
usai perkenalan, nisa kembali duduk ke bangkunya. memang, pandangannya terhadapku nampak sedikit berbeda. mungkin Nisa juga tidak menyangka akan satu kelas denganku, yang di temuinya kemarin di rumah Anggie.
dari jam pertama pelajaran hingga jam ke tiga pelajaran. mataku tidak bisa lepas dari Nisa. bagaimana bisa orang yang kemarin aku lihat bersama Anggie justru hari ini bisa satu kelas denganku. rasanya seperti mimpi saja." gumamku dalam hati.
"Mel!!." tiba-tiba fia menepuk pundakku.
"astaga, fia kenapa ngagetin aku." tanyaku kepada fia.
"tumben banget dari tadi gak ada bicara sama sekali. kamu sakit Mel?." dia menatap mataku dengan tajam.
"enggak kok.. lagi males ngomong aja, hehehe." aku tertawa kecil.
"ah kamu tuh bikin aku khawatir aja. cape banget deh gak kelar-kelar ini tugas" fia kembali menulis. melanjutkan tugasnya yang belum juga kelar.
"kriiingg.." bel tanda jam istirahat berbunyi. "fiii! mau kemana?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi karena dia tiba-tiba berlari keluar kelas. "ke toilet bentarrr" sahutnya sambil masih berlari tak menghiraukanku. "astaga...." akupun menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatku itu.
aku duduk di bangku sambil menata buku yang masih berserakan di meja. kumasukan buku-buku yang sudah di pakai pelajaran dari tadi pagi. kumasukan ke dalam laci agar meja terlihat bersih.
"huft, lama banget si fia." celetukku dengan nada lirih.
"Kak...." tiba-tiba terdengar suara dari bangku belakang. akupun menoleh dengan ragu. mungkinkah itu suara nisa? tanyaku dalam hati.
"kamu manggil aku?" kutanya balik karena benar yang memanggilku tadi adalah Nisa. "hmm iya.. sepertinya kita pernah bertemu?" tanya Nisa.
"hmmm iya mungkin.. atau kamu yang kemarin berada di rumah Anggie?" tanyaku dengan nada rendah.
"iya kak, kakak temennya Anggie ya?" tanya Nisa dengan suara imutnya. Nisa terlihat polos dan cantik.
"iya eh, iya kok aku dan Anggie cuma temen biasa. kamu sendiri pacarnya?." aku menjawab dengan gugup.
__ADS_1
"iyaa kak.. aku dan Anggie sudah berpacaran sejak kelas delapan SMP. kami satu sekolah, dan kakak kemarin mau jenguk Anggie bukan? kenapa buru-buru pulang?" dengan polosnya Nisa bertanya kepadaku. benar saja, Nisa hanya mengira aku dan Anggie berteman biasa tanpa merasa curiga sedikitpun. atau karena memang Nisa sudah sangat percaya dengan Anggie. "hmmm.. gapapa kok nis, takuk mengganggu kalian. lagipula ada hal lain yang harus aku kerjakan." jawabku sambil tersenyum dengan Nisa. memang parasnya yang cantik, rambutnya yang hitam panjang di kucir satu, dan kulitnya yang putih bersih membuat siapapun tidak bisa mencela fisiknya. "betapa beruntungnya menjadi seorang Nisa." gumamku di dalam hati.
"heyy kalian sedang ngobrolin apa nih, serius amat kayaknya!." tiba-tiba saja fia berada di sampingku entah kapan dia balik dari kamar mandi. "engga fi, kita lagi berkenalan. sok kamu kenalan atuh sama Nisa." jawabku sambil menarik tangan fia agar bisa bersalaman dengan Nisa.
"hey, aku fia. siapa namamu?" tanya dia kepada nisa.
"Nisa kak, senang berkenalan denganmu." jawab Nisa dengan senyuman.
oh namamu nisa ya... aku tu kayak pernah lihat kamu. tapi lupa dimana." celetuk fia. memang fia orang yang enggan memendam sesuatu. dia lebih suka menanyakan langsung kepada siapapun yang membuatnya penasaran.
