
Senin, di bulan November 2016.
"Assalamualaikum." Azzam mengucap salam di depan pintu.
"Waalaikumsalam." Sambil melangkah keluar rumah aku menjawab salam Azzam.
"hati-hati jalannya Mel, pelan-pelan aja kita gak bakal telat nyampe ke sekolah." Azzam berkata sambil menyodorkan tangannya untuk membantuku berjalan.
"eh gapapa kok zam, aku bisa berjalan sendiri.." aku menimpalinya.
Azzam menarik lagi tangan yang dia sodorkan padaku. lalu berjalan menuju motor antiknya itu.
"sini kupakaikan helmnya." Azzam meminta helmku.
aku memberikan helmku dan Azzam memakaikannya.
"makasih." ucapku.
"yok berangkat sekolah. semangat Mel!." Azzam berucap dengan nada semangat padaku.
"bremmmm" Azzam menarik gas motornya dan kami berboncengan menuju sekolah.
Pukul 06.50 wib aku dan Azzam sampai di depan gerbang sekolah kami. tiba-tiba Azzam berkata padaku. "Mel kamu masuk kelas lewat loby saja. Biar aku parkir motorku dulu di belakang ya. take care buat hari ini Mel." Sambil menuntun motor antiknya. (jalan lewat loby adalah jalan pintas agar cepat menuju kelas, karena parkir belakang yang lumayan jauh dan aku tidak membawa motor sendiri).
"yaudah aku duluan ya zam, makasih udah di jemput tadi." aku berjalan pelan menuju loby.
"iya Mel.. hati-hati saat jalan. kakimu masih sakit." teriak Azzam.
Setiap hari aku melihat kisah cinta Anggie dan Nisa yang makin romantis. Masih sedikit sesak jika di ingat. Tapi kini aku punya sahabat baru, Azzam. Azzam bagaikan pelangi di ujung badai yang datang padaku. meski tampangnya yang sederhana dan kulit sawo matangnya yang eksotis, di tambah rambutnya yang sedikit ikal. Azzam terlihat manis meski tak semanis Anggie dan kulitnya tak seputih kulit Anggie.
Desember, 2016
Hampir setiap pagi Azzam selalu menghampiriku. bahkan Azzam sangat baik padaku. Namun, kebaikannya belum mampu membawaku untuk melupakan sosok Anggie. cinta pertamaku yang juga memberi luka pertamaku.
Hari ini, Rabu di bulan Desember.
pukul 07.30 wib. "Mell lihat yokk siapa itu yang nyanyi suaranya merdu sekali" fia mengajakku ke lapangan. Karena memang hari ini ada pentas seni untuk setiap kelas guna merayakan ulang tahun sekolah.
"Iya fii.. bentar-bentar aku habiskan dulu jajanku." aku yang suka ngemil ini memang semakin membuat pipiku nampak chubby.
"ah ayo Mel keburu habis lagunya tu." fia menarik tanganku.
"iya-iya fiii...." aku belum sempat menghabiskan jajan yang berada di tanganku.
"dah ayo." fia menggandengku berjalan menuju lapangan.
(Tiba di lapangan)
aku terkejut tatkala melihat sosok yang bernyanyi di atas panggung dengan suara yang merdu itu ternyata Nisa.
"Lhoo mel... Itu Nisa. Anak baru di kelas kita wih.... Suaranya mantul banget!". fia memuji Nisa sambil bertepuk tangan.
__ADS_1
"iya fi, gak nyangka juga aku. ternyata Nisa mempunyai bakat menyanyi." aku juga tepuk tangan kali ini.
Betapa beruntungnya menjadi Nisa, lagi-lagi rasa insecureku muncul.
Nisa siswi baru di kelas, namun bakatnya mampir membawa nama kelas kami menjadi baik di mata siswa lain.
tiba-tiba Azzam muncul di belakangku.
"Hay Mel, nanti pulangnya kutunggu di parkiran yaa.." Azzam mengajakku berbicara.
"Hmm iya zam.." aku menjawab.
"Zam ayoo buruan.." terdengar suara teman-teman Azzam. Azzam memang anak yang senang bergaul. Tak heran temannya banyak. mengambil jurusan otomotif karena memang minatnya dan kecintaannya terhadap kendaraan klasik.
"nampaknya kamu dan Azzam makin akrab aja Mel." tiba-tiba fia berkata di depanku.
