?." ucapku di depan pintu.


"masuk, duduk Mel." ucap Bu Winda.


kulihat ada seorang wanita parubaya, nampak tidak asing wajahnya. benar saja, wanita itu adalah ibu dari azzam.


"ibunya Azzam ngapain ada di ruang BK." ucapku dalam hati.


"Mel, ini ibunya Azzam ingin berbicara dengan Amel. tapi Bu Winda jam ini mengajar kelas yang tidak bisa Bu Winda tinggalkan. jadi, amel bisa berbicara dengan ibunya Azzam dulu ya. nanti Bu Winda kesini lagi." Bu Winda berkata padaku.


"Bu, ini Amel sudah tak panggil ke sini. ibu bisa berbicara dulu dengan Amel ya. saya tinggal sebentar karena ada mengajar di kelas. nanti saya kesini lagi." ucap Bu Winda kepada ibunya Azzam sembari meninggalkan ruangan.


"apa kabar Bu?." tanyaku kepada ibu Azzam.


"baik nak, maaf ya ibuk ingin bertemu nak Amel lagi." ucap ibu Azzam, terlihat raut wajahnya seperti orang yang merasa bingung. juga merasa tidak enak kepadaku.


"iya Bu, mohon maaf sebelumnya. kenapa ibuk ingin bertemu saya?." tanyaku.

__ADS_1


"Azzam mogok sekolah lagi nak Amel, ibu khawatir jika Azzam tidak naik kelas nantinya. bahkan Azzam bilang ingin keluar dari sekolah. ayahnya sudah lepas tangan karena Azzam ini susah sekali di nasehati. ibuk tadi mengajaknya bicara baik-baik saat ayahnya sudah berangkat kerja. benarkah nak Amel memutuskan Azzam?." tanya ibu Azzam padaku.


aku sangat terkejut. bagaimana tidak, aku memutuskan Azzam agar Azzam mau berubah setelah kutinggalkan. kukira Azzam akan membuktikan bahwa aku salah telah memutuskannya. tetapi malah sebaliknya, Azzam tidak mau berangkat sekolah karena ku putuskan kemarin.


"maaf Bu, lalu aku harus bagaimana?. niatku memutuskan Azzam adalah agar Azzam bisa berubah. agar Azzam berfikir jika dia bisa membuktikan jika keputusanku memutuskan dia itu salah. kenapa malah tidak mau bersekolah." jawabku dengan wajah datar.


"ibu mohon nak, agar kamu bisa berbicara dengan Azzam dan tidak jadi memutuskannya." ucap ibu Azzam dengan raut wajah sedih.


"tapi, Bu..." ucapku terhenti.


rasanya benar-benar tidak tega melihat seorang ibu yang memohon seperti ini.


"ibu minta tolong sekali ini aja nak, demi masa depan Azzam. Azzam itu anak tunggal ibu nak, ibu ingin Azzam mendapat pendidikan yang terbaik. ibu ingin Azzam berhasil nak." ucap ibu Azzam.


"baik Bu, akan saya fikirkan dulu nanti." ucapku.


"ibu akan selalu mendukung hubungan kalian nak, ibu percaya nak Amel bisa merubah Azzam." ucap ibu Azzam.


kini, sudah terlihat sedikit senyum di wajah sang ibu.


"aduh, kok jadi rumit gini. aku harus bagaimana ini?." ucapku dalam hati.


"permisi." ucap Bu Winda yang sudah kembali ke ruang bimbingan konseling.


Bu Winda duduk di sampingku, menoleh dan tersenyum padaku.


"gimana Bu?, sudah berbicara dengan Amel." tanya Bu Winda kepada ibu Azzam.


"sudah Bu, saya mengucapkan banyak terimakasih karena sudah membantu saya dalam mendidik anak saya, yaitu Azzam." ucap ibu Azzam kepada ibu winda.


"saya dan Amel akan berusaha Bu, ini adalah kesempatan terakhir Azzam. jika Azzam masih suka membolos. dengan terpaksa pihak sekolah tidak bisa menaikan Azzam ke kelas berikutnya Bu." ucap Bu Winda.


"saya merasa gagal mendidik Azzam Bu, ayahnya pun sekarang sudah lepas tangan dan membiarkan semua sikap Azzam." ucap ibu Azzam yang terlihat pasrah.


"kami akan berusaha juga Bu, mohon doanya ya." ucap Bu Winda.


Bu Winda mempersilahkan aku kembali ke kelas, Bu Winda dan ibu Azzam kembali melanjutkan perbincangannya di dalam ruang bimbingan konseling tersebut.


"bagaimana ini?, apa aku harus menghubungi Azzam lagi?." ucapku sambil berjalan menuju kelas.


di sisi lain, Anggie melihatku yang berjalan keluar dari ruangan bimbingan konseling.


"pasti Amel di panggil gara-gara Azzam. kasian Amel, harus menanggung masalah yang tidak dia buat." ucap Anggie di dalam hati. sebenarnya Anggie juga punya rasa pada Amel. hanya saja, Anggie terlalu berat jika harus meninggalkan nisa. pacar yang sudah di kenalnya sejak sekolah menengah pertama.

__ADS_1


__ADS_2