Sumpah Serapah Mantan Kekasih

Sumpah Serapah Mantan Kekasih
bab 21


__ADS_3

waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib. bel tanda berakhirnya. pembelajaran hari ini sudah berbunyi. semua siswa keluar dari kelas, kini hanya aku yang tersisa di kelas ini.


aku masih terduduk di bangku, sambil kuletakkan kepalaku di atas meja.


"kenapa harus seperti ini." ucapku sambil kukepalkan tanganku ke meja. tidak terasa air mataku menetes. "aku harus gimana...????." ucapku sekali lagi.


rupanya, fia yang keluar kelas sejak tadi tidak langsung pulang. fia masih berdiri di depan pintu tanpa sepengetahuanku.


"Azzam... kenapa harus begini sih.." ucapku dalam hati.


aku mengambil handphoneku di dalam tas, kucoba untuk menghubungi Azzam.


"nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi." terdengar suara dari handphoneku.


"Azzam, maafin aku zam..." ucapku lirih.


tiba-tiba fia berjalan masuk ke dalam kelas.


"Mel..." ucapnya lirih.


aku tidak menjawab, ku usap air mataku yang sejak tadi mengalir membasahi pipi chubbyku ini.


fia duduk di sampingku. tangannya meraih pundakku.


"Mel... kamu gak salah apa-apa." ucap fia menenangkanku.


"fi.... aku harus gimana??." jawabku terisak.


"udah coba menghubungi Azzam?." tanya fia padaku.


"udah, gak bisa di hubungi." jawabku.


"mau di samperin aja Mel?, ke rumah Azzam." ucap fia.


"iya kalo di rumah fi, kalo dia lagi di luar gimana?. aku tahu banget Azzam seperti apa fi. jika sedang banyak pikiran, pelariannya pasti minum-minuman keras." aku berkata seraya mencoba menghubungi Azzam yang sejak tadi belum bisa di hubungi.


"kita cari bareng gimana Mel?." tawaran fia padaku.


"kamu beneran mau nemenin aku fi?." tanyaku pada fia. kini aku menatap fia yang berada di sebelahku.


"iya, kita kan sahabatan udah lama Mel." ucap fia.


"tapi fi, bukannya kamu juga suka sama Azzam?." tanyaku sambil mengerutkan dahi. kali ini aku benar-benar bertanya kepada fia perihal cintanya kepada Azzam.


"hmmm, itu dulu Mel. tapi sekarang, aku lebih bahagia jika melihat Azzam bahagia bersamamu. aku tahu, cinta kalian berdua itu tulus. dan satu lagi Mel, cinta itu gak bisa di paksakan. aku memang suka sama Azzam sejak pertama kali melihatnya, tetapi Azzam memilihmu Mel. jadi aku juga minta tolong Mel, jaga hubungan kalian ya. aku tidak ingin melihat orang-orang yang aku cintai terluka. aku mencintaimu sebagai sahabatku, dan aku tidak ingin melihat salah satu dari kalian kecewa." ucap fia sambil tersenyum.


"makasih ya fi..." ucapku kepada fia.


"yaudah, kita coba kerumah Azzam dulu ya?." ajak fia.


aku mengangguk sambil tersenyum. tidak kusangka sama sekali jika pola fikir fia sedewasa ini. aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi fia. namun, fia bisa menerima dengan ikhlas atas apa yang terjadi.


aku dan fia mencoba menghampiri ke rumah Azzam. sore ini, terlihat nampak sepi sekali rumah yang berada di pojok desa itu.


aku dan fia turun dari motor dan kucoba untuk mengetuk pintunya.


"tok tok tok." suara jariku mengetuk pintu rumah Azzam.

__ADS_1


"gimana Mel?." tanya fia yang masih sibuk melepas sepatu.


"gak ada jawaban, fi." ucapku.


"duh, kemana si Azzam." ucap fia, wajahnya terlihat pasrah.


"pintunya di kunci, mobilnya juga tidak terparkir di garasi. mungkin ayah dan ibunya Azzam sedang keluar, tapi kenapa garasinya gak di tutup ya fi?." tanyaku heran kepada fia.


"itu motor siapa Mel?." fia menunjuk motor yang terparkir di dalam garasi.


"itu motor Azzam fi. iya benar, itu motornya Azzam." ucapku pada fia.


"berarti Azzam di rumah Mel." wajah fia kini mulai sumringah.


aku mengambil handphoneku dan kucoba hubungi Azzam dengan panggilan telepon.


"mungkin WhatsAppnya di matikan, tapi tidak dengan handphonenya. aku akan coba menghubunginya lewat panggilan telepon biasa." ucapku.


kucoba, dan ternyata benar. ada suara dari dalam rumah Azzam.


"nah kan Mel, Azzam di rumah." ucap fia.


kucoba ketuk pintunya lagi.


"zam, buka pintunya. aku mau bicara." ucapku di depan pintu rumah yang masih terkunci itu.


"gimana Mel?." tanya fia.


"belum di bukain fi." ucapku pasrah.


aku membalikkan badanku, kembali duduk di teras rumah Azzam.


"grekk" terdengar suara pintu yang di buka.


sontak aku dan fia menoleh ke arah pintu.


benar saja, tiba-tiba Azzam muncul dari dalam rumah.