"haa? dimana? " sahut nisa.
"hmmmm... aku ingat-ingat dulu deh, bentar." sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
aku berinisiatif mengajak fia keluar kelas. aku takut jika fia segera ingat jika nisalah yang berada di foto Instagram pribadi Anggie.
"udah deh fi lanjut nanti aja kenalannya, aku udah laper ni. jajan depan yok!!" ajakku sambil menggandeng tangan fia. "udah dulu ya nis, kita mau ke depan." aku berpamitan kepada nisa sambil berjalan keluar kelas dengan tangan yang masih menggandeng fia. "iya..." sahut nisa dengan dahi mengerut seperti orang yang terheran-heran.
"mell.. aku inget, aku lihat si Nisa di foto yang Anggie upload di Instagram pribadinya. bener deh kayaknya Nisa. soalnya mirippp bangeudd dahh.. coba buka instagramnya yah..." fia berbicara di sepanjang jalan. "udah nanti-nanti aja fi, gak usah." sahutku sambil terus menarik tangan fia. fia memang belum tau jika Nisa ini sudah berpacaran lama dengan Anggie, dan fia belum tau jika aku hanya di jadikan pelampiasan sesaat saja. bukan tanpa alasan aku mengalah dan tidak mempermasalahkan jika hubunganku dan Anggie terputus. karena jika memang di debatkan, tentu saja akan banyak yang lebih membela nisa. siswi baru yang sangat sempurna fisik atau kepribadiannya. sementara aku, hanya gadis dari kampung yang mempunyai tinggi badan 150 centimeter dengan kulit sawo matang. hanya saja banyak yang menyebutku imut karena pipiku yang chubby serta tubuhku yang sedikit berisi. mungkin disitulah kenapa Anggie juga tertarik denganku.
"kita duduk di sini aja ya fi."
kuajak fia duduk di kursi taman,
"iya deh Mel." sahut fia.
"mau jajan apa fi, kali ini aku traktir deh." aku menawari fia.
"tu yg di ujung kayanya enak Mel. aku aja yg kesana deh." fia menjawabku.
__ADS_1
"yaudah aku tunggu sini ya." sambil duduk di kursi taman.
"iya, tunggu ya bestieee..." ucap fia sambil berjalan.
(fia datang membawa aneka jajanan dan duduk di sebelahku.)
"hmm lumayan enak juga nih Mel." fia berkata sambil memakan jajanan yang baru di beli.
"fii kamu kan tau Nisa yang berada di foto itu. nanti pulang sekolah aku ceritain. tapi janji ya di depan Nisa jangan bahas soal foto itu lagi. pleaseee..." mohonku kepada fia sambil menyatukan kedua tangan di depan dada.
"bener kan dugaanku. Nisa yang berada di foto itu. siapa sih dia Mel?. adiknya, keponakannya, atau kakaknya? cantik juga tapi si Nisa itu." ucap fia.
"nanti aku ceritain fi, sepulang sekolah." jawabku.
"hmm iya deh Mel tapi janji ya ceritain yang sebenarnya. firasatku gak enak nih mel" fia menjawab permohonanku.
"udah ni di habisin dulu jajanannya fi." ucapku sambil menyodorkan jajanan yang masih banyak di dalam snack.
"ihh kami juga makan dong Mel, masak yang bayarin kamu tapi yang makan cuma aku doang." fia menyuapi aku snack yang berada di tangannya.
"iya deh iya" aku menimpalinya sambil mengunyah beberapa makanan.
terlihat satu gerombolan anak otomotif yang lewat di depanku dan fia.
tentu di dalan gerombolan itu ada Azzam. siswa yang sempat ingin mendekatiku waktu itu.
"eh Azzam kalo di lihat lumayan ganteng juga ya Mel." celetuk fia.
"apaan sih fi, sana tuh kalo mau kenalan. hahaha." jawabku sambil tertawa.
__ADS_1
"kriiingg..." terdengar bel tanda masuk berbunyi. segera aku dan fia menuju kelas.