"kita berteman baik kok fi, lagian rumah kita searah. kamu juga masih akrab kan sama Azzam?." tanyaku kepada fia.
"hmm masih kok Mel, aku dan azzam kan berteman juga." fia menjawab pertanyaanku.
pukul 16.00 wib bel tanda pulang berbunyi.
"waktunya pulang..." aku berucap kepada fia yang duduk di sebelahku.
"seneng banget deh kayaknya ni. mau kemana Mel?" fia berucap sambil tersenyum.
"gak kemana-mana fi. aku biasanya juga langsung pulang. gak enak sama Azzam kalo aku mampir-mampir. dia kan yang nyetir motor." jawabku.
fia melambaikan tangan padaku sambil keluar kelas.
"bye." aku membalas lambaian tangannya.
aku berjalan menuju tempat parkir, tempat dimana Azzam biasa menungguku saat jam pulang.
(sampai di parkir motor)
"udah nunggu lama zam?" aku menanyai Azzam yang terlihat sedang bermain game di atas motor.
"eh engga kok Mel, barusan aja." jawab Azzam.
"yaudah zam, yok pulang." aku sambil memakai helm.
"emm bentar Mel. kamu keburu pulang?." Azzam tiba-tiba bertanya padaku.
kulepas lagi helmku dan menjawab pertanyaannya.
"gak juga zam, kenapa?." aku bertanya heran.
"nanti sore sibuk gak?." tanya Azzam.
"engga zam, kenapa? aku bertanya balik.
__ADS_1
"jalan yuk Mel?." Azzam mengajakku jalan sore ini.
"hmm boleh deh." aku mengiyakan ajakannya.
"yaudah nanti jam lima sore aku jemput ya Mel." Azzam berkata dengan nada semangat.
"oke zam. yaudah yok pulang." aku kembali memakai helmku.
suasana di tempat parkir sudah semakin sepi, hanya ada beberapa motor yang tersisa. mungkin karena mereka ikut extrakulikuler sore.
(sampai di rumah)
"huft, mau pake baju yang mana ya?." aku bergumam sendiri sambil memilih baju yang tergantung di lemari pakaian.
aku mandi, dandan, dan bersiap menunggu Azzam di depan rumah. kini waktu menunjukkan pukul 17.00 wib. Azzam sebentar lagi pasti datang menjemputku.
pukul 17.05 wib
Azzam tiba di depan rumahku.
"udah siap?" Azzam bertanya padaku.
"udah, mau kemana kita?." aku bertanya balik.
"ikut aku aja. hehe." Azzam menjawab sambil tersenyum tipis.
Ternyata azzam mengajakku ke sebuah kafe, tempatnya nyaman dan dan sejuk karena bernuansa outdoor. Azzam memesan 2 juice guava dan 2 croffle untuk menemani obrolan kami di sore ini.
"bagus ya tempatnya zam, nyaman juga." aku berkata kepada Azzam.
"hmm iya Mel." Azzam menimpali
hampir lima belas menit aku dan Azzam tak berbicara, Azzam terlihat canggung kali ini.
"Mel.. aku ingin bicara denganmu tapi.. aku ragu." Azzam tiba-tiba bicara sambil menundukan kepala.
"Apa zam? Kenapa?" Aku mengerutkan dahi.
"Silahkan kak, 2 juice guava dan 2 croffle ya" tiba-tiba pelayan kafe memecah obrolan kami.
"Makasih." aku menimpali pelayan kafe tersebut.
"Kamu tadi mau ngomong apa zam?" Aku bertanya kenapa Azzam sambil sesekali meminum juice guava kesukaanku.
"emmm kamu mau gak jadi pacarku Mel?" Tanya Azzam sambil memandangiku.
"Uhukk.. (aku tersedak) apa zam? Em aku mau ke belakang bentar ya." Jawabku, sambil berjalan ke arah toilet.
(di toilet)
"Azzam nembak aku?" tanyaku dalam hati. pengalaman pertama kali aku di tembak seorang cowok. "hmm harus kujawab gimana ya?." sebenarnya aku belum ada rasa dengan Azzam. tentu fikiranku masih teringat sosok Anggie. jika aku menolaknya. tentu Azzam akan sangat kecewa, mengingat selama ini dia sangat baik padaku.
__ADS_1