"Azzam." ucapku terkejut.


ku letakkan lagi sepatuku, aku bergegas berdiri menghampiri Azzam. raut wajah fia kini tersenyum.


"kamu kenapa lagi zam?." tanyaku kepada Azzam tepat di depan matanya.


"maafkan aku Mel, aku tidak menepati janjiku. daripada aku membuat malu orang tuaku serta membuat kamu malu di sekolah karena kenakalanku. aku akan keluar saja dari sekolah." ucap Azzam padaku.


terlihat matanya masih merah, entah karena dia meminum alkohol semalam atau hanya karena begadang.


"enggak zam, kamu harus membuktikan padaku kalau keputusan yang aku ambil kemarin itu salah." ucapku sambil kuraih kedua tangannya.


"maksudmu Mel?." tanya Azzam heran.


"zam, Amel itu sangat menyayangimu. Amel ingin kamu memperjuangkan cintanya. kemarin, Amel memutuskan mu agar kamu berjuang, agar kamu bisa membuktikan kepada orang tuamu. jika hubunganmu dan Amel bisa membawamu lebih baik lagi. bukan seperti ini zam. jika kamu keluar, berapa orang yang kamu kecewakan?. orang tuamu yang sangat berharap padamu, Amel yang sangat menyayangimu. ayolah zam, jangan buat Amel kecewa." ucap fia di belakangku.


"zam.." ucapku lirih.


"apa kamu tahu zam? berapa kali Amel di panggil ke ruang BK, berapa kali ibumu datang ke sekolah untuk membujuk Amel." ucap fia.

__ADS_1


"ibuku ke sekolah?." tanya Azzam, terlihat wajahnya yang kebingungan.


"ibumu menemui Amel zam, hanya karena mu. karena tidak ingin melihat anak tunggalnya gagal." jawab fia.


"aku minta maaf, karena kemarin aku mutusin kamu zam. bukan karena aku udah gak sayang sama kamu. aku hanya ingin tahu seberapa besar tekadmu untuk memperjuangkan hubungan kita. percuma kita jalani hubungan ini zam, jika kamu tidak naik ke kelas dua belas. hubungan kita sudah di pertaruhkan." ucapku seraya menundukkan kepalaku.


Azzam masih terdiam di depanku.


"please zam, balik lagi ke sekolah ya. demi aku." ucapku lagi.


kali ini aku sudah pasrah, apapun keputusan yang akan Azzam ambil. entah mengikuti kemauannya untuk keluar dari sekolah dan benar-benar mengakhiri hubungan ini , atau kembali ke sekolah untuk memperbaiki semuanya.


"aku akan kembali ke sekolah." ucap Azzam.


"beneran?."


kudongakkan kepalaku untuk menatap mata Azzam.


"iya, tapi ada syaratnya." ucap Azzam.


"apapun, agar kamu mau kembali ke sekolah." ucapku kepada Azzam.


"pertama, Amel harus berangkat dan pulang sekolah bareng aku.


kedua, jangan pernah bilang putus lagi di depanku.


ketiga, apapun yang terjadi harus selalu bareng aku.


ke empat, aku berjanji akan membuktikan cintaku kepada Amel untuk sekarang dan seterusnya."


"jadi, kamu mau kan kita balikan lagi?." ucapku, wajahku terlihat sangat senang.


"kenapa enggak." Azzam tersenyum padaku.


tiba-tiba datang sebuah mobil, ayah dan ibu Azzam yang baru saja pulang.


mereka turun, dan menghampiriku.


"lho, ada nak Amel. sudah lama nak?." ucap ayah Azzam.


"barusan kok om." ucapku sambil bersalam kepada ayah dan ibu Azzam.


"zam, ada tamu kok gak di persilahkan masuk. kamu ini gimana toh." ucap ayah Azzam.


"masuk Mel, fi." ucap Azzam sembari mempersilahkan aku dan fia untuk masuk rumah.


"gimana zam?. masih kukuh ingin keluar sekolah?." tanya ayah azzam kepada Azzam.


"Azzam mau balik ke sekolah pa." jawab Azzam.


"yang bener, nanti kayak kemaren lagi. bolos lagi. bapak tuh kasian lho sama nak Amel, memperjuangkan cintanya sampai rela ikut menanggung masalah yang kamu perbuat." ucap ayah Azzam.


"kali ini Azzam akan berubah. bapak boleh jual motor Azzam yang biasa Azzam gunakan untuk touring." ucap Azzam.


"yang bener kamu?." tanya ayah Azzam terkejut.


bukan tanpa alasan, motor antik itu sudah menemani Azzam sejak kelas satu sekolah menengah pertama. dan terlihat jelas jika Azzam sangat menyayangi motor dan hobinya itu.

__ADS_1


"iya, Azzam mau pakai motor matic aja. Azzam mau berhenti total dari club' motor." ucap Azzam di depanku, fia, dan kedua orang tuanya.


"baik, bapak akan mencoba menawarkan motormu kepada temen bapak yang suka mengoleksi motor antik. lelaki memang harus begitu, rela mengorbankan apapun demi orang yang di cintai" ucap ayah Azzam.


__ADS